The End Of Feminine
If any human being is to reach full maturity both the masculine and feminine side of the personality must be brought up into consciousness – M Esther Harding
Saya menghabiskan waktu seharian menemani teman saya belanja dikota ini, menemaninya memilih baju, tas, sepatu hingga mencari hadiah Natal untuk orang-orang tercinta di Jakarta.
Setelah itu kita duduk disebuah coffeeshop menikmati secangkir coffee dan saya seperti biasa menikmati secangkir tea.
Kita ngobrol kesana kemari tentang hunting barang-barang yang begitu banyaknya, kita bicara warna baju, hingga model baju lalu pantas atau tidak baju yang dicobanya tadi, dan banyak pembahasan seputar wanita daripada seputar pria, empat jam perburuan yang melelahkan dan menarik, diakhiri percakapan seputar dunia wanita.
Lalu saat saya santai diruangan saya dimalam ini, saya mulai menulis catatan ini, awal sekali saat saya memulai yang terlintas dalam pikiran saya akan kejadiaan siang tadi adalah … “belanja”, wanita identik dengan belanja.
Lalu timbul pertanyaan apakah demikian?
Maybe yes, maybe no.
Belanja, kecantikan, sepatu, tas, makeups, penampilan, lemak, kerut diwajah, pria, suami, anak, makanan, dapur, resep dan banyak lagi, itu yang selalu menjadi bahasan menarik, gossip menarik wanita dan percakapan hangat antar wanita berabad-abad.
Apakah hanya itu saja dunia wanita?
Dan berabad-abad lalu, wanita telah mencoba melewati garis batas antar pria dan wanita, mencoba menghapus perbedaan dengan menuntut hak kesamaan drajat, hak untuk dihargai sebagai wanita, menuntut hak untuk tidak hanya menjadi obyek, menuntut hak untuk tidak dilukai secara mental, sexual (seperti yang didengungkan pada first wave women movement), tetapi dihormati menjadi pribadi yang utuh dan memiliki nilai dan harga diri yang harus, bisa, kudu, dihargai oleh pria.
Apakah perjuangan itu berhasil?.
Maybe yes, maybe no.
Kita coba saja melihat yang berhasil dulu.
Dari perjuangan tadi, disaat sekarang akhirnya kita bisa melihat wanita tidak hanya tinggal dirumah menjadi ibu rumah tangga, wanita ada didunia bisnis, wanita ada di industry, wanita ada didunia pendidikan, wanita ada dipesawat ulang alik, wanita dipemerintahan, bahkan wanita ada di militer.
Belasan tahun lalu, kita mengenal nama Margareth Teacher sebagai PM Inggris yang berpengaruh, atau Golda Meir yang menjadi PM Israel yang juga berpengaruh, Negara kita pernah dipimpin oleh president yang juga wanita. (Walau saya tak tahu bagaimanakah mereka dirumah tangga, apakah seberhasil mereka dalam memimpin Negara).
Lalu urusan wanita ini ada dibeberapa Negara harus dibikinkan sebuah departemen kementerian khusus (seperti Indonesia), Departemen peranan wanita, Departemen perlindungan wanita dan HAM, dan entah banyak istilah yang dipakai dan entah apa yang disumbangkan dari departemen khusus wanita tadi bagi wanita.
Sadar tak sadar, perubahan di dunia ini nampaknya menjadi tak asing lagi di belahan barat atau timur.
Seperti saya katakan tadi wanita ada didunia bisnis, wanita ada di industry, wanita ada didunia pendidikan, wanita ada dipesawat ulang alik, wanita dipemerintahan, bahkan wanita ada di militer.
Jika sekilas kita melihat, kenapa disebuah Negara seperti Indonesia, departemen peranan wanita masih perlu ada (tak tahu kalau sekarang), artinya bahwa wanita dinegara ini mungkin saja masih sangat minim perannya, hingga harus haknya diperjuangkan terus dan diperankan dalam pembangunan, dalam segala aspek sendi membangun bangsa ini.
Lalu pertanyaanya muncul.
Apakah peranan wanita memperoleh haknya hanya sebatas dalam membangun bangsa, pekerjaan, dalam pemerintahan saja.???
Sedangkan dibeberapa kebudayaan atau cluture ditimur, wanita mungkin mendapatkan haknya dalam pekerjaan tetapi masih sering ditemukan wanita tak mendapatkan hak asasinya sebagai manusia.
Beberapa mengalami mentally abuse dan physicly abuse.
Hingga dibeberapa Negara harus dibuat undang-undang perlindungan wanita dan anak. Dalam asumsi bahwa tingkat persentase dari mentally abuse dan physicly abuse tadi tinggi.
Gamblangnya, wanita masih menjadi korban dirumahnya sendiri, daripada menjadi korban dijalan karena kriminalitas atau woman tarfficing.
Mungkin catatan saya ini menjadi sangat sinistic dan skeptis.
Karena realitasnya demikian.
Lalu dimana letak perjuangan hak wanitanya?
Jika rupanya wanita-wanita dibelahan dunia manapun, masih saja menjadi obyek pembodohan kaum pria? Menjadi obyek dari manipulasi pria, apakah kondisi itu serta merta mengatakan “ya kalau gitu memang pria lebih superior”, seperti yang ditulis oleh Virginia Woolf dalam buku “A room of one’s own” bahwa “Pria mendominasi wanita”, dan dalam bukunya ia berargumen bahwa “Wanita secara terus-terusan menjadi korban atas dirinya sendiri juga korban atas dominasi pria”.
Lalu dimana letak perjuangan hak wanitanya?
Jika rupanya wanita-wanita dibelahan dunia manapun, masih harus berjuang sendiri, mati-matian memperoleh kebahagiaanya dirumah tangga yang dibangunnya belasan hingga puluhan tahun bukan berjuang bersama, (karena lebih sering pria tidak membangun apa-apa didalam rumah tangganya, karena lebih sering menghancurkan, menciderai).
Lalu dimana letak perjuangan hak wanitanya?
Jika rupanya wanita-wanita masih nampak lemah, tidak bahagia, dimarginalkan, tak berdaya, dan menyerah pada nasibnya, “ah sudah nasib”, “ah aku harus mengikuti norma”, “ah aku harus menerima keadaan ini”, apakah lantas dengan demikian kita bisa bilang “yah memang wanita harus lemah” dan “pria memang yang selalu kuat” dan itu masih terjadi di rumah-rumah di masyarakat di segala culture dan kebudayaan dibelahan dunia manapun.
Ya bisa diartikan dari dulu hingga sekarang kita tak pernah bergeser dari cara berfikir jaman batu, ke cara berfikir jaman modern yang katanya, menyamakan hak wanita. Artinya kita tak benar-benar membuka kesadaran dan pemikiran kita kepada pemikiran yang maju, tapi tetap berjalan ditempat dalam kotak yang sama-sama saja.
Jika kita mau bicara tentang persamaan hak wanita, maka berhenti untuk memperjuangkan lagi persamaan hak wanita HANYA didunia kerja, bisnis, militer, pemerintahaan, tetapi mulai bicara tentang persamaan hak wanita dirumah-rumah, dimana disana mereka lebih sering mengalami mentally abuse dan physicly abuse.
Wanita mungkin nampak memiliki hak didunia-dunianya tadi, tapi haknya memperoleh kebahagiaan dirumahnya sendiri nyaris tidak berhak.
Apakah dalam cluture kita, kita hanya mengenal satu “Kartini”, yang bernama RA Kartin, yang benar-benar keluar dari kegelapan, menuju terang, Après L’Obscruité, bukan mengenal banyak kartini-kartini yang harus keluar dari kegelapannya, dari penderitaanya.
Apakah kita hanya mengenal sebuah cerita revolusionary dimasanya tentang perjuangan wanita dalam sebuah cerita “Siti Nurbaya”, bukan mendengar banyak cerita “Siti Nurbaya, Siti Nurbaya” dengan perjuangan dan kekuatan yang sama?.
Maka lebih baik berhenti bicara masalah hak wanita, jika wanita masih saja menjadi korban mentally atau physicly abuse dirumah-rumah, wanita masih saja lemah dalam keadaan dan kodratnya, dan banyak hal yang kita tidak pernah ingin lihat, bahwa perjuangan hak wanita yang didengungkan dari dulu, nampaknya tak pernah mencapai keberhasilannya disisi-sisi tertentu, seperti yang saya singgung diatas secara general.
Mungkin catatan saya ini menjadi sangat sinistic dan skeptis.
Karena realitasnya demikian.
Karena saya masih melihat wanita yang hidup dalam keadaanya yang mengenaskan.
Walau kenyataanya demikian saya tak pernah berhenti berharap atau terus-terus sinistic dan skeptis, karena satu dua tiga dalam kehidupan saya, saya menemukan wanita-wanita, dalam kekuatannya yang mengagumkan, bukan dalam kelemahaanya, bukan dalam kebodohannya, bukan dalam kekolotannya yang normatif.
Saya menemukan wanita-wanita yang bisa dan sanggup “stand still” dengan kekuataanya membangun rumah, kesanggupannya dan punya daya juangnya menghadapi kehidupan “sendiri” bahkan tanpa pria, bahkan mencapai kebahagiaan yang menjadi tujuan kehidupan manusia.
Wanita-wanita yang menolak jadi obyek pembodohan.
Wanita-wanita yang menolak berada didalam kotak yang disebut “ini sudah nasib gue”.
Wanita-wanita yang menolak menjadi korban pemikiran “culture dan normative”.
Wanita-wanita yang benar-benar mencapai jatinya menjadi wanita.
Wanita-wanita yang benar-benar mencapai kesadaranya menjadi wanita bukan “wanita”.
Memang wanita tak lepas dari kondratnya menjadi wanita.
Tapi bukan berarti kodratnya menjadi halangan dirinya untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi dalam kehidupan.
Atau jangan-jangan mereka telah melupakan pencapaiaan tertingginya dalam kehidupan karena alasan “normative” alasan “tak masuk akal”, seperti yang dikatakan Virginia Wolf bahwa wanita menjadi korban dirinya sendiri.
Saya pernah membuat sebuah corat-coret kasar tentang menghargai wanita, saya berkata “jika kita mau belajar, membuka mata, sadar, kita mustinya belajar sesuatu yang dasar, kenapa dalam agama saja, wanita selalu memiliki banyak aturan dan hukum dari Tuhan terhadap wanita itu sendiri?, artinya wanita memiliki kekuatan untuk memikul lebih banyak tangung jawab, wanita diberikan koridor hukum Tuhan agar wanita nampak selalu indah, wanita dimata Tuhan indah”.
Saya tak berkata demikian hanya agar pria-pria sadar lalu menghargai kewanitaan, tetapi lebih harus wanita sadar akan dirinya sendiri, menghargai dirinya sendiri, menghargai potensinya sendiri dan kekuatannya sendiri.
Mungkin saya harus mengutip sebuah kata dikatakan oleh Sanaa Lathan “Being strong can be also feminine. I dont thing feminine equals being week. Being strong is very sexy”.
Dan Cathy freeman berkata “I like looking feminine and I enjoy being a role model. I enjoy being a woman. It all comes down to having confidence to be who you are”.
“I want young people to see me and thing you can be feminine and smart and successful, all at the same time”.
Newyork city
Markus AP
17/12/2009 9:38 PM


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








6 Responses to “The End Of Feminine”