New York Love Story
In New York freedom
Looks like too many choices
In New York I found a friend
To drown out the other voices
Voices on a cell phone
Voices from home
Voices through the hard sell
Voices down a stairwell
In New York
Just got a place in New York
(New York – U2 Album : All That You Can’t Leave Behind )
Tak pernah kaki injakkan aspal dan dengar bising kota mu
tetapi tiap hari aku hanya dengar dari,
ocehanmu tentang hidup dibarat yang serba egois,
jalan yang macet tiap pagi,
gosip kasar orang western tentang orang timur,
berita CNN tentang mampusnya menara kembar,
dan kisah hidupmu yang menarik kadang sangit, sengit
dikota itu.
Sekopor pakaiaan dan kujinjing kamera ku,
siap terbang menuju kotamu dalam angan.
diangan..diangan..diangan hanya diangan,
kugambarkan kau dibenak yang samar, manis
Ku gambarkan tiap lekukmu, dan jelitamu
Ku gambarkan tiap sudut kotamu
Kudengar nyolot orang tak sabar teriak “fuck you”,
Kudengar suara klakson Yellow cab mengais dollar
perjalanan dari 5th Ave ke Broadway,
dari tempat persemayaman terakhir karya Evans
hingga pementasan pangung kelas atas.
Kudengar suara sirene yang memecah
bising jadi tambah bising
penat jadi tambah penat
bosan jadi tambah ingin mati.
Aku orang timur berfikir!
Dengar sentakan dan kekerasan orang barat saja,
orang timur bisa jantungan
bagiamana kau bisa tinggal dikota kasar tak seperti Jakarta
yang masih punya tata krama dan bahasa “kulow nuwun”.
Yah aku seperti orang asing ditengah kotamu.
Tetapi kenapa semua orang tak mau pergi dari neraka yang gemerlap?
Yang sarat dengan hidup tetapi mati
semati dikuburan karet, dipinggir jalan menuju Tanah Abang.
Sayang, baru sebentar ber angan aku rindu Jakarta,
aku rindu Jakarta,
Jakarta rindu aku
aku ingin pulang kalau bukan karena kau.
Dari kamar hotel kelas dua dikotamu, aku langkahkan anggan
Membaca ‘Eros’ Ralph Waldo Emerson
Mengamati foto ‘Pliers’ Walker Evans
Berangan kau dan aku seperti ‘Newlyweds’ Duane Michals
Sambil dibatin berkata
‘Marvelous, Nous qui sommes aimes,Notre amour reste la’
Duane tersenyum juga Walkers
Hanya Ralph Waldo tertawa manis
Siapa kah nama mereka didunia timur?
Tak ada orang perduli.
Aku langkahkan kaki anggan ke arah flat mu
mengetuk pintu yang tak ku tahu warnanya
entah putih, atau warna kayu pohon elk
masuk, duduk disofa dimana kau biasa tertidur saat membaca
menantimu keluar , dan kau keluar dengan kaos putih sexy,
dan celana training yang ketat bekas tadi malam
dari mulut mu yang indah keluar sapaan riang tetapi biasa saja
dari mulut sopanku orang timur tak keluar apa-apa selain senyum yang mati
mati membosankan ala orang jawa
tapi mana pernah kau perduli aku membosankan atau tidak
kasar atau penjahat, kau tidak perduli.
kau buta.
Sepanjang hari ya sepanjang hari
Kita bicara disofa itu, duduk berdekatan tanpa jarak
Tanpa tembok, batas-batas atau kawat berduri pemisah kita
Sesekali kau memandang kearah ku, manis, dan suara orang melangkah dilorong
memecah suasana jadi normal, mengusir setan jauh dari kita.
Oh shit…kenapa harus jauh dari kita?
Kita bicara sepanjang hari, tanpa tahu mana titik, mana koma
sibuk dengan cerita kita yang sakit dan disakiti
bosan tidak bosan, penat tidak penat
sudah dua tiga cangkir kau tambahkan coffee ku
lapar perut tak terasa tetapi kenyang
sekarang pagi sudah mati , gelap
aku ketinggalan sunset dikotamu, tapi katamu
“besok kita nikmati diatas flat ini berdua, menanti nya tidur,
lupakan tentang cerita-cerita hanya melihat ia tidur ditelan cakrawala”.
dan aku menjawab, diam, ingin cepat hari berganti hari, besok.
November 29 - December 01, 2004
Markus AP


(2 votes, average: 4.50 out of 5)
3 Responses to “New York Love Story (prosa)”