Surat Dari NewYork (8)
Malam ini semua orang menghadap Tuhan, menghadapNya dengan segala prilaku yang ditinggalkannya dibelakang, entah ditinggalkan sementara atau pada saat mereka pulang dari Gereja mereka kenakan lagi prilaku itu.
Aku pun demikian, tapi entah pula yang mana yang aku lakukan dalam kehidupan, menanggalkan prilaku yang sementara tadi atau selamanya.
Kita sering berdebat tentang itu, tetapi Tuhan jelas tidak pernah berdebat sedikitpun tentang prilaku kita yang baik atau buruk, yang baik IA jelas berkata lakukan yang baik selalu dan setia, tetapi yang buruk tinggalkan. Tapi seberapa banyak orang bisa meninggalkan prilaku yang buruk, disitulah kemurahanNya ada, disitulah kita memahami anugrahNya dalam pengampunan.
Itu lah Tuhan, siapa yang dapat memahami pikiranNya yang jauh dari pikiran kita, siapa yang dapat memahamiNya seperti kita sering memahami hal-hal yang sepele dan dangkal sesuai kemampuan kita berfikir.
Lalu siapa yang bisa memahami kekuasaanNya yang besar, tak ada yang sanggup.
Bahkan setan sejahat apapun, ia tak mampu memahami pemikiranNya dan kekuasaanNya.
Karena itulah ia disebut setan, karena ia tak paham kekuasaanNya hingga ingin menyamaiNya. Tak mungkin, tak mungkin.
Maka siapa yang dapat memahami rencanNya, siapa yang dapat merubah mauNya, tak mungkin tak ada, karena semua rencanNya selalu pasti terjadi.
Aku malam ini merasakan itu, betapa kecilnya aku, betapa kurangnya aku, aku dengan pemahamanku yang dangkal kalah dalam keheningan ditempat suci itu, berbaur dengan orang-orang yang menyapa Tuhan, entah dengan meninggalkan sementara prilakunya yang buruk atau selamanya.
NewYork City
24/12/2009 11:16 PM
Markus AP



2 Responses to “Surat Dari NewYork (8)”