Surat Dari NewYork
Sayang,
Dedaunan Willow beku diluar sana, pepohonan seketika mati dalam selimut putih menyihir
Diluar sana kehidupan terbelengu dalam gerak yang terbatas, sedang aku duduk diruangku tersekat jarak jauh dari Jakarta
Tapi aku tak pernah bisa dibungkam, aku tak bisa berhenti dalam segala lakuku
Aku tetap kearah pikir jauh disana, di tempatmu berharap sampai akhir tetap disana
Baru saja Waldo terhenti meracuni aku, Marxim juga bungkam dibawah tumpukan beberapa buku antara Goenawan dan Bible
Tapi mereka tetap bungkam karena aku tak menyentuhnya
Dan sayangku aku berhenti menulis beberapa saat lalu
Aku kehabisan tenaga, kehabisan nafas hidup untuk menulis, tapi aku temukan diriku duduk diam menghadap Tuhan
Bertanya, berharap
Meminta, menangis
Memohon, marah
Hancur, hidup
Hingga tiba pada kesimpulan
Cinta didalam sini memang tak bisa mati, Cinta didalam sini memang harus disalib
Lalu tiba kepada teori
Bahwa hidupku mungkin hanya sebagai pemicu bagi kesadaran seseorang, hanya sebagai pemicu kebahagiaan seseorang
Ah itu teori, tapi jika benar, itu ada karena kemauaan Tuhan, dan aku menjalani kemauaan Tuhan
Lalu aku tak henti dalam itu saja, Saat aku berlutut dan berkata ”Sudahi saja Tuhan”
Dan IA malah berkata ”Belum selesai”.
Siapa yang bisa melawan kehendak Tuhan? Kamu ?, Aku ?, Ia ?, Mereka ?
Tidak ada.
Entah apa dan kenapa kata ”Belum”. Tidak “Sudah” saja.
Kata “belum” yang disertai kekuatanku yang tak habis
Kata ”belum” yang disertai kesabaran yang tak terkikis
Kata “belum’ yang disertai harapan yang makin keras
Kata ”belum” yang disertai cinta yang diuji
Disitu aku sadar apa arti ”cobaan” dan ”ujiaan”.
Cobaan pasti akan menghentikanku melangkah
Cobaan pasti akan berusaha menghentikanku berharap
Seperti aku juga telah dicobai.
Tapi nyatanya tidak menghentikanku, aku malah ada dalam ujian karena segala kekuatan lengkap ada didalam, maka saat cobaan itu datang dan datang, ia tak malah menjadikanku lelah atau terhenti, suara itu makin tak henti.
IA berkata ”belum selesai”
Dan aku tak bisa berhenti
Jujur aku hampir tak punya kata lagi, menulis atau membantah Tuhan
Karena semua kata sudah aku nyatakan, semua kata sudah aku tulis
Aku lebih banyak diam belakangan ini, diam hanya menatap ke langit
Tiba-tiba Malaikat datang, entah darimana
Disana harapan seakan merekah
Berharap aku bisa melihatmu lagi atau setidaknya mendengarmu
Tapi nyatanya tidak, malaikat-malaikat itu tak paham hatiku
Seperti kamu juga sering tak paham pikiranku
Malaikat-malaikat itu berharap aku berhenti mencintaimu
Berhenti mengarahkan pikir kepadamu
Segala motifasinya malah mengarah kepada dirinya, tak berharap kebahagiaan orang lain
Mungkin kamu juga mau begitu, mungkin
Dan ku pikir mereka bukan malaikat-malaikat dari Tuhan
Karena malaikat Tuhan tidak bicara sesuatu yang Normatif.
Bagaimana bisa Tuhan berkata ”belum” sedang malaikatnya berkata ”sudah”.
Bagaimana dengan dirimu sayang,
Masihkah kau tak paham aku?
Masihkah kamu marah padaku yang keras ini
Aku sempat berkata tadi,
Cinta didalam sini memang harus disalib
Kau ingin aku mencari pengantimu, itu pernah kita bahas dulu
Bagaimana cinta harus digantikan dengan yang lain
Bukankah aku akan hidup dalam kebohongan
Jika demikian salahkan Tuhan saja kenapa kita harus dipertemukan
Lalu
Kau marah karena aku yang ”bodoh”
Kau marah karena aku yang ”nekad”
Mana pernah kamu melihat dari sisi yang lain dari sisiku, atau sisi Tuhan
Jika kau tanya, jika aku merenung, siapa yang paling kucintai
Aku dulu sangat mencintaimu, tetapi sekarang
Aku malah mencintai dan prihatin, pada ia yang menyakitimu selama itu
“Kasihilah musuhmu kataNya”
Maka itu
Aku terus terus berharap, aku menjadi hantu buat tidurnya, aku menjadi setan buat hatinya, agar ia terbuka matanya, disadarkan
Untuk mencintaimu dalam segala ketulusan, Mencintaimu dalam segala kehangatan
Aku berdoa pada Langit,
Kali ini buat matanya terbuka, bukan buat matamu
Semoga cintanya itu tulus tanpa kedok kebohongan
Aku mau ia tulus, mencintaimu
Karena kata norma, aku tak bisa,
Karena norma menghentikan langkahmu
Tapi tidak aku.
Dalam proses aku menulis ini, kamu tak melihat apa yang terjadi
Tiap kata dibalut sedihku,
Kamu tak paham, bahwa diatas pembakaran Tuhan
Ku berikan hatiku, untuk cintanya kepada mu.
Ku berikan jiwaku, untuk cintanya kepada mu.
Ku berikan hariku, untuk cintanya kepada mu.
Ku berikan cintaku, untuk cintamu kepadanya
Inilah sayang yang disebutNya
Bahwa cinta didalam sini memang harus disalib
Sambil aku tersalib aku berseru kepada langit
Kepada IA yang membawaku kepadamu
Eloi, Eloi Lama Sabakhtani
Eloi, Eloi Lammah Asvatani
Lalu langit menjadi mendung
Langit menjadi bergemuruh
Bumi bergoncang
Dan aku berkata ”Sudah selesai”.
Dust to dust ashes to assess
Aku kembali kepadaNya
NewYork City
13 December 2009, 1:23 AM
Markus AP


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








2 Responses to “Surat Dari NewYork”