Surat Dari NewYork (6)
Wanita-wanita 9th Avenue saat tengah malam berdiri, menanti pelangannya lewat sambil menjajakan diri, wanita-wanita 9th Avenue menanti pria-pria yang membutuhkan jasa mereka untuk semalam.
Tapi hanya musim dingin seperti ini mereka tak nampak berdiri lama disana, alam sekali lagi menghentikan mereka, dingin membuat mereka tak lama berdiri disana, keselamatan mereka hanya datang saat pelangan membawanya ke hotel murah 20 dollar untuk semalam atau gang-gang sepi bau sampah.
Kehangatan seketika yang didapat dalam semalam, tanpa cinta-tanpa perasaan apa-apa. Tanpa sensasi indah apa-apa, tanpa kemesraan apa-apa.
Mungkin setelah itu ia jijik, mungkin juga nikmat, mungkin juga merasa sesak, mungkin juga merasa penat. Setidaknya malam itu ia diselamatkan dari dingin nya alam.
Diselamatkan dari guyuran Hujan atau Salju. Diselamatkan oleh Alam, Oleh murka Tuhan lewat dingin.
Lalu tanyaku dalam hati, seperti pernah aku tanyakan dulu-dulu pada hati.
Apa alasan wanita-wanita itu hidup dalam cara yang demikian?
Wanita yang diberikan Tuhan keindahaan telah membuat hidup nya sendiri direndahkan.
Apa alasan wanita-wanita itu hidup dalam cara yang demikian?
Wanita yang demikian dimana pun selalu menjawab atas alasan ekonomi, atas alasan perut. Sedikit yang menjawab atas alasan kenikmataan, dan alasan profesi.
Jika benar karena alasan perut atas alasan ekonomi, tentu hidup mereka tidak bahagia, dan sengsara, dan mungkin saat cinta benar-benar datang pada hidup mereka, ia diangkat dari kesengsaraan, ia dikeluarkan dari nerakanya, maka ia mungkin saja mengsyukuri Tuhan lebih dari semua orang. Tapi apakah benar demikian?
Bicara mengsyukuri maka sebuah pembicaraan menjadi tak pernah habis, karena disana bicara tentang keimanan seseorang kepada Tuhan….kepercayaannya kepada Tuhan, yang hanya diukur oleh orang itu sendiri.
Maka maaf jika ini menjadi sebuah pemikiran keras…kasar…tidak sopan ku atas wanita-wanita.
Jika demikian apa bedanya wanita 9th Avenue dengan wanita-wanita yang lain, yang tinggal dirumah-rumah besar, tinggal dalam kemewahaan, tetapi tidak mendapatkan kebahagiaan cinta dan menukar kehidupan bahagianya dengan alasan ekonomi dan alasan perut?.
Lalu siapa yang dapat berfikir demikian…”aku lebih baik lapar, aku lebih baik mati, daripada aku kehilangan kebahagiaan, daripada aku kehilangan cinta, dan aku tak mau menukar kebahagiaan cinta hanya demi urusan lapar”
Nampaknya tak ada….
Nampaknya hanya aku saja yang terlalu naif percaya dan berpegang pada hal itu, maka biarkan saja aku diasingkan, dijauhi dari kehidupan tetapi aku menolak hidup menyerah pada kemunafikan….
NewYork City
21/12/2009 10:59 P.M.
Markus AP


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








2 Responses to “Surat Dari NewYork (6)”