Surat Dari NewYork (5)
Aku belum dapat tidur, aku sedari tadi menanti waktu mentari bangun, sesunguhnya aku bukan seperti menunggu mentari itu bangun, karena sejak jutaan tahun mentari selalu sama saja saat bangun.
Aku seperti menanti waktu-waktu yang aku katakan waktu lalu, menanti saat aku pergi ketempat yang tak bisa dijangkau seseorang, tidak juga kamu, karena mungkin itu perjalanan paling terakhir buatku.
Aku pernah melakukan perjalanan hanya untuk melihat-lihat dunia lain.
Aku pernah melakukan perjalanan hanya untuk mencari sesuatu dalam perenungan, yang kusebut perjalanan spiritual.
Kali ini perjalanan itu menuju ke tujuannya yang lebih tinggi, yang ku sebut sebagai perjalanan paling terakhir buatku.
Aku tak sabar
Aku tak sabar
Aku ingin segera pergi kesana kalau bisa hari ini, kalau bisa detik ini.
Aku tak sabar
Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Aku ingin segera pergi kesana kalau bisa hari ini, kalau bisa detik ini.
Tentu semua orang yang kukenal mulai gerah akan apa yang kukatakan, kenapa harus takut, kenapa harus kawatir, semua orang akan mencapai perjalanannya yang paling terakhir, aku hanya ingin menghadapainya dengan ketenangan, kegembiraan, seperti aku menghadapi kehidupan ini dengan segala rasa yang ada.
Pernahkah kau jatuh cinta, tentu tau rasanya seperti apa, tentu kau tahu rasanya ditinggalkan, juga rasa yang bahagia saat menanti seorang anak akan lahir, atau rasa-rasa lain yang ada dan timbul karena sesuatu hal.
Aku belum pernah merasakan satu perasaan, perasaan paling tinggi, yang hanya kurasakan sedikit saat aku duduk diam menghadapNya dalam doa-doa, aku ingin merasakan perasaan itu lebih lagi, perasaan itu begitu damai, begitu tenang, tanpa tangis, atau sedih, melebih perasaan apapun yang ada dimuka bumi ini…perasaan paling tinggi itu tak ingin kurasakan sedikit saja, aku ingin merasakannya lebih, untuk itu aku menanti dengan tidak sabar perjalanan terakhirku.
Aku tak sabar
Aku tak sabar
Aku ingin segera pergi kesana kalau bisa hari ini, kalau bisa detik ini.
Aku tak sabar
Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Aku ingin segera pergi kesana kalau bisa hari ini, kalau bisa detik ini.
Akhirnya aku hanya bisa duduk diam menghadapNya dalam doa-doa, dalam doa-doa untuk ketidak sabaranku, dan jika sabaranku itu harus diperpanjang maka doa-doa itu bicara tentang kebahagiaan kita masing-masing.
NewYork City
21/12/2009 6:16 AM
Markus AP
Tears In Heaven – Eric Clapton
Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
I must be strong, and carry on
Cause I know I don’t belong
Here in heaven
Would you hold my hand
If I saw you in heaven
Would you help me stand
If I saw you in heaven
I’ll find my way, through night and day
Cause I know I just can’t stay
Here in heaven
Time can bring you down
Time can bend your knee
Time can break your heart
Have you begging please
Begging please
Beyond the door
There’s peace I’m sure.
And I know there’ll be no more…
Tears in heaven
Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
I must be strong, and carry on
Cause I know I don’t belong
Here in heaven
Cause I know I don’t belong
Here in heaven


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








2 Responses to “Surat Dari NewYork (5)”