Percikan Perenungan : Kesederhanaan
Saya ingat suasana pagi, dingin, sejuk dan rupawan karena embun pagi nampak jelas dipagi yang cerah, hamparan sawah dengan padi yang menguning indah tak terhinga, dikejauhan suara kereta pagi melewati rel kereta yang memecah hamparan sawah tadi jadi dua
Tak heran ditempat yang jauh dari kepikukan metropolitan, saya bisa mendapatkan senyum wajah orang tua, nenek tua, juga penduduk desa yang ramah dan membumi, sesuatu yang jarang tersapa disebuah Mall dijakarta. (Jika para pramuniaganya ramah, itu karena ingin dagangannya laku).
Mungkin senyum menjadi gaya hidup kehidupan yang jauh dari kepikukan macet dikota besar itu.
Keramahan mungkin juga jadi makanan yang biasa dibandingkan dengan keramahan yang sering kali palsu kita temui di metropolitan seperti Jakarta.
Apa lagi yang ada ditempat yang jauh dari kepikukan ini? Selain senyum, keramahan?
Mungkin juga kesederhanaan hidup walau listrik sudah masuk desa, TV pun sudah, kesederhanaan hidup mereka tetap melekat erat, walau mereka tak hidup dengan Blackberry, atau facebook, atau tidur siang bersama istri orang disebuah hotel murah meriah.
Kesederhaan mereka karena mereka mengsyukuri Hidup yang diberikan sang Hidup, nerimo apa yang diberikan sang Allah, bahwa hidup bisa hidup, bahwa hidup bisa makan, dan minum cukup, tidur dengan tenang, tak berfikir tentang resesi dunia, atau menara kembar yang ditabrak oleh pesawat karena militansi yang salah.
Melekat dalam kehidupan mereka, bahwa hidup hanya numpang lewat minum.
Falsafah sederhana yang menyederhanakan kehidupan dengan bahagia dan bersyukur.
Markus AP
28/6/2009 5:20 PM


Similar/Related Posts