Tout doit être fait, rien ne peut changer, seul Dieu peut changer les choses pour le mieux, mais je voulais terminer, parce qu\'il a laissé de profondes blessures, douloureux, très douloureux ....


5:21 pm, January 14, 2010
Pages
Blackberry Note
  • Sahabat Terbaik
    March 9, 2010 | 6:48 am Sahabat, adalah seseorang yang mengerti satu sama lain, sanggup melihat lebih jauh kedalam hati dan pikiran kita, selalu ada saat-saat yang tepat, saya bersyukur memiliki mereka-mereka dalam hidup saya, mereka bagian terbaik yang selalu dekat dengan hati saya dan saya dekat dengan hati mereka – Markus AP
  • RSSArchive for Blackberry Note »
About The Author
Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.

Recent Posts
Categories
Recent Comments
Reply Comments
Top Commentators
  • irh (101)
  • Novi Haryono (60)
  • annz (55)
  • Ir'eNe (43)
  • viona (43)
  • cis (28)
  • novia (19)
  • nefertiti (17)
  • dianahalim (15)
  • suz4n (13)
  • -Anne (11)
  • hanny_aza (11)
  • Melda (11)
  • anastasia (10)
  • febz (9)
Login




Register Lost your password?

Surat Dari NewYork
By. marcus . December 15th, 2009 at 12:38 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Surat Dari NewYork

Sayang,
Dedaunan Willow beku diluar sana, pepohonan seketika mati dalam selimut putih menyihir
Diluar sana kehidupan terbelengu dalam gerak yang terbatas, sedang aku duduk diruangku tersekat jarak jauh dari Jakarta
Tapi aku tak pernah bisa dibungkam, aku tak bisa berhenti dalam segala lakuku
Aku tetap kearah pikir jauh disana, di tempatmu berharap sampai akhir tetap disana
Baru saja Waldo terhenti meracuni aku, Marxim juga bungkam dibawah tumpukan beberapa buku antara Goenawan dan Bible
Tapi mereka tetap bungkam karena aku tak menyentuhnya

Dan sayangku aku berhenti menulis beberapa saat lalu
Aku kehabisan tenaga, kehabisan nafas hidup untuk menulis, tapi aku temukan diriku duduk diam menghadap Tuhan
Bertanya, berharap
Meminta, menangis
Memohon, marah
Hancur, hidup
Hingga tiba pada kesimpulan
Cinta didalam sini memang tak bisa mati, Cinta didalam sini memang harus disalib
Lalu tiba kepada teori
Bahwa hidupku mungkin hanya sebagai pemicu bagi kesadaran seseorang, hanya sebagai pemicu kebahagiaan seseorang
Ah itu teori, tapi jika benar, itu ada karena kemauaan Tuhan, dan aku menjalani kemauaan Tuhan
Lalu aku tak henti dalam itu saja, Saat aku berlutut dan berkata ”Sudahi saja Tuhan”
Dan IA malah berkata ”Belum selesai”.
Siapa yang bisa melawan kehendak Tuhan? Kamu ?, Aku ?, Ia ?, Mereka ?
Tidak ada.
Entah apa dan kenapa kata ”Belum”. Tidak “Sudah” saja.
Kata “belum” yang disertai kekuatanku yang tak habis
Kata ”belum” yang disertai kesabaran yang tak terkikis
Kata “belum’ yang disertai harapan yang makin keras
Kata ”belum” yang disertai cinta yang diuji
Disitu aku sadar apa arti ”cobaan” dan ”ujiaan”.
Cobaan pasti akan menghentikanku melangkah
Cobaan pasti akan berusaha menghentikanku berharap
Seperti aku juga telah dicobai.
Tapi nyatanya tidak menghentikanku, aku malah ada dalam ujian karena segala kekuatan lengkap ada didalam, maka saat cobaan itu datang dan datang, ia tak malah menjadikanku lelah atau terhenti, suara itu makin tak henti.
IA berkata ”belum selesai”
Dan aku tak bisa berhenti

Jujur aku hampir tak punya kata lagi, menulis atau membantah Tuhan
Karena semua kata sudah aku nyatakan, semua kata sudah aku tulis
Aku lebih banyak diam belakangan ini, diam hanya menatap ke langit
Tiba-tiba Malaikat datang, entah darimana
Disana harapan seakan merekah
Berharap aku bisa melihatmu lagi atau setidaknya mendengarmu
Tapi nyatanya tidak, malaikat-malaikat itu tak paham hatiku
Seperti kamu juga sering tak paham pikiranku
Malaikat-malaikat itu berharap aku berhenti mencintaimu
Berhenti mengarahkan pikir kepadamu
Segala motifasinya malah mengarah kepada dirinya, tak berharap kebahagiaan orang lain
Mungkin kamu juga mau begitu, mungkin
Dan ku pikir mereka bukan malaikat-malaikat dari Tuhan
Karena malaikat Tuhan tidak bicara sesuatu yang Normatif.
Bagaimana bisa Tuhan berkata ”belum” sedang malaikatnya berkata ”sudah”.

Bagaimana dengan dirimu sayang,
Masihkah kau tak paham aku?
Masihkah kamu marah padaku yang keras ini
Aku sempat berkata tadi,
Cinta didalam sini memang harus disalib
Kau ingin aku mencari pengantimu, itu pernah kita bahas dulu
Bagaimana cinta harus digantikan dengan yang lain
Bukankah aku akan hidup dalam kebohongan
Jika demikian salahkan Tuhan saja kenapa kita harus dipertemukan
Lalu
Kau marah karena aku yang ”bodoh”
Kau marah karena aku yang ”nekad”

Mana pernah kamu melihat dari sisi yang lain dari sisiku, atau sisi Tuhan
Jika kau tanya, jika aku merenung, siapa yang paling kucintai
Aku dulu sangat mencintaimu, tetapi sekarang
Aku malah mencintai dan prihatin, pada ia yang menyakitimu selama itu
“Kasihilah musuhmu kataNya”
Maka itu
Aku terus terus berharap, aku menjadi hantu buat tidurnya, aku menjadi setan buat hatinya, agar ia terbuka matanya, disadarkan
Untuk mencintaimu dalam segala ketulusan, Mencintaimu dalam segala kehangatan
Aku berdoa pada Langit,
Kali ini buat matanya terbuka, bukan buat matamu
Semoga cintanya itu tulus tanpa kedok kebohongan
Aku mau ia tulus, mencintaimu
Karena kata norma, aku tak bisa,
Karena norma menghentikan langkahmu
Tapi tidak aku.

Dalam proses aku menulis ini, kamu tak melihat apa yang terjadi
Tiap kata dibalut sedihku,
Kamu tak paham, bahwa diatas pembakaran Tuhan
Ku berikan hatiku, untuk cintanya kepada mu.
Ku berikan jiwaku, untuk cintanya kepada mu.
Ku berikan hariku, untuk cintanya kepada mu.
Ku berikan cintaku, untuk cintamu kepadanya
Inilah sayang yang disebutNya
Bahwa cinta didalam sini memang harus disalib
Sambil aku tersalib aku berseru kepada langit
Kepada IA yang membawaku kepadamu
Eloi, Eloi Lama Sabakhtani
Eloi, Eloi Lammah Asvatani
Lalu langit menjadi mendung
Langit menjadi bergemuruh
Bumi bergoncang
Dan aku berkata ”Sudah selesai”.
Dust to dust ashes to assess
Aku kembali kepadaNya

NewYork City
13 December 2009, 1:23 AM
Markus AP

  • Share/Bookmark

2 Responses to “Surat Dari NewYork”

Novi Haryono - December 23rd, 2009 - 9:46 am
 

Mencintai tak harus memiliki (Seperti judul sinetron) Emang sakit sich.. rasa itu yang aku rasakan waktu itu… sehingga sempat gak percaya sama yang namanya ‘cinta’. Tapi Tuhan nunjukin sesuatu kalo ternyata dia memang bukan untuk aku.. bukan berarti dia bukan yang terbaik, tapi dia akan lebih bahagia dg orang lain..

marcus - December 23rd, 2009 - 10:05 am

@Novi Haryono : dan kadang cinta itu membutuhkan keberaniaan mengorbankan diri sendir…itu yang berat…but always great..

Leave a Comment

Twitter Updates
    News
    • 1:40 am, February 15, 2010
      Selamat Hari raya Imlek Kong Xi Fat Chai, semoga keberhuntungan ditahun macan memberikan sejahtera bagi kita semua...Kong xi Kong xi...
      From: Markus

    • 3:47 am, January 5, 2010
      Kami Turut Kehilangan Yang Mendalam Atas Berpulangnya Presiden Ke 4 RI Abdulrahman Wahid - Gus Dur, Semoga Amal, Perbuatan Dan Ajaran, Semangat Purlalisme nya Selalu Diteruskan Oleh Bangsa Ini. Kita Semua Sangat Kehilangan Akan Pemikiran dan Semangatnya Bagi Demokrasi Di Indonesia. Selamat Jalan Gus Dur...
      From: Markus

    • 9:05 am, December 31, 2009
      Markus Manifesto mengucapkan selamat Tahun baru 2010 semoga kesuksesan, kebahagiaan, cinta menyertai kita semua. Semoga ditahun 2010 Indonesia makin maju dalam segala bidang.
      From: Markus

    InspectorWordpress has prevented 0 attacks. Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.