Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
partner
rss
Men Without Woman (cerpen)
By. marcus . September 29th, 2009 at 9:35 am
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Men Without Woman

 

alone_full

    Aku mengunci ruanganku bersiap pulang, meninggalkan kesibukan sehariaan yang melelahkan, aku pergi setelah lagu “For Sentimental Reasons” dinyanyikan Rod Steward berakhir di Winamp ku , kesibukan hari ini ditutup dengan lagu yang benar-benar sentimental dan aku harus mengusir dan menutupi perasaan sentimental itu pula dengan sedikit kesenangan yang menghanyutkan perasaan tadi…yah salah satunya cara dengan sebuah hunting buku, do some shopings, ngopi, melakukan aktifitas yang bisa menghilangkan perasaan sentimental yang ada.
    Sometime is working, Sometime not.
    Sebelum pulang aku mengirimkan pesan di messenger ku kepada yang terkasih….

    Secure :
    “Aku mau beli buku, kamu mau baca apa?”.

    Kay :
    “Any thing, pokoknya John Grisham”.

    Secure :
    “Yang mana?”
    Ia lupa beberapa judul yang pernah dibacanya. Mungkin karena terlalu lama ia tak pernah lagi membaca, ia pengemar karya Grisham, aku bukan, aku pembaca karya Gibran tentang Nabi yang mengerti sekali arti cinta, Goenawan yang bicara hal-hal yang tak pernah selesai dan tentang Tuhan, Djenar yang nakal dengan ceritanya, tapi aku tak tahu tentang Grisham, aku tak pernah membaca nya, tapi aku tahu beberapa karya terbaik Grisham.
    Ia mungkin paling tahu karya Grisham.
    Tapi bukan aku.
    Aku dan dia punya kesamaan, kita sama-sama suka membaca, suka akan puisi, suka akan menulis, kita pernah sehariaan menghabiskan waktu membahas sebuah puisi.
    Aku sering menuliskan puisi untuknya, menuliskan puisi saat letih tak tahu apa yang aku lakukan atas nama cinta, atau saat cinta begitu kuat ingin merobohkan apapun, semua keadaan itu membuahkan selalu lahirnya puisi untuknya, untukku juga untuk Tuhan.
    Ia pun pernah menuliskan satu untukku, satu yang luar biasa, satu puisi yang aku simpan baik-baik, satu yang berarti, mungkin mengalahkan puluhan puisiku.
    Puisiku yang kadang marah, kadang naïf, kadang penuh rasa cinta.
    Lupakan tentang puisi.
    Aku tak mood bicara puisi.

    Seketika aku memindahkan tubuhku ditengah keramaiaan Mall, memasuki lobi Mall, mencari tempat makan untuk mengisi perutku yang kosong, aku belum makan sehariaan, karena siang hari tadi aku lupa untuk makan, tapi tak lupa kepadanya, yang selalu muncul dalam pikiranku dari awal hingga hari ini.
    Malam itu aku pergi sendiri, berburu buku, sambil berbicara lewat messenger dengan yang terkasih.
    Lucu, sendiri seakan tak sendiri, sendiri seakan ia bersamaku malam itu.
    Sendiri tapi ia nampak hadir.
    Gila? Ya…cinta selalu membuatku gila, tak ada segila aku saat aku tergila-gila pada seorang wanita yang kukagumi tiap detik, tiap menit, tiap saat, wanita yang kukecup saat pagi hari hadir, saat malam bangkit.
    Tapi apa yang kukecup jika ia tak ada disana, yah aku hanya mengecup angin, mengecup awang-awang akan kehadirannya.
    Gila? Mungkin.
    Gila segila Pygmalion, yang mengangumi dan mencintai sebuah patung, dan karena kemurahan dewa patung itu berubah menjadi manusia.
    Aku mirip dengan mitologi itu. Biarkan aku gila, mati dalam kegilaanku mencintai nya.
    Gila karena meletakkan ia jadi nomor dua setelah Tuhan. Tanpa berfikir panjang atau berhitung lama untuk melakukan itu.
    Dan aku terpaksa dibuat gila saat ia tak pernah percaya apa yang aku lakukan.
    “Benarkah?”
    “Really?”
    ”Oh ya?” Katanya
    Biarkan kalau ia tak percaya, aku tak mau mati dengan tidak mencintai dengan sepenuhnya. Aku akan tersenyum saat aku mati dan aku masih mencintainya. Biarkan aku mati dengan dan telah melakukan apa yang harus aku lakukan.
    I LOVE YOU
    I LOVE YOU
    I LOVE YOU WITH ALL MY HEART
    I LOVE YOU WITH ALL MY BREATH
    Dan aku pernah berkelakar, karena salah menyebut “breath” dengan “bread”, aku berkata, “someday said to your kids, dan katakan”.
    “Ada seorang lelaki bodoh yang seharusnya berkata I LOVE YOU WITH ALL MY BREATH tapi ia berkata dengan I LOVE YOU WITH ALL MY BREAD”.
    Bodoh. Gila! Mungkin. Gila segila aku.
    Malam itu aku pergi sendiri, berburu buku, sambil berbicara lewat messenger dengan yang terkasih.

    Secure :
    “Akankah aku menikah?”

    Kay:
    “Ya, kau akan menikah? Dengan seseorang someday, Ya nanti pasti pada waktuNya”

    Menikah? Perburuan buku berubah menjadi sebuah pernikahan?, pernikahan yang seperti apa pikirku? Pernikahaan yang berubah jadi sebuah kesedihan, karena aku mengharapkan jawaban yang tidak ia jawab dengan cara demikian, ia tak mengunakan namanya atau kata “aku” sebelum kata “someday”.
    Ia mengunakan kata “seseorang”, yang dapat berarti siapa saja…wanita siapa saja yang ada diatas planet ini, mungkin, kecuali ia.
    Hah…seketika, perasaan ini jadi lebih tak tahu.
    Tahukah ia, akan keinginan hati ini.
    Sadarkah ia akan apa yang ada dalam jiwa dan nyawa ini.?
    Mungkin ia tak sadar, tetapi aku sadar, atau bisa jadi aku yang mungkin yang tidak sadar, tetapi ia sadar.
    Sadarkah ia kalau aku ingin hidup bersamanya. Sampai kakek-nenek tua duduk diam tanpa bicara tetapi kedua jemari kita bergepegangan erat tak ingin lepas dibawah meja.
    Pernahkah ia berfikir akan bangun pagi dan merasakan kecupan dikening, bersamaan kata “selamat pagi sayang” keluar dari mulutku, atau ia memelukku tertidur pulas semalaman sampai pagi hadir, tanpa bergeser dari posisinya dari dadaku, sedang aku tak mengeluh seluruh dada ini berat karena ia bersandar semalaman didadaku.
    Atau saat persoalan datang dan kita bertengkar hebat mungkin karena persoalan siap duluan siapa berkata “IMU” yang berarti “I MISS YOU”.
    Bertengkar hebat karena persolaan, “ILU” yang tidak disebut “I LOVE YOU” dan  dengan tidak dikatakan dengan penuh perasaan sungguh-sungguh, penuh penjiwaan, penuh kebenaran.
    Lalu setelah bertengkar hebat kita saling mencintai lebih hebat lagi, bahkan tak ingin lepas dari itu.
    Shit…gila…seakan surga.
    Mimpi…seakan khayalan.
    Surga, aku ingin punya surga. Aku ingin membangun surgaku sendiri di atas planet ini.
    Perduli setan, karena itu yang aku mau, kenyataan yang harus diwujudkan dari mimpi dan keinginan dari hati, keinginan yang tak dimiliki banyak orang saat ia akan menikah dan membangun rumah tangga, mereka tak pernah berfikir “aku ingin bahagia dengan cara ini” “aku ingin membangun surga dengan cara begini”. Mereka hanya melalui sebuah prosesi pernikahan lalu kehidupan yang berbeda dari sebelumnya, and that’s it, kehidupan baru terjadi tetapi semua hanya rutinitas.
    Kita sering kali merasa pandai, tapi melewatkan hal-hal kecil yang harusnya bisa kita lakukan atau takut tak berani bermimpi, sedang keberhasilan selalu berawal dari mimpi.
    Aku melanjut berkata karena penasaran, kesal dan miris.

    Secure :
    “With Who?”, berharap ia menyebut “aku” atau namanya.

    Tetapi ia menjawab.

    Kay :
    “God will answer your question?”

    Aku tak perlu jawaban Tuhan, aku perlu jawabannya, karena aku sudah tahu jawabanNya. Aku sudah tahu jawabanku. Aku tak mau wanita lain diatas planet ini, karena aku mau ia.
    Ia terdiam dalam kesibukan.
    Lalu aku berkata, walau mungkin ia hanyut dalam kesibukannya.

    Secure :
    “Saat aku patah hati, aku meletakkan mimpiku dalam kubur, saat aku mulai mencintai aku bangkit dari kematiaan, tapi apa yang terjadi setelah aku bangkit? Atas nama cinta aku berdiri, tapi apakah aku bahagia saat akhir? Semua cerita  yang ku tulis selalu berakhir tragis dan sedih”

    Lama kemudian ia menjawab

    Kay :
    “Only God Know”.

    Secure :
    “Akankah aku menjadi sama seperti ceritaku sendiri?, GOD KNOW?, Ia yang mengajarkan aku bagaimana mencintai tetapi cinta pula yang menikamku”

    Ia terdiam, entah terdiam karena apa.

    Secure :   
    “Damn, suara lagunya disini bikin jadi sedih. Kenny G, mungkin…”

    Aku terdiam, ia terdiam

    Secure :   
    “Siapa yang mencintaiku, dengan segenap hatinya?, mungkin hanya seorang karakter dalam ceritaku!”
    Aku berjalan diantara rak buku karya Ernest Hemingway. Tertuju pada satu judul “Men without woman”, ah seperti tanda dari langit, aku mengambil buku itu dan membaca sinopsisnya.

    Secure :   
    “Aku sedang mikir, mana yang harus ku beli. Ernest Hemingway atau Gabriel José García Márquez, what you think?”

    Kay :
    “Buku tentang apa tuh?”

    Secure :
    “Ernest judulnya “Men Without Woman”, Gabriel “Innocent Erendira”, hmmm, keduanya penulis top”. Kataku

    Kay :
    “Kalau aku disuru baca, aku pilih Ernest “Men without woman””

    Secure :
    “Hahahahah, sesuai tema ya”

    Kay :
    “Hahahahahah, Bisa aja kamu”.

    Secure :
    “Jadi nyindir neh, so kamu apa dong?”

    Ia diam tak menjawab. Ia hanyut lagi dengan kesibukannya. Aku berhenti menanyakan. Karena mungkin aku tau ia tak akan menjawab.
    Jika aku Men Without Woman, lalu siapa dia dalam hidupku? Lalu siapa yang ada dalam mimpiku, siapa yang muncul dalam pikiranku tiap detik?. Apakah aku memiliki bayangannya tapi tidak kenyataanya?. Apakah tak ada kekuatannya untuk mewujudkan keinginannya atau keinginanku?.
    Men Without Woman. AM I ?
    Im men without reality, yes. I live in wonderland, yes. I live in dream, yes.
    I live with I belive, yes. No reality, but it will be reality.
    Tergantung aku, ia dan Tuhan.
    Tergantung keberaniaan mewujudkan mimpi jadi kenyataan.
    Kekuataan, kekuataan, kemauaan, kemauaan, keinginan, keinginan. Itu jawabannya. Itu yang mewujudkan ketidak nyataan jadi nyata.
    Aku memasukan buku pesanaanya kedalam keranjang, John Grisham, “The Chambers” dan aku memasukan buku karya Ernest kedalam keranjang pula. “Men Without Woman”, sambil berfikir apakah isinya?. Apakah bercerita tentang aku?.
    Lalu aku mengirimkan pesan, bahwa buku pesanannya sudah aku dapatkan.
    Aku meninggalkan toko buku, menuju ATM, mengantri menunggu ibu-ibu yang mentransfer semilyar, lebih dari dua puluh menit menunggu, dihadapanku, dua orang pasangan yang juga menunggu sambil bergandeng tangan mesra.
    Aku juga menunggu bersamanya. Dalam anggan.
    Aku juga mengengam tangannya mesra dalam anggan.
    Shit…gila…seakan surga.
    Mimpi…seakan khayalan.
    Setelah sedikit moment hayalan itu aku mengisi dompetku dengan beberapa lembar uang yang ku ambil dari ATM, kembali masuk kedalam gedung, duduk disebuah coffeshop memesan Mochacino, menikmati malam berdua dalam anggan.
    Berhayal seolah ia didepanku saling bertatapan, aku menatap matanya tajam, tetapi ia menunduk malu, dengan pipinya memerah padam. Lucu dan mengemaskan.
    Aku mengeluarkan buku yang aku beli, membacanya ditengah kesendiriaanku malam itu. Aku dengan bacaan itu dan ia yang tiba-tiba sibuk dengan kesibukaanya.

    Secure :   
    “Buzz”

    Kay :
    “Sebentar lagi ngobrol “

    Secure :
    “Aku juga lagi ngopi koq”.

    Kay :
    “Yaaaaa“, sebuah jawaban yang membingungkan
    Lalu aku berhenti membaca

    Secure :
    “Busy?, Yank, Aku tak mau melupakan ini :”.
    “I Love you so much”. Tidak disingkat.
    “I Love you the way you are”. Sesunguhnya.
    “I love you with all my breath”.
    “I love you with all my heart”.
    “I put you right after my God”.
    “If I die today, I know I’ll smile, because I love you till my end”.

    Aku terdiam

    “And stupid me, aku mengatakan itu, and now, “My tears is falling, gila ini public place”
    “Thank you, telah membuatku hidup lagi”.
    Aku terdiam lagi. Tak lama kemudian ia menjawab.

    Kay :
    “Hemmmm. So romantic and touching”.

    Secure :
    “I wish I can said this direcly, not in this YM hehehe poor me”.

    Kay :
    “Sekarang kamu dimana?”

    Secure :
    “Cup and Cinno, reading and a cup of coffe”.

    Kay :
    “Koq belum pulang?”

    “Secure :
    “15 menit lagi”.

    Dan benar 15 menit kemudian aku beranjak dari moment bodoh itu, moment pengakuaan yang seolah ia ada dihadapanku. Stupid me, cinta selalu membuat hal normal jadi gila, membuat hal umum jadi tak umum.
    Aku melangkah dari coffe shop itu mengarahkan diri pulang.
    Moment itu aku ingat, saat melihat dua pasang, pasangan, berpelukan mesra, sedang aku sendiri, melihat pasangan lain menatap air mancur seakan melihat Niagara falls yang indah, sedang aku sendiri.
    Aku ingat aku tersenyum melihat pemandangan itu, dan cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu.
    Tonight … Men Without Woman. Yes I AM !.
    Dan lagu, “For Sentimental Reasons”, seolah muncul saat itu membuatku lebih cepat ingin lari meningglkan tempat itu. Dan aku mencintai ia seperti apa adanya ia, sekalipun ia mengunakan kata “seseorang” bukan “aku”.

    I love you for sentimental reasons
    I hope you do believe me
    I’ll give you my heart
    I love you and you alone were meant for me
    Please give your loving heart to me
    And say we’ll never part
    I think of you every morning
    Dream of you every night
    Darling, I’m never lonely
    Whenever you are in sight
    I love you for sentimental reasons
    I hope you do believe me
    I’ve given you my heart

    I love you for sentimental reasons
    I hope you do believe me
    I’ve given you my heart

 

 

    Markus AP
    29/9/2009 6:33 AM

 

 

1)    John Grisham, Novelis cerita-cerita trailer & Hukum
2)    Kahlil Gibran penulis kelahiran Lebanon (January 6, 1883 – April 10, 1931), dalam bukunya Sang Nabi
3)    Goenawan Mohamad, penulis Indonesia,  dalam bukunya ”Tuhan dan hal-hal yang tidak selesai”
4)    Djenar Mahesa Ayu, penulis Indonesia dalam bukunya ”Mereka Bilang Aku Monyet”
5)    Pygmalion was a Cypriot sculptor who carved a woman out of ivory. According to Ovid, after seeing the Propoetides prostituting themselves, he is ‘not interested in women’, but his statue is so realistic that he falls in love with it. He offers the statue gifts and eventually prays to Venus (Aphrodite). She takes pity on him and brings the statue to life. They marry and have a son, Paphos.
6)    Ernest Hemingway penulis Amerika , pemeroleh hadiah nobel bidang sastra (July 21, 1899 – July 2, 1961)
7)    Gabriel José García Márquez, penulis Kolombia (lahir 6 Maret 1928) adalah seorang novelis, jurnalis, penerbit, dan aktivis politik Kolombia.

10 Responses to “Men Without Woman (cerpen)”

Hmmm… so sweet… so romantic… n so sentimental…

ouch so sweet
who is kay ? she so lucky

@Novi Haryono: merci beaucoup

@annz : merci beaucoup

Ich kann nur sagen ein Wort. Wenn Sie in der Liebe kann auch wieder gefallen, kann nichts halt nicht Sie. auch den Toten.

BAGUSSSS,,,, CERPEN YANG PENUH PENGHARAPAN DAN CINTA… tongue

@irh : face the dead for love? i already done it heheh big grin

@dianahalim : thank u

sungguh cerita yang indah, mengajarkan adanya sebuah pengharapan dalam CINTA

@astried : thank you….

Leave a Comment

 

marketingtools
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation