Surat Dari NewYork (10)
Siapa yang tidak bahagia dapat melihat senyum diwajah orang yang dicintainya. Seorang Oscar Wide akan bersyair tentang kebahagiaan bukan kesedihan, seorang Gibran akan bertutur tentang kebahagiaan juga bukan nestapa.
Seperti aku pun bahagia melihat senyum diwajah orang-orang yang kucintai. Di wajah kasih yang terkasih.
Selalu berdoa agar senyum yang membahagiakan itu tak pergi, tak pernah pergi.
Tapi disaat seperti ini aku tak sanggup lagi bertanya kepada Tuhan, apakah akan ada senyum yang abadi, akankah ada kebahagiaan yang abadi, hanya pemohonan-permohonan saja yang bisa disampaikan kepadaNya agar kebahagiaan itu tak pergi.
Lalu apa kehendak Tuhan kali ini, apakah ini sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan, apakah menjadi maha karya terakhir kemudian aku mencapai perjalanan terakhirku.
Jika Tuhan berkata “belum” siapa yang dapat berkata “sudah”, tak ada yang dapat menentang Tuhan.
Aku tak sanggup bertanya semua itu kepada Tuhan, tapi aku bertanya pada hati tentang pertanyaan itu, aku rela hati untuk apapun kemauaanNya.
Semoga dan semoga, biarkan senyum itu indah, tidak sekejap, tidak dalam waktu singkat. Dan terjadilah kehendakNya bukan kehendakku.
NewYork City
25/12/2009 11:00 PM
Markus AP


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








2 Responses to “Surat Dari NewYork (10)”