Parodi : Jungkir Balik Kebenaran
Kebenaran, itulah topic saya kali ini, bukan bermaksud menjadikan kebenaran obyek tulisan saya, bukan mencoba mengagungkan kebenaran, tetapi memang kebenaran seperti terang yang harus terlihat, tak mungkin kan terang harus disembunyikan didalam selimut, sedangkan terang selalu ada ditempat tinggi untuk bersinar…jadi kebenaran pun bukan bermaksud dijadikan obyek tulisan saya, tetapi memang kebenaran harus diungkapkan. DINYATAKAN…dengan prinsip
“Benar katakan benar, salah katakan salah”
(Tentu terlepas mereka yang membacanya sadar, buka mata dan akhirnya melihat terang, atau tetep aja bego, dan bebal).
Anda tentu bertanya kebenaran koq bisa jungkir balik, ah ada-ada aja nih si cus, kalau kebenaran itu bukan sebuah kata sifat, tetapi ia seorang manusia atau pribadi, tentu kebenaran pasti kesian bener nasibnya, prinsipnya kebenaran ya kebenaran, sesuatu yang benar akan selalu benar, tapi kesiannya kebenaran yang suka diputer balik, suka dijungkir balikkan, kebenaran suka ditipu, dan suka dipermainkan.
Pusing ga sih jadi kebenaran, kesian ga sih kebenaran itu?
Yang benar bisa jadi salah, yang salah bisa jadi benar.
Sampai orang yang mendengarkan bingung mana yang benar- mana yang salah.
Sebenarnya yang jungkir balik tadi bukan kebenaraanya, tetapi manusiannya yang suka acrobat dalam hidup, suka jungkir balik ga jelas dalam hidup.
Kebenaran ya tetap pada kebenaran.
Tapi kan manusianya tidak suka jujur terus terang pada kebenaran, tetapi lebih suka ber jungkir balik ga jelas…heran deh !!! apa ga pusing dan mules ya jungkir balik begitu.
Yah itulah kebenaran, eh maksud saya itulah manusia yang suka jungkir balik dengan kebenaran.
Bertahun-tahun lalu, saya pernah menyingung istilah reverse phsycology, ada pribadi yang mampu membalik-balik kondisi kebenaran, hingga akhirnya korbannya tak tahu lagi mana yang benar dan salah. Apakah anda begitu?
Sebagai contoh saja deh, bagaimana cinta yang utuh dan tulus bisa dibagi dua? Bagaimana sehari bilang cinta, besok bilang ga cinta, lucu kan, kebenarannya cinta yang utuh ya cuma satu, kalau bisa terbagi, tentu tak utuh dong, maka ga salah lah kalau cinta yang terbagi dua itu kekuataanya seperti tempe, bukan seperti karang, maka ada masalah dikit…kabur deh, hidup diserahkan deh pada ketidak benaraan, cinta dijual deh seribu tiga…seribu tiga….seribu tiga.
Maka jika ia tak lagi sadar dan bisa melihat kebenaran, maka istilah-istilah yang gak masuk akalpun diterima sebagai kebenaran…maka jelas-jelas seorang cheaters bisa diakui sebagai dewa penolong, malaikat penyelamat…
Kesian…kesian ya kebenaran…
Maka ga salah juga kalau kita akhirnya melihat, bahwa mulut itu tidak bisa “straight” mengatakan benar yang benar, tapi malah mulut jadi mencong-mencong, mencla-mencle tanpa tujuan (atau dengan tujuan tetapi tujuan nista), karena kebenaran yang harus dikatakan benar sebenar-benarnya, bisa tiba-tiba berbelok zig-zag ke kanan kiri, jungkir balik akrobatik, dang-dut goyang dombret, goyang ngebor…
Ga jelas deh…
Cape deh…
Kalau kita bisa terbukti telah pernah berbicara bohong tanpa kebenaran, mana bisa dipercaya lagi…kalau mau dipercaya bicara dong kebenaran, berjuang untuk meyakinkan kebenaran….nyatanya…seringkali malah jadi pendusta, dan makin banyak dusta diantara kita…loh koq jadi judul lagu sih cus…hahahahah.
Ah..cape kan menghadapi kebenaran yang goyang-goyangan, dan jungkir balik akrobatik…salto goyang dombret.
Apa sih efeknya buat kehidupan buat perlakukan mengjungkir balikkan kebenaran?
Yang jelas, kebenaran menjadi samar dalam hatinya.
Pegangan kehidupan menjadi tak ada, kehidupan dihitung dari utusan untung rugi, nyaman tak nyaman, kebenaran sudah tak lagi dipegang sebagai patokan, kekuatan dan kestabilan.
Prinsip kehidupan yang benar dan murni jadi abu-abu ga jelas.
Jiwa jadi terobang-ambing, pada urusan yang ecek-ecek pada urusan perut belaka, maka hati nurani jadi bebal, karena kebenaran tidak lagi diketahuinya sebagai kebenaran, kebenaran tak disadarinya lagi menjadi kebenaran.
Sekalipun mendengar kebenaran, sedetik kemudian kebenaran disangkal.
Maka kalau demikian, mencuri, membunuhpun dijalani…tanpa melihat hati nurani, keterdesakaan ekonomipun menjadi alasan melacur disahkan…merampok dibenarkan bagi pelakunya, bahkan paling tolol lagi, diperkosa koq malah dibilang itu perbuatan mulia…goblok kan…
Apa lagi berdusta…berdusta menjadi kebiasaan yang menyatu dan melekat dalam hidup orang yang suka menjungkir balikkan kebenaran.
Paling parah lagi, bagaimana hidup bisa dibenarkan, kalau iman kepercayaan pada sang maha pun menjadi sirna…menjadi tak ada.
Maka benar kata semua kitab agama, kalau manusia diakhir zaman, kehilangan kebenaran, menista kebenaran, kehilangan jati dirinya…ah mengerikan.
30/5/2009 9:36 AM
Markus AP



Similar/Related Posts