rss
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
Parodi : Fashion and Trend Victim
By. marcus . June 1st, 2009 at 11:22 am
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Parodi : Fashion and Trend Victim

    Sekitar tiga dua tahun lalu, saya pernah duduk makan disebuah kedai soto dibilangan tebet, bersama seorang teman dari teman saya, yang kemudian hari ia menjadi sahabat karib saya.
    Bagi saya duduk disebuah kedai soto yang ada dekat pinggir jalan, merupakan hal yang biasa buat saya, berbeda dengan teman saya tadi, baginya itu hal yang jarang untuk dilakukannya, tetapi heran saja tawaran saya untuk duduk makan disana tidak ditolaknya sedangkan bisa saja ia menawarkan saya sebuah tawaran yang mengiurkan, duduk disebuah restaurant kelas atas, dijemput supir dengan S Class dan tentunya kenyamanan layaknya seorang raja.
    Hari itu, saya yang menentukan saya mau menemuinya dimana.
    Sebuah kedai soto yang terletak dipinggir jalan tanpa AC (ada sih Angin Cendela), dihibur oleh penyanyi jalanan, ditemani makan oleh lalat yang datang tak diundang dan pergi tak diantar.
    Pertemuan itu bukan merupakan pertemuan yang hanya terjadi satu kali tetapi terjadi lagi beberapa kali setelah itu.
    Saya ingat, saya membuka pembicaraan dengan membiarkan dirinya bercerita tentang kehidupannya, bisnisnya, kesuksesannya, kesehariaanya, dan hingga dipuncak pembicaraan, ia mengeluhkan betapa membosankannya hidup dengan kesehariaan seperti itu, hatinya terusik.
    Ia harus clubbing, pulang malam, menikmati pertemuannya dengan kalangan sosialnya yang kadang ia pikir tak memberikan kontribusi apapun buat dirinya, hatinya terusik.
    Gengsi jadi hal yang diagungkan…katanya.
    Hari itu saya membiarkan ia mengeluarkan segenap pemikirannya dan curahan hatinya, hingga akhirnya, saya pun sudah gatel berbicara, saya pun akhirnya ikut mengungkapkan pemikiran saya yang sederhana.
    Tak ada yang salah dengan menikmati kehidupan, kita yang diberikan “kelebihan” boleh dan sah-sah saja untuk menikmatinya.
    Duduk disebuah resaturan kelas atas, menikmati steak seharga dua juta, mengenakan jaket merah berkerah putih Canali, bercelana denim warna coklat pastel Boss, bersepatu Calzoleria Toscana by Linea,  jam tangan Bvlgari, dompet LV (asli bukan palsu), tentu potongan rambut stylis Tony And Guy.
    Atau bagi yang wanita, mengenakan gaun cantik rancangan Dolce and Gabana, tas tangan Tod, bersepatu Jimmy Cho, tentu sebuah kebanggan yang luar biasa.
    Saya berkata semua itu sah-sah saja.
    Tak ada salahnya menjadi bagian dari kalangan tertentu.
    Menikmati kemajuan teknologi, trend dan fashion.
    Jika kita memang dipantaskan untuk itu…tetapi jangan maksa dong…kadang apa yang kurang dalam diri kita malah dipaksakan untuk mencapai kehidupan yang tak seharusnya kita lakukan.
    Benar bukan, kadang kita sering memaksakan diri untuk tampil wah, sedang kita tak seharusnya demikian.

    Kehidupan mewah, kalangan jetzet itu tak benar-benar dinikmati sahabat saya, apa yang bisa ia kenakan walau ia mampu dan ga maksa gesek kredit card untuk gengsi rupanya mengusik hatinya, ia bercerita tentang kalangan yang ia gauli, ia lebih banyak bercerita tentang kehidupannya dan kesehariaanya yang membosankan tanpa kontribusi apapun untuk jiwanya.
    Ia bercerita tentang teman-teman yang hanya membuatnya bergosip, tanpa memberikan kengetahuaan dan kemampuan pegembangan diri.
    Ia harus tersenyum, mengunakan topeng yang dikenakannya setiap saat.
    Hidup sepertinya tidak bebas, terkungkung dengan status, dan “merek” yang harus melekat padanya, gengsi merupakan sifat yang tiba-tiba harus dimiliki dari pribadi nya, jika tidak “merek”, beberapa temannya akan membicarakan hal itu.
    Pergolakannya lebih kepada hatinya yang tidak nyaman dengan kebiasaannya yang tak membuat hatinya bahagia, dan tanpa sadar menjadi manusia lain yang jauh dari nurani.
    (Walau ia cukup sangat mampu untuk membiayai gaya hidupnya itu loh, gak maksa)
    Sekilas kita bisa melihat, hidup jadi nampak tak punya arti.
    (Sebagian orang terjebak kepicikan, kekacauaan, keserahakan juga kehancuran hati)

    Saya sering kali mengunakan sebuah ungkapan tokoh bijak yang berkata bahwa kita punya sarana untuk hidup, tetapi kita kehilangan arti untuk hidup.

    Victor Frankl menulis “Dewasa ini, lebih banyak orang memiliki sarana untuk hidup tetapi tidak punya arti untuk hidup”.

    Kita menjadi lupa dengan tujuan kehidupan, tanpa sadar, merek yang kita pakai, strata social yang kita gauli, telah membebalkan mata hati kita menjadi manusia. Bahkan hal seperti itu jadi TUJUANnya…
    Beberapa orang mengejar kemewahan dan status social tertentu, maka semua yang dikenakannya harus merek.
    Bahkan memaksakan diri sedangkan pendapatannya tak seharusnya membuat dia ada disana.
    Beberapa orang mengejar trend dan melupakan fungsinya, maka semua orang berbondong-bondong membeli BlackBerry, hanya untuk chating, melupakan bahwa kecangihan dari BB adalah push mail yang menjadi fitur yang diandalkannya sejak 7 tahun lalu saat BB diperkenalkan.
    Semua demi nampak dilihat orang.
    Semua demi sebuah status, dan menghindari omongan dan gossip orang.

    Ingat loh saya tidak anti dengan hal-hal tersebut. Saya bukan penganut paham sosialis, yang anti kemapanan, sama sekali tidak.
    Sekali lagi saya tak mengatakan bahwa kita tak boleh menikmati kehidupan, kehidupan yang diberikan oleh sang pencipta dalam keadaan apapun baik berlebih atau kekurangan, yang harus dinikmati dengan rasa syukur.
    Tetapi sering kita menjadi lost, kita menjadi lost control, kita lost jati diri kita, kita menjadi lupa diri, kita melupakan nilai-nilai diri kita sendiri, melupakan hati nurani dan membebalkan diri kita.
    Kita cenderung memaksakan diri mengikuti sebuah trend tertentu, atau sebuah trend fashion tertentu, sedangkan kita melupakan apakah pantas atau tidak buat kita, sesuai kah untuk kita, atau memang kita mengikuti itu hanya untuk dilihat orang.
    Saya sendiri mengamat trend dan fashion, karena profesi saya mengharuskan saya terus mengikuti hal tersebut.
    Beberapa tahun lalu, saya diminta beberapa sahabat saya, untuk mengubah penampilannya, memberikan pandangan fashion dan trend untuk penampilannya. Dan benar-benar saya telah menyulap mereka mengubah mindset mereka tentang fashion. Penampilan mereka pun berubah tetapi mereka tidak mengubah kepribadian mereka.
    Tapi saya selalu beharap agar mereka tidak berubah menjadi korban dari fashion and trend…bahayanya kebanyakan manusia telah lupa, dan tergiru, terjebak, pada keadaan itu.
    Akhirnya … kita bisa tebak… kemiskinan mental, kemiskinan hati, karena memaksakan diri memenuhi kondisi yang tak seharusnya ia lakukan.

20/5/2009 – 30/5/2009 9:45 AM
Markus AP

One Response to “Parodi : Fashion and Trend Victim”

duh omm nulis ttg aku ya
jadi ga tersanjung ne hahahahha
masih inget aja omm makan sotonya
akhirnya ak sadar kenapa omm
ga mau ngobrol di tmpt mewah
its part of my education
tapi omm itu benar-benar berhasil
semua yang omm omong is changes
my life

thaks omm, you open my eyes

Leave a Comment

 

faq
international
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation
home