Tout doit être fait, rien ne peut changer, seul Dieu peut changer les choses pour le mieux, mais je voulais terminer, parce qu\'il a laissé de profondes blessures, douloureux, très douloureux ....


5:21 pm, January 14, 2010
Pages
Blackberry Note
  • Cinta Tetap Agung
    March 12, 2010 | 6:17 am Apakah masih banyak orang mempercayai cinta?, apakah nilai-nilai agung dari cinta tetap dipercayai?, hampir semua orang tidak lagi mempercayai cinta, tetapi bukan berarti cinta telah lenyap, cinta tetap ada walau semua orang tidak lagi memandangnya, cinta tetap luhur nilai-nilainya walau telah ditinggalkan, tetapi mereka yang mempercayai cinta, lumrah jika ia mengagungkannya, karena sedari awal [...]
  • RSSArchive for Blackberry Note »
About The Author
Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.

Recent Posts
Categories
Recent Comments
Reply Comments
Top Commentators
  • irh (102)
  • Novi Haryono (60)
  • annz (56)
  • Ir'eNe (43)
  • viona (43)
  • cis (28)
  • novia (19)
  • nefertiti (17)
  • dianahalim (16)
  • suz4n (13)
  • -Anne (11)
  • hanny_aza (11)
  • Melda (11)
  • anastasia (10)
  • febz (9)
Login




Register Lost your password?

Kisah Cinta Sebuah Sepeda Tua (cerpen)
By. marcus . August 14th, 2009 at 6:34 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 4.92 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kisah Cinta Sebuah Sepeda Tua

 

    “Ahhh sudah selesai semuanya” keluhku, aku pun meletakkan kamera diatas meja, dan berjalan keruangan kerjaku. Dan semua orang mulai sibuk membereskan barang-barang, asisten-asistenku mulai membereskan lampu dan kabel-kabel yang berserakkan.
    “Boss…Erick tadi nelfon”,
    “Oh ya…” Pikirku lagi, pasti pekerjaan marathon untuk fashion spread atau iklan, ah…delapan belas pemotretan dalam sebulan sudah melelahkanku, aku butuh liburan, aku butuh istirahat.
    Oh ya, Ria adalah orang Indonesia yang bekerja untukku, ia satu-satunya orang Indonesia, jawa asli yang tinggal dan bekerja di Newyork ini, ia telah membantuku selama lebih dari tiga tahun ini, hanya ia yang mendengarkan ku ditanah rantau yang nanjauh!.
    “Dan Nadia call, she ask about dinner, pesannya berkata ‘Marky, Call Me’ ”…
    “Whattttt….oh Gosh, tell me siapa lagi yang nelfon?”.
    “Hmmmm”
    “Don’t tell me, keep it, bilang aja aku sibuk kalau nelfon lagi…Oh Gosh fashion Industry…”.
    “And…boss ini penting…Cho call…”
    “Oh ya…ahhh aku ingat, minggu depan ya…launcing 150 grand shoes…, ok ok tinggalin aku dulu sebentar, aku butuh nafas…”
    Aku pun bersandar duduk dibangku diruang kerjaku, menatap bingkai didinding, yang sudah hampir tak pernah ku lihat selama lebih lima tahun aku tinggal di NewYork, setelah kelulusanku dari sekolah photography di Santa Barbara.
    Aku pun tersenyum saat aku memandang salah satu dari tiga bingkai itu, bingkai semasa SMA di Semarang, lucu….”ahhh” lirihku.
    Aku pun segera bangkit dari bangku, lalu keluar ruangan…
    “Ria….ria…..sini loe….”
    “Apaan boss…”
    “Call Cho..send him flower, tell him gue ga bisa dateng ke acaranya…tapi kirim bunganya satu hari sebelumnya, bilang aku sakit, dan dirawat dirumah sakit di mana kek…bilang aja di Delhi or Alaska or somewere…, and pack my camera my Leica, baju-baju, pesan tiket ke Jakarta buat besok siang, telfon rumahku, untuk jemput dan untuk pesankan tiket kereta ke Semarang….satu hari setelah aku tiba”
    “Hah…what are you doing!!!”
    “Shut up…just do it”
    “Tapi boss….kalau ada job pemotretan, dan sebentar lagi kan mau bicara di seminar dan juga opening pameran mu”
    “I know…, I know…Tenang…aku tak akan sampai dua minggu ke Jakarta…Just do it…JUST DO IT, call Jakarta, Pesan tiket…, pameran kan sudah semua dibereskan…”
    “Oke..oke.., jangan lupa lumpia dan bakpia nya ya…Boss”
    “Oke…oh ya Bakpia oke, lumpia no…gile, apa gak bau dibawa ke NewYork dari Semarang ke Jakarta dulu…”
    “Oh GOD…my boss kena serangan gila lagi, beneran mau ke Semarang?”
    “Hahahhahahahahah, yes, I am GILA, mau apa loe, hahaha, and jangan lupa no cellphone, kamu bawa handphoneku, aku bawa nomor satu lagi…and kamu mau libur, pergi ke mana kek, pergi lah liburan Hawaii or mana…but kembali sebelum aku kembali, jangan matiin tuh Handphone…main drama lah ke semua orang dari this fashion industry…”
    “How about Nadia?, Nadia?, forget about her…hey, there is no love…she just only want……..and get big job…so forget it…is not about beauty…sexy or that thing…is about heart….gile loe mang gue cowo apaan….”

***

    Waktu pun berjalan sangat cepat, aku berangkat terbang ke Jakarta dari JFK dan mendarat di Cengkareng, entah berapa jam duduk dipesawat yang melelahkan, tak bisa tidur, tersenyum sendiri karena kegilaan yang ku lakukan…melarikan diri dari kesibukan yang melelahkan, dunia yang penuh dengan kepalsuan, industry yang memberi kehidupan tapi juga membuat kita bisa lupa diri karena ia menawarkan begitu banyak kepalsuan…dan aku kembali mencari kesahajaan, mencari ketulusan, kepolosan,  jika itu masih ada, dari  dunia yang ku tinggalkan hampir sepuluh atau belasan tahun lalu.
    Dan aku lega saat aku mencium hawa Jakarta, jauh dari rutinitas yang kadang menyebalkan.
    Sore itu Pak Tarjo menjemputku dibandara.
    “Loh pak…mana Mami…”
    “Den…Mami kemarin pergi ke Bangok, Mami marah-marah, masa pulang mendadak gak bilang-bilang, Mami ga bisa batalin tiket dan pesanan hotelnya…tapi Mami…ehhh maksud saya Nyonya bilang aden disuru nunggu sampai Nyonya pulang…”
    “Kapan pulangnya?”
    “Dua-Tiga minggu lagi…”
    “Hahhh…mana bisa…, sudah lah…”
    “Wah dehnn…”
    “Kenapa pak?”
    “Aden tambah kurus…gak ada yang ngurus sih…tapi tambah keren den…”
    “Ah…Pak Tarjo bisa aja…”
    “Udah..udah…buruan aku capek…mau tidur…, pak nanti aku tidur, mampir dulu ya beli nasi goring seafood di pecenongan, sama sate ayam…”.
    “Iya den…, ah aden masih inget aja makanan favorite nya”
    “Ah Pak Tarjo juga masih inget aja…udah berapa tahun pak aku ga pulang, kan kangen makanan Indonesia, walau disana ada sih…tapi kan tetap beda….”
    “Rasanya beda den?”
    “Rasa sih bisa sama…tapi kan gak bisa liat anaknya Enci Ayung…”
    “Hahahahha…ah aden bisa aja”.
    “Becanda pak becanda….”
    “Ah aden beda sekarang…hahahahahah, beda pas SMA dulu sama sekarang beda…”
    Aku pun tersenyum saat ia berkata itu, aku pun jadi ingat seperti apa aku saat SMA, seperti apa aku disaat-saat paling manis dan indah dalam hidupku itu.
    Ahhh…apakah masih indah?, mungkin…mungkin juga tidak.
    Dan Jakarta masih macet seperti dulu, sore itu jalan menuju Jakarta dari bandara benar-benar macet, aku membatalkan pergi ke pecenongan, dan terpaksa melewati jalan tol yang melewati Ancol.
    “Pak…Ancol masih ada ya…”
    “Hihiihihihi” Pak Tarjo terkekeh, mungkin karena melihat aku yang norak, dan benar-benar seperti orang udik yang pergi ke kota.
    Aku pun membaringkan kepala karena badan terasa pegal-pegal.
    And…dua jam kemudian..aku sampai dirumah, rumah yang sepi karena tak ada seorang pun kecuali pak Tarjo dan pembantu baru.
    “Pak…Bi Lastri kemana?”
    “Bi lastri pulang ke desanya…sudah setahun lalu, anaknya minta agar Bi Lastri tak bekerja lagi…”   
    “Dimana pak?”
    “Pulang ke Unggaran…”
    “Oh…”
    Dan setelah makan malam, aku pun segera membaringkan diri dan tidur sampai pagi…

***

    Warna pagi hari ini berbeda, aku masih bisa melihat cahaya matahari tidak dihalangi gedung tinggi…rumah dikomplek ini jauh dari kebisingan Jakarta, sedang apartemenku dan studioku di NewYork tepat ditengah kota maka saat membuka jendela saja, kebisingan kota itu sudah benar-benar jadi irama yang sama setiap hari…ah membosankan.
    “Den koq sudah bangun…”
    “Pak…walau saya sudah belasan tahun tidak di Indonesia, tetap saja saya selalu bangun pagi…Kakek dan Mami yang membuat aku selalu bangun pagi…”
    “Iya den..”
    “Pak..tiket buat keSemarang sudah ada?”
    “Den…ibu lupa membelikannya…karena ibu sibuk sebelum berangkat ke Bangg…Bangok…”
    “Oh…ya sudah…kalau gitu…nanti saya kasi uang, Bapak pergi beli tiket kereta, dua…buat nanti malam”
    “Dua den? Nanti malam den?”
    “Iya…buat bapak satu  saya satu…bapak ikut saya…”
    “Apa gak capek den? Lalu yang jaga rumah?”
    “Rumah?, sudah lah, ada pembantu, ada satpam…mau diapain rumahnya, toh rumahnya ya ga akan diangkut orang…”
    “Ah aden…rumah sih ngak diangkut orang…tapi…”
    “Tapi kenapa….udah ah…beli dua…ga usah beli pulangnya, nanti pulangnya terserah saya…”
    “Ya ya ya den…”.
    “Oh ya pak… Bangkok pak…bukan Bangok…dari kemaren koq bangok bangok terus…kota dimana itu…gak ada diPeta dunia pak…”
    “Hihihi…, maklum lah den…kan orang deso…”
    “Hahahahhahaha, Pak Tarjo..Pak Tarjo…”
    Aku pun menikmati nasi goreng dan sate ayam yang benar-benar jarang aku rasakan di NewYork…dan aku pun sudah terasa lega, saat aku bisa melihat kepolosan gaya orang jawa, dalam diri Pak Tarjo, yang sudah puluhan tahun ikut keluarga kami, mungkin 20 tahun lebih, tapi ia tak pernah berubah tetap bersahaja…walau tinggal di Jakarta yang modern, glamour, dan inilah yang selalu  ingin aku rasakan dan liat ditengah industry yang aku hidupi.
    Tapi itu hanya mimpi. It’s never happen.

***

    Perjalanan kereta malam pun membuatku tak dapat melihat pemandangan disepanjang perjalanan, yang bisa dilakukan hanya tidur-tiduran, membaca atau ngobrol-ngobrol dengan Pak Tarjo sampai jam 12 malam, tetapi aku belum bisa tidur, aku berjalan ke luar dari bangku menuju toilet, merokok, dan menikmati garis-garis lampu malam dari kota, dusun, atau lampu teplok dari rumah kumuh yang berdiri kokoh disepanjang rel yang dilewati oleh kereta ini.
    Saat lelah pun menyergap, aku kembali tidur, dan tiba di Semarang jam 5 pagi kurang.
    Tak ada yang berubah…
    Masih sama…
    “Taksi omm…taksi…”
    “Boleh”.
    “Jangan den..naik becak aja…”
    “Becak…? Masih ada?”
    “Ada den…naik becak lebih murah dari pada naik taksi, argo kuda…”
    “Hah…apa kuda? Iya lah…terserah asal jangan jalan kaki aja”
    Menikmati pagi subuh-subuh naik becak benar-benar mengingatkanku waktu-waktu dulu.
    “Pak ini kan dulu…”
    “Iya bener…itu dulu aden pernah naik sepeda jatuh disitu…”
    Ah kemana sepeda tua itu?, aku jadi ingat dengan sepeda tua itu.
    “Pak..ini kan…saya dulu pernah makan es disini…masih ada pak?”
    “Masih…anak-anaknya yang jualan…bapaknya sudah ga ada…”
    “Ohh…”
    Bapak tua yang mengayuh becak itu tak nampak kelelahan, padahal usianya sudah lebih dari 60 tahun.
    “Pak…saget kuat ndorong becak”
    “Hihihihi” pak tarjo terkekeh…
    “Saget…mas saget…”
    “Kenapa pak koq ketawa…gak pa pa den…lucu”.
    “Hahhahaha”. Aku pun tertawa keras.
    “Hus…masih pagi nanti orang-orang pada bangun…”
    Tak lamapun kami sampai dirumah kakek yang tua dan uzur itu, rumah tua dari kayu jati disebuah kampung kecil, rumah yang tak terurus, sudah 140 tahun usianya…saat itu masih terlalu pagi, tapi tetangga sebelah sudah bangun dan beraktifitas, seorang ibu tua mencuci didepan rumah, seorang lelaki mengurus ayam.
    “Nih pak bayar…”
    “Hah den…banyak banget”.
    “Udah gak papa…kesian kan…”
    “Kalau tau gitu tadi naik Taksi aja den..”
    “Udah lah…gak pa pa bayar sana…kasi semua…”
    “Ya den…”

    Tiba-tiba, ibu tua yang sedang mencuci di sebelah rumah itu pun berteriak…
    “Hehh..hehh…sopo kui seng teko…, putune mak Bibet…”
    Semua orang di rumah sebelah itu keluar…
    Datang dan menyalami aku…
    “Wah…wes gede yo….wah wis lali karo aku…, ini loh Mbak Yah…”
    Aku pun hanya senyum..senyum…bingung, karena aku hampir lupa siapa ibu tua tadi yang berteriak, yang sekarang dihadapanku….
    “Lah itu…itu Eko kan pak Tarjo…”
    “Iya den…”
    “Heh Ko…”
    Aku tak menyangka aku melihat teman sepermainanku saat aku diSemarang.
    Ia pun tersenyum, dan menyalami aku.
    Aku pun harus pamit untuk masuk dulu, risih rasanya seperti Selebritis masuk kampung…, karena belum sempat aku mengetuk pintu rumah dan aku benar-benar lupa memberikan kabar kepada tante ku, tapi tak mengapa, ini akan jadi kejutan buat dia…
    “Masuk dulu ya…nanti malam aku ngobrol-ngobrol lagi disini…, tante belum tau” pamit ku kepada semua orang dari rumah sebelah. Dan mereka pun tak keberatan untuk itu.
Dan benar apa yang kuduga…tante ku pun kaget dan marah-marah, kenapa tak memberi kabar karena ia bisa mempersiapkan kamar dan membersihkan rumah untukku.
    “Sudah lah…santai aja…aku juga dulu tinggal disini dimana pun bisa…, aku juga pernah tidur diluar dikunciin kakek”
    “Kamu gak berubah ya…”
    “Apa…”
    “Masih ngeyel…”
    “Hahahha…iya tan iya…”
    “Mana neh oleh-olehnya dari Amerika sana…”   
    “Duh gak sempet beli oleh-oleh..wong ini juga mendadak…”
    “Oooo….cah edan…”
    “Hahahahhaha…”
    Aku pun sudah tak dapat lagi tidur, karena waktu sudah bukan pagi lagi, kesibukan sudah benar-benar berdenyut dikota ini.
    “Ngapain kamu ke Semarang….kan enak di Jakarta bisa dugem-dugem, banyak Mall, banyak wanita cantik…apa enaknya diSemarang”
    “Wanita cantik bosen…disana banyak…yang punya hati gak ada tapi…dan lagi aku kan kangen makanan disini…aku kangen tante…aku kangen sate pak Bagong, sate pak Gondrong, Nasi Ayam Kemuning, aku kangen apa tuh yang dari kelapa yang bulet itu yang ada bungkusnya gambar kereta….”
    “Ohhh itu…wingko…”
    “Iya..iya…di NewYork kan ga ada Wingko…”
    “Ah…cah gendeng ….kamu ga tau kan Pak Gondorng sudah ga ada…”
    “Oh ya…, yang jual siapa?”
    “Istrinya…dan anaknya…”
    “….eh eh kamu inget, Diana…”
    “Diana? Siapa ya…”
    “Itu loh, yang dulu pernah tante mau jodohin ke kamu…”
    “Hmmmm”
    “Anak yang rumahnya diujung itu…, yang pasti mondar-mandir kalau sore…”
    “Ohhh iya iya…”
    “Dia kawin hampir 10 tahun ga punya anak…dan sekarang suaminya gak tau kemana”
    “Oh ya…..kalau dulu jadi tak kawinin sama kamu…pasti sudah punya anak”
    “Hahahahhahaha, tante bisa aja…eh eh eh tan…inget gak Yayuk…”
    “Yayuk?”
    “Yayuk sopo cah bagus…, tante kenal Yayuk mah itu temen bisnis tante jualan kain…Janda sudah tua…”
    “Yee….mana kenal sama temen tante, masa aku kenalnya sama tante-tante ….itu loh tan..yang rumahnya dideket pasar belakang sana…, pasar apa sih namanya…”
    “Oh pasar Karang Kembang…, rumahnya sebelah mana ya….???”.
    “Itu loh anaknya pak Lurah, yang Bapaknya mantan tentara, galaknya minta ampun”.
    “Anaknya pak Lurah?”
    “Pak lurah sekarang ga punya anak cewek deh…”
    “Yeee.bukan Pak lurah sekarang…dulu pas aku SMA…”
    “Sopo ya…, ah emboh lali…”
    “Eh Tan jangan bilang-bilang tante Kur kalau aku dateng…males, tar liat tampangnya yang galak…ogah…”
    “Hahahahahah, emang tante mu kayak gitu…aneh…”.
    Aku pun masuk ke dalam, dan melihat pak Tarjo terkapar di bale-bale…dan aku geleng-geleng kepala, lalu aku pergi mengambil kameraku yang ada didalam tas, dan membawanya keluar.
    “Tan..aku jalan dulu..aku mau jalan-jalan…”
    “Hah…sendiri”
    “Iya lah…”
    “Bangunin tarjo…sana sama Tarjo kamu bawa-bawa kamera…bahaya…itu kan kamera mahal……Tarjooo…Tarjooo tangi…ojo turu terus…Den bagus mu arep lungo ki”
    “Gak..gak usah tan…”
    “Ya…ya nyah…”
    Tarjo pun bangun..
    “Udah Pak…tidur lagi aja…”
    “Gak den…saya temenin den mau kemana…pake becak ya den”.   
    “Becak…gak seru…pake mersikil”
    “Naek mercy den?, Kan ga bawa mobil…”
    “Pake sikil..sikil kaki kaki pak…jalan kaki…kaki itu kan bahasa jawanya sikil toh”
    “Oh…mersikil..Oke oke Boss”
    “Hahahahha”.
    Aku berjalan terus sampai akhirnya aku tiba didekat sekolahan Katholik tempat aku sekolah dulu.
    Sekolah itu masih ada, saat sekarang anak-anak pasti tak ada hari ini libur, jadi keadaan sekolah tak begitu ramai, aku pun melangkah masuk kedalam sekolah, masuk kedalam chapel.
    Memberi tanda salib, dan duduk dibangku belakang, Pak Tarjo menunggu diluar, dibawah pohon.
    Saat itu aku duduk dan berdoa…entah berdoa untuk apa, mungkin untuk kegilaan yang paling gila disepanjang hidupku.
    Memutar balik waktu?
    Meminta peran lain dalam sebuah cerita yang lain?
    Mengharapkan sebuah pengharapan yang tak mungkin.
    Gila…tak mungkin…
    Saat itu pula aku mengakhiri sikap berdoaku dengan tanda salib. Berdiri dan bergegas menghampiri seorang pastor yang lewat…
    “Pastor..pastor…disini masih ada pastor Bein”
    “Pastor Bein?, pastor Bein sudah tak ada, ia sudah pensiun dan kembali ke Flores”.
    “Terima kasih Pastor…”
    Aku pun siap keluar dari sana, dan aku ingat, aku pernah mengungkapkan perasaanku masa muda dibilik pengakuan dosa itu, dan Pastor Bein yang mendengarkan semua kisahku saat itu, mendengarkan perasaan dan apa yang ada didalam hatiku.
    Aku pun melangkah kelorong diluar chapel itu,…
    Dan aku ingat lagi saat aku berdiri sembunyi-sembunyi memperhatikan Yayuk dari jauh, Yayuk gadis yang polos, baik, pandai, manis, cantik, tercantik diseluruh sekolah…dan aku ingat saat Pastor Bein mengagetkan aku dari belakang, dan dengan daya yang magic dia benar-benar memberikanku keberaniaan…aku masih ingat saat Pastor Bein berkata.
    “Nak……cinta itu tidak mengenal batas usia…tak mengenal apapun…cinta itu ya cinta…cinta itu murni…tulus…penuh kasih…dan bertangung jawab…dan kadang cinta itu penuh kegilaan, karena tiba-tiba memberikan kekuatan dan keberaniaan untuk mencintai SEPENUH hati….”
    “Tappppiiii Romo…” aku ingat aku tergagap menjawabnya.
    “Nak..kamu murid pandai…walau kamu bukan anak yang populer, kamu berbeda…, tapi kamu pasti cepat paham apa yang romo bilang”.
    “Sudah….ingat…apa yang romo bilang tadi…sana…kamu ajak pulang bareng…”.
    “Tapppiiiii moooo”…
    “Sudah…jangan ngeyellll”.
    Aku pun terhipnotis dengan daya bicara yang penuh kasih dan kesabaran itu, itulah yang membuatku berani melangkah menghampiri Yayuk kakak kelasku, mungkin ini hal tergila pertama dalam hidupku, tergila yang pernah terjadi…dengan resiko dihajar oleh kakak kelas, atau oleh satu team anak Basket yang aku tau semuanya naksir Yayuk.
    Benar omongan Pastor Bein…aku benar-benar jadi gila saat itu.
    Aku, tanpa pikir panjang datang menghampiri Yayuk…
    “Kakkkakkk….bolehhhhhhe bicaa a a a ra seee been taarrr”
    “Boleh” Yayuk pun menjawab dengan ramah dan anggun…hal yang tak ku duga..aku tak pernah berfikir ia akan se ramah itu. Dan aku pasti duga mukaku pasti sudah memerah kayak kepiting rebus.
    Ia pun melangkah menjauhi teman-temannya…
    “Mau bicara apa…, mau Les matematika?”
    “Buuukkkaaannn kakkk…” aku pun nyaris kaget saat ia berkata itu, tentu ia tak tau kalau nilai matematikaku tak pernah merah, selalu delapan atau sembilan.
    “Terus…Inggirs?”
    “Bu…kkk…annn kakkk, speeking English little..little I can lah”, aku menyengajakan diri menjawab itu.
    Ia pun tertawa kecil, dan tersenyum dengan kegilaanku.
    “Terus…?” Aku terdiam..
    “Hmmmmm….Terus…?”
    “Heeee…bo..le…hhhhh gakkk…kalauuu nani..eh nannnti maksudnya…”
    “Iya apa…terus dong…koq berhenti…”
    “Iya…nannn ti, saaa yaa aajjak kakakkkk minummm tehhh botollll dikantinnn…seee ha habis pullllaaaangggg”.
    “Hmmmmmm….boleh..!, udah ya, nanti abis pulang ya, kakak masuk dulu, mau habis waktu istirahatnya nih….”, ia pun pergi membelakangiku…dan aku…aku berdiri bengong, tak bergerak sampai bel istirahat berbunyi.
    Seorang teman, Slamet menepukku dari belakang…
    “Eh edan…koe wes edan opo…, itu kan Yayuk…kembangnya sekolah kita, kamu ngomong apa tadi…”
    “Ngak..ngak..ra ngomong opo-opo koq…”
    “Kamu gila ya, kamu gak liat apa, anak kelas satu pada ngeliatin kamu, untung kamu si genderuo jagoan basket kita gak liat kamu, bisa remuk kamu…”
    “Ahhh ra wedi…tak ambilin kerise mbah ku…wkwkkkwkwkwk”
    “Ah kamu goyon aja…”
    Aku pun pergi ke toilet, dan temanku itu kembali ke kelas…
    Aku ingat apa yang terjadi ditoilet…aku meloncat-loncat kegirangan, kayak orang gila…dan menatap wajah ku dicermin…bangga…aku melalui ketakutan dan melakukan kegilaan yang tak pernah aku lakukan.
    “Hey..kamu masuk kelas…ngapain disini terus…”
    “Eh Pak… iya iya…” Aku pun berlari masuk kelas…
    Jujur saat itu aku seperti orang yang kepanasan, ingin segera bel sekolah berbunyi, tak betah mendengarkan Ibu Arie ngoceh-ngoceh mengajar bahasa Indonesia, padahal hari itu ia sedang mengajarkan tentang puisi Rendra….
    “Eh kamu ngelamun aja…, kamu deklamasi ini didepan…”.
    “Hah hah hah…Bukunya bu..”
    “Gak pake buku…hafal kan..”
    “Hahhhhh…kalau puisi Rendra yang lain boleh, bukan yang didalam buku itu”
    “Boleh…” Aku pun berjalan maju kedepan kelas…
    Terdiam, dan seisi kelas pun diam…
    “Kangen, karya WS.Rendra”…
    “Huuuuuuuuuuuu……” seisi kelas bersorak
    “Kangen sama Yayuk yaaaaaaa” seorang teman berteriak.
    Aku sudah menduga wajahku pasti merah lagi.
    “Dok…dok..diammmmmmmmmmm,  Teruskan….teruskan”, pukulan pengaris dan teriak bu Arie  lantang. Dan  dengan lantang dan penuh penjiwaan akupun mulai bersyair…

    Kangen

    Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
    Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
    Kau tak akan mengerti segala lukaku
    Karena cinta telah sembunyikan pisaunya
    Membayangkan wajahmu adalah siksa
    Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan
    Engkau telah menjadi racun bagi darahku
    Apabila aku dalam kangen dan sepi
    Itulah berarti
    Aku tungku tanpa api.

    Lalu aku terdiam masih berdiri tegak…seluruh kelaspun diam.
    Aku pun kembali ke mejaku, dan Bu Arie berjalan kembali kedepan kelas. Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi…akupun bergegas membereskan buku-buku kedalam tas, dan berlari keluar kelas menuju kantin.
    Aku duduk dibangku kayu panjang.
    Kantin Pak Karjo belum tutup, masih ada anak-anak yang bermain dilapangan, tapi sebagian sudah bubar, aku menunggu berharap cemas, jantung ini kayak mesin kapal uap, atau mungkin mesin kereta api, bergerak cepat, tanpa bisa distop…beberapa kali aku menarik nafas panjang…mengepal-ngepakan telapak tangan yang basah karena keringat, karena gerogi…tak habis pikir, aku berjanji minum teh botol dengan gadis tercantik disekolah ini…kegilaan apa yang kulakukan. Dan jika si genderuo itu sampai tau dan aku di bisa dipukulinya, kalau itu terjadi Pastor Bein lah yang bersalah karena memberikan keberaniaan kepadaku, memberikan pelajaran singkat apa itu cinta!.
    Aku melihat ke jam tanganku, sudah hampir jam tiga.
    Tak seorang pun datang, lapangan hampir sepi, warung pak Karjo pun sudah mau ditutup. Akhirnya aku berdiri dan berlari menyusuri seluruh kelas dan kantor guru. Sudah sepi.
    Melihat ke halaman depan sekolah dan kembali lagi ke kantin, warung pak Karjo sudah tutup, dan Yayuk tak kutemukan dimanapun.
    Akupun tertunduk, dan berjalan lemas, keluar dari lorong menuju halaman depan sekolah, berjalan kaki pulang…ditengah jalan aku berfikir.
    “Ah siapa sih aku…aku hanya anak kelas satu…, bukan anak populer, bukan anak basket…hanya kutu buku”.
    Tiba-tiba aku ingat lagi apa yang Pastor Bein katakan…
    “Cinta itu….”
    “Ah Pastor gila…tapi…” hatiku berkata lain, hatiku membenarkan apa yang Pastor Bein katakan.
    “AKU TAK BOLEH MENYERAH”. Itulah kataku dalam hati.
    “Den…den…koq bengong”. Aku pun sadar…
    “Pulang den sudah siang….tadi Tante nya aden SMS saya”
    “Sudah berapa lama Pak aku berdiri disini”
    “Wah ya mboh…mana saya tau…wong saya dari tadi diluar…aden koq aneh bisa berdiri bengong disini”
    Aku pun melangkah pulang kerumah, dan sempat makan disebuah warteg dekat sekolah, tersenyum-senyum sendiri akan kenangan tadi.
    “Gila…” kataku.
    Dan saat malam harinya, aku benar-benar tak bisa tidur, sama persis belasan tahun lalu, saat aku ingin waktu segera pagi dan bertemu Yayuk esok harinya, atau mungkin melihat senyumnya dikejauhaan.

***

    Pagi sekali aku kembali ke sekolah itu, sekolah masih libur, aku bebas masuk, walau harus melewati penjaga sekolah, yang sekarang sudah tak kukenal. Aku bilang, aku hanya mampir untuk ke chapel…untuk reuni. Kebaikan penjaga pintu sekolah membuatku mudah untuk masuk kedua kalinya.
    Saat itu aku seperti kembali ke masa lalu.
    Hari itu, tepatnya setelah Yayuk tak menemuiku, aku hanya duduk membaca di bawah pohon dihalaman sekolah, dari situ kadang aku bisa melihat Yayuk yang berkumpul dengan teman-temannya bercanda sehabis beli makanan kecil dari kantin.
    Aku menatapnya sesekali…memandanginya dari jauh…mengagumi, atau membenci…sebal karena ia tak datang kemarin.
    Mungkin karena tatapan yang tajam itu, mungkin juga karena ia disadarkan.
    Yayuk melihat kearahku…dan ia beranjak dan berjalan.
    “Kamu baca apa…” katanya saat ia tiba-tiba berdiri depanku…
    “Bacaaa….buku…”
    “Iya tau…buku apa…”
    “Nih…”, aku menunjukan cover depan buku yang aku baca…
    “Wah hebat…bukunya Dick Hartoko, kamu baca itu…????”
    “Iya…kenapa?”
    “Gak gak apa apa, maaf ya kemarin…aku lupa…ibu Dessy minta aku bantu menyortir ulangan anak kelas satu…eh kamu kelas berapa…”
    “Aku kelas 1 A”.
    “Nama kamu Markus kan…”
    “Iya…”
“Nanti deh…minum teh botolnya…”
    “Ooo..iya”, aku pun bingung, sunguh tak dapat berkata apa-apa…aku tak salah menilai orang dari sejak dulu, ia benar-benar berbeda.
    Yayuk pun melangkah membelakangiku…lalu berbalik berkata.
    “Kamu kelas satu A kan…Aljabar kamu dapat 10”
    “Hah…”, aku terbengong karena malaikat baru saja turun dari langit mengajakku minum teh botol, dan memberitahukan pesan kalau aku dapat 10 buat pelajaran Aljabar. Angka yang sering kudapatkan, tetapi bedanya kali ini, Yayuk yang memberitahukan angka sempurna itu.
    Hari itu, aku menunggu lagi dikantin, dan benar Yayuk datang hadir disana. Aku mengambil teh botol dari kotak pendingin milik Pak Karjo. Membukanya dan memberikannya.
    Lalu aku hanya diam tak berkata apa-apa…sunguh bodoh aku ini, kata-kata apapun tak bisa keluar dari mulut.
    Saat itu pula aku terlepas dari kegagapanku karena cangung, dan sanggup mengajak Yayuk pulang bareng esok hari. Tanpa terduga ajakan itupun disambutnya dengan baik.
    Hari itu aku pulang sambil nyanyi-nyanyi, kakek dan tanteku bingung setengah mati. Aku ingat aku nanyi Love Is Wonderfull Thing, Michel Bolton.
    “Cah bagus kamu kenapa?, sawanen ya…”   
    “Mana ada sawan koq bisa jalan-jalan nyanyi-nyanyi…”
    “Lalu…”
    “Ah tante…anggap aja aku mau rekaman…”
    “Kamu rekaman le…lah wong nyanyi mu fales gitu koq….”   
    “Beda dong tan…bukan fales nya tapi maknanya je..”
    “Halah..gombal…”
    Sore itu aku mandi sambil bersenandung, setelah itu pakai gel rambut milik Omm, yang aku ambil dari kamarnya…biar rambut klimis, ah biarin gak tau ini, toh ia juga jarang pakai, dan selalu lupa untuk pakai.
    Apa yang mengubah ku menjadi seperti ini, selain karena sosok malaikat itu.
    Malam itu aku tak dapat belajar dengan benar, dan akhirnya aku pun tak dapat tidur malam itu. Karena besok, aku mengantarnya pulang. Aku tak punya motor, seperti anak-anak lain, orang tuaku mengajarkan aku untuk mandiri, jauh dari fasilitas, aku hanya punya sebuah sepeda tua, ah biar saja, akan ku bawa sepeda itu besok.
    Pagi pun aku mandi dan segera berangkat ke sekolah tanpa sempat sarapan, tante marah-marah karena aku tak sarapan pagi itu, tapi aku kabur begitu saja ke sekolah. Sepanjang istirahat aku tak sempat untuk keluar kelas menyelesaikan PR yang belum sempat aku kerjakan, aku hanya meminta slamet mengirimkan sepucuk tulisan untuk Yayuk.
    ”Gila kamu…aku kamu suru bunuh diri…kalau ketemu genderuo itu…???”
    ”Biarin aja…yang mati kan kamu…”
    ”Setan kamu Kus…sana kamu pulang ambil Kerise Mbah mu…”
    ”Hahahahah, sudah sana kamu kirim surat ini, jangan dibuka ya…”
    ”Ahhh kamu….tapi ngintip boleh kan”
    ”Ah gundul kamu…mau tau saja urusan orang”
    Dan aku pun tak menyangka Yayuk membalasku dengan sepucuk kertas bertuliskan sepidol hitam, “baik lah, aku tunggu di dekat pos hansip dekat Kemuning…”
    Ia harus menunggu jauh sekali dari sekolah, aku paham maksudnya…
    Mungkin ia mau agar aku tidak ketemu genderuo itu…
    Mungkin juga ia tak mau dirinya bermasalah dengan genderuo itu…
    Ah biarkan saja…toh aku tak melakukan kesalahan apapun.
    Akhirnya waktu pun tiba…aku segera berlari mendorong sepeda keluar dari halaman sekolah, 10 menit setelah bel sekolah berbunyi…aku duluan atau ia duluan yang ada disana…rupanya aku duluan yang sudah sampai disana, sebelum Yayuk tiba.
    Tak lama kemudian ia pun muncul.
    “Kak…”
    “Hemmm, kamu manggil aku kak, kenapa tidak nama saja?”
    “Boleh kah?, saya kan lebih muda…”
    ”Lalu kenapa?”
    ”Tak sopan memanggil yang lebih senior dengan sebutan nama…”
    ”Ah kamu…”
    ”Tak apa kan naik sepeda…”
    ”Hahahahaaaa…emang kenapa?”
    ”Tapi kalau aku yang genjot dan aku capai, bantu dorong ya kak…”
    ”Hahahahaha…kalau aku capek gimana?”
    ”Hmmmm ya dak tau…sekarang pulangnya?”
    ”Tidak…pergi makan Es Dulu ke Pak Ndut..”
    ”Hah…, baik lah…”
    Aku pun memboncengnya naik sepeda, melewati kampung sampai akhirnya sampai ke jalan besar dan menyusuri kali…lumayan juga. Semoga aku tak kapok dengan urusan bonceng memboncengi ini.
    Kita pun sampai di kedai ES pak Ndut, dan memesan es campur dan makanan kecil.
    “Kamu koq gak mesan es, hanya minum itu…”
    “Gak kak…”
    “Kenapa?, dak ada uang?”
    “Ada ada…”
    Aku pun memesan ES jeruk selasih dengan air kelapa, saat itu pun kita ngobrol-ngobrol tentang banyak hal.
    “Oh ya tulisan tangan mu bagus…”
    Mukaku pun memerah…
    “Muka mu sekarang jadi kepiting rebus…MERAH”
    Mukaku pun tambah merah…dan aku pun menundukan kepala.
    ”Kus Kus…”
    ”Kalau gitu kita pulang kak…nanti keburu sore…”
    ”Ya ya ya…”
    Aku pun mengantarnya pulang…
    Dan sesampainya dirumahnya…aku tak menyangka pemandangan apa yang ku lihat, sang Ayah ada di teras rumah…
    ”Mati aku…”, pikir ku…
    ”Yuk.. kamu baru pulang?, kemana kamu…”
    ”Pergi sebentar…”
    ”Siapa anak muda itu?…”
    “Itu Markus…”
    “Markus?”
    “Sooooreeee ommmmm” kataku…
    “Sudah masuk sana…”
    “Kallau begituuuu saaaayaaa permisi omm”
    “Hmmm”
    Aku pun segera memalingkan sepeda saat, Ayahnya dan Yayuk masuk kedalam rumah….
    Kejadian itu telah membuat aku dan Yayuk tak berani lagi pulang sampai sore, dari sekolah langsung pulang, atau pergi sembunyi-sembunyi,  tapi sebagian besar hari-hari kami hanya bisa dilakukan dengan ngobrol lewat kertas yang dikirimkan slamet, ngobrol diperpustakaan, atau duduk-duduk dikantin.
    Satu bulan sebelum ujian akhir, hari itu aku menunggu Yayuk di gang dekat rumahnya, sudah selama beberapa waktu belakangan ini aku tidak hanya mengantarnya pulang, tetapi kita berangkat sekolah sama-sama, sepanjang jalan bercerita tentang banyak hal, yang menarik cerita tentang puisi, atau tentang kehidupan kita masing-masing.
    Aku kadang bisa melihat antusiasnya dengan dunia puisi, aku pikir ia lebih pandai daripada aku tentang bahasa, sayang ia tak selalu menyempatkan diri menulis.
    Aku kagum tulisannya, tulisannya sesunguhnya lebih indah dari tulisan tanganku.
    “Eh mana foto yang kamu ambil seminggu lalu…”
    “Foto?”
    “Iya foto kamu, aku dan slamet…”
    Aku ingat minggu lalu aku membawa kamera ku pemberian Ayah, Nikon FA, dan aku mengambil foto aku dan yayuk dan juga slamet, entah untuk apa aku melakukan itu, mungkin karena aku merasa sesuatu akan terjadi.

    Dan…pagi itu, sudah lewat sepuluh menit, aku tak melihat Yayuk ditempat itu, aku tunggu sepuluh menit kemudian.
    Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat sendiri, mungkin ia sudah berangkat lebih awal.
    Aku meminta Slamet mengintip ke kelasnya, kata teman-temannya Yayuk tak masuk, sepulang sekolah aku mencoba mengintip kerumahnya, sepi…tak ada seorang pun, entah kenapa ia tak masuk hari ini.
    Hari esoknya aku menanti ditempat yang sama…ia pun tak muncul lagi baik digang itu atau disekolah.
    Hari kedua, aku menanti ditempat yang sama…ia pun tak muncul lagi baik di gang itu atau disekolah.
    Selama seminggu aku menanti. Ia tak muncul.
    Hari itu aku lemas, kedua kakiku sulit untuk melangkah, sehabis bubar sekolah aku masuk kedalam chapel, memberi tanda salib dan masuk ke bilik pengakuan dosa.
    Bercerita…bercerita tentang apa yang terjadi kepada Pastor Bein.
    Dari situ aku tau kalau Yayuk pindah mengikuti Tantenya diMalang.
    Aku terdiam,…lalu berkata
    “Moo…kenapa???”
    Dan katanya…”Nak…kamu telah melakukan yang terbaik…, selanjutnya…semua terserah kehendak Tuhan…kita tak tahu apa yang terjadi nanti…”
    Saat itu pula, aku paham banyak hal…
    Cinta melakukan sesuatu yang terbaik, tetapi apapun itu, kehendak Tuhan lah yang ada diatas semuanya…hari itu aku mendapatkan sebuah semangat baru, hari itu mengubah seluruh kehidupanku, benar-benar merubah, setelah lulus kelas satu, aku minta pulang ke Jakarta, aku pun menyelesaikan sekolah di Jakarta, hingga akhirnya menyelesaikan Universitas bidang sastra di UI, lalu melanjutkan mengambil sekolah Filsafat dan Photography ke US.

    Hari ini…
    Hari ini aku berdiri tepat didepan sekolah.
    ”Yayuk..yayuk..,dimana dirimu???, apakah kau sudah menikah???, apakah kau bahagia??? Semoga kau bahagia…semoga seseorang membahagiakan mu…”
    Hatiku pun menjadi tenang, walau mataku hampir berkristal. Aku hampir tak dapat menahannya…
    ”Terima kasih Tuhan…Kau telah mengirimkan seorang malaikat yang memberikan aku kekuatan menuju perjalanan yang jauh…”
    Hari ini aku kembali kesekolah itu besama Pak Tarjo,
    ”Pak kita jalan kembali,…”
    ”Baik den…”
    Aku pun berjalan menyusuri, pasar yang jaraknya agak gak begitu jauh dari sekolah.
    “Den koq belok sini…koq berhenti…bukan nya mau balik”
    “Ah…Pak Tarjo inget gak?”
    “Inget apa..”
    “Oh ya Pak Tarjo ga tau…”
    Aku berdiri tepat didepan rumah…rumah besar yang halamannya tak begitu luas, tapi aku ingat…ingat aku pernah berdiri digang itu lama sekali ditemani sepeda tuaku.
    “Pak…sepeda…”
    “Sepeda den? Kita kan ga bawa sepeda den”
    “Maksud ku, sepeda tua ku mana ya…”
    “Wah ga tau den…”
    “Ya wes…nanti ingatkan saya untuk tanya tante dimana sepeda itu”
    “Den gak masuk?”
    “Masuk…!!! Gak ah takut…” Aku masih sama saja seperti dulu, punya rasa takut berdiri didepan rumah ini, takut sama kehadiran Ayahnya yang tentara itu yang benar-benar menjaga anaknya. Padahal sekarang belum tentu Ayahnya masih segarang dulu.
    “Pak Tanya..tanya…”
    Pak Tarjo pun paham, maksudku…ia pun segera pegi ketetanga sebelah, menanyakan siapa yang tinggal dirumah itu sekarang.
    Lima belas menit kemudian…
    “Den..udah pindah…udah lama banget pindah, katanya sejak gak jadi Lurah terus pindah, ada yang bilang ke Jakarta, ada yang bilang ke Malang, tak ada yang tau alamatnya di Jakarta atau Malang”
    “Ooo…”
    Aku pun tersenyum…aku menduga…
    Hari itu aku melangkah pulang kerumah, aku meminta Pak Tarjo, untuk membeli kan tiket pulang dua hari lagi, meminta pak Tarjo melakukan banyak hal yang aku minta.
    Sisa-sisa hariku di Semarang aku habiskan untuk jalan-jalan besama Tante, menyusuri tempat-tempat aku pernah lalui saat masih SMA, atau saat sembunyi-sembunyi pergi dengan Yayuk, bahkan pernah saat malam.
    Dan benar malam sebelum aku kembali, aku pergi ke sebuah warung Nasi Ayam.
    ”Mbok…masih inget aku”
    ”Hahh…sopo yo…, eh den bagus…anake wis piro???”
    “Belum menikah Mbok!!!, Mbok masih inget gadis yang saya bawa sini dulu….”
    ”Yayuk???”
    ”Iya mbok, masih ingat kan mbok…pernah bertemu dengannya?”
    ”Ora den ora pernah…”
    Aku pun malam itu hanya bisa menikmati Nasi Ayam untuk terakhir kalinya aku diSemarang, mengenang malam-malam aku dan Yayuk pernah makan nasi ayam disini.

    Akhirnya tiba saatnya aku pulang, aku kembali ke Jakarta sesuai rencana, dan tak lama kemudian aku pun pulang terbang ke NEWYORK, walau aku tak sempat ketemu Mami.


***

    Back to my reality…oh…aku sudah lebih dari lima hari berada di NewYork.
    Aku kembali tepat waktu, dan dua hari lagi aku pameran…
    “Riaaaaaaaaaa”
    “Ya ya ya boss “
    “Paket dari Jakarta sudah sampai???”
    ”Belum Boss…”
    ”Telfon DHL…tanyaaa…”
    Lima menit kemudian ia kembali dengan kabar
    “Besok boss…”
    “Bagus…langsung bawa ke galeri dan pasang ditempat yang sudah disediakan, aku sudah minta Manager Galeri untuk sebuah space ditengah-tengah Galeri.”
    “Oke Boss”
    Malam itu aku tak dapat tidur, aku terus memandangi foto yang ada didinding…foto kami bertiga…Yayuk tak sempat menerima foto itu, ia telah pergi.
    Pergi entah kemana…dan semoga ia bahagia.

***

    Dua jam sebelum pameran dibuka, aku sudah hadir, berdiri ditengah Galeri, memandang suatu kejutan yang gila buat diriku…saat itu aku mengantungkan foto kami bertiga disana, bersamaan dengan kejutan yang aku bawa dari Jakarta. Instalasi seni ini berbeda dengan foto-foto yang kupajang dalam pameran ini.
    Malam itu banyak udangan yang hadir, aku tak menduga akan banyak undangan yang hadir, dari media, rekan-rekan model, dan entah lah siapa lagi.
    Setelah kata sambutan aku mempersilahkan semua orang untuk menikmati pameran itu, diantara krumunan itu aku melihat bayang-banyang yang tak asing bagiku, langkahnya…seperti ku kenal, lalu menghilang.
    “Sir…sir… “
    Aku menoleh…
    Seorang gadis Manis, berdiri dibelakangku.
    Lalu ia berkata…
    “Im From Media…Pourquoi cette moto?”
    “Yes…it’s something special for me, you have special moment???”
    “Yes…”
    “So that’s thig is special thing for me…it’s something made me today…”
    “Why a bike?”
    “Bikecycle you mean?  Mungkin karena aku hanya punya sepeda saat itu!!! Hahaha” aku berbicara dengan bahasa Indonesia.
    “Haaaaaaa”

    “You…did i know you?, let’s drink wine and talk about my story”

 

Markus AP
Jakarta, 12/8/2009 – 14/8/2009 6:09 PM 

  • Share/Bookmark

15 Responses to “Kisah Cinta Sebuah Sepeda Tua (cerpen)”

irh - August 15th, 2009 - 3:19 pm
 

bagus bagus terus ceritanya ketemu gak? lu kalo bikin cerita koq selalu dibikin gantung ya?
curangggg……lu kaga kangen Newyork cus?

marcus - September 2nd, 2009 - 9:02 am

@irh : ketemu ngak? hmmmmm mau taaaaauu aja heheh big grin kangen newyork…hmmm sementara kayaknya ngak..masih kangen yg disini hihii

irh - August 15th, 2009 - 3:19 pm
 

eh eh eh cho itu? jimmy cho? hahhahahahah hayalan lu cus hebat hebat…..

marcus - August 15th, 2009 - 4:09 pm

wkwkwkwk, this is kan just a story…gw sebenernya mau masukin nama lo wkwkwkwkw….terus ceritanya ketemu apa kaga…hmmm ketemu ga ya,wkwkkwk rahasia ah…mau tau aja…

annz - August 15th, 2009 - 6:07 pm
 

romantis yaaa

rani - August 15th, 2009 - 3:28 pm
 

it’s nice story

marcus - September 2nd, 2009 - 8:59 am

@rani : thank u

viona - August 17th, 2009 - 10:36 am
 

gw jadi pengen nangis baca cerita lo ini tau…..gila lo ah…

marcus - August 17th, 2009 - 10:47 am

@viona : koq pengen nangis? kenapa…..

Livia - August 26th, 2009 - 6:39 pm
 

bagus ceritanya romantis dan sedih
ada sambungannya ga mas?

marcus - August 29th, 2009 - 5:01 pm

@Livia : thank u, kembali lagi ya…

suz4n - September 1st, 2009 - 3:52 pm
 

romatiz buanget kisah nyata ya mas?

marcus - September 2nd, 2009 - 9:00 am

@suz4n : hmmmm kisah nyata ga ya? heheh big grin

jos - September 11th, 2009 - 5:25 pm
 

ceritanya romantis

marcus - September 11th, 2009 - 6:07 pm

@jos : thank u, salam kenal…

Leave a Comment

Twitter Updates
    News
    • 1:40 am, February 15, 2010
      Selamat Hari raya Imlek Kong Xi Fat Chai, semoga keberhuntungan ditahun macan memberikan sejahtera bagi kita semua...Kong xi Kong xi...
      From: Markus

    • 3:47 am, January 5, 2010
      Kami Turut Kehilangan Yang Mendalam Atas Berpulangnya Presiden Ke 4 RI Abdulrahman Wahid - Gus Dur, Semoga Amal, Perbuatan Dan Ajaran, Semangat Purlalisme nya Selalu Diteruskan Oleh Bangsa Ini. Kita Semua Sangat Kehilangan Akan Pemikiran dan Semangatnya Bagi Demokrasi Di Indonesia. Selamat Jalan Gus Dur...
      From: Markus

    • 9:05 am, December 31, 2009
      Markus Manifesto mengucapkan selamat Tahun baru 2010 semoga kesuksesan, kebahagiaan, cinta menyertai kita semua. Semoga ditahun 2010 Indonesia makin maju dalam segala bidang.
      From: Markus

    InspectorWordpress has prevented 0 attacks. Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.