The End of Masculinity
Malam yang dingin diapartemen saya, saya memulai catatan ini ditemani secangkir kopi panas, ide menulis catatan ini muncul saat saya terkekeh melihat penuturan seorang kenalan, tentang pandangannya terhadap pria idaman beberapa hari yang lewat.
Lalu saya makin terbelalak pikirannya saat saya membaca sekilas dalam buku mas Seno Gumirah Ajidarma “Kentut Kosmopolitan” – Runtuhnya Kejantanan, saya tersenyum sendiri dan berkata dalam hati, “seharusnya ia (kenalan saya) baca tulisan ini”.
Saya jujur mendapat ilham dari kejadian dan tulisan ilmiah itu, lalu mencoba menulis dengan bahasa saya.
Ok tanpa banyak bicara, mari kita mulai.
Kalau saya baca status facebook teman-teman diIndonesia beberapa saat lalu, yang memiliki kesan heboh banget tentang diputarnya film New Moon, yang kebetulan diputar serentak diseluruh dunia, kemudian sosok Robert Pattinson yang berperan menjadi Dracula ganteng dan romantis tiba-tiba menjadi gunjingan hebat dikalangan wanita-wanita cosmopolitan.
Dracula yang selalu identik dengan kejahatan, kesadisan, iblis, sontak menjadi sangat sexy, romantis, ganteng, diidam-idamkan wanita lalu siapa yang gak mau digigit dan dijadikan istri dracula ganteng?.
Semua wanita pasti berkata “gue mau dong”.
“Walau istri ke sekian pun gak apa deh” kata sebagian besar wanita.
Puluhan tahun lalu, James Dean, menjadi tokoh yang membuat histeria dikalangan wanita, sosoknya yang sekilas “begajulan”, bad boy sontak pula membuat wanita menyukai sosok pria yang demikian.
Masih ingat Brad Pitt Yang juga sama. Sampai sekarang pun seorang teman masih mengidam-idamkan pria seperti Brad Pitt, dan sampai usianya 30 lebih masih menantikan sosok itu.
Lucu bukan?
Lalu seperti apa maskulinitas tadi sesunguhnya?
Maskulinitas selalu ditunjukan dengan…sosok pria naik motor Harley, merokok, berwajah ganteng, sixpack, berotot, sex appeal tinggi, genius, (mungkin punya tato), dan hal itu pernah disingung dalam buku Pat Kirkham & Janet Thumim (You Tarzan : masculinity, movie and men – 1993).
Tentu dengan pengambaran yang demikian, tak mungkin jika film Rambo harus diperankan oleh Tukul Arwana, atau raja Leonidas yang mempimpin 300 priajurit nya melawan ratusan ribu prajurit Persia (dalam film 300), harus diperankan oleh pemeran lain yang tidak memiliki tubuh sixpack, tegap, berotot.
Kalau itu terjadi pasti akan sangat tidak laku filmnya.
Lalu bagaimana dengan industri Fashion sendiri, kita bisa melihat seluruh majalah fashion yang terdapat didunia dan dibelahan negara manapun, mengambaran maskulinitas selalu tampil dengan pria ganteng, klimis, berotot dan tegap.
Iklan Marlboro ditunjukan dengan laki-laki yang ganteng, naik kuda dan seorang yang sangat menguasai alam, berbau petualangan dan tantangan, sesuatu yang dekat dengan laki-laki. Tidak perduli jika rokok bisa menimbulkan impotensi! Tentu Laki-laki impotent tidak bisa di jadikan sebuah gambaran maskulinitas.
Jika demikian lalu muncul sebuah pertanyaan apakah benar demikian yang diinginkan wanita?.
Saya mengutip sedikit dari buku mas Seno, “Kalau kacamata perempuan cerdas seperti artis Mia Farrow dan Dinne Keaton jadi ukuran ternyata keduanya memilih sutradara genius Woddy Allen”.
Mas seno menulis “perempuan cerdas”, lalu menjadi pertanyaan ada pula dong perempuan tak cerdas.
Jika perempuan cerdas memilih pria genius, tentu perempuan tak cerdas memilih pria yang berlawanan dengan gambaran yang ada pada Woddy Allen.
Tapi parahnya Woddy Allen menghancurkan reputasinya sendiri dengan memacari dan mengauli anak pungutnya sendiri yang berusia dibawa umur.
Maka hal ini membuat wanita manapun baik cerdas atau tidak cerdas akan mual dan jijik, dengan kelakuan yang demikian.
Lalu dimanakah ukuran sesunguhnya dari maskulinitas?
Jika sekilas menengok kasus sosok Woody Allen tentu sekilas moralitas menjadi sebuah ukuran penting?
Pertanyaanya sekarang, apakah moralitas menjadi ukuran yang paling tepat mengalahkan seluruh pandangan yang sudah umum tadi?
Apakah seorang pria yang beraklak baik, seorang yang bertangung jawab, berjuang mati-matiaan mencari nafkah untuk keluarganya, membimbing anaknya dengan penuh kasih sayang, menjadi imam dan pemimpin bagi keluarganya, rendah hati mau belajar sampai tua, empati pada perasaan wanita, menolak untuk selingkuh dan menyakiti hati istrinya tidak bisa dimasukan kedalam katagori maskulin.?
Jika demikian mungkin pria bisa sangat membosankan menurut wanita, dan ditinggalkan untuk sebuah kehidupan yang lebih ehmm ehmm…entah apa itu, maka kita tak bisa menemukan sebuah pandangan ideal dari maskulinitas juga pada akhirnya.
Lantas saya jadi sangat tertawa, kalau moralitas tak bisa menjadi sebuah ukuran penting? Lalu bagaimana lagi?.
Nyatanya…
Maskulinitas yang tumbuh makin kuat karena dipuja wanita tetap tak pernah bergeser sampai kapanpun, pandangannya dari masa ke masa tetap sama secara umum, tetapi serta merta menjadi sangat berubah saat, imajinasi “industri hollywood” gambaran “hayalan” harus di implementasikan kedalam kehidupan.
Sosok maskulinitas diatas menjadi sangat tidak menyenangkan, jika “maskulinitas”nya memiliki moralitas yang “amburadul”.
Maskulinitas menjadi berakhir saat, pria duduk dirumah sedang istri mencari nafkah padahal badannya sehat, tidak kurang atau cacat.
Maskulinitas menjadi berakhir saat, pria berani-beraninya tidur dengan wanita lain di ranjang pengantin nya sendiri, saat istrinya tak ada dirumah.
Maskulinitas menjadi berakhir saat, pria tak dapat memimpin rumah tangga dengan benar.
Maskulinitas menjadi berakhir saat, pria tak punya tangung jawab, karakter pemimpin dalam rumah tangganya.
Maskulinitas yang dipuja wanita sekarang nampaknya sudah tidak punya arti penting lagi saat, moralitas dari sisi maskulin itu tidak maskulin pada nyatanya.
Lalu di akhir catatan pendek saya ini, saya jadi merenung, apakah maskulinitas itu sendiri benar-benar tumbuh karena dipuja kaum wanita?
Dan disangkalnya sendiri saat maskulin tadi berlawanan dengan moral, berapa banyak wanita pada akhirnya menidamkan maskulinitas yang sesunguhnya, yang akhirnya wanita sunguh-sunguh manjadi lebih sadar bahwa wanita memerlukan hal-hal yang mendasar dibandingkan maskulinitas ala industri tadi….entah mungkin Heart, Brain, Behavior, Attitude, Love, Compassion, Responsiblity, Faithfull, Handsome …. entah lah apa lagi.
New York City
04/12/2009 03:50 A.M.
Markus AP


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








15 Responses to “The End of Masculinity”