language
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
blog
Kayurie (cerpen)
By. marcus . December 7th, 2009 at 8:36 am
careers
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kayurie

 

kayurie    Bandara John F Kennedy, 23 November 2009
    Seorang wanita berambut panjang dengan jaket merah melambaikan tangan kepadaku, aku melambaikan tangan pula saat aku mengenali wajahnya yang cantik, ia tak pernah berubah dalam batinku berkata, ia tetap cantik, tetap bersemangat.
    Kami berpelukan seperti sudah lama tak pernah bertemu, memang kami sudah lama tak pernah bertemu, pertemuan terakhir kami tiga tahun lalu.
    “Sorry I am late…, you know this cities, so how is your trip”. Katanya
    “You know lah, capek…bete…pegel, and I need showers…”
    “Damn…you not changes men…”
    “Yes I am…., you know me.., gimana kabarnya bokap loe”
    “He’s good”.
    “Still live in long island?”
    “Yea…”
    “Still play a chess?”
    “Yes…you know him…”
    “So gimana ceritanya itu….”
    “Ah gila loe…baru juga gue dateng udah lo tanyain gossip”
    “Yah gue pengen tau ceritanya…, heran aja kenapa harus begitu”
    “Udah jangan cerita itu…nanti aja…”
    “Damn…you not changes men…still same, tambah kurus loe”
    “Hahahhahaha, sialan loe, and loe tambah gahar aja jadi cewek”
    “Monyong….”
    Ia tersenyum dengan wajah bahagia.
    Bahagia karena melihat sahabatnya yang satu ini datang jauh-jauh dari Jakarta, kekota yang tak pernah tidur ini.
    Hari itu kota ini hujan, dan entah hujan atau tidak kota ini selalu macet jadi aku paham jika ia harus terlambat menjemputku dibandara.
    Beberapa hari lalu, aku meninggalkan Jakarta dengan menyisakan kenangan, berharap bisa hilang dalam ingatan sesampainya dikota ini, nyatanya tidak, jarak ribuan mil jauhnya tapi semua kenangan masih sama, tidak sedikitpun berubah dalam ingatanku.
    Sesunguhnya aku tak mau pergi, tapi aku harus pergi, tak ada yang menduga apa yang aku lakukan, tapi aku melakukannya, aku selalu melakukan hal-hal gila dalam hidupku, dan siapa yang percaya kalau aku melakukan hal gila pula kali ini.
    Atas alasan yang tak jelas aku pergi, entah apakah atas alasan cinta, atau atas alasan liburan, tapi aku tak berencana untuk liburan, tentu atas alasan yang semua orang pikir tak mungkin, tapi itu mungkin bagiku.
    Semua seakan seperti cerita saja, tetapi ini kenyataanya, aku telah melakukan hal gila dalam hidupku, dan kali ini aku telah melakukan hal gila pula dengan pergi jauh dari kehidupanku ribuan mil jaraknya, pergi jauh dari orang-orang yang kucintai, ini kenyataan, kenyataan yang sulit tetapi harus aku lakukan.
    Sesunguhnya tak ada yang ingin jauh dari orang yang dicintainya, tak satu mahluk yang dicipatakan Tuhan ingin terpisah dengan cintanya, begitu pula aku, aku tak pernah ingin memberikan jarak kepada semua orang yang kucintai, karena aku berharap hidup hanya untuk dia yang kucintai, berharap hidup memperjuangkan cinta walau dengan segala pedih dan peliknya.
    Tapi siapakah yang bisa berfikir seperti aku.
    “Berjuang untuk cinta?”.
    “Berjuang untuk kebahagiaanya?”
    Walau fakta dan kenyataan yang tetulis dibuku surga pun mencatat bahwa aku selalu berjuang untuk cinta, tapi siapa yang percaya?, sekalipun aku bersumpah, merayu, berteriak, marah sekalipun dalam usaha mencoba membela apa yang aku percayai, tak akan ada yang percaya.
    Tapi ini kenyataanya, kenyataan yang tak dipercayai oleh semua orang, entah kenapa mungkin karena apa yang ada didunia ini tak semuanya berfikir seperti aku.
    Sebagian besar telah kehilangan cinta, sebagian telah menghianati cinta, sebagian besar telah mempermainkan cinta, sebagian besar tak pernah percaya akan cinta, apa lagi berfikir untuk berjuang untuk kebahagiaan cinta. “Bullshit”…”Mistake”. Itu kata mereka.
    Aku hanya pergi meninggalkan mereka yang tak pernah percaya pada cinta. Apalagi berjuang atas nama cinta.

***

    Aku menatap lampu-lampu kota yang tak pernah mati, kehidupan yang tak pernah behenti disini, kehidupan selalu hidup dan berdenyut, aku ada ditempat ini diwaktu lalu, aku kembali ketempat ini, I want live here, I want become shark, I must survive,  itu yang ada didalam pikiranku, itu yang ada dipikiran semua orang dikota ini,  kehidupan disini harus kokoh, harus bertahan, harus survive, itulah kenapa aku mencintai kota ini, aku mencintai nafas kebebasan yang tak lagi kolot seperti orang Indonesia pada umumnya.
    Seperti seorang pria homeless, dengan semua gantungan barang-barang bekas yang menempel di jaketnya, berusaha untuk bertahan hidup dari uang sedolar-sedolar. Aku melihatnya disudut jalan tadi.
    Seperti ia sahabatku, ia telah tinggal disini mungkin lebih dari tiga belas tahun, dan kehidupan disini membentuknya menjadi seorang yang kokoh, tak tercemari oleh pikiran munafik yang ada dibelahan timur sana.
    Sekali lagi hari ini aku tak pernah berharap jauh dari rumah, meninggalkan tempat yang penuh cinta dan kenangan.
    Malam ini, aku mengingat puluhan malam lalu. Puluhan malam yang indah, puluhan hari yang gila, hari yang melelahkan, hari yang menyakitkan.
    Aku harus mengingat puluhan malam yang bukan kenangan pahit seperti dulu-dulu, tapi mengingat kenangan manis yang sampai malam ini masih manis kemudian berubah jadi pahit dimalam kemudian.
    Malam ini, aku mengingat puluhan malam lalu, saat seorang wanita bernama Kayurie hadir dalam kehidupanku.
    Nama itu bukan nama asli, aku menyembunyikannya dari semua orang tentang namanya, biarkan dunia hanya tahu nama itu, biarkan hanya aku yang tahu nama aslinya, siapa dirinya, siapa dia sebenarnya.
    Tapi bisa jadi sebagian orang yang mengenalnya tahu nama samaran itu.
    Ah…perduli setan.
    Ah…yang jelas namanya tersimpan rapat-rapat dalam ingatanku, namanya tersimpan dalam memoryku tak bisa dihapus, tak bisa dibuang.
    Ia tak akan pernah bisa pergi walau ia melukaiku.
    Ia tak akan pernah bisa di hapus, walau nyatanya ia melupakanku.
    Ia tak akan pernah bisa hilang, walau mungkin ia menganggapku kesalahaan.
    Atau sekalipun ia men”jual”ku, dengan membuat sebuah cerita yang membalik semua fakta kebenaran kalau ia pernah berhubungan denganku atau mencintaiku, tapi aku tak akan pernah menyangkalnya, apa lagi menghapusnya dari dalam benakku.
    Begitu pula senyumnya yang bahagia selama bersamaku, mana bisa pergi dari ingatanku begitu saja.
    Semoga tidak…semoga tidak, semoga pikiran itu salah, maafkan pikiran seorang yang melalui kesetiaan cinta tetapi dilukai, ia akan mencoba mencari segala jawaban didalam benaknya.
    Yang jelas Kay hadir dalam kehidupanku. Itu nyata. Ia nyata.
    Entah dari mana datangnya ia, tiba-tiba saja ia datang saja dalam kehidupanku, tak tahu darimana asal usulnya, datang mengetuk kehidupanku, permisi masuk dengan halusnya, lalu duduk diserambi hatiku.
    Kita sama-sama dipertemukan dalam sebuah pembahasan tentang sastra dan bahasa Prancis, tentang kehidupan dan tentang takdir, tentang dunia dan profesi kita yang begitu berdekatan, aku yang bekerja dibalik kamera dan ia yang selalu menjadi obyek dari rekaman sebuah moment.
    Kita dipertemukan dengan sebuah keingin tahuanku tentang pribadinya yang polos, pendiam, tetapi kemudian kurasa ia ingin melawan keadaanya.
    Kemudian aku pernah berfikir ia tak akan sanggup melawan keadaanya. Ia terlalu nyaman, pada keadaanya yang itu-itu saja, ia terlalu banyak berkorban buat semua disekelilingnya.
    Mungkin demi nama baik keluarga.
    Mungkin demi sang ayah yang sakit karena stroke.
    Mungkin demi si buah hati.
    Itulah pikiran orang jawa pada umumnya, selalu atas nama sesuatu, salah satunya “Norma”, “Etika”, “Nama baik”, sedang hidupnya bisa saja sakit atau menderita, berbeda dengan pemikiran orang yang diberikan pikiran-pikiran yang terbuka dan banyak memahami pemikiran modern, yang selalu berusaha berpegang pada prinsip, berpegang pada kabahagiaan, pada cinta, bukan yang hanya normative belaka.
    Aku melihat orang-orang yang akhirnya bahagia, karena menyingkirkan hal yang normative dan berpegang pada cinta. Sanggupkah ia seperti itu pada akhirnya? Entah lah.

***

    Cuaca diluar apartement mendung dan grimis mulai turun, aku duduk disofa melihat dari jauh keluar jendela, secangkir coklat hangat hampir menjadi dingin, tumpukkan buku dimeja belum sempat terbaca, aku sebentar-sebentar mulai menulis disana-sini catatan tak jelas dalam buku catatan kecilku, aku jadi ingat aku pernah menulis cerita tentang angan-angan seolah aku mengenalnya dulu saat SMA di Semarang, berharap kita saling mengenal dulu dan ia tak perlu melalui semua itu sekarang, padahal ia dan aku tak pernah bersekolah di Semarang, kita hanya berhayal, seolah aku mengenalnya sejak dulu dan ide itu muncul dari sekedar bicara tentang kesukaanya minum teh botol, lalu aku membuat sebuah cerita tentang itu, dan setelah aku menyelesaikannya ia membacanya.
    “Dah baca?”
    “Sudah”
    “Mang sampai selesai? Hehehe, bit sad story…kalau kamu baca itu sifat tokohnya sama dengan aslinya…hehe”
    “Iya sampai selesai, ceritanya lucu! Hehehehe, tokoh kamunya juga lucu”
    “Kemana ya yayuk pindah? Kenapa pindah tiba-tiba? Aku dalam hidup suka melakukan hal-hal yang mirip dengan cerita itu…disitu ada dua point pastor Bein bercerita tentang cinta, kamu sempet baca?, actually I learn and belive that point, lalu jimmy cho is real designer, terus pos hansip kemuning itu emang bener ada, SMA itu juga tapi aku gak pernah sekolah disana, itu SMA St.Ign Loyola”
    “Hehehehe kemana ya? Iya aku tau”
    “Hahah singkat padat jelas jawabanmu, heheh, yayuk dicerita itu berani mengajak makan es campur hehe….hmmm realnya?”
    “Ke semarang yuks!”
    “Yuk…mang berani? Hehhe…tar ketahuan bapakmu yang tentara gimana hehe”
    (Bapaknya yang tentara adalah tokoh ayah dalam cerita itu)
    “Kenapa tidak? Aku pernah ke Semarang cuma puter-puter ga jelas! Seharian! Pergi pagi pulang pakai pesawat terakhir! Gimana?”
    “Boleh-boleh saja…sapa takut, emang kamu ngapain koq muter-muter gitu”
    “Hehehehe bingungkan? Aku sendiri bingung koq aku berani ya?!”
    “Kapan itu terjadi? I think u tested you self…so kapan kita berangkat? Heheh”
    “MMM…setahun yang lalu! Heheheh…great experience!!”
    “Kenapa kamu lakukan itu? Yes its great, sometime we dong something push our limit…like my self I don’t have limit anymore..because life is freedom to do best thing for our self! Someday I’ll tell my story”.

    Entah ini sebuah keberaniaan atau sebuah tantangan, saat ia mengatakan ide pergi ke Semarang. Tapi entah kenapa aku berfikir ia tak akan pernah berani untuk hal segila itu.
    Aku berani untuk hal segila itu, aku dengan keberaniaanya, yang tanpa limit, ia tidak, tapi ia bukan aku, ia masih punya limit. Bagiku itu hanya sebuah kelakar saja, karena memang nyatanya ia tak berani. Hal itu tak pernah terjadi.
    Ia bukan aku, yang bisa pergi jauh, bahkan menyeberangi lautan untuk melakukan hal gila. Aku yang melawan limit dan aturan kolot untuk mencapai kebahagiaanku.
    Aku yang berani merevolusi kehidupan, aku yang bisa melakukan hal gila, ia tak akan bisa segila aku, melakukan hal-hal besar dalam hidup, aku yang berani memilih penderitaan atau kebahagiaan, ia saja tak sanggup melawan penderitaan yang hadir dalam hidupnya belasan tahun, apa lagi merevolusi kehidupannya, apa lagi mencapai kebahagiaan cintanya.
    Apa lagi untuk keluar rumah hanya untuk keSemarang, atau menemuiku.
    Hal gila lainnya, aku sanggup mengorbankan diriku, melakukan hal gila yang membuatnya membenciku, yah aku yang berani berkonfrontasi dengan orang yang telah mendustai cinta dan berhianat, aku tak perduli dibenci, tetapi setidaknya aku berani menentang apa yang salah dimana semua orang hanya diam tak berani menentang bahkan terkesan takut, aku bersedia dibenci, agar berharap mengembalikan kesadaran bagi mereka si penghianat dan berharap kebaikan dan kebahagiaan baginya. Dan aku mungkin telah dibenci.
    “Kau tak pernah berfikir kan hal ini?, aku melakukannya, bukankah kau menganggapku gila…”.

    Entah kenapa, apa yang kukatakan saat itu benar-benar terjadi, aku melakukan hal gila seperti dalam cerita itu, aku benar-benar pergi jauh dari semua yang kucintai, dan kali ini aku benar-benar menceritakan pengalamanku, ceritaku, cerita yang ku maksud disana bukan cerita yang ini, tetapi cerita kegilaanku yang lain, hari ini aku ada dikota ini, sebuah kegilaan yang baru.
    Mungkin semua alasan itu hanya sebuah excuse Tuhan untuk mempertemukan kita.
    Alasan untuk menyadarkannya, mempertemukan orang yang sangup memilih apapun yang terbaik dalam hidup, aku memilih, aku memilih untuk mencintainya, daripada mengikuti aturan normative yang kolot.
    Cinta tak bisa dibatasi oleh aturan normative, seperti aku yang tanpa limit.
    Jadi tak ada alasan Tuhan tak pernah menjawab doanya, Tuhan sudah menjawab dengan hadirnya seorang gila yang memberikan padanya pandangan tentang kehidupan dan pilihan untuk bahagia, pilihan untuk memperjuangkan cinta.
    Itu pikiranku mungkin ada alasan lain yang konyol yang bisa aku pikir dalam benakku. Aku mencoba mengerti excuse Tuhan.

***

    Hari ini cuaca masih seperti kemarin, aku malas untuk keluar-keluar, sahabatku bertolak pingang dan mengelengkan kepala, ngomel-ngomel.
    “Ngapain loe disini cuma ngerem aja”
    “Hey, mendung diluar sana, males gue keluar”
    “Enough, with that thing…, anggap saja loe melakukan kesalahaan dan sudah cukup, and learn from that”
    “Mistake???…hmmm, I never think I made a mistake???, love is not a mistake, gue gak melakukan kesalahaan apapun dengan mencintai”.
    “Gue susah ngomong ma lu!”
    “Ya loe gak akan bisa melawan cara gue berfikir”.
    “Enough…s’il vouse plait Mot de cette salope, forgot it men, anggap saja she never get into you, she never have nerve to fight”
    “At least I fight…, at least this love is not bullshit”.
    “Gue kenal loe…gue tau loe, tapi sampai kapan”
    “Gue gak tau…”
    “Apa sampai loe sendiri habis….and once again she maybe don’t care”
    Aku terdiam
    “Mungkin dia enak tidur disana, dan loe….”

    Itu perdebatanku dengan sahabatku untuk kesekian kalinya, ia tak pernah berhenti untuk menjadi lawanku dalam berdebat.
    Tetapi mistake!???, Aku pikir tidak.
    Yang jelas, aku dipertemukan dengannya dalam kesadaranku tahu siapa ia, dan ia bukan kesalahaan, aku tahu jelas siapa dirinya, statusnya, keberadaanya, kesedihannya, penderitaanya, juga senyumnya yang hadir lagi saat ia mengenalku.
    Aku tahu jelas semua resiko yang aku harus hadapi, entah apa ia tahu semua resiko itu?, yang jelas aku sangat sadar sesadarnya dengan semua itu.
    Tak ada yang disalahkan dari seorang yang memilih resiko itu dan menjalaninya, apa lagi soal cinta.
    Jadi jelas aku sadar tahu siapa ia, statusnya, keberadaanya, yang ku tak tahu adalah entah dari mana asalnya, mungkin dari surga, mungkin, yang jelas ia tak lahir dari surga, yang jelas ia tinggal jauh disebelah barat Jakarta, bukan di Jakarta, …mungkin surga ada disana, yang jelas ia lahir mungkin di Sukabumi tiga puluh lima tahun lalu tepat hari kesakitan Pancasila …mungkin juga surga ada disana ditempat kelahirannya, mungkin, yang jelas ia sekarang hadir seperti malaikat yang tiba-tiba turun dari langit dan entah kenapa Tuhan harus membiarkan malaikatnya turun ke bumi menemuiku?.
    Mungkin agar aku dilukai, agar aku mendapatkan sekali lagi hikmah dari kesakitan. Mungkin.
    Mungkin agar aku dikaruniai cinta karena sudah mencintai dengan tulus diwaktu lalu. Mungkin.
    Lalu aku berfikir mana pernah ada seorang malaikat rajin pergi kesebuah Mall hampir setiap saat, duduk disebuah coffeeshop bernama “Dante” sendirian menikmati coffee.
    Saat ku tanya “ngapain kamu disana?” ia hanya menjawab “yah hanya untuk duduk aja sendiri”, aku pun menceritakan kalau aku punya kesukaan yang sama duduk sendiri di sebuah coffeeshop tapi aku lebih senang secangkir Earl Gray daripada kopi hitam.
    Atau ia menghabiskan waktunya disebuah salon hanya untuk merapikan rambut, fasial untuk merawat wajah. Yah aku sering sekali tahu ia rajin pergi ke salon untuk merawat rambut, aku bahkan melihat jelas ia duduk disebuah salon D’Glam di sebuah Mall diJakarta berjam-jam lamanya, bagaimana aku tahu? Sebuah smsnya memberitahuku.
    “Aku sudah sampai di GI, gi makan di Y&Y”
    “Tahan 30 menit lebih, aku sampai disana”
    “Kamu jangan sms aku lagi ya”
    Aku berdiri tiga puluh meter dari dia, dari mereka, mereka tak sadar, ia sadar, ia melihatku, aku melihat mereka, ia sadar, ia yang mengundangku ke sini, bagaimana aku tahu jika ia tak mengirimkan sms kepadaku. Ini kenyataan, lalu aku menghilang dari mereka, dan aku kehilangan dia.
    “Where are you, im lost”
    “Aku di D’Glam salon deket SEIBU”. Katanya
    Aku muncul lagi, ia duduk disalon berjam-jam lamanya, aku menanti, mereka menanti, mungkin itu yang dilakukan malaikat disurga sana, duduk disalon berjam-jam lamanya.
    Ah…entahlah.
    Apa yang kulakukan, menanti.
    Yang jelas ia hadir dihadapanku membawakanku cinta dalam sebuah hati yang pernah dilukai, tetapi hatinya dan cintanya diberikan padaku, aku memiliki hati dan cintanya, siapa yang tak bahagia dengan semua itu, aku bahagia, ia bahagia.
    Aku mencintainya.
    Ia mencintaiku.
    Aku memiliki hatinya.
    Ia memiliki hatiku.
    Itulah kenyataanya.


***

    Hari-hari pertama dikota ini seperti neraka rasanya, karena pikiranku malah jauh disana, di Jakarta, hari ini masih sama seperti kemarin-kemarin cuaca tak bersahabat, aku tadi menyempatkan diri keluar sebentar, dingin cuacanya, aku sempat berjalan pergi ke Mart mencari rokok, rokokku habis, badan ku serasa lelah, semalam tak dapat tidur menghabiskan waktu merokok berusaha memikirkan hal lain dan mencari kesibukan lain dimalam hari.
    Kelelahan yang sangat dan terlalu kurang istirahat membuatku beberapa kali harus memeriksakan diri kedokter, dan benar-benar harus istirahat total, tapi tak dapat, aku sering terus terbangun ditengah malam, dan tak dapat tidur dengan pulas, terus berusaha mencoba tidak ingat atau menghindari mimpi yang dari dulu kadang hadir ditengah malam dan sering membangunkanku waktu aku di Jakarta sekalipun.
    Ah, tak mungkin aku bisa lupa, yang jelas sekarang ia hadir dalam hidupku, tak ada yang menduga ia hadir, “akankah kau juga bisa menduga? Walau mungkin kau lupa!”, tapi tak ada yang bisa menolak kehadiran nya nyata atau tak nyata, yang jelas ia hadir saat aku yang masih lekat dengan peristiwa lalu, dan aku hadir dalam hidupnya saat ia masih hidup dalam kehidupan yang sama.

    Tetapi aku seperti tiba-tiba dibangunkan dari tidur saat ia hadir, ia berdiri tegak dihadapanku, menyadarkanku.
    Sedangkan aku, aku tak bisa menyadarkannya untuk melihat kedepan, dan memperoleh kebahagiaanya. Ia tetap ingin hidup dalam ketidak bahagiaanya. Hidup dalam penderitaanya.
    Aku berhasil mendapatkan kebahagiaanku walau sejenak karena pilihanku, ia tidak.
    Aku tahu ia pula masih sering melihat kebelakang, masih ragu apakah aku sama brengseknya dengan banyak laki-laki, atau akankah aku sama brengseknya dengan pria yang sudah lama hidup bersamanya?.
    Seseorang yang mungkin memberinya semua hal yang terlihat, tetapi tak pernah memberinya kebahagiaan.
    Tapi aku telah menghadirkan kebahagiaan yang sejenak, aku telah menghadirkan senyum yang indah, diwajah yang hampir tak pernah tersenyum lagi.
    Aku tahu ia pun sempat ragu, akankah aku sama brengseknya dengan laki-laki itu? Itulah kenapa aku ingat ia bertanya diawal perkenalan kita
    “Benar kamu belum menikah?”
    Dan aku menjawab tegas.
    “Perlukah kamu datang kerumahku, dan melihat sendiri kehidupanku?”.
    Ia pun terdiam, entah percaya, entah masih ragu.
    Lihat aku yang selalu berpegang pada kejujuran, aku yang selalu tegas pada kebenaran, aku yang selalu apa adanya tanpa harus berusaha menipu, masih saja sering ditanyai pertanyaan yang ragu itu.
    Selalu aku tanpa rasa kesal, pasti dengan senang hati, sangat senang hati menjawab dengan jujur, karena kejujuran saja yang aku punya.
    “Aku belum menikah! Perlu bukti? perlukah kau lihat semua dokumentku agar jadi bukti aku tidak menikah dengan siapapun”
    Aku akan serta merta siap dengan segenap usaha untuk membuktikan “Aku belum menikah”. Itu bukan hanya satu krisis kepercayaan saat ia sering meragukan aku, daripada mempercayaiku.
    Pernah suatu pagi, kita ada dalam sebuah percakapan, ia mencoba untuk mempercayaiku.
    “Morning sayangku…”
    “Morning!!! Kamu sudah bangun rupanya…”
    “Udah dong, mimpiin kamu dua kali, mungkin tiga kali”.
    “Hahahaha, Gombaaaaaaaaaall!!”
    “Ya udah kalau ga percaya, beneran, suer demi Tuhan”
    “Oh…hehe, kamu bisa-bisanya ya came into my dream, first thing I wokeup is think of you, kamu pernah begitu? Ah kayaknya ngak hehehe, I dream I kiss you again, and dream yang kedua agak serem kamu marah sama aku, maybe leave me, hehe someday if that happen, even you forget me, but im not”.
    “Apa yang kamu tulis barusan itu… beneran? Aku gak bermaksud apa-apa sih just asking…you know aku punya krisis kepercayaan sama laki-laki”.
    “Apa yang aku tulis beneran, aku paham, mungkin kalau kamu bisa tau pikiranku kamu akan tau seperti apa aku…tapi apa yang aku bicarakan tadi benar adanya…”
    “Hemmm…ok bagaimanapun aku bahagia dengernya…thank u”
    “Selama aku masih ada, masih nafas aku mau dan aku berharap bisa selalu buat kamu bahagia, selama kamu mau aku ada…I’ll keep that promise..”
    “Aku hanya berharap apa yang kamu tulis itu BENAR adanya…itu saja, aku gak pernah menyangka kamu, akan hadir dalam hidupku…”
    “Aku suka dalam hidup ini membuktikan apa yang aku bilang, heheh, thank you if I can be part of your life…kangen aku”
    Saat sekarang aku telah menepati apa yang aku katakan. Aku menepati janjiku. “Aku membuatnya bahagia selama aku masih diizinkan ada”.
    Yang jelas
    Aku mencintainya.
    Ia mencintaiku.
    Aku memiliki hatinya.
    Ia memiliki hatiku.
    Aku membuktikan diriku.
    Ia tidak.
    Itulah kenyataanya.

***

    Aku masih tak percaya, aku ada dikota ini, ini bukan yang pertama aku ada disini, aku tak pernah percaya aku benar-benar jauh dari semua yang kucintai, sekarang aku mulai ragu apakah ia mencintaiku?, kalau iya kenapa begini, sejujurnya, kalau aku ingat puluhan malam lalu, puluhan pagi lalu, kata pertama yang ia katakan dan ku ingat bukan pertanyaan ragu itu.
    Tapi kata yang ia katakan dengan singkat.
    “Akhirnya aku menemukanmu…”
    Sampai sekarang aku masih bertanya apa artinya.
    Apakah ini teka-teki, Apakah itu hanya kata-kata tanpa arti.
    Apakah aku yang dicarinya? Dan apakah ia juga sosok yang aku cari selama ini?
    Apakah ia belahan jiwaku?. Apakah ia rusukku?
    Apakah ia milikku? Walau nyatanya sekarang tidak.
    Ia bukan milikku.
    Yah memang, kata itu aku masih ingat walau lewat puluhan malam lalu.
    Masih jadi pertanyaan yang hanya aku bisa terima sebagai ungkapannya bahwa ia menemukan aku, aku menemukannya.
    Aku yang mungkin diinginkannya jadi bagian hidupnya. Dan aku pun begitu.
    Aku mencintainya.
    Ia mencintaiku.
    Aku memiliki hatinya.
    Ia memiliki hatiku.
    Aku ingin memilikinya.
    Ia ingin memilikiku.
    Walau secara yuridis ia bukan milikku.
    Kenyataanya, ia hidup dengan pria yang sepanjang hidupnya hanya memberikan dirinya penderitaan. Ia tak sama sekali hidup denganku, kita hanya berusaha memiliki dari dalam hati kita masing-masing, memiliki satu sama lain seperti pencuri yang diam-diam sembunyi-sembunyi, mencoba bahagia dengan cara kita yang unik juga gila, sayangnya ia tak ingin bahagia dengan membebaskan dirinya mencapai kebahagiaan.
    Entah atas alasan apa lagi.
    Entahlah seperti biasa aku tak tahu kemauaan Tuhan, tak tahu kemana perjalanan ini dibawaNya.
    Kenapa cinta datang dalam bentuk yang demikian?, kenapa sebuah hati diberikan padaku dalam bentuk yang aku tak pahami?.
    Yang jelas
    Aku mencintainya.
    Ia mencintaiku.
    Aku memiliki hatinya.
    Ia memiliki hatiku.
    Itulah kenyataanya.

***

    Pagi sekali aku mencoba mencari udara segar, aku menghabiskan waktu untuk keliling kebeberapa tempat hari ini, aku tak bisa tinggal diruangan saja, aku perlu udara segar, aku perlu nafas, dan akhirnya aku duduk disebuah restaurant menikmati makan pagi yang nikmat, tetapi apa nikmat buatku, aku tak sepenuhnya menikmati hidangan itu.
    Kenyataan…kenyataan masih muncul dalam detik-detikku, kenyataan yang tak bisa dibuang begitu saja, kenyataan yang ada dihadapan Tuhan.
    Kenyataan yang ada dihadapan Tuhan, walau semua orang akan mengecam tentang hal ini.
    Tapi sekarang, saat sekarang, malam ini, seperti puluhan malam lalu, ada banyak pertanyaan dibenakku tak bisa dijawab, kenapa cinta datang dalam bentuk yang demikian?, kemana perjalananku dan dirinya akan berujung?.
    Saat aku pun bertanya kepadanya, akan jalan yang kita akan lalui didepan, ia lebih sering menghindar.
    Kita pernah bertengkar hebat karena hal itu, bahkan pertengkaran itu memisahkan kita untuk waktu yang lama, tapi aku paham kenapa ia menghindar, ia tak dapat menjawab semua pertanyaan itu sekarang, terlalu banyak yang dipikirkan, terlalu banyak yang ia harus tangung.
    Sedang saat pertanyaan itu muncul juga dibenakku, tak bisa ku jawab juga!, hanya berharap! Hanya bermimpi.
    Biarlah itu jadi pertanyaanku kepada Tuhan.
    Biarkan Tuhan yang menjawab.
    Kalau IA tak menjawab…sudah biasa IA tak menjawab.
    Karena selalu Tuhan lebih senang bungkam dan manusia mencoba menebak apa kehendak Tuhan.
    Seperti aku mencoba menebak kehendakNya yang selalu samar, bahkan tak jelas.
    Ia pun pernah mengatakan hal yang sama “Kita tak pernah tahu apa yang terjadi nanti”.
    Jika aku menjawab sendiri aku akan menjawab dengan kalimat, yang pernah pula kukatakan padanya dalam sebuah surat.

   Sayang
    Semalaman aku berusaha mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku dalam catatan ini, yang tidak mudah kadang untuk dipahami, tapi semoga dengan email ini kamu, aku dan kita bisa mencoba memahaminya, dan selalu merenungkannya.
    Sayang, saat awal kita berada disini, didalam kondisi ini, itu merupakan pilihan dan juga bukan sebuah kebetulan yang terjadi, yang terjadi begitu saja bukan hanya atas kehendak kita.
    Aku sangat percaya, bahwa hidup tak ada yang kebetulan, hidup ada dan terjadi karena sebuah alasan, alasan yang hanya IA yang tahu, alasan yang tersedia dalam hidup kita dan kita rupanya memilih jalan ini untuk kita lalui. Dan jika kita sadari pilihan kita juga ada dalam alasanNya.
    Pernahkah kamu merenungkan hal yang hampir sama, kenapa perasaan ini ada tidak dari dulu, saat "aku" "kamu" masih sendiri, kenapa kita tidak dipertemukan dulu bukan "sekarang".

    Lalu pernahkah kita merenungkan kenapa  harus dipertemukan dalam kondisi kita sekarang, yang bisa saja dijawab mungkin karena kamu harus melalui dulu semua hal yang ada dalam hidup kamu, untuk mencapai diri kamu yang sekarang, dan aku harus melalui hidup aku yang dulu untuk memahami diri aku yang sekarang. Yang akhirnya kita bisa melengkapi satu sama lain diwaktu kita sekarang.

    Sama seperti hal nya kita, perasaan yang ada dalam diri kita ada karena sesuatu yang datang atas izinNya, tujuanNya dan pilihan kita.
    Kita bisa saja menepis melawan semua perasaan ini, mencoba membohongi diri kita, dan membuangnya, tanpa sadar kita melawan apa yang menjadi kehendakNya dan jalanNya nanti.
    Tapi kita rupanya tidak demikian, sekarang kita ada dijalan yang sama, saling menyayangi, berusaha untuk saling mencintai dengan cara kita mencintai satu sama lain.

    Dan sayang, aku selalu dan selalu bersyukur atas saat-saat itu, aku bersyukur karena kehendakNya karena kita dipertemukan walau dalam kondisi apapun kita, juga perasaan yang ada dalam diriku.
    Pernahkah kamu merasakan hal yang sama.?
    Itulah kenapa aku selalu menghargai sebuah perjalanan, aku sangat menghargai dan berharap bisa menjaga perjalanan kita, dan aku percaya, pada saatNya, kita pasti sampai disatu saat dimana itu menjadi tujuaan dari perjalanan kita.
    Entah apapun itu akhirnya, tapi kita hanya bisa berharap sesuatu yang baik buat kita.
    Harapan saja yang kita bisa lakukan.
    Bagi kita, bagi aku, aku berkeinginan kemana jalan ku, walau kadang takut kemana arah dan tujuanku akan sampai atau tidak. Aku tak tahu, karena aku tahu pasti semua itu tergantung kita, dan kehendakNya.
    Dan mungkin bagi kamu, kamu juga merasakan dan berharap pada arah dan tujuan yang sama, walau jujur sangat tidak mudah bagi kamu mencapai itu, perlu pertimbangan, perlu pemikiran, perlu waktu dan perenungan yang panjang dan mungkin juga keraguaan yang terus berusaha dihilangkan, sampai muncul keyakinan.
    Sayang, aku sangat paham, tidak mudah buat kamu, semua kondisi kamu, semua hal yang ada dalam hidup kamu, dan jujur kadang aku merasa bersalah, karena aku tak mencoba melihat itu. Dan kadang menanyakan hal itu.
    Seharusnya aku tak semestinya bertanya hal itu, tapi yang ku maksud adalah kadang kita sesekali perlu melongok dengan serius perjalanan kita, mungkin melongok ke mimpi kita, melepaskan sedikit realitas kita, kita gak tau apa yang terjadi nanti. HANYA sekedar melongok, berbicara sedikit disana. Semoga menemukan sesuatu.
    Maaf jika aku membuatmu takut, dan malah terbeban, jangan anggap itu menjadi beban, anggap itu sebagai sebuah keinginan hati dan niat hatiku, yang tidak pernah menanggap pejalanan ini main-main.
    Aku pun tau kadang kamu pun meragukan aku, aku paham karena kau tak ingin dilukai lagi, sama halnya aku takut kesunguhan hati kamu. Maafkan aku.
    Sayang, jika kamu mencintai aku, sama halnya denganku, berpeganglah pada hal ini, karena aku pun berpegang pada hal ini, pada cinta yang diberikanNya pada hari-hari kita, jangan pernah melukai atas dasar cinta, berpeganglah teguh, berdirilah disana, karena satu-satunya inilah kekuatan buat kamu, dan kekuatan buat aku.
    Selama hal itu ada, inilah satu-satunya kekuatan dan harapan kita.
    Sayang, aku gak tau seberapa kekuatanku, sampai kapan aku akan berada disisi kamu, jika memang kehendak Tuhan, aku memilih menjalani kehendak Tuhan itu, aku akan berjalan bersamamu sampai ke sebuah tujuan atau mungkin kehendakNya hanya untuk menyertai kamu, atau sama sekali tidak.
    Aku memilih jalan itu.
    Sayang, kamu sangat berharga buatku, itu kenapa aku memilih kamu, apapun diri kamu, aku memandangnya dengan sempurna, aku berharap sayang
    Sayang, kebahagiaan kamu adalah tujuan terbesarku, kebahagiaan itu yang aku ingin lihat.

    I love you always

    Yah “Aku sangat percaya, bahwa hidup tak ada yang kebetulan, hidup ada dan terjadi karena sebuah alasan, alasan yang hanya IA yang tahu, alasan yang tersedia dalam hidup nya dan hidupku.”
    Ia membalas surat itu dengan sebuah kalimat pendek.

    I’m so sorry…so sorry…satu hal yang kamu tau, gak cuma kamu yang merasa sakit Aku juga!

    Dari pesannya itu aku tahu, ia mencintaiku seperti aku mencintainya.
    Membuatku selalu bersumpah ingin memberikannya senyum dan kebahagiaan baginya.
    Berusaha memberinya kebahagiaan yang tak ia dapatkan separuh usianya, aku pernah berjanji dan mengatakan itu.
    Keinginan ku untuk terus berjalan menyertainya.
    Walau aku tak tahu apa yang terjadi nanti, waktu kedepan yang masih samar, waktu kedepan yang masih misteri. Akankah ia mencapai kebebasannya dan mendapatkan kebahagiaan besamaku, atau tidak sama sekali.
    Ini sebuah episode baru “The great expectation”.
    Yang jelas sekarang, ia hadir dihadapanku, didepanku.
    Hadir atas perintah Tuhan, hadir atas rencana Tuhan, dan kalau ini pun jadi penderitaan buat kehidupanku, aku salahkan Tuhan atas semua ini.
    Aku tak bisa membencinya, tak bisa, biar aku salahkan Tuhan saja atas semua itu. Amit-amit jangan terjadi.
    Akhirnya terjadi, ia datang dan ia pergi bersama cinta.
    Ia datang tidak sendiri, karena ia hadir bersama cinta.
    Hadir membawa cinta.
    Hingga ia sering berkata
    “I love you”.
    Sampai aku berkata.
    “Kau adalah kehidupanku, Kau adalah darahku” lebih dari sekedar aku berkata “I love you too”.
    Lalu ia membalas ungkapanku itu hanya dengan empat kata.
    “Wow”, “Gombal…!!!”, “Really?” atau “Beneran?”
    Aku hanya bisa jawab dengan tegas.
    “Iya.”
    Buktinya ia telah hadir menjadi inspirasiku, menjadi tenaga yang mengerakkan kehidupanku, ia menjadi tamu dalam mimpiku, aku menjadi tamu dalam mimpinya, dan aku jadi sering terjaga ditengah malam dan baru tertidur diwaktu subuh. Karena ia datang dalam pikirku yang tenang.
    Malam ini, aku mengingat puluhan pagi lalu.
    Saat pagi pesan singkatnya mengagetkanku.
    “Morniiiiing!! Wake up“
    “Miss you..”
    “Pagi yank….”
    Pesan pendek itu mengugah semangatku sehariaan.
    Yang jelas
    Aku mencintainya.
    Ia mencintaiku.
    Aku memiliki hatinya.
    Ia memiliki hatiku.
    Itulah kenyataanya.
    “Pagi yank…”

***

    Lampu kota ini tak pernah mati, jauh di pusat seni ditengah kota, kehidupan masih berdenyut walau sampai esok pagi, esok pagi lagi, aku benci suasana sepi dan tak mengenakkan ini, aku tak dapat tidur, lalu memutuskan untuk menulis, perasaanku tak enak, semua seperti ingin keluar dimuntahkan dalam tulisan ini, aku ingat ia berkata.
    “Perasaanku koq jadi gak karuan ya?? Duuuhh bahaya niy, Miss you so much honey!”
    “Aku pun sama…kamu juga ada dalam pikiranku..aku mimpi kamu sudah tiga kali its because we love each other, we connected in mind and soul, love you honey..love you”
    Saat aku menciumnya dari jarak yang jauh, ia pun menjadi semakin tak tenang, gemetar, seperti merasakan tenaga dari jarak yang jauh yang luar biasa berdesir didalam darah dan jantungnya.
    Aku pun kemudian menjelaskan artinya sebuah ikatan batin, mungkin benar kita punya ikatan batin, dan nyatanya benar, pernah pada malam yang sama, kita saling tak dapat tidur, aku berfikir tentang dirinya dijarak yang jauh, ia berfikir tentang aku ditempatnya yang jauh.
    Aku hanya bisa berkata…ini kegilaan, karena memang cinta selalu gila, kita gila, aku gila, dia pun gila, gara-gara mabuk cinta, gila gara-gara cinta, gila gara-gara melawan norma, gara-gara Tuhan, kalau sudah begini, siapa yang disalahkan, dan biarkan aku salahkan Tuhan yang membawa cinta bersama dia hadir dalam kehidupan kita.
    Bukan hanya kehidupanku, atau kehidupannya, tetapi kehidupan kita.
    Aku tak lagi pakai kata “aku”, “kamu”, tetapi kita.
    Karena aku menduga, aku dan ia, sudah jadi “kita”.
    Menjadi kita bukan karena persatuaan pembaringan yang penuh nafsu, bukan juga sudah jadi kita karena di sahkan diatas pelaminan, bukan karena ijab Kabul, atau pemberkatan imam, tapi  “kita” terjadi karena jiwa, hati, nyawa, cinta, kita menyatu atas kekehendak Tuhan.
    Menyatu atas kehendak Tuhan.
    Menyatu karena persenyawaan cinta, dalam kata “kita”.
    Siapa yang bisa memisahkan, tak ada yang bisa memisahkan, fakta yuridis tak dapat memisahkan, statusnya juga, walau dalam jarak yang jauh, walau kita tak lagi bisa setiap detik bertegur sapa dalam segala kerinduaan.
    Semua itu tak dapat memisahkan kita.
    Kalau sudah begini, siapa yang disalahkan, dan biarkan aku salahkan Tuhan yang membawa cinta bersama dia hadir dalam kehidupan kita.
    Apa ini artinya ini?
    Aku mencintainya.
    Ia mencintaiku.
    Aku memiliki hatinya.
    Ia memiliki hatiku.
    Aku ingin memilikinya.
    Ia ingin memilikiku.
    Semua orang bisa menjawab apa artinya?.

***

    Aku terbangun lagi malam ini, terdiam disudut ranjang, tak berbuat apapun, entah karena terjaga, entah karena mimpi, atau entah karena seseorang dikejauhan sana tak dapat tidur dan memikirkanku, entah lah…lalu aku mencoba menulis dalam catatan kecilku, sepotong puisi, yang tak dapat ku selesaikan, bahkan tak dapat ku mulai sama sekali.
    Tak seperti biasa aku dapat menulis jika aku terjaga dan tak dapat tertidur lagi, kali ini tidak, kali ini inspirasi terhenti, sejalan terhentinya tidurku, dan sejalan wujud dan suara nya tak lagi hadir dalam hidupku.
    Aku jadi ingat puluhan malam lalu, ia pernah menuliskan puisi untukku, berjudul Malam, entah atas hal apa ia menuliskan puisi itu untukku, entah karena keraguan yang ada dihatinya atau  ketakutannya akan sebuah perpisahaan, atau karena sesuatu hal yang membuat hatinya bergemuruh tak dapat tenang, karena jiwanya yang sendiri tanpa seseorang dan itu yang membuat hidupnya dalam pergulatan berat, mungkin ia tak ingin aku pergi disuatu saat nanti mungkin.

    Saat malam menyapa
    Gelap pun tak kulihat
    Tanyaku hanya satu
    Mengapa Bintang tak ikut hadir malam ini?
    Tertunduk..
    Ku Rasakan gemuruh hati tak henti
    Sungguh tak bisa ku hentikan
    Angin lembut membisikan asa
    Berharap Malam tak segera berakhir
    Untuk temaniku tetap terjaga

    Aku masih menyimpan puisi itu, bahkan ku salin dicatatanku, aku ingat aku membalas puisi itu dengan puisi dengan sebuah puisi berjudul Bintang Sembunyi.

    Dalam gelap
    Bintang sembunyi
    Dibalik awan
    Berselimut hitam
    Tergantung dilangit
    Tak pernah hilang
    Menemani hidupmu
    Dihari-hari gelap tanpa
    Teman

    Sayang sekali malam ini aku tak dapat menulis sebuah puisipun, yang ku tahu sebuah puisinya telah melahirkan puluhan puisiku, melahirkan ungkapan-ungkapan yang kadang tak dapat dikatakan, malam-malam lalu aku tak pergi meninggalkannya, seperti kekawatiran dalam puisinya, bahkan aku menjawab bahwa ia tak pernah hilang walau bersembunyi dibalik awan, dan memang nyatanya aku tak pernah pergi, ia yang pergi, lalu aku yang pergi jauh ribuan mil jauhnya, tapi aku tak pernah hilang, karena waktuku belum genap.
    Malam ini aku sadar
    Malam pasti ada bintang
    Bintang tak pernah hilang
    Seperti aku mencintainya.
    Ia mencintaiku.
    Walau bintang bersembunyi dibalik awan
    Tetapi malam selalu dekat bintang

***

    Entah apa, nama Marxim Gorky muncul dalam benakku, entah darimana aku menyimak nama itu, nama itu adalah nama seorang penulis Rusia, ia terlahir dengan nama Aleksey Maksimovich Peskhov, 16 Maret 1868, aku memutuskan untuk keluar mencari buku karyanya.
    Aku pergi ke local book store yang menurut sahabatku benar-benar lengkap, aku jadi ingat jelas puluhan malam lalu, saat ia melangkah dengan anggunnya memasuki toko buku dimana aku dan ia berjanji untuk bertemu, ia mengenakan baju bermotif bunga, rambutnya bergerai panjang, jemarinya terdapat cincin etnis emas putih, hari itu aku begitu santai dengan kemeja, jeans coklat, and baseball cap kesayanganku.
    Aku tak pernah terduga kita berjanji ditempat itu, tempat yang seolah rahasia, jauh dari keramaiaan.
    Pertemuan hari itu kupikir sebuah sepontanitas yang gila, sepontan kita berjanji, dan aku langsung dari kantor aku sengaja pergi ketempat itu untuk berjanji menemuinya dan kebetulan hari itu ia ada acara kumpul-kumpul dengan teman-teman wanitanya, ibu-ibu dan tidak lagi lajang, di sebuah restauran bernama Immigrant, letak toko buku itu terletak satu lantai dibawahnya.
    Sedang aku sudah tiba tiga puluh menit lalu, memberi nya kabar lewat pesan singkat, dan menunggunya sambil berfikir dimana aku akan menemuinya.    
    Toko buku adalah tempat yang baik, entah atas alasan apa aku menemuinya ditempat ini.
    Mungkin karena toko buku ini terpencil tempatnya, tak banyak orang lewat, tak banyak orang datang ditoko buku dihari biasa, dan aku suka membaca, ia suka membaca.
    Aku sudah berada tiga puluh menit lalu, melihat-lihat buku, sambil menunggunya.
    “Kamu dimana yank?”
    “Aku OTW ke sana”
    Beberapa saat kemudian ia masih bertanya
    “Kamu dah sampai?”
    “Sudah…”
    “Kamu dimana?”
    “Lantai 6, Imigrant. Nanti kamu telp aku aja”
    “Aku ke sana?”
    “Jangan….”
    “Aku yang turun aja…”
    Tak lama ia pun turun satu lantai untuk mencariku ditoko buku dimana aku berada…Ia pamit kepada teman-temannya untuk membeli coklat dilantai bawah, sesunggunya ia turun satu lantai, untuk menemuiku ditoko buku itu, ia berusaha mencari toko buku itu, dengan menelfonku.
    “Dimana sih kamu?”
    “Di Aksara…”
    “Dimana itu…, aku tak tahu tempat ini”
    “Apa lagi aku”
    “Dimana sih kamu?”
    “Gini…dari tangga eskalator ke kanan lalu terus ke kiri, kamu tanya security”.
    Ia terus berbicara denganku sampai ia bertemu denganku, ditoko buku itu.
    Aku berdiri dua rak di belakang ruang toko buku itu, melihat buku-buku tanpa fokus yang jelas, sebenarnya tak ada yang kucari selain menunggunya datang.
    Ia melangkah dengan anggunnya memasuki toko buku dimana aku dan ia berjanji untuk bertemu.
    Ia menutup telfonnya saat ia melihatku dibalik dua rak yang berjajar.
    “Hey…”
    “Hey…”, aku dan ia saling berciuman tanpa tersentuh dipipi kita masing-masing.
    “Susah sekali mencarinya”.
    “Dimana kita bisa duduk…”, kataku.
    “Disini aja ya…”, kataaku lagi
    “Is ok”.
    Kita tak bisa jauh dari tempat itu, kebetulan toko buku itu berbatasan dengan sebuah coffeeshop, disitulah kita duduk, untuk melepas kerinduaan.
    Seorang pelayan datang membawakan menu.
    “Mau makan apa?”
    “Minum aja, aku ga bisa lama, aku bilang sama temen, kalau mau cari coklat untuk anak-anak”.
    “Oh, ya sudah kalau gitu minum aja…”
    “Kamu aja…”
    “Ok mas saya pesan Mocca latte”
    “Kalau mbak”…
    “Hmmm saya Equil aja deh”.
    Aku tak ingat apa yang kita bicarakan hari itu, karena ia hanya tersenyum memandangku, sembali memasukan Blackberrynya kedalam tasnya yang besar, yah aku tak ingat percakapan apa yang ada hari itu, ia begitu diam, aku yang begitu tak tahu harus bicara apa, kita hanya bicara seadanya, cangung, tegang, ia begitu terlihat tegang, dan gerogi, apa lagi aku.
    Aku malah ingat pertanyaan konyolku tentang apa gunanya tas sebesar itu.
    Pertanyaan konyol yang benar-benar konyol.
    Hal gila yang benar-benar gila, aku bisa merasakan jemarinya yang dingin dan berkeringat saat aku mengengam tangannya dibawah meja.
    Mungkin karena ketegangan itu, kita jadi lupa berkata kerinduaan kita masing-masing, seperti yang selalu kita ucapkan dari jarak yang jauh.
    “Silahkan” kata seorang pelayan yang membawakan minuman kami
    Aku membuka kan botol Equilnya
    “Silahkan” kataku, setelah itu aku menikmati coffe latte yang tersedia digelas tinggi seperti layaknya latte yang disediakan di coffeshop manapun di Jakarta ini. Aku yang ingat hari itu jadi sering tersenyum sendiri, karena aku yang cangung dan ia yang cangung, aku jadi salah tingkah dengan menumpahkan gula berceceran dimeja.
    “Gosh…”
    Aku tersenyum lagi.
    Setelah duduk-duduk tak lama itu, kami keluar dari cafeshop itu, dan jalan mencari toko coklat yang memang ingin dicarinya, dan sekali lagi, ia menatapku sekilas, saat aku mengandeng tangannya yang tegang.
    Lucu…ia mungkin lupa betapa tegangnya ia, aku ingat sama sekali semua detail nya, tak lupa, bahkan aku masih mengingat tiap detailnya saat ini.
    Yang jelas hari itu pertemuan singkat yang sejenak, yang membuat setiap sendiku terasa lemas, karena ketegangan, dan membuat jemarinya dingin karena ketegangan.
    Kita sama-sama dalam ketegangan yang membahagiakan.
    Yang jelas
    Aku mencintainya.
    Ia mencintaiku.
    Aku memiliki hatinya.
    Ia memiliki hatiku.
    Itulah kenyataanya.

***

    Pagi ini bukan puluhan malam lalu, aku jauh dari dari mereka yang kucintai, jauh dari rumah, duduk disebuah coffeeshop dengan memesan secangkir Earl Gray, kehidupan disini telah menunjukan denyutnya, sedang aku tak menunjukan denyut apapun, aku duduk sejak setengah jam lalu disini, mencoba mencari kata penutup dalam catatanku, walau masih begitu banyak detail yang ku ingat, masih begitu banyak bukti yang kusimpan tentang perjalananku, tentang cinta kita, aku tak dapat menuliskan semuanya, terlalu berat, terlalu menyakitkan.
    Bahkan sebuah surat pun pernah kutulis tetapi tak pernah kukirim, surat yang jauh kutulis karena aku tahu, aku seperti merasakan mendapat pertanda, bahwa ia akan tak ada lagi, aku menulis

    Sayang
    Beberapa waktu lalu, saat kita sempat terpisahkan selama seminggu lamanya, aku sempat marah, kesal kenapa seolah aku harus dihapuskan dari kenyataan, sedang semua yang kau katakan ku percayai.
    Tapi aku mendapatkan cahaya dari langit, dari surga, sebuah pemahaman tentang ini semua, aku selalu berkata, aku selalu berkata dari awal, dan tak pernah ku rubah, aku ingin melihat kebahagiaan mu, kebahagiaanmu yang penuh senyum dan keceriaan, kebahagiaan yang ada didalam hati, dan kebahagiaan yang tak lagi merasakan sesak didalam.
    Sayang aku mau kau bahagia, aku mau melihatmu bahagia, walau ada aku atau tanpa ada aku, kebahagiaan yang harus kau dapatkan untuk perjalanan sisa hidup mu.
    Berjuanglah selalu untuk itu, berjuanglah selalu.
    Yang bisa kuberikan, adalah apa yang ada didalam ku sekarang, juga sujud dan permohonanku kepada Tuhan untuk itu, aku memohon semua kebaikan dan kebahagiaan yang maha indah, memohon dengan semua hati buat kebahagiaanmu, engkau tak melihat proses apa yang terjadi disini, seperti kau tak pernah melihat saat tiap kali aku mulai menulis tentang kita.
    Aku mau kamu bahagia sayang, tersenyumlah selalu, tersenyumlah untuk mereka.
    Aku sudah mendapatkan semua kebahagiaan ku, aku bahagia dengan semua yang dikaruniakan Tuhan dalam hidup, aku bahagia diberikan pilihan dan kesempatan mencintai dengan segala ketulusan, aku bahagia dibawa kesebuah perjalanan dan menemukanmu.
    Kau tak menduga menemukanku.
    Aku bersyukur kepadaNya aku menemukanmu.
    Aku bersyukur kepada waktu yang diberikan saat kita bersama.
    Aku mau kamu bahagia sayang, tersenyumlah selalu.
    Aku tahu saatnya sudah tiba, walau aku berusaha menyangkal dan menolak, tapi aku tahu suara didalamku tak bisa salah.
    Aku mau kamu bahagia sayang, tersenyumlah selalu. Ada atau tanpa ada aku.

    With all my heart I love you
    1 November 2009

    Semua detail itu masih ada dalam ingatanku, dalam diriku.
    Apakah bisa ku buang?, tidak.
    Apakah bisa ku bakar?, tidak.
    Mungkin ia bisa, tetapi tidak aku.
    Mungkin semua tentangku sudah ia lupakan, tetapi tidak aku.
    Apakah ia telah melupakanku?
    Seperti ia pernah berkata.
    “You always have place in my heart”

    Apakah masih seperti itu?,
    Aku hanya bisa bersuara dihati, aku hanya bisa berteriak dihati tanpa suara, berdoa untuk orang-orang yang kucintai.
    Untuk ia yang kucintai selalu, walau aku makin jauh.
    Yang jelas aku tidak pernah melupakannya. Hari ini aku telah melalui seluruhnya, aku menyimpan kenyataan tentang kebenaran. Sesuatu yang tak bisa dibuang dari hidupku atau dari hadapan Tuhan.
    Yah aku telah gila dengan pergi jauh dari rumahku, entah atas alasan apa, atas alasan cinta atau hanya sekedar liburan, tetapi yang jelas aku tak merencanakan sebuah liburan, tentu atas alasan yang satu lagi. Semua karena alasan cinta.

 

 

NewYork City
4 Desember 2009   
Markus AP

 

Dedicated to Y.K “Kayurie”, semoga & selalu cinta, kekuatan dan kebahagiaan menyertaimu dimanapun kau berada.

52 Responses to “Kayurie (cerpen)”

Nice Story…aku gak bisa bicara banyak sampai aku membacanya ikut terbawa dan merasakan hal ini sampai” sekujur tubuhku dingin seketika dan aku mulai menitik’kan air mata cerita ini begitu nyata “cinta yang tulus dan abadi” seperti aku pernah mengalami tapi sayang..aku terlalu takut. but anyway..terima kasih diberi kesempatan untuk membaca dan memberi pendapat cerita ini.

Congratullation for u’r nice story and always smile for u’r life and love.

@joeysweet : thank u untuk pendapatnya…senang bisa ikut terbawa dan merasakan… big grin

Leave a Comment

 

support
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation