Percikan Perenungan : Bencana
Tak ada bencana yang diinginkan oleh semua umat manusia, tapi saat bencana harus datang karena memang bumi sudah jenuh, atau ulah manusia sendiri, pada akhirnya bencana hanya menyisakan kesengsaraan, tangis, kesedihan, pukulan berat akan kehilangan harta benda dan bahkan orang yang dicintai, krabat atau sahabat.
Manusia yang diberi hati punya rasa yang timbul dari dalam, serta merta ia akan akan miris melihat, merasakan penderitaan, baik yang dialaminya atau yang dialami orang lain.
Manusia yang diberi hati akan melihat bahwa bencana tadi menjadi pukulan dan peringatan yang harus disadari, atau bisa saja sambil lalu, dan kehidupan berjalan tanpa melihat penderitaan dalam sebuah bencana sebagai usaha melihat jauh ke atas dan kedalam kehidupan.
5/9/2009 10:47 AM
Markus AP
Note : Pagi ini saya melihat sebuah foto pada hariaan kompas 5 September 2009, hasil jepretan Lucky Pransiska, foto seorang nenek tua terbaring ditempat penampungan sedang mengenakan selang oksigen, saat itu pula saya menghubungi sahabat, dan menanyakan kabar krabatnya di Cianjur yang kebetulan saya kenal dekat. Walau saya dengar kabar baik keluarga disana tak apa-apa, tetap saya miris melihat nenek itu terbaring tanpa saya bisa berbuat apa-apa.



4 Responses to “Percikan Perenungan : Bencana”