Percikan Perenungan : Pemujaan
Pemujaan terhebat sepanjang masa, bukan ada di Masjid, Gereja atau Kuil, bukan dalam kain kabung, doa-doa, kemenyan-kemenyang yang sesak dibakar untuk sang Maha, sedang hati kita sering tidak ada padaNya yang utama.
Tetes haru kita pun tak ada saat pemujaan itu terjadi.
Lalu pemujaan apa yang maha besar, bisa terjadi? Maka bisa jadi percuma kuil dibangun, gereja dipenuhi ramai manusia, jika hati pemujanya jauh melanglang ke ujung dunia sana, tidak ke surga, kepada pemiliknya.
Maka sesunguhnya pemujaan terhebat ada disebuah kamar rumah sakit bersalin, saat kehadiran kehidupan maha suci terlahirkan, terlepas ia dari pernikahan sah atau dari hubungan haram.
Jiwa maha suci itu tetap tidak berdosa. Yang terjadi melalui sebuah proses yang maha dasyat sepanjang 279 hari, dalam ruang yang sempit direbut rahim.
Sepanjang 279 hari itupulalah, seharusnya mual harus disabdakan kepada sang Hidup agar jiwa suci yang lahir berguna.
Pegal harus diharu kan kepada sang Hidup agar jiwa suci yang lahir tulus dan bijak.
Doa-doa yang maha tulus pun sering kali harusnya hadir karena melihat proses yang maha hebat diruang sempit yang disebut rahim.
Maka saat ia lahirpun jiwa itu harusnya hadir diberikan kemewahaan seperti saat ISA lahir dipalungan kandang domba yang kotor dan bau, begitu pulalah saat jiwa suci itu terlahir dari rahim ibunya, dan menangis menyapa dunia, itulah kehidupan seharusnya dipuja-puja sebagai kebesaran maha hebat sang Maha Pencipta.
Sang ibu juga sang ayah seharusnya melempar syukur maha Besar kepada sang pemberi Hidup, kadang tangis yang suci mengalir dari mata kedua orang tua yang entah ia pelacur, penjahat atau bangsawan.
Pemujaan terhebat sepanjang masa, ada saat kita melihat kelahiran, bukankah ISA juga berkata kepada Nikodemus, bahwa seseorang yang dilahirkan kembali dari air dan roh, maka ia bisa melihat surga dan masuk kedalam kerajaan surga.
Pemujaan terhebat sepanjang masa, ada saat kita melihat kelahiran jiwa suci, atau kita yang terlahirkan kembali, maka kemudian kita pun boleh berkata tentu terlepas dimana tempatnya. Pemujaan terbesar ada saat jiwa suci disambut, dengan doa, syukur, harapan, tetes haru, bukan keinginan membunuh, atau membuang.
31/5/2009 5:56 PM
Markus AP



2 Responses to “Percikan Perenungan : Pemujaan”