Hey Jack Let’s Rock And Roll
Saat wanita menangis karena pria-pria “brengsek”, matanya memerah, air matanya tak berhenti menyusuri pipinya mengalir tak henti, suara isak tangisnya memilu, sesekali ia berkata pria-pria tak ada yang bisa dipercaya, lalu ia berkata dunia tak adil, kehidupan tak menyenangkan, kemudian Tuhan disalahkan pula karena menciptakan mahluk yang disebut “pria”.
Ia terus-terusan mengutuki pria, berharap tak ada pria diatas muka bumi.
“Pria-pria gak ada yang beres”. Katanya
“Semua pria sama saja”. Cacinya
Aku juga ikut nampak dihakimi, walau aku bukan subjek dari penghakiman itu. Bagaimana mungkin aku ikut dihakimi juga karena aku tak melakukan kesalahan, yah karena aku juga pria.
Katanya sekali lagi.
“Semua pria sama saja, sama brengseknya”.
Hujatan-hujatan seperti itu nampak mengatakan bahwa Tuhan ikut pula terlihat tak adil. Karena Tuhan menciptakan pria, tetapi tidak menciptakan kebejatannya jadi pria “brengsek”. Bodohnya mereka yang dipanggil pria “benar-benar brengsek”, dan ada beberapa wanita dari mereka menangis dihadapanku mengharapkan pembenaran dan pembelaan buat diri mereka, aku membelanya, membenci kelakuaan pria “brengsek”. Walau aku pun ikut dihakimi sedangkan aku tidak bersalah atas semua tuduhan itu.
Lalu aku berkata “they should be shot”, “they should be hang”, “they should be kill”.
Yang paling kasar aku berkata, “potong saja anu nya”.
Aku mengepalkan tangan, menekan gigiku menahan amarah.
Kenapa? Tanyaku dalam hati.
Kenapa mereka yang dipanggil pria tak bisa menjaga cinta mereka.
Kenapa mereka tak rindu pulang rumah untuk menyapa kekasih hatinya, lalu mencurahkan cinta untuk kesayangannya.
Kenapa dulu ia begitu senang berkata ”aku mencintaimu” tetapi sekarang semuanya berubah.
Kenapa mereka sibuk mengoda wanita lain.
Kenapa mereka sibuk menghabiskan waktu malam mereka bersama wanita lain.
Aku terdiam.
Lalu pikiranku mulai bertanya.
“Lalu apa yang terjadi dengan pria yang patah hati?”, yang cintanya remuk, yang cintanya dihianati, sekalipun ia sudah berusaha dengan segala tenaga mencintai dengan tulus, tanpa ada embel-embel jadi pria “brengsek”. Seperti aku!
Saat yang paling menyakitkan itu pria hanya bisa terdiam dengan wajah yang luyu dan matanya hampir berkaca-kaca menahan pedihnya, menahan sakit didadanya, Seperti aku!
Jika ia dihianati matanya menyorot tajam dengan amarah didalam dada tapi tak bisa diungkapkan, tangannya mengepal, kalau ia memegang sebuah pistol tentu akan ditembaknya, Si “Judas” penghianat itu. Seperti aku!. Yang terakhir ia akan menembak dirinya sendiri, mungkin, seperti aku siap menembak diriku!.
Tapi ia pun tak serta merta berkata wanita “brengsek” karena memang tak ada sebutan yang kasar untuk wanita, walau ada sebutan paling menghujat untuk pria yang telah tidak setia, tetapi untuk wanita, aku belum pernah mendengarnya.
Malam ini, walau langit cerah dengan bintang-bintang, tetapi tak ada suasana romantis yang mengenang, yang ada hanya perasaan yang tak jelas, kacau, sesak, sakit.
Seperti perasaanku malam ini, perasaan yang tak jelas, kacau, sesak, sakit.
Malam ini, aku jauh dari rumah, sengaja menjauhkan diri dari segala aktifitas, semua kehidupanku tiba-tiba terhenti, hanya untuk sendirian disatu tempat yang semua orang tak tahu, menjauhkan diri dari semua kepenatan yang seharusnya tak ku peroleh.
Aku sedang tidak ada di rumah.
Jauh dari rumah, Disebuah Bar.
“Jack and coke please….” Kataku.
Setelah menengak habis, dalam 15 menit
Aku memesan minum yang sama
“Jack and coke please….”
Bartender menghidangkan Jack dalam gelas besar dicampur dengan es dan coca cola aku memesannya untuk kedua kalinya, lima batang rokok dalam satu jam, dan hari itu aku mencoba menikmati suasana musik tempat itu, mencoba berbaur dalam keramaiaan manusia-manusia, wanita-wanita malam berjoget, meliuk menari, pria-pria menatap tubuh-tubuh itu seakan ingin meniduri mereka, yah tubuh mereka siap ditiduri pria “brengsek”, entah lah.
Tapi bagaimana bisa suasana seperti itu menyembuhkan, semua pikiran dan semua hal yang ada didalam dada ini seakan lebih keras daripada alunan musik itu, suara-suara didalam dada ini seakain ingin meledak, meledak marah, meledak kecewa, menangis, berteriak kencang “Asuuuuu”, “Bangsattttttt”, menghujat sehabis-habisnya, sampai isi dada benar-benar habis mungkin digrogoti oleh perasaan sesak yang tak enak tadi.
Tapi tak akan pernah habis-habisnya sesak ini untuk beberapa saat. Mungkin tak akan berakhir sampai akhirnya aku menembak diriku sendiri.
Aku menengak habis gelas kedua, membayar nya lalu pergi, pergi karena muak, muak banyak hal, aku pergi karena keramaiaan pun tak bisa mengobati.
Pergi karena Jack sudah cukup memberikan sedikit ketenangan.
Pergi untuk sendiri lagi disatu tempat yang semua orang tak tahu, berharap pergi dari dunia yang sumpek ini, entah pergi ke mana, pergi ke Mars, ke surga, ke nirwana, ke varhala, ke NewYork…I don’t give shit where I go.
Hanya Jack temanku malam ini, “Jack” itulah sebutan buat sahabat baruku, Jack Daniels No 7 Brand, Tennessee Quality Whiskey, begitulah nama panjangnya, sahabatku yang lain sebungkus rokok yang bisa punya banyak nama.
Aku keluar dari Bar itu berjalan cukup jauh darinya, sampai disebuah halte, dan duduk disana beberapa saat, karena kepala terasa pusing karena seluruh pikiran tak bisa dihentikan, mungkin karena Jack juga.
“Bagaimana mungkin?”
“Bagaimana bisa?”
“Kenapa?”
“Semua nampak baik-baik saja?”
“Apa salahku?”
Semua pertanyaan keluar dan angkat bicara pada pikiran yang satu.
Semua kemarahan keluar dan angkat bicara pada pikiran yang satu.
Semua bersuara seolah berhak berkata-kata dan berusaha memberikan argument yang paling benar, atau mencoba membenarkan diri.
Tiba-tiba taxi lewat didepanku, aku menghentikannya, lalu memintanya mengantar ke apartemen sahabatku, tak jauh dari tempat itu. Apartemen kosong yang aku punya kuncinya, ia sering membiarkanku disana sendiri, jika ingin meluangkan waktuku sendiri, untuk menulis atau untuk menyendiri.
Saat tiba diapartemen itu, aku tidur disofa sampai pagi.
Karena seluruh badan lelah.
Karena semua pikiran angkat bicara pada pikiran yang satu, telah membuatku sangat lelah.
***
Aku terbangun pagi sekali, membuka jendela apartemen, membiarkan matahari masuk kedalam ruangan, menikmati panasnya matahari yang masuk menembus kaca, menusuk hangat dikulit.
Selama lima belas menit aku berdiri menatap keluar. Menatap kosong kearah yang tak tau.
Aku seperti sedang menanti semua pikiran angkat bicara lagi pada pikirian yang satu, dan benar penantian itu tak lama.
Kali ini pikiran seperti sedang ingin bercerita.
Aku mulai berfikir tentang kisah seorang wanita yang mencintai seseorang pria “brengsek”, dan ia harus mengalami kecelakaan alias hamil sebelum nikah, akhirnya harus dinikahkan, diusianya yang sangat muda, saat kandungannya membesar, ia pun tetap sibuk kuliah dan bekerja membiayai keluarganya, ia harus juga sibuk menyiapkan makan, dan mencuci kolor pria yang tak sama sekali bekerja dan bertangung jawab memberinya kehidupan.
Ia terus berjuang dan berjuang, sampai akhirnya pria yang “brengsek” itu pun meninggalkannya.
Sekarang ia harus hidup menghidupi anaknya sendiri, berjuang hanya untuk anaknya. Buah hatinya.
Sampai ia bertemu seorang pria, kali ini aku pikir pria ini juga pria “brengsek”, bagaimana seorang pria ini, selalu tak pernah menghargai pasangannya, ia selalu berkata.
“Kenapa ya gue bisa dapet loe…, loe cewek paling jelek diantara semua mantan gue”.
Hati wanita mana yang tak pecah, porak poranda seperti tersapu taifun, meledak karena diledakkan peledak, dan remuk seperti dipukul palu batu.
Aku mendengar itu seperti mau marah rasanya, pingin berdiri dihadapannya dan melayangkan tinju dimukanya…semoga beberapa gigi rontok karena satu pukulan.
“Ass hole”.
“Shit”
“Anjing”
Tapi entah wanita apa ini, ia hanya menjawab dengan sebuah kelakar kepada pria “Brengsek” itu.
“Kenapa loe mau ?”
Dan pria “brengsek” itu berkata.
“Gak tau?”
Bagaimana mungkin jawaban pria “brengsek” itu menjawab “gak tau”, bukan “I love you”, bukan “mungkin aku mencintai mu”.
Kenapa?
Kenapa yang beginian terjadi.
Kenapa yang beginian harus dipertahankan
Beberapa lama hubungan itu berlangsung, akhirnya porak poranda pula hatinya, meledak sudah dirinya, remuk juga jiwanya.
Ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu.
Tetapi apa yang terjadi, wanita itu tetap saja sering kangen, kangen dalam hati yang porak poranda, kangen dalam dirinya yang meledak, dan jiwanya yang remuk.
Seolah “pain is pleasure”, kesakitan menyenangkan dirinya, seolah kesakitan telah menjadi candu hidupnya, tanpa kesakitan tak enak rasanya.
Maka atas alasan cinta, atas alasan ”biar tak jomblo”, sekalipun pria “brengsek” itu selingkuh sekalipun, dan jika ia datang memohon-mohon maka, ia siap menerimanya kembali.
Maka atas alasan cinta dan perasaan yang tak mau pergi-pergi, sekalipun pria “brengsek” itu masih jadi pelengkapnya, biarkan saja kesakitan itu.
Apa ini…apa ini.
Apa ini…apa ini.
Kegoblokan, kebodohan, kemabukan, kegilaan.
Apa ini…apa ini.
Apa ini…apa ini.
Aku tak paham, aku tak mengerti, cinta begitu membingungkan, aneh, bodoh, gila, tolol.
Yang kudengar sekarang mereka masih sama-sama.
Entah sampai kapan, yah seperti yang ku bilang “pain is pleasure”.
Aku serasa geregetan dan ingin marah tapi tak bisa, karena semua kebodohan itu toh urusannya. Sampai nanti ia akan sadar kalau pria “brengsek” itu tetap saja “brengsek”.
Tak akan ada yang bisa dirubah dari ke “brengsek” an.
***
Pikiranku berhenti bercerita, saat aku membuat secangkir kopi hitam, dan Jack didalam gelas yang kuberi es batu.
Aku membiarkan ruangan apartemen itu tidak sepi dengan menyalakan musik dengan suara yang agak keras Song Remains The Same – Led Zappelin.
…..I had a dream. Crazy dream.
Anything I wanted to know, any place I needed to go
Hear my song. People won’t you listen now? Sing along.
You don’t know what you’re missing now.
Any little song that you know
Everything that’s small has to grow.
And it has to grow!….
Bagaimana cerita selanjutnya. Seolah pikiran siap mendongeng dengan cerita nyata selanjutnya, dan pikiran pun mulai bicara tentang cerita yang lain.
Cerita lama yang tak pernah hilang.
Seorang wanita bekerja dengan giat, disebuah perusahaan fashion ternama, dikota besar NewYork, ia berhubungan dengan seorang pria, bukan pria Indonesia, lebih tepatnya Newyorkers, seorang pria “Bule” tapi apa bedanya, antara Newyokers dan orang Jakarta, apa bedanya seorang jawa dan seorang “bule” tetap saja manusia.
Kebejatan dan kebaikan melekat pada diri manusia.
Bukan kulit atau kebangsaan.
Bukan pada kekayaan atau kemiskinan.
Kalau saja “brengsek” tetap saja brengsek.
Kali ini kisah seorang wanita yang menemukan pria yang dicintainya, pria “brengsek” yang dicintainya tidur dengan wanita lain yang dibawa nya masuk ke apartemennya, entah lah saat itu ia sedang melihat pria “brengsek” itu dalam posisi apa diatas ranjang.
Yang jelas aku bisa menduga, keringat dari tubuh pria “brengsek” itu pasti melekat ditubuh wanita itu, keringat juga menempel di seprai juga selimut putih itu.
Tentu wanita yang mencintai pria “brengsek” itu pasti kaget saat melihat posisi bercinta yang entah seperti apa.
Ia pasti mau mati rasanya melihat pria “brengsek” yang dicintainya tidur dengan wanita lain yang tak bisa disebut “brengsek” juga.
Hatinya tersayat habis, dalam, rasanya pedih, kedua lututnya lemas, marahnya tak bisa lagi ditahan, dilemparnya pria “brengsek” itu dari hidupnya.
Dilemparnya semua barang-barang pria itu dari apartemennya.
Selama beberapa bulan hidupnya berantakan, semua mimpinya hancur total.
Cinta juga sepertinya ia benci.
Tuhan juga nampak bohong dimatanya.
Kepercayaanya pada pria runtuh, kebenciaanya pada cinta juga membara.
Sampai Tuhan mempertemukan aku padanya, persabatanku dan ia telah terpisah sekian lama, tetapi pertemuan selalu tak ada yang kebetulan, aku datang pada saat yang tepat dan dengan kesabaran membawanya kejalan kesadaran.
“Bangkit” kata ku.
“Don’t be stupid” kata ku.
“Hiduplah” kata ku.
“Percayalah lagi pada cinta” kata ku.
“Senyumlah” kata ku.
“Berjuanglah” kata ku
Jarak yang jauh tak menghentikanku untuk menyediakan bahu untuk tangis dan ceritanya yang menyayat.
Akhirnya ia bangkit dari segala keterpurukan, membuka pikiran dan hatinya, memberikan maaf yang maha besar buat pria “brengsek” yang menyakitinya.
Bila saja aku disana, mungkin akan ku tembak pria “brengsek” itu tapi aku tak akan mendapatkan lagi diri wanita itu tersenyum seperti sekarang. Heran kenapa tak ku tembak saja pria “brengsek” itu, mengurangi pria “brengsek” diatas bumi ini.
Sekarang ia bukan hanya hidup dalam kebebasan dari penderitaan yang seharusnya tak ia dapat, tetapi kesuksesan mencapai karirnya yang luar biasa.
Menemukan lagi cinta yang sejati.
Menemukan senyum lagi yang indah.
Ia berhenti menghujat cinta.
Ia berhenti menyalahkan Tuhan, karena memang Tuhan tak bisa disalahkan atas kebejatan seseorang.
Memang benar luka butuh proses untuk disembuhkan.
Ia berkata, aku membantunya mempercepat proses itu.
Luka butuh pemahaman untuk membebat tiap goresnya yang terluka
Hidupnya menjadi lebih tegar, hidupnya menjadi lebih terbuka, pikirannya lebih terbuka, jiwanya lebih baru, dirinya menjadi berbeda.
Ia menjadi kaya dalam jiwanya, merasakan kebebasan dan syukur yang besar tak harus menikah dengan pria “brengsek” itu.
Ia pun sekarang menyebutku sahabat terbaiknya.
Cerita itupun terhenti.
Aku mencicip rasa nikmat dari gelasku, Jack! Is my bestfriend now. Dan alunan musik dari MP3 player ku saat itu Black Dog – Led Zappelin.
…..
I gotta roll, can’t stand still,
Got a flaming heart, can’t get my fill.
Eyes that shine burning red,
Dreams of you all through my head……
***
Nikmatnya Jack digelasku, dan tiba-tiba pikiran mulai bicara tentang cerita yang lain lagi.
Suatu malam yang gelap, entah pukul berapa, entah hari apa, seorang pria, seorang suami pergi meninggalkan istrinya dirumah sendiri, pamit untuk pergi urusan kerjaan, ia tak sadar jika istrinya mengikuti kemana pria “brengsek” itu pergi, acara membuntuti itu pun berakhir disebuah club malam, didalam gelap, dan suara musik keras, aroma alcohol, aroma rokok begitu pekat, wanita di club malam itu mengoda, mengenakan rok mini yang nampak tidak mini lagi.
Lalu apa yang terjadi dengan wanita yang mengikuti pria “brengsek” itu, apa lagi kalau bukan kemarahaan yang besar karena ia melihat pemandangan yang dilihatnya, pemandangan yang menyesakkannya dan wanita mana yang tak naik pitam, wanita mana yang tidak kesal, wanita mana yang tak remuk hatinya.
Saat ia menemukan pria yang disebutnya suami.
Pria yang disebutnya “laki” gue.
Pria yang disebutnya “suami” gue.
Pria yang selama ini ia ceritakan begitu baik dan sempurna, berpelukan dan berciuman dengan seoarang wanita.
Pria yang dianggapnya kepala rumah tangga yang hebat, tiba-tiba pupus, menjadi pria “brengsek”.
Ia menarik pria “brengsek” itu, sambil berkata “Pulang”.
Saat wanita yang dicumbui pria “brengsek” itu ikut berdiri, ditariknya wanita itu dan didorongnya kedinding, dan ditamparnya berkali-kali, sekali lagi, wanita itu tak bisa disebut “brengsek”, karena bisa saja pria itu berkata kalau ia belum menikah kepada wanita itu.
Ia pun menarik pria “brengsek” itu, “Pulang”, menarik seperti anjing yang enggan pulang, seperti maling yang takut dipenjara.
”Pulang” katanya.
Sekali lagi siapa yang brengsek?.
Jelas bukan aku.
Sesampainya dirumah, keadaan menjadi sangat tidak menyenangkan lagi.
Tak ada kehangatan, tak ada lagi kebahagiaan.
Tak ada sebutan “laki” gue.
Yang ada hanya “loe”. Yang ada hanya sebutan
“Brengsek”.
“Ular”.
“Iblis”.
“Setan”.
“Bangsat”.
“Anjing”.
“Babi”.
“Monyet” Aku lebih suka menyebut pria “brengsek” dengan sebutan “monyet”.
Tak ada sebutan “laki” gue.
Yang ada hanya kesedihan dan sayat, dalam hatinya yang memilu.
Saat cerita itu pun sampai ke sahabat-sahabatnya, semua sahabatnya hanya berkata.
“Loe masih cantik, ceraiaan aja”
“Udeh ceraiin aja”. Kata sahabat-sahabatnya.
Sesampainya cerita itu ditelingaku.
Aku terdiam saat itu didalam gudang dikantorku, sambil mendengar ceritanya.
Aku terdiam sesaat lalu berkata.
“Mereka semua berkata apa yang ada didalam pikiran mereka, tetapi mereka tak mengetahui hati mu”.
Ia terdiam
Aku terdiam, lalu berkata lagi.
“Masih kau mencintainya?”
Ia pun menjawab.
“Aku mencintainya!”
Lalu aku berkata.
“Kalau begitu, jangan cerai, maafkan”
Ia pun mengakhiri pembicaraan, yang ku dengar beberapa saat berlalu, semua hal itu tak pernah membuatnya lebih baik, berat, berat harus melihat pria yang dibangakannya tak lebih juga pria “brengsek”.
Ia melalui kehidupan yang berat, dengan cinta yang harus dipegangnya, ia percayakan semuanya pada Tuhan.
Cinta selalu menjadi kekuatan untuk bertahan, cinta selalu bisa menutupi banyak sekali kekurangan, dan ingat itu semua selalu karena cinta.
Karena cinta.
Karena cinta.
Karena cinta aku pun merelakan diriku dibiarkan sendiri, dan ia pergi karena cintanya.
Waktu terus berlalu, yang kudengar sekarang, keluarga itu utuh, mereka makin mencintai, kebahagiaan benar-benar berpihak kepadanya.
Hari ini, ia memanggilku Papi, entah mungkin karena aku berbicara seperti seorang ayah, yang memberikan nasehat dan membukakan hatinya.
Aku menghentikan sejenak pikiranku bicara.
“Diam” kataku.
Aku menengak Jack, yang nikmat dari gelasku, mencoba menghilangkan apa yang ada dalam pikiran dan hatiku yang mulai panas, dan dua batang rokok habis terbakar.
Tapi pikiran tak pernah ingin untuk berhenti bicara, ia terus berkata-kata tak tahu diri, tak paham isi hati ini ingin meledak, ia terus bicara walau suara keras lantunan Heartbreaker – Led Zappelin, melantun, aku membesarkan volumenya lebih keras.
….Here I am alone and blue.
Some people cry and some people die
By the wicked ways of love;
But I’ll just keep on rollin’ along
With the grace of the Lord above….
***
Bagaimana cerita selanjutnya, cerita klasik ini terjadi puluhan tahun lalu.
Seorang wanita mencintai seorang pria, mereka pacaran lebih dari enam tahun dan akhirnya menikah, anak pertamanya gugur, kedua juga, sampai akhirnya ia melahirkan anak yang sehat dengan berat hampir 7 kilo, tiga tahun kemudian ia melahirkan anaknya yang kedua, lalu setahun kemudian yang ketiga.
Tak ada yang menduga bahwa hidupnya sepanjang enam tahun pernikahan dan enam tahun kemudian tak bahagia.
Padahal ia hidup dengan segala kecukupan.
Tapi apa arti kecukupan, jika ia harus melihat pria yang dicintainya berpindah dari satu wanita ke wanita lain menjadi saingannya.
Ia sering terlihat keras kepada anak-anaknya, sering kali ia menangis, sering kali pertengkaran dalam rumah terjadi, sering ia menerima siksaan atas upah menjadi istri yang baik.
Ia pernah ingin mengakhiri hidupnya dengan segelas obat seranga, tapi entah kenapa gelas itu jatuh dan pecah, kita bisa bilang itu kehendak Tuhan, itu bisa saja terjadi kebetulan, entahlah, yang jelas saat gelas itu pecah saat itu pula kesadaraanya muncul, ia hanya ingin kan “anak-anaknya” tidak menjadi seperti pria “brengsek” itu.
Kebetulankah?
Kehendak Tuhankah?
Entahlah.
Semua anak-anaknya merasakan apa yang dirasakan ibu mereka, rumah itu tak pernah jadi rumah yang indah, tak ada kehangatan, tak ada kebaikan, isinya hanya pertengkaran dan keegoisan.
Sampai anak pertamanya menginjak kelas 2 SMA, ia mulai berani melawan pria “brengsek” yang disebutnya papa.
Tapi selalu saja, wanita yang selalu disakiti oleh pria “brengsek” itu, menahannya lebih sering memberiknya pengertiaan agar tidak jadi pria “brengsek”. Disaat-saat sendiri dengan anak-anaknya, wanita itu selalu berkata “jangan pernah menjadi seperti dia”.
Tanpa perkataan itu pula, kehidupan yang seperti itu, telah membuat anak-anaknya belajar menjadi pria seperti apa, “aku tak ingin seperti ayahku” mungkin itu yang ada dihati anak-anaknya, setidaknya ingin menjadi pria baik bukan pria “brengsek”.
Wanita itu pun bertahan dan bertahan, sampai akhirnya ia pun ditinggalkan sendiri, dan ditemani oleh anak-anaknya yang pria yang tidak “brengsek”.
Hidupnya sekarang lebih bahagia.
Ia bisa kegereja tanpa dilarang.
Ia bisa menemukan Tuhan didalam kegetirannya, yang sering kali keluar dalam keluhan kepada anak-anaknya yang pria yang tidak “brengsek”.
Ia telah sukses menjadi seorang ibu, dengan melahirkan dan mendidik anak-anaknya yang pria yang tidak “brengsek”
Perjuangannya yang berat dimasa lalu, telah melahirkan kebahagiaan bagi dirinya, ia memiliki tiga orang putra yang tak “brengsek”, dua orang cucu yang pandai dan manis, seorang menantu yang cantik.
Tak ada aku yang membuatnya sadar saat itu, aku tak ada.
Tapi aku mendengar cerita itu puluhan tahun lalu.
Aku pun berhenti lagi. Saat aku mulai mendengarkan Clay Otis – Since I’ve Been Loving You.
…..Everybody trying to tell me that you didn’t mean me no good.
I’ve been trying, Lord, let me tell you, Let me tell you I really did the best I could.
I’ve been working from seven to eleven every night, I said It kinda makes my life a drag.
Lord, that ain’t right…
Since I’ve Been Loving You, I’m about to lose my worried mind.
Said I’ve been crying, my tears they fell like rain,
Don’t you hear, Don’t you hear them falling,
Don’t you hear, Don’t you hear them falling…..
***
Sambil menikmati Jack, Jack sahabat terbaikku, nama panjangnya Jack Daniels No 7 Brand, Tennessee Quality Whiskey. Saat itu aku mendengarkan “Since I’Ve Been Loving You” dimainkan Clay Otis. Mencoba memberikan jedah agar menghentikan pikiran bercerita, sebatang rokok lagi, asapnya, mengisi paru-paruku, mengerogoti aku perlahan.
Dan pikiran mulai lagi tak sabar bercerita.
Kali ini cerita tentang wanita, yang hidup dengan pria “brengsek” lagi, sekali lagi pria harus disebut “brengsek” dan sekali lagi wanita harus hidup dengannya, kesannya sangat bodoh ada wanita ingin hidup dengan pria “brengsek”, apa karena cinta memang buta, semua apa karena ketidak mampuannya berdiri sendiri.
Sesungguhnya aku tak pernah tahu cerita jelasnya, hidupnya begitu tertutup, ia tak banyak cerita kepadaku, saat aku mengenalnya, aku dapat merasakan dirinya bukan dirinya sendiri, dirinya sudah jauh dari dirinya yang sesunguhnya, sampai aku sadar ia juga korban pria “brengsek”.
“Kayaknya kamu tidak seperti ini pribadimu” kataku
“Darimana kamu tahu”.
“Aku dapat merasakanmu…”
“Bagaimana mungkin”.
“Kamu wanita yang polos, tetapi berubah seketika”.
Aku terdiam, lalu berkata lagi.
“Kenapa, ia selingkuh?, ia menghianatimu?”.
Ia menjawab
“No comment”.
Aku terdiam, lalu berkata lagi.
“Kenapa?, ia selingkuh?, ia menghianatimu?”.
“Hmmm”.
Dibulan-bulan awal aku mengenalnya, aku mencoba memberikan banyak saran buat kebahagiaanya, untuk kebahagiaanya dengan pria “brengsek” yang dinikahinya.
Tapi lucu, kenapa aku mau dia bahagia dengan pria “brengsek”.
Kenapa aku tak berfikir agar ia tak lagi hidup dengan pria “brengsek” dan hidup dengan pria baik-baik.
Sekali lagi lucunya, aku malah mau ia bahagia dengan pria “brengsek”.
Mungkin karena aku percaya tak ada orang yang sempurna, bisa jadi pria “brengsek” berubah menjadi pria baik-baik, tetapi aku kemudian sadar, jika 12 tahun seseorang masih sama dengan segala kelakuaanya, ia juga tak akan pernah berubah di masa depan.
Hanya orang gila yang tetap saja sama melakukan kesalahaan yang sama, dan tak pernah berubah menjadi lebih baik.
Akhirnya upayaku berhenti semua saranku untuk kebahagiaanya, sepertinya membentur tembok, ia tak membutuhkan itu.
Entah ia membutuhkan apa?
Mungkin membutuhkan aku. Sosok pria seperti aku.
Mungkin ia membutuhkan pembalasan atas semua sakit hatinya?
Mungkin juga ia membutuhkan petualangan?
Permainan?.
Mungkin juga ia membutuhkan cinta yang sejati, cinta yang hadir dihatinya lagi setelah sekian lama.
Dan sunguh maaf pikiranku yang negative muncul karena aku tak banyak tahu isi hatinya dan hidupnya yang tertutup.
Aku bukan Tuhan yang serba tahu isi hati wanita itu.
Tapi jika ia ingin hidupnya berubah seberapa berani ia melawan keadaan, seberapa berani ia mampu membebaskan hidupnya dari pria “brengsek” itu.
Mungkin saja tidak akan.
Tak banyak cerita yang aku tau tentang pria “brengsek” yang telah hidup bersamanya belasan tahun, jiwanya yang misterius, kelakuaanya yang serba rahasia, yang ku tahu hanya sepengal cerita-cerita yang memilukan, 14 tahun pernikahannya, hanya dua tahun pertama yang nampak indah dan penuh cinta, sisanya bencana, sisanya hanya siksa, sisanya hanya memilukan.
Bagaimana mungkin ia tak pernah menyadari, siapa pasangannya?.
Bagaimana mungkin ia bisa tak mengenali pribadi pria “brengsek” itu, kenapa setelah menikah semua kebejatan itu terlihat.
Apakah karena harta? Kekayaan? Kegagahan? Bullshit, cinta butuh hati, cinta butuh melihat hati, cinta butuh kekuatan untuk berjuang.
Kekuatan melalui kesukaran mencapai kebahagiaan.
Bagaimana mungkin ia bertahan disana. Kenapa ia tetap hidup dengan pria seperti itu.
Bagaimana mungkin ia hidup dalam neraka. Bersama iblis yang disebut pria “brengsek”.
Seorang sahabat pernah berkata “masa pacaran hanya sebuah kedok”, aku benci hidup dengan kedok, aku lebih suka diriku apa adanya. Seperti aku memuja kejujuran, sama dengan aku mengagungkan cinta.
Sama seperti aku memuja sosoknya yang kucintai dengan ketulusan.
Aku mengangungkan cinta, tetapi menghujat mereka yang menista cinta, mereka yang menyia-nyiakan orang yang mencintainya seperti sampah.
Sekali lagi aku mencoba membukakan pikirannya agar ia bahagia.
Seharusnya mereka yang mempercayai cinta, selalu mengharapkan kebahagiaan bagi yang dicintainya.
Seharusnya jalan kebahagiaan yang ada didalam otak-otak para pemimpin rumah tangga, bukan mencari wanita lain untuk ditiduri atau mencari wanita lain agar nampak “superior”.
Kemudian ia bercerita kalau ia pernah menceraikannya, tapi entah kenapa kehidupannya kembali kepada pria “brengsek” itu.
Maknet apa yang dimiliki pria “brengsek” itu, apakah ia begitu seperti Don Juan, bullshit, “brengsek” tetap saja “brengsek”.
Sepanjang 12 tahun mereka menikah, ia harus melihat pria yang disebutnya suami setiap hari, setiap hari harus tidur satu kasur dengan pria yang tak memberikan kebahagiaan, pria yang mencurigainya sebagai pencuri, seperti seorang istri yang tak setia, padahal siapa maling disini? Siapa yang seharusnya dicurigai disini.
Pikiranku berkata, “maling tak ingin kemalingan”.
“Perampok tak ingin kerampokan.”
Kemunafikan tetap saja kemunafikan.
Seorang yang menghabiskan petualangannya menjadi seorang perselingkuh, maka hidupnya hanya penuh dengan kepalsuaan seperti penipu, maka ia pun tak ingin tertipu. Mana ada maling ingin kemalingan, maling selalu ingin mencuri tetapi tak ingin kecuriaan.
Aneh, egois, goblok.
Kisah apa ini yang ada dalam kehidupan.
Inilah kenyataan, dan kenyataan pula seorang wanita hidup belasan tahun dalam sebuah neraka yang sama.
Saat wanita itu pun akhirnya menemukan seseorang yang mencintainya sangat, mencintainya dengan segala ketulusan, dan berharap bisa membahagiakannya, tapi apa yang terjadi, sebuh kisah cinta selalu tak nampak seperti kisah cinderlela, akhirnya ia sempat memutuskan hubungannya dengan pria itu, untuk “kembali” kepada pria “brengsek” yang membuatnya menderita sepanjang 12 tahun.
Lucu bukan.
Pemikiran gila apa lagi ini?
“Kembali”??
Kembali kemana? Wanita itu tak pernah lari dengan lelaki manapun, tidak juga dengan pria yang mencintainya dengan segala ketulusan, tapi ia berkata ingin “kembali”, kembali kepada neraka? Kembali kepada kebodohan?.
Bukankah ia tetap ada disana sepanjang 12 tahun, ia tetap disana tak pernah pergi ke mana-mana? Lalu mana cinta yang selalu ia katakan dengan nada yang manja, main-main, mana kerinduaan yang selama ini ia katakan saat ia baru bisa keluar rumah untuk mengungkapannya.
Kisah itupun tak jelas lagi ceritanya. Ceritanya masih panjang, masih berlanjut entah kemana. Atau bisa saja berakhir saat ia benar-benar pergi karena ia telah menyerah pada “takdirnya”, takdirnya hidup dengan pria “brengsek”.
Saat cerita itu pun berakhir di pikiranku, aku menyandarkan kepala disofa, aku bersyukur karena pikiran berhenti sendiri bercerita, tetapi dada serasa sesak, tak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.
Sudah tuangan kelima Jack digelasku, dan semua tak selesai begitu saja.
Mungkin akan selesai, saat aku mengokang pistol yang sedari tadi tergeletak dimeja, memungutnya dan menempelkan larasnya dikepalaku, dan melepaskan picunya, dan seluruh isi kepala meledak, darah berhamburan diseluruh ruang, menempel disofa, juga membasahi lantai.
Semua retorika selesai, semuanya selesai.
Semua kebejatan selesai, semuanya selesai.
Lalu aku beranggan jauh, apa jadinya jika laras ini menempel dikepala pria “brengsek” itu, akankah ia terkencing-kecing ketakutan akan mati.
Akankah ia sadar anak-anaknya yang akan ditinggalkan.
Akankah ia sadar akan ia yang tak dapat lagi tidur di hotel dengan wanita simpanannya.
Akankah ia sadar tak akan pernah lagi menyimpan kondom didompetnya.
Akankah ia sadar tak akan pernah lagi bisa membawa wanita kedalam rumahnya saat istrinya tak ada.
Akankah ia sadar akan cinta.
Akankah ia sadar akan kesetiaan.
Akankah ia sadar semua hal yang mulia buat hidupnya, saat aku harus berteriak ditelinganya memberinya kuliah tentang kesetiaan, tentang cinta, tentang seorang wanita yang disakiti sepanjang 12 tahun.
Akankah ia menangis pedih kalau ia telah melukai orang yang mencintainya.
Apakah ia akan malu, hatinya remuk, harkatnya jadi pria benar-benar runtuh, dan seharusnya ia disebut “BANCI”….bukan “LAKI-LAKI”
Aku benci bajingan itu, seharusnya ia tak pernah ada dan lahir.
“Anjing loe…mustinya loe mati”.
“Mustinya manusia kayak loe gak pernah lahir”.
“Bangsatttttttttt”.
Hidupnya biasa saja berakhir seketika saat aku menembaknya mati, saat picu kulepaskan, dan peluru terlotar keluar menembus tempurung kepalanya, dan darah berhamburan membasahi tembok, dan tubuhnya terjatuh ke lantai.
Tetapi itu hanya anggan, aku meletakkan ujung laras ini dikepalaku, tetapi picu tak pernah terlepas, kepala ini tak pernah meledak dan berhamburan diseluruh isi ruangan.
Sama seperti kepalanya yang masih utuh, dan masih bisa dipakai untuk berfikir apakah ia akan menjadi pria baik-baik atau tetap menjadi pria “brengsek”.
Apakah saat aku tak ada lagi diantara mereka, ia menjadi bahagia, menjadi tersenyum atas kebahagiaanya, atau ia akan tetap menderita.
Akankah aku pergi?
Pergi kemana? pergi ke Mars, ke surga, ke nirwana, ke varhala…I don’t give shit where I go.
Kematiaan ku tak akan menyelesaikan misteri Tuhan, tak akan membabat habis pria “brengsek” dari muka bumi, hanya mengurangi satu pria baik-baik dari bumi, karena ia harus dilukai karena cinta.
Bukan karena cinta yang sebelah pihak, tapi karena cinta tulus yang ada di hati kedua pihak, cinta yang harus dibatasi oleh pria “brengsek”, cinta yang harus dihalangi oleh norma, cinta yang tak berani direngut, cinta yang tak berani di raih, kebahagiaan yang tak mampu dicapai, dengan melangkah mencapai kebahagiaan.
Tuhan…Tuhan
Aku hanya ingin ia bahagia, aku hanya ingin ia tersenyum.
Aku tak ingin ia menderita.
Aku tak ingin ia menangis pedih didalam.
Aku tak ingin tersayat melihat ia menderita, melihat wanita-wanita menderita karena kelakuaan pria ”brengsek”.
Tapi biarkan derita ini jadi milikku, dan jika aku mati, biarkan ini matiku.
Jika aku harus berkorban dengan habis semua isi dada ini, biarkan aku yang habis.
Amin…amin.
Bukankah cinta keberaniaan untuk berkorban, untuk memberikan kebahagiaan yang terbaik buat yang terkasih. Karena itulah cinta walau terasa pahit.
Tiga minggu kemudian.
Aku berdiri menatap langit, saat aku keluar dari mobil, suara pesawat keras terbang diatasku, dua jam lagi semua kenangan terlupakan ditempat ini, aku tak akan ada lagi disini, aku akan jauh dari semua yang ada disini. Aku menatap langit mengenang semuanya, berharap hilang seketika…tapi tak akan pernah hilang.
…..
When I read the letter you wrote me
it made me mad mad mad
When I read the words that it told me
It made me sad sad sad
But I still love you so
I can’t let you go
I love you
Ooh baby I love you
Oh oh oh oh oh oh
Every breath I take, oh oh oh oh
Oh, every move I make
Oh baby please, don’t go
I I I I I I
You hurt me to my soul, oh oh oh oh
You hurt me to my soul, oh oh-hoh
Darling please don’t go….
Yogyakarta – Jakarta
17/10/2009 – 14/11/2009 7:23 AM
Markus AP
Dedicated to Y.K “Kayurie”, semoga & selalu cinta, kekuatan dan kebahagiaan menyertaimu dimanapun kau berada.


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








50 Responses to “Hey Jack Let’s Rock And Roll (cerpen)”