Parodi : Romeo & Juliet
Shakespeare menulis Romeo & Juliet, jauh sebelum saya ada, lahir dan dibesarkan, kisah itu tak pernah saya baca utuh, karena saya dibesarkan dengan karya Mochtar Lubis, Amir Hamzah bukan membaca Shakespeare (sekalipun karyanya sangat populer didunia).
Saya ingat sejak SD kelas satu saya tidak diperkenalkan dengan mas Shakespeare tetapi malah diperkenalkan dengan keluarga si Budi… lewat pelajaran bahasa Indonesia… ingat kan kita diajar
“Ini Ibu Budi”…
”Ini Bapak Budi”…
“Ini Wati, ini kakak Budi”…
“Ini Iwan, ini adik Budi”…
Entah kenapa koq harus keluarga Budi yang dipopulerkan, kenapa tidak keluarga Tati, Iqbal, Indah, atau siapa kek…kenapa melulu Budi yang di jadikan tokoh sentral dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia.
Maka saking ingetnya kita kepada keluarga Budi, maka Budi pasti lebih populer dibandingkan Shakespeare, tentu buat anak-anak yang sekolah di Indonesia loh.
Tentu kalau diMalaysia sana, bisa jadi bukan Budi yang lebih populer tetapi keluarga Fahri.
Entahlah, saya kan ga pernah belajar Bahasa Malaysia.
Maka setelah dewasa pun saya mengetahui sedikit isi karya Shakespeare itu karena saya baca sekilas lewat bukunya dan saya tonton lewat sebuah varian versi film nya yang dipopulerkan oleh Leonardo De Caprio dan Claire Danes, lewat judul yang sama.
Ceritanya bercerita tentang dua cinta yang murni tetapi terhalangi oleh karena perseteruan dua keluarga, dimana keluarga si Juliet tak menginginkan anaknya, berpacaran dengan si Romeo.
Padahal masih pacaran loh, belum tentu nikah.
(Kenapa ya gak di cinyai in aja…biarkan anak-anak muda pacaran, mencari jati dirinya…heheh itu kan saya kalau saya berlaku itu kepada anak-anak saya, tapi bukan bapak dan ibunya Romeo atau Juliet kan).
Sepopuler bukunya, film nya yang bersetting modern pun populer, mungkin karena kemalasan generasi muda membaca Shakespeare membuat lebih enak ditonton daripada dibaca.
Tetapi saking ngetopnya kisah ini, cerita klasik ini pun menjadi inspirasi sinetron-sinetron yang ada di televisi saat ini.
Coba deh lihat kisah di sinetron-sinetron, kalau ibunya si Donny, pengen anaknya menikah dengan Dokter April, padahal Donny dan Nikita saling cinta (Dalam Serial Sinetron Nikita).
Astaga….koq saya jadi tau urusan per sinetronan, padahal saya ga pernah nonton.
Tapi itulah kenyataan sinetron di televisi. (Tapi itu juga kenyataan dalam dunia nyata.)
Mungkin juga karena sinetron tadi yang serba dilebih-lebihkan, hal ini jadi inspirasi buat ibu-ibu untuk memaksakan anaknya menikah dengan pria yang diinginkannya….maklum ibu-ibu kan suka nonton sinetron tuh.
Jadi lumrah lah kalau terinspiriasi lewat acara itu.
Tapi entah apa yang menjadi inspirasi Shakespeare menulis kisah roman Romeo & Juliet, apakah karena kisah itu nyata ada, atau karena mas Shakespeare terinspirasi melihat sinetron juga, atau terinspirasi lewat ibu-ibu teman-temannya yang melarang anaknya menikah dengan pilihannya sendiri, dan akhirnya ia menuliskannya.
Atau mungkin bisa jadi kisah cinta Shakespeare sendiri dengan seorang wanita yang juga tragis, setragis kisah dalam bukunya, setragis kenyataanya.
Wah musti ditanyakan kepada mas Shakespeare neh…
Apapun kisah yang difilmkan atau dituliskan tentu sebuah gambaran dari kenyataan yang ada, dalam dunia real pun, kisah dalam film itu pun bisa terjadi.
Misalkan, kisah cinta seorang wanita dengan seorang pria baik-baik, yang kemudian dilarang sang ibu karena berharap anaknya menikah dengan pria pilihannya…maksud nya pilihan si ibu.
Lebih parah lagi urusan per jodoh an tadi di motifasi karena urusan harta…apa lagi kalau tidak karena sang ibu ter obsesi dengan harta keluarga si pria.
Astaga…sinetron bener sih.
Tentu kalau saya jadi Mas Shakespeare atau kalau saya jadi sutradara Sinetron, kisahnya akan saya buat Happy Ending, maka kisahnya saya bikin simple, ga ribet, karena pada kenyataanya atau dalam sinetron, kisah cinta itu tidak selalu mulus, selalu pasti ada RIBET nya.
Kalau ga ribetnya karena selingkuh, maka ribetnya karena orang tua yang ribet-ribet ikut-ikut urusan cinta anak-anaknya.
Maka daripada ribet, saya sebagai penulis atau sutradara, bikin aja ceritanya jadi simple… buat kaum ibu-ibu dan bapak-bapak yang ngebet pengen menikahkan anak wanitanya dengan pria pilihannya, maka kenapa gak ceritanya ibunya sendiri aja nikah sama pria pilihannya itu, kan itu pilihannya, pasti si ibu lebih tau kan seperti apa baik buruk pilihannya.
Dapet brodong dong…hehehhe.
Jadi si ibu atau si bapak menikah dengan pria atau wanita pilihannya, lalu si anak bisa menikah juga dengan wanita atau pria yang dipilihnya yang dicintainya.
Ceritanya kan happy ending tuh.
Jadi ga perlu ada kisah teragis.
Tapi namanya juga cerita, ga seru ah kalau ga dibikin tragis.
Apa lagi kisah cinta akan makin seru kalau dibikin penuh intrik, tragis, menyedihkan dan memilu kan. Namanya juga cerita….
23/6/2009 10:27 PM
Markus AP


