Surat Dari NewYork (3)
Aku hampir tak bisa berkata-kata, aku kehilangan kata-kata, sedari tadi aku tak dapat tidur, aku mencoba memejamkan mata tetapi mata tak mau terpejam, aku mencoba mencari kesibukan, mengumpulkan kata untuk kutulis tetapi tak dapat kumulai, tak dapat kutulis.
Aku hampir tak bisa berkata-kata, aku kehilangan kata-kata, hanya bungkam diruanganku, diam seperti orang siap mati, diam seperti aku sedang menahan sesuatu, menahan rindu, menahan marah, menahan benci, menahan sesak, menahan sakit, menahan keinginan mengecam, menahan keinginan menjungkir balikkan dunia, menahan keinginan menerjang kebusukan.
Aku hampir tak bisa berkata-kata, aku kehilangan kata-kata, hanya gamang hanya kosong, bungkam seperti orang yang dibungkam, bungkam seperti orang tak lagi mau bicara, sebenarnya aku kehabisan kata-kata, karena aku sendiri, sepi sendiri tak ada yang ku ajak bicara, hanya Tuhan yang mendengar aku bicara dari dalam.
Aku hampir tak bisa berkata-kata, aku kehabisan kata-kata, seperti saat aku bicara terakhir pada mu, aku tak bisa banyak bicara. Aku tak bisa marah, tak bisa berteriak ingin membuka pemikiran “kolot”mu, membuka pemikiran “tolol”mu. Hanya bisa pasrah, hanya bisa membiarkan kamu dengan pemikiran mu yang kolot, yang itu-itu saja, yang disitu-situ saja, tak pernah berubah belasan tahun, seperti hidupmu yang begitu-begitu saja, tak pernah berubah, walau Tuhan mencoba merubah.
Jedah
Aku baru bisa berkata-kata, aku tak mau kehabisan kata-kata, seperti biasa aku bicara dan aku akan terus bicara, walau tak ada orang mau dengar, tak ada orang mau baca, suatu hari orang akan baca, suatu hari orang akan dengar. Tak apa jika satu dua sadar, tak apa jika satu dua matanya terbuka. Walau kau tidak terbuka, walau kau memilih buta. Setidaknya nanti ada yang terbuka lalu sadar, pergi dari tempatnya yang menyesakkan.
Aku sekarang berkata-kata, aku menolak bungkam dan menolak kehabisan kata-kata, seperti biasa aku bicara, aku akan terus bicara, mendobrak pemikiran yang kolot, mendobrak orang-orang yang hidup dalam kotaknya yang itu-itu saja. Aku pernah bilang kepadamu, saat kau ingin kembali kejalanmu, aku bilang kepadamu, bahwa kamu tak pernah membelokkan jalan kejalan yang lain, kau hanya berhenti sejenak disana, kau tak pernah memilih jalan yang lain, kau tak pernah pergi kemanapun bersamaku, kau tak pernah pergi dari tempatmu, dari rumahmu, dari penderitaanmu, dari ketololanmu, belasan tahun kau disana, tetap disana. Jadi tak relevan jika kau berkata “aku harus kembali kejalanku”, karena kau sudah ada dijalanmu tak pernah kemana-mana.
Aku sekarang berkata-kata, aku menolak bungkam dan tak mau kehabisan kata-kata, seperti biasa aku bicara, aku akan terus bicara, walau kau tak dengar, walau kau tak mau lihat, itu karena kau menolak membuka mata, membuka pendengaran, karena kau sadar aku bicara benar dan terus akan benar, kau tau aku menolak hidup untuk menyerah pada kekolotan, dan terus makin kencang berteriak, bahwa hidup harus lepas dari penderitaan, bahwa hidup harus berjalan diatas nilai-nilai yang ditinggalkan orang saat sekarang.
Diam
Aku diam, tak dapat berkata-kata, aku kehilangan kata-kata, hanya diam saat aku melihat kehidupan kita makin hari-makin jauh dari nilai-nilai yang sesunguhnya, kita selalu berteriak saat kita menderita saat kita terjepit dihimpit persoalan hidup, kita berfikir, kita berusaha, seolah tak ada jalan, lalu kita berteriak kepada Tuhan tanpa bisa kehabisan kata-kata, berteriak mengharapkan kemerdekaan dari penderitaan kita, bebas dari persoalan kita yang mencekik, atau paling bodoh lari dari semua persoalan yang mecekik itu, lalu kita menolak menerima HikmahNya, menolak suara halus jawaban atas doa kita, menolak pribadi-pribadi yang dikirim Tuhan bagi kebaikan kita, menolak melihat dan menolak mendengar, lebih menyedihkan lagi menolak keluar dari pemikiran kita yang hanya satu, tidak mencoba melihat banyak jalan yang tersedia, karena kita terbutakan pada hanya satu jalan, lalu siapa yang disalahkan? Kita sendiri yang seharusnya disalahkan, karena kita menjadi buta dan tuli kepada kesempatan yang ada, pada jawaban yang tersedia.
Maka benar sebuah Nas yang mengatakan “Karena siapa yang mempunyai kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan, tetapi siapa yang tak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Karena sekalipun melihat, mereka tak akan melihat, dan sekalipun mendengar mereka tidak mendengar dan tidak mengerti”.
Aku diam, bungkam, tak dapat berkata-kata lagi, aku kehabisan kata-kata, hanya diam, hanya bungkam, saat aku melihat kehidupan kita makin diperkaya dengan kemajuaanya, dengan kegemerlapannya, tetapi makin miskin didalamnya, makin tak punya makna akan kehidupan yang katanya kaya, nampak indah diluar tetapi busuk didalamnya, kita menolak melihat dengan mata kita, apa lagi melihat dengan hati kita, karena hati kita buta pada kehidupan yang katanya menakutkan.
Kenapa kita takut akan apa yang kita makan, jika burung saja diberi makan.
Kenapa kita takut akan apa yang kita pakai, jika bunga-bunga saja dibikin indah untuk akhirnya dibinasakan.
Dengan ketakutan itu, kita sebenarnya sedang menolak percaya pada Tuhan, menolak pada kekuasaanNya yang mutlak, bahwa IA tak pernah lupa pada umatNya yang manapun.
Kita lupa pada hal itu, kita buta hatinya dengan hal yang sepele seperti itu, lalu apa bedanya kita dengan ateis yang tidak percaya Tuhan, jika kita mengaku percaya Tuhan tetapi tidak percaya dari hati akan kekuasaanNya, maka apa bedanya dengan munafik-munafik yang menghabiskan harinya di tempat-tempat suci tetapi hatinya tak pernah melihat kekuasaanNya.
Aku diam, bisu, tak dapat berkata-kata lagi, aku kehabisan kata-kata, hanya diam, hanya bisu, saat aku sendiri tetap percaya yang benar, tetap mencari yang sejati diantara yang sejati, tetap menolak mengotori diri dengan mendekatkan diri dengan penghianatan dan penistaan cinta. Aku menolak itu semua, walau semua orang hidup dengan menista seperti itu, tapi akhirnya menyesal bahwa mereka pernah menghianati cinta, itu kenapa aku menolak melakukannya, karena aku tak ingin menjadi orang yang menyesali sesuatu kemudian karena melakukan hal yang nista itu.
Tidakkah mereka sadar, cinta itu indah, cinta itu agung, kenapa harus dinistai dengan kekotoran yang demikian, yang hanya mendatangkan penyesalan kemudian.
Maka tidakkah salah jika seseorang yang mengagungkan cinta, kebenaran, dan kesetiaan, ia juga kemudian diagungkan dengan semua itu dan tidak hidup dalam penyesalan dikemudian hari. Ia tetap saja setia pada jalan-jalan itu, walau tidak selalu cinta datang membawa kebahagiaan, tetapi setidaknya ia tidak hidup menderita karena penyesalan yang berkepanjangan karena sebuah perbuatan nista.
Maka aku diam, saat semua orang malah mengejar sesuatu yang tidak sejati, mungkin karena itu hal yang termudah didapat daripada mencari dan menemukan yang tidak mudah.
Bungkam
Aku bisa berkata-kata, tak mau bungkam, tak mau diam, sampai semua isi hati ini habis keluar dan semua orang mulai terbelalak, mulai mencibir, mulai sadar, mulai gerah.
Walau aku bertanya dan berkata-kata didalam, untuk apa aku bersuara jika makin aku bersuara banyak orang makin menjadi gerah, tapi aku menolak diam, menolak bungkam, walau kau akan berkata “terserah apa katamu”, “terserah apa maumu”, walau aku sendiri bicara tanpa orang mendengar, aku akan tetap bicara dan tidak bungkam.
NewYork City
Markus AP
20/12/2009 8:31 AM


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








2 Responses to “Surat Dari NewYork (3)”