Surat Dari NewYork (4)
Apa manfaatnya hidup jika hidup tidak punya arti, jika hanya satu dua saja yang mengerti, hanya satu dua saja yang paham, tapi kemudian tak lagi mengerti apa artinya hidup, jika tak sama sekali berarti.
Apa gunanya menulis, jika tidak mengubah apapun, menulis menghabiskan banyak kata-kata, tetapi hanya berakhir pada sedikit orang yang mencoba memahaminya, dan paham, lalu untuk apa terus-terusan mencoba mengubah pemikiran seseorang, jika memang ia keras seperti batu, dan hatinya sama sekali tidak memiliki rasa lagi, jiwanya benar-benar bebal, untuk apa orang demikian coba dirubah?. Tak ada manfaatnya.
Lalu apa pentingnya disebut dewasa, jika ia sama sekali lupa apa artinya kemerdekaan, apa artinya cinta, apa artinya kebahagiaan. Lalu apakah yang dewasa itu adalah mereka yang menyingkirkan semua itu lalu berpegang dengan istilah yang disebut “realitas”.
Dan mereka yang terus-terusan berpegang pada hal yang “idealis” disebut sebagai anak kemaren sore, anak bau kencur yang harus lebih banyak belajar apa itu realitas.
Lalu siapa yang sesungguhnya lari dari realitas? Siapa yang sanggup berdiri teguh diatas prinsip-prinsip kebenaran atau dengan alasan realitas ia tak berani berpegang pada kebenaran? Bukankah seorang dewasa harus menghadapi kesulitan hidupnya, bukan lari, bukankah seseorang dewasa tahu melihat apa yang akan terjadi dikemudian bukan hanya merasakan yang enak disaat sekarang…
Sama seperti buat apa seseorang tidak setia pada cintanya jika kemudian harus menyesal dan kehilangan orang yang dicintai, buat apa mabuk berjudi jika kemudian miskin…bukankah kedewasaan menolak melakukan itu semua karena melihat sesuatu yang buruk dikemudian hari.
Melihat dan merasakan, merenungkan, mendapatkan pelajaran, mengerti banyak hal, paham banyak hal, bukankah itu kedewasaan yang tidak diperoleh anak-anak.
Aku baru saja membaca sebuah kata-kata bijak “Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…” aku kemudian bahagia mendengar itu, karena selama ini aku berpegang pada cinta, dan selalu merasakan kedukaan, kedukaan karena dihianati walau sudah mencintai, kedukaan dihempaskan walau sudah mencintai.
Tapi aku bahagia, aku bahagia karena mencintai, walau aku dihari-hari ini aku mengeluh lelah, mengeluh bosan, mengeluh sesak, mengeluh marah, sampai berkata untuk apa manfaatnya hidup lagi, jika semua serasa sudah selesai dikerjakan dengan segala cara yang paling baik.
Kalau begitu, aku ingin pergi ketempat yang tak bisa dijangkau seseorang, tidak juga kamu, karena mungkin itu perjalanan paling terakhir buatku. Entah kemana itu, tetapi aku ingin segera pergi ketempat yang jauh itu, tak lagi berfikir tentang semua yang ada disini atau disana, tak lagi merasakan semua rasa yang sesak karena semua hal yang ada disana.
Kalau begitu, aku menanti waktunya, aku ingin sesegera, aku tak sabar, aku ingin segera pergi, pergi ke perjalanan paling terakhir buatku. Entah kemana itu.
NewYork City
21/12/2009 3:21 AM
Markus AP


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








2 Responses to “Surat Dari NewYork (4)”