Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

handbook
suggest
Parodi : Sikap Bermutu Jempolan
By. marcus . June 28th, 2009 at 7:23 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Parodi : Sikap Bermutu Jempolan

    Mungkin weekend itu, adalah salah satu weekend terbaik dalam kehidupan saya, weekend yang bisa melepaskan semua kesibukan kantor dengan relex dan dengan oborlan-obrolan bermutu dengan sahabat saya, kenapa saya berkata “bermutu” ya karena  tidak menjadi disaster and nightmare buat weekend saya.
    Tapi bertemu dangan sahabat saya ini tak pernah ada bencana yang menjadi momok seminggu kedepan, yang saya malah mendapatkan hal-hal yang baru, pemikiran baru, ide baru, juga inspirasi baru, yah anggap saja refreshment after long weekend.
    Pertemuan kali itu bukan pertemuan yang pertama, tapi pertemuan ke sekian yang tak terhitung, yang sama bermutunya bertemu dengan dia yang juga bermutu, pertemuan kali ini bukan disebuah kedai Soto Gebrak, diTebet, tetapi disebuah restaurant Italian favorite saya, saya suka Italian, i choose the place, and dia mengiyakan apa saja selera saya.
    Sebut saja namanya “A”, sebenarnya saya sudah meminta izin untuk menyebutkan namanya dalam tulisan ini, tapi tidaklah!! saya tak akan jelas-jelas menyebutkannya, walau ia dengan senang hati mengizinkan saya menulis namanya.
    Jujur saja ia sangat antusias ingin membaca apa isi tulisan saya, berharap juga ia mendapatkan tamparan dari tulisan saya (bukan karena namanya disebut).
    Apa yang harus ditampar, kalau memang sudah “A” buat Attitude and Bahaviornya yang tidak minus.
    Dari dalam lubuk hati saya, saya memuji benar-benar kesempurnaanya menjadi seorang wanita. Seharusnya lebih banyak wanita seperti dia di Jakarta.
    Sore itu ia datang sedikit terlambat, tapi tak apa lah, karena keterlambatannya yang hanya 15 menit itu terhapuskan dengan kalimat permintaan maaf yang tulus.
    “Im so sorry mark, I am late and make you waiting, im so sorry”
    Saya pun tersenyum melupakan keterlambatan itu bukan sebagai dosa atau bencana, tapi beda loh kalau ia datang sambil ngomel-ngomel kalau jalan di Jakarta macet, atau argo Taksi yang mahal, yah udah tau kan jalan di Jakarta macet, dan selalu macet apa lagi Weekend antara jam 4-5 sore apa lagi tanggal muda, pasti Jakarta Macet.
    Hey we live in Jakarta you know that, what you expect…baru juga Jakarta, bukankah NewYork lebih macet?.
    Tapi sayangnya dengan sikapnya yang menawan ia berkata.
    “Im so sorry mark, I am late and make you waiting, im so sorry”
    Ia tak mengeluh sama sekali dengan seribu satu alasan, dan mimic wajah yang tak menyenangkan, nyatanya ia tak demikian.
    Dan sekali lagi saya tersenyum…dan melupakan keterlambatan itu, dan mood saya pun tidak berubah jadi buruk.
    Tak berapa lama kemudian kita duduk tepat direstaurant seperti yang sudah direncanakan, hari itu penampilannya tidak kalah seperti penampilannya diwaktu-waktu lalu, she always maintain her beauty, I think not only the beauty but the heart… itu pikir saya.
    Hari itu, ia mengenakan terusan Salmon Silk Dress warna hitam, Black Leather Heels, pearl bracelet, dan sebuah tas warna putih, (dua kali saya memperhatikan apa yang dikenakannya, dan saya memujinya).
    She is look perfect, everything in her inside out is perfect, sekali lagi itu pikir saya.
    “Wah kita kembaran hari ini”
    “Aku kan tau kamu selalu pakai Hitam, biar match aja…”
    Saya pun tertawa, jadi malu, karena warna favorite saya memang hitam, always Black, I love Black, I love my style.
    Lalu tak lama setelah duduk, kita sudah tak sabar untuk berbicara, kita saling menanyakan kabar, padahal tiap hari juga ngobrol, tiap hari juga chat, lebih tepatnya menanyakan cerita-cerita yang yang tak bisa dibicarakan lewat telpon.
    Seorang pelayan pun datang, membawakan menu, ia perlahan membuka halaman demi halaman, dan mulai memesan makanan, yang terdapat di menu, lalu meletakan menu dimeja dengan baik, gak pake dibanting-banting seperti layaknya orang barbar yang tak ber-etika.
    Karena kali ini kita tidak makan di Kedai Soto Gebrak, tapi makan disebuah Italian Restaurant, maka ia pun pasti memesan Italian Food, tentu saja ia tak memesan makanan yang tak ada di menu, atau memesan Sushi yang jelas  tak ada di dalam menu Italian Restaurant.
    “Manhattan Spagatie With Meetball, and Mineral Water”, katanya dengan lembut dan sopan.
    Saya pun memesan makanan yang sama, dengan Café Latte.
    Sembari menunggu makanan datang, kami pun membicarakan kesibukan masing-masing selama seminggu itu, setelah makan selesai pun, ia berkata.
    “Thank’s for the dinner”
    Sayapun tersenyum, karena sebuah apresiasi yang ditunjukan oleh seorang yang berpendidikan sepertinya.
    Kami masih bercakap-cakap tentang pekerjaan, bisnis, kehidupan, gossip-gossip kecil yang menarik selama beberapa saat ini.
    Dari percakapan itu, saya benar-benar senang, karena dapat mendengarkan hal yang bermutu, bukankah seharusnya kehidupan harus dibuat bermutu, bukan hanya mendengarkan keluhan tentang hidup yang sulit, tetapi seharusnya kita medengarkan hal yang positif untuk hidup lebih baik.
    Maka dari obrolan itu, saya dapatkan banyak hal positif, ide, juga hal baru, wah kalau saja saya bawa notebook tentu tak akan berhenti menulis apa yang muncul dari pemikirannya yang dewasa dan pandai.
    Tentu akan banyak menjadi bahan inspirasi tulisan saya.
    Weekend saya benar-benar menarik hari itu.
    Dalam tulisan saya Parodi : Fashion and Trend Victim, saya pernah menyebutnya dalam tulisan itu, tentu ia tak keberatan menyingungnya sekali lagi, bukan karena menyindirnya, tetapi memberikan pujian buat sebuah kepribadian yang pantas dipuji yang saya sebut tidak minus tadi. (Yang tentunya ia telah melalui sebuah proses yang panjang dalam kehidupannya, dan berhasil mencapainya).

    Bukankah kehidupan demikian jelasnya, bahwa when we have bad Behavior, we should get punish for that….when we have good Behavior we should get respect, tentu punish yang saya sebut tadi bukan lalu kita dicemplungin ke penjara karena Behavior yang buruk, tetapi bisa jadi kita menjadi sangat tidak dihormati oleh orang lain, dinilai buruk oleh lingkungan karena itu, jangan-jangan kita bisa disebut benalu bagi kehidupan.
    Pantas jika kita makin hari makin tersingkirkan oleh lingkungan, jika tanpa sadar Behavior kita benar-benar membuat iritasi kehidupan lain.
    Kita bisa saja berpenampilan wah, kaya, memiliki segalanya, tapi lebih penting dari itu , kita memiliki kekayaan hati dan kepribadiaan yang positif tidak minus.
    Saya jelas memuji pribadi-pribadi seperti itu. (Bukan lantas mengutuk yang berkepribadian minus, walau jelas kadang menghabiskan banyak energi mengubah sesuatu yang minus jadi positif, apa lagi jika tak mau diberikan masukan untuk berubah).
    Bukan untuk jaim-jaiman atau picky dalam berteman, tetapi lingkungan jelas mempengaruhi kehidupan kita, jika kita benar ingin mendapatkan hal yang positif bagi kehidupan kita, kita pun harus sanggup memilih hal yang bisa memberikan kontribusi positif buat kehidupan kita.
    Karena tanpa sadar cara kita berbicara, cara kita bersikap, cara kita berfikir, sedikit banyak dipengaruhi oleh pribadi disekeliling kita.   
    Dengan statement ini lantas kita tak memiliki originalitas diri sendiri, tidak demikian, kita harus memiliki originalitas pribadi kita sendiri, tetapi apa salahnya jika kita belajar dari orang lain, memperoleh hal positif dari sekeliling kita, untuk mempercepat proses belajar kita dalam kehidupan untuk jadi be better person.
    Sekali lagi bukan untuk jaim-jaiman, bukan untuk merendahkan strata tertentu atau meninggikan strata tertentu, tetapi malah membuat kita bisa menempatkan diri dalam kehidupan dan dalam social dalam strata apapun, membuat hidup kita lebih POSITIF.
    Bukankah kita ini tinggal disebuah Kota Metorpolitan yang disebut Jakarta, the dream city buat semua pendatang dari daerah untuk mengais rejeki di kota Jakarta, walau jujur saja saya tak begitu menyetujui pandangan itu.
    Maksud saya adalah, bukankah kita tinggal di Kota Metropolitan yang megah dimana kita memiliki banyak sarana untuk menjadi positif, untuk membangun diri.
    Kita memiliki banyak sarana untuk belajar untuk menjadi lebih smart, kita memiliki social yang bisa kita pilih yang membuat hidup kita lebih baik, meninggalkan lingkungan yang tak memberikan kontribusi apapun buat kemajuan kita.
    Kita bisa belajar etika yang sesuai dengan lingkungan kita, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kita, yang seharusnya sudah kita dapatkan dari dahulu.
    Tapi nyatanya kita tak memakai kesempatan itu sama sekali untuk positif.
    Sering kali saya tak perlu menyebutkan dari mulut saya seseorang itu “Kampungan” atau tidak (karena jelas saya tak bisa merendahkan orang lain), sering kali kepribadian itu sendiri malah memunculkan dari dirinya sendiri “kampungan” yang kadang keluar dari mulut nya, sikapnya, pandangannya sendiri kalau dirinya “kampungan”.
    Jika kita ingin dihargai oleh orang lain, maka kita harus bisa menghargai diri kita sendiri.
    Dengan menyebutnya dalam tulisan saya, sebenarnya saya sedang memberikan sebuah studi banding dan contoh nyata, yang seharusnya menjadi Role Models, buat kehidupan kita, tentu terlepas dengan strata social yang disandangnya sebab tak selalu menjamin kepribadiaanya juga luar biasa.
    Dikota yang glamour ini, kita bisa saja hidup glamour tetapi yang menarik yang seharusnya kita miliki adalah bahwa kita tidak kehilangan  diri kita yang Down To Earth, Humble, Smart, Ethicly, Great Behavior, Strong, Rich inside (In Heart) dan juga berani Fight dikota yang keras seperti Jakarta ini.
    Inilah sebuah sikap yang bermutu jempolan.     Great inside out.
    Sebuah harta yang tidak ternilai bersahabat dengan pribadi yang demikian luar biasanya. Dan saya bersyukur, karena saya tak hanya memiliki satu sahabat, tetapi beberapa yang juga memiliki kepribiadian serupa.

“When We Grow Rich, We Should Rich Inside” – By Markus AP

Markus AP
28/6/2009 5:29 PM

participate

2 Responses to “Parodi : Sikap Bermutu Jempolan”

hehe baru bisa baca pak…
speachless deh

wah ngomongin anne ya pak hihihi

Leave a Comment

 
profile

advertise
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA