Kenangan Langit Biru
“Saya tidak pernah melihat kamu sebahagia ketika bersama Dia. Saya rela, karena saya ingin kamu bahagia, begitu kata Ia” Cerpen : Cerita pendek tentang cerita cinta pendek – Djenar Maesa Ayu
Hari itu aku tak menduga sebagai hari terakhir melihatnya, aku tak pernah mengira sama sekali jika ia akan benar-benar pergi, jika ia benar-benar menghilang dari kehidupanku.
Kabut pagi tidak memberikan tanda apapun akan peristiwa kepergiannya, apa lagi langit.
Langit tak memberikan tanda apapun bahwa ia akan pergi.
Langit pagi ini berseri, cerah, berwarna biru, tak ada tanda akan memberi petunjuk tentang kepergiannya.
Tak ada tanda apapun dari Tuhan, tak ada tanda apapun dari Setan, tak ada tanda apapun walau dalam mimpi. Tetapi ia pergi.
Kupikir ia tak akan pernah pergi dan tak akan pernah meninggalkanku, tapi nyatanya ia pergi meninggalkanku, kupikir cintanya begitu besar tak tergoyahkan sampai ia harus melalui banyak kesusahan, sesunguhnya kesusahan yang tak datang dari Tuhan, kesusahan tak pernah datang dari Tuhan yang Maha baik itu, tapi selalu datang dari kepicikan orang-orang yang menghalangi cinta kita, kesusahan itu datang dari dirinya sendiri yang tak sanggup teguh berdiri bersama cinta.
Tapi ia melalui semua kesusahan itu, katanya itu semua demi cinta, ia rela melalui kesusahan karena dibuang dari keluarganya yang kolot dan gila, tolol dan angkuh. Katanya, mereka semua sudah dibutakan oleh harta. Harta yang tak dibawa mati, tetapi harta yang membuat mereka picik.
Tapi nyatanya, sekarang ia tak ada, tanpa jejak, tanpa tanda, semuanya lenyap begitu saja.
Entah ia dimana, di Jakarta, di Singapore, atau entah di sebuah hutan atau desa, yang aku tak tahu, aku tak tahu.
Dulu ia pernah bermimpi ingin tinggal sederhana disebuah desa, berangan bahagia seperti orang desa yang polos dan tulus, dengan senyum yang menawan, senyum yang tulus, yang tak memusingkan kebutuhan hidup orang besar dikota besar, tak perlu jadi orang kaya yang lupa akan masa-masa sulitnya dibelakang, ia membenci kepicikan seperti itu, aku mengangguminya dengan pemikirannya yang seperti itu.
Sebab sebagai wanita modern yang lahir dalam keluarga terpandang, ia dapat berfikir demikian.
Tapi sekarang aku tak tahu ia dimana, apakah ia sendiri telah menjadi orang-orang picik seperti itu, entahlah, atau mungkin ia sudah bahagia disebuah desa, mewujudkan mimpinya hidup sederhana disebuah desa dengan menjauhkan kepicikan. Entahlah.
Tapi nyatanya cintanya lenyap, sesenyap kepergiannya yang entah kemana. Sepi, sunyi. Entah kemana.
Sesunyi kehidupanku sekarang yang jauh dari dirinya, jauh dari masalah pelik, jauh dari kepalsuan, jauh dari sandiwara yang menjijikan, jauh dari siksaan cinta yang membingungkan, cinta segitiga yang tak jelas, cinta terlarang yang memuakkan.
Walau jujur, cinta yang sunguh-sunguh dalam diri ini telah benar-benar dihianati dan dinodai, tapi entah kenapa cinta ini tak mau pergi, cinta ini tetap ada, cinta ini tak bisa membenci atau marah, yah mungkin marah, marah pada kenapa ia pergi, kenapa ia tak sanggup berdiri besama cinta.
Tapi cinta tetap cinta, walau aku sering berkata persetan dengan cinta, tetapi cinta ini pula yang akhirnya membuatku tak perduli kejahatan apa yang telah dibuatnya, dosa apa yang dianutnya.
Cinta yang sanggup menerima kejahatannya. Dan kejahatan yang satu-satunya ia tinggalkan adalah membiarkanku bertanya “kenapa”…”kenapa”… dan “kenapa”.
Kejahatan karena membiarkanku, hidup dengan kata “kenapa” setiap saat aku mengingatnya.
Jujur kata yang ku benci, kata “Kenapa” yang tak pernah terjawab oleh siapapun, kenapa yang tak bisa dijawab oleh setan, tidak juga oleh Tuhan.
Nyatanya sering aku berkata “kenapa”? Kepada sahabatku, bertanya “kenapa”? kepada Tuhan, padahal mereka tak tahu jawaban dari pertanyaanku “kenapa”, semua tak dapat menjawab pertanyaan itu, semua bungkam terdiam tak dapat menjawab.
Sesunguhnya Tuhan tahu jawabannya, tetapi Tuhan sengaja bungkam, Tuhan sengaja tak akan mengatakan kepadaku jawabannya, mungkin karena Ia sengaja membiarkanku tersiksa dengan pertanyaan “Kenapa”, atau Tuhan terlalu mulia agar aku memahami maksud MuliaNya.
Hingga hari ini aku masih bertanya “kenapa”.
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kenapa begini?”
“Kenapa begitu?
“Kenapa ia pergi besama senyap”.
Kata “Kenapa” yang terus menjadi hantu yang menghantui tiap detik kehidupanku.
Kata “Kenapa” yang sering mencambuk disaat aku mengingatnya.
Selain kata “kenapa” yang tak dapat ku jawab sendiri, kenangan-kenangan selalu datang seperti hantu yang tak mau pergi, kenangan yang datang tiba-tiba karena sebab yang sepele.
Aku masih ingat duduk disebuah Restauran disebuah Mall, duduk disebuah bangku yang ditunjukkan oleh seorang pelayan, aku duduk menunggu client untuk makan dan membicarakan masalah Bisnis.
Semula aku ingin bertemu client disebuah Café karena tanpa sengaja mengucapkannya, tetapi kemudian aku membatalkan janji dengan client untuk bertemu di café itu, karena disana terlalu banyak kenangan bagi aku dan ia.
Café yang menyisakan kenangan, kenangan yang aku ingat sampai sekarang saat aku menginjakan kaki dimall itu.
Kenangan saat aku dan dia, duduk dan membicarakan mimpi-mimpi tentang masa depan, tentang mahligai pernikahan, tentang anak-anak, tentang kemesraan manisnya cinta, dan tentu saling melepas rindu yang tiap hari kita rindukan.
Lalu ia berkata
“Aku mencintai mu…” aku terdiam, lalu berkata.
“I love you too”, dengan mata yang nyaris berkristal karena aku mengungkapkan kalimat itu sunguh-sunguh.
Lalu ia tersenyum manis. Lalu ia berkata lagi.
“Pernah kah kamu selalu perhatikan, aku selalu melihat ke bibirmu…, aku menyukai bibirmu” katanya dengan sedikit mengoda.
Saat waktu hampir malam akhirnya kitapun dipisahkan oleh gelapnya malam, kenangan akan pujian dan ungkapan cinta tersimpan rapat didalam, dan aku selalu benci perpisahaan, tiap perpisahaan hari itu selalu menyisakan wajahku yang berubah muram, entah mungkin karena aku begitu ingin bersamanya selalu, atau kata cinta itu telah benar-benar ada dari hatiku untuk dirinya, tetapi hari itu pun semua serasa membahagiakan, ia bahagia sekali.
Dan hari ini, aku hampir menangis mengingat itu.
Aku hampir marah mengingat itu.
Aku hampir muntah karena pusing mengingat itu.
Dan sekali lagi kata “Kenapa” muncul dalam benakku yang nyaris kosong.
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kenapa?” Datang seperti hantu.
Aku melupakan sesaat semua itu, saat client datang menghampiri mejaku. Dan kita membicarakan masalah bisnis yang menyita waktu dan menghadirkan kesibukan yang nyaris seperti candu, melupakan sejenak semua kenangan yang nampaknya masih basah.
***
Suatu hari yang lain seorang sahabat wanitaku mengajakku makan malam, kita pergi kesebuah Restaurant disebuah Mall, aku masih menunggu sahabatku untuk datang, dan aku terpaksa menghabiskan waktuku berjalan-jalan, sebenarnya segan untuk pergi ke mall itu, terlalu banyak yang ku ingat disini.
Setiap jalan di mall itu begitu penuh kenangan manis, lampion-lampion, jendela-jendela palsu, air mancur, bintang-bintang yang sebenarnya hanya bola-bola kristal yang digantung di langit-langit, nampak seperti bintang. Semuanya punya cerita-cerita tersendiri, ia begitu menyukai tempat ini.
“Aku pikir tak ada tempat indah ini” katanya
Aku terdiam, tersenyum
“Kupikir ini akan jadi tempat favoriteku”
Ia berkata itu sambil memandangku dengan wajah yang tenang, dan ia berkata lagi.
“Entah kenapa saat aku dekat denganmu, aku berasa tenang, aku bisa merasakan bahwa kamu bisa memberikan ketenangan buatku”
Hari itu ia begitu erat mengengam jemari tanganku, wajahnya bahagia, lalu ia berkata lagi.
“Kalau saja kita menikah, akankah kita masih bisa semesra ini, selalu jalan berdua…”
“Tentu kita akan selalu seperti ini, dan kalau kita punya anak nanti, aku akan cerita kepada anak-anak kita, bahwa inilah tempat kita pacaran…tentu kalau tempat ini masih ada, dan tentu anak-anak akan bilang tempat ini kuno dan ketinggalan jaman…”
Ia pun tertawa lalu tersenyum…
Setelah jalan-jalan yang melelahkan itu, kita pun berhenti disebuah balkon, disana kita bisa melihat air mancur yang indah dibawahnya, lalu melihat ke gelas kaca yang mengarah ke pemandangan kota.
Malam itu indah lampu-lampu kota dan awan kelam yang indah, dan kadang saat kita berjanji bertemu saat matahari akan padam, langit sebagian masih biru, kita bisa melihat sinarnya begitu indah bisa kita lihat saat akan bersembunyi dibalik cakrawala…kuning indah, menawan dan sedih, dan langit biru itu sedikit demi sedikit berwarna keemasan, sebentar lagi menjadi gelap, indah.
Setelah melihat keagungan dilangit biru itu, kemudian kita duduk menikmati makan malam yang Romantis, walau tidak disebuah tempat yang luar biasa, juga tidak dengan lilin-lilin yang redup. Tetapi tetap indah.
Seperti biasa ia lebih menyukai makanan tradisional dibanding masakan Eropa, setelah makan biasanya kita berbicara tentang banyak hal. Tentang kehidupan, Tuhan, dan betapa bencinya ia hidup dalam keglamoran yang kadang memalsui dirinya sendiri.
Aku selalu mendengarkannya bercerita tentang cerita yang sering kali diulangnya, tentang kebahagiaan tinggal disebuah desa, saat ia melihat orang-orang desa yang bisa tersenyum bahagia.
Dan saat ia berhenti berbicara aku dengan penuh semangat bercerita tentang kebahagiaan dan kehidupan, kehidupan yang harus dilalui dengan kekuatan, dan ia selalu memujaku karena tak pernah ada seorang lelakipun yang sangup berkata-kata seperti aku.
Seketika ia berkata
“Mana puisinya…Kamu berhutang puisi dua puluh puisi, setiap kali bertemu kamu harus buat empat, ini sudah lima kali kita bertemu kamu belum memberikan keduapuluh puisi itu”.
“Maaf sayang, aku selalu pulang malam, dan selama lima hari ini kita selalu bertemu, dan kita pulang malam, tak sempat aku membuatnya”
Aku pun ingat, aku membayar hutang puisi-puisi itu, setiap hari, saat aku menuliskan semua hal yang kita alami dalam sebuah buku yang dibelinya untuk ku, ia mau aku menulisnya, dan sesekali ia selalu membacanya, saat ia datang kerumahku.
Saat ini, tak ada lagi puisi yang aku tulis untuknya, jika adapun tentu tentang masa-masa dimana ia tak ada lagi dalam kehidupanku.
Puisi akan masa-masa sengsaraku tanpa sosoknya hadir dalam hari-hariku.
Biru, membiru, seperti langit biru yang berubah menjadi keemasan lalu kelam, gelap, tak ada lagi ia bersamaku di balkon itu, juga tak ada ia yang memandang lampion-lampion merah juga, bintang-bintang dilangit-langit yang palsu.
***
Dihari yang lain, dihari pagi yang cerah saat Mobilku melaju keluar dari rumah, aku melihat garis cahaya mentari pagi indah menembus sela-sela pohon, menembus dedaunan hijau.
Pagi itu kenangan akan dirinya muncul bersama pagi, saat kuingat mobil merahnya pernah diparkir didekat rumahku.
Hari itu kita berbicara didalam mobil lama sekali, kita saling tak ingin berpisah, walau malam selalu memisahkan kita, malam berusaha memisahkan kita.
Aku tak ingin berpisah dengannya hari itu, ia pun juga.
Itu kenapa ia selalu sering menemuiku karena rindu telah membelengu kita setiap saat.
Aku mencium keningnya dan ia pergi dari padanganku malam itu, sekarang ia benar-benar pergi dari pandanganku, ia tak pernah ada lagi, pergi tanpa ku cium keningnya.
Pagi yang indah itu merusak seluruh hariku. Dan karena itu pula aku hampir memecat seorang pegawai karena kesalahan kecil.
***
Dihari yang lain pula, saat aku menanti penerbanganku ke luar kota, aku ingat aku pernah menunggunya di bandara itu, menunggunya selama lebih dari dua jam, menunggu pesawatnya mendarat lalu kita pergi kesebuah Hotel, menghabiskan malam pernuh percintaan yang tak pernah terlupakan. Malam yang membara yang penuh dengan kenangan.
Kita telah lama merencanakannya begitu rupa.
Merencanakan sebuah kegilaan buat kita berdua.
Yah aku ingat malam itu, saat ia mengeluhkan diri karena Tiket yang salah ia beli, ia harus membeli tiket baru, dan malam itu nyaris jadi bencana, karena keluhan yang aku dengarkan hampir merusak moodku memanjakannya malam itu.
Aku berusaha menenangkannya, aku memeluknya, dan ia pun tenang seketika, lalu ia beranjak dariku pergi menuju kamar mandi, dan kembali, tanpa balutan apapun ditubuhnya.
Malam itu semuanya terlewati, saat kita berbaring di pembaringan berdua, saling berpelukan seolah tak ingin lepas, aku dapat melihat senyumnya yang bahagia, wajahnya yang bahagia, matanya yang berbinar saat ia bersamaku,
Aku dapat melihat tubuhnya yang indah tanpa balutan sebuah benangpun, aku dapat mencium wangi tubuhnya memabukan, yang membuatku mabuk untuk berlama-lama memeluknya, yah aku mengagumi apapun didalam dirinya, walau aku sekarang ditinggalkan sendiri, tanpa dirinya, pribadi yang selalu kukagumi dan kucintai, pribadi yang kubenci karena kebohongan-kebohongannya.
Aku ingat malam itu, malam yang panas membara, aku ingat jelas dalam kenanganku desahan suaranya saat kita dalam percintaan hebat, saat semangatnya tak habis, tenaganya tak lenyap menghadapi panasnya malam yang tak habis-habis.
Dan kita berakhir dalam saling berpelukan dengan erat, lalu ia berkata
“Apakah kau mencintaiku, sunguh mencintaiku?”
“Aku mencintaimu sayang…”
“Jangan pergi meninggalkanku”, katanya
“Aku tak akan pergi meninggalkanmu, aku tak akan pernah meninggalkanmu”.
Dan saat pagi menjelang, walau diluar masih gelap, kita bercinta lagi, begitu juga saat matahari pagi telah tinggi, terus…terus dan terus, dan berakhir saat siang menjelang, dan kita dipisahkan karena, pertemuan rahasia hari itu dikacaukan karena rencananya terbongkar, ia pun kembali panic, marah dan takut…akhirnya kita berpisah saat aku mengantarnya pulang, dan menurunkannya disebuah jalan hingga ia mencari taksi untuk mengantarnya pulang ke rumah.
***
Aku ingat kenangan setelah beberapa saat kemudian setelah percintaan kita yang membara, ia mengatakan bahwa ia telat datang bulan, aku tak menduga apapun, sampai ia mengatakan kalau ia tak pernah seperti itu, lalu dalam kelakarnya yang menegangkan, ia berkata
“Bagaimana jika aku hamil, akan kah kau bertangung jawab?”
“Ya, aku kan jadi bapak untuk anak kita”.
Dan saat benar bawah ia mengandung bayiku, aku begitu bahagia, bahwa aku akan menjadi seorang ayah, aku juga takut akan apa yang terjadi kemudian, tapi hari itu aku terbawa eforia akan sosokku yang akan menjadi bapak, walau itu masih akan terjadi nanti, tetapi jiwa kebapakan itu telah muncul.
Aku bahagia, aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti itu. Aku kerasukan eforia menjadi seorang Bapak.
Aku bahkan berjanji dalam diriku untuk menjadi bapak yang baik, berjanji untuk membahagiakan ia, anakku dan anaknya.
Aku telah memikirkan hal-hal yang jauh didepan, sesuatu yang jauh dari pemikiran yang seharusnya aku pikirkan. Aku sudah memikirkan bagaimana aku mengajar anakku, mendidiknya agar kuat, pandai seperti bapaknya, bahkan aku sudah berencana akan menyediakan asuransi tabungan buat masa depannya.
Ah..mungkin ini hanya eforia, tetapi memang ini sebuah eforia bahwa semuanya begitu cepat terjadi dan aku siap menghadapinya, walau sejujurnya, bisa saja aku tak tahu apa yang aku lakukan untuk menjadi seorang bapak.
Semua itu akhirnya hanya eforia juga mimpi, karena sekarang ia tak tahu dimana, bagaimana dengan bayi yang ada didalam kandungannya, bagaimana dengan keselamatan anakku.
Aku masih ingat apa yang ku katakan kepadanya setelah beberapa hari sebelumnya ia mengatakan bahwa ia mengandung bayiku, dan beberapa hari kemudian setelah itu ia begitu panic dan berencana akan mengugurkan bayi itu.
Aku marah besar tentang rencana itu, aku hampir tak dapat berbuat apa-apa saat aku mendengar recana picik itu, aku lemas, aku tak dapat berbuat apa-apa.
Hari itu aku pergi menemui dirinya dikantornya, aku ingat benar hari itu hari yang tak kuduga sebagai hari terakhir aku bertemu dengannya. Aku ingat apa yang dikatakannya padaku dihari yang menyebalkan itu.
“Aku tak tahan dengan keadaan ini, aku tak tahan dengan kehamilan ini, aku tak menginginkan bayi ini”
“Apa maksudmu?”
“Aku tak menginginkan bayi ini!”
“Gila….jangan pernah kau bunuh bayi itu…jangan kau bunuh bayi itu…”
Ia pun hanya menatap diam, menatap keluar jendela menatap ke langit biru, lalu ia mulai berkata, lalu berkata
“Aku tak yakin ini bayi siapa, aku tak tahu…, bayi mu atau dia”.
“What…!!!”
“Hari setelah kita pergi bermalam berdua, aku ketahuan karena pergi denganmu, tapi hari itu ia memaafkan aku, satu satu katanya, dan hari itu pula ia memaksaku untuk melayaninya”
“What…Gila…Anjing itu memaksamu…kenapa kamu baru bilang sekarang”
Jantungku serasa ingin terhenti, aku tak perduli lagi apapun tentang moralitas, aku mencintainya, tapi ini bukan lagi moralitas yang dibicarakan, ini kebejatan yang tak terpikirkan oleh ku.
“Pokoknya jangan pernah kau bunuh ia…”
Aku pun tak ingin berdebat lebih panjang lagi, aku harus kembali ke kantor, aku harus kembali. Tetapi tanpa terduga, saat aku kembali kekantor, ia meninggalkan sebuah message untukku.
Mulai hari ini aku resign dari kantor
Kita tak akan pernah bertemu lagi.
Jaga dirimu baik-baik…
Saat aku membaca message itu, aku tak menduga ia akan benar-benar lenyap dari hidupku, aku segera menghubunginnya, tak bisa. Dan sejak hari itu pun ia pun lenyap begitu saja dari hidupku.
Hari ini, yah hari ini, sampai hari ini aku tak pernah lupa hari itu, aku tak pernah lupa sepuluh bulan dibelakang, walau kepergiannya sudah lewat tiga bulan lalu, saat aku duduk diruang kantorku, dilantai 12 aku sering menatap ke langit biru, berfikir “dimanakah kamu”, “apakah kamu bahagia”, “apa yang terjadi denganmu”.
Apakah kau bahagia dengan “anjing itu”.
Apakah kau bahagia dengan pria yang dicintainya.
Apakah kau bahagia dengan pria yang hanya mencintai hartanya.
Aku bahagia jika kau dapat bahagia bersamanya dan aku tak bahagia bisa bersamamu, biarkan cinta ini membiarkan kau bahagia jika kau dapat bahagia bersamanya walau sekarang aku tersiksa dengan kata “kenapa”.
28 June 2009
Markus AP

(4 votes, average: 4.50 out of 5)

Similar/Related Posts