Agelita Lost In NewYork
Sepulangku dari mengajar dan disaat-saat santaiku aku selalu menikmati hiruk pikuk kota ini, sudah biasa bagiku tiap jam 2 atau 3 menyusuri jalan-jalan kota ini, melewati gedung-gedung lama, gudang dan pasar, yang kusukai selalu melewati china town yang menarik bagiku,seperti biasa aku tak pernah lupa membawa Laica M5 & Nikon F4s yang selalu menjadi teman dalam setiap perjalananku, hari ini aku menghabiskan banyak waktu untuk merekam dan melihat sisi kehidupan kota ini.
Tiba-tiba aku mendengar suara berteriak-teriak dari toko kecil diseberang jalan, seorang bapak mengusir seorang yang tidak membayar makanannya.
Aku terus melangkah mungkin sepanjang perjalanan hari ini aku telah menghabiskan lebih dari 50 shot, homeless, sign, New york cab, banyak…kehidupan kota ini tidak pernah habis, sedetik, semenit, selalu ada hal yang bisa membuatku ingin mengabadikan setiap sisinya.
Aku menikmati saat-saat seperti ini, dibandingkan distudio atau di kelas, menghadapi mahasiswa-mahasiswa yang tidak mengerjakan tugasnya atau yang terlalu idealis dengan pemikirannya sendiri.
Yah aku menikmati saat seperti ini.
Hari sudah hampir sore, aku sudah tidak lagi berada didaerah yang penuh dengan kalangan kelas bawah, aku sudah berada dijalan yang berbeda dengan daerah tadi. Sisi lain gemerlap Manhattan.
Pada jarak beberapa langkah didari phone bot antara lampu penyeberang jalan dan phone bot itu berdiri seorang wanita muda, berbadan tinggi ramping, bergaun warna pastel bergaris Burbbery, ia mengenakan tas Louis vuitton nampak dari motif lambang LV yang ada diseluruh tasnya, rambutnya bergerai panjang, dan disamping kanannya seorang pria bersamanya, mereka begitu asik membicarakan sesuatu, saat lampu penyeberang jalan berwarna hijau, mereka bedua berjalan menuju Starbucks café diseberang jalan itu.
Aku mengikutinya, entah apa, entah maknet apa yang membuatku mengikutinya?, mungkin insting atau kekagumanku karena kecantikannya, aku menunggunya beberapa saat hingga ia selesai memesan dan duduk ditempat yang dipilihnya, lalu aku perlahan masuk dan memesan
“Americano kataku”, “Ok…hanya itu” “Ya”
Aku duduk disudut ruang itu, dan ia duduk dekat pintu jauh dari tempatku, aku tak henti memperhatikannya…yah aku seperti George Tames yang selalu berdiri disudut mengamati sekeliling sebelum ia memotret.
Setiap gerak, setiap gerak geriknya adalah lukisan yang mempesona, molek, begitu mengikat, tegar, kadang begitu megelikan dengan expresinya yang lugu dan manja, kata-kata nya…yah aku tak begitu jelas mendengar tetapi nampak itu adalah pribadinya. Dalam lima menit duapuluh shot aku habiskan untuk hanya merekam seluruh nya tentang wanita misterius ini.
“Sorry sir…you use this chair” Aku terkaget dengan sapaan itu, aku menghentikan jepretanku.
“No..silahkan”
Saat bapak itu menyingkir dari hadapanku, aku sudah tak lagi melihat wanita misterius itu ditempatnya… , aku kecewa, dan berusaha mencarinya.
Aku pulang ke apartemenku, aku segera memproses apa yang ku abadikan tadi, wanita itu masih terbayang diruang mata hatiku, hatiku tidak berdebar seperti saat aku mengikutinya karena satu dorongan yang tak jelas, tetapi ada denyut lain yang dengan berbeda memberi daya semangat.
Berkali-kali aku tersenyum tentang kegilaan sore tadi…
Dua puluh wajah dan duapuluh gerak dan mimik dalam bentuk foto hitam putih 20×25 cm tertempel diruang kerjaku… aku berdiri meletakkan kedua tanganku dipinggang, dan berkata “Agelita … Agelita, Oh GOD….Tuhan rupanya kau kehilangan seorang malaikat hari ini…., ia ada ditengah kota ini, akankah aku perlu membawa pulang malaikat ini ke surga”….candaku.
Malam itu aku baru bisa tertidur jam 3 pagi, aku menyelesaikan beberapa catatanku dan sekali lagi mengagumi malaikat Tuhan yang hilang ditengah kota ini, dan jam 7 pagi aku sudah bangun dan tersenyum tentang kegilaan semalam.
Selama dua bulan aku menyusuri jalan yang sama, duduk dibangku yang sama, coffe yang sama, jam, menit, detik yang sama, bahkan kali ini aku membuat bangku ditempatku tidak ada ditempatku, agar tak seorang pun meminta bangku dari mejaku..Semuanya hanya sia-sia belaka.
Lalu aku berfikir entah apa yang akan ku lakukan jika aku menemuinya, akankah aku menyapanya, dan menawarinya menjadi model di agency milik temanku, atau …. Ah aku tak tahu.
Tiga tahun berlalu, aku tak pernah melalui jalan dan tempat yang sama, project Newyorkku sudah selesai dan sudah dipamerkan di LEE ka-sing gallery 993 Queen Street West, Toronto berapa bulan lalu, dan satu tahun lalu diNewyork, disebuah gallery kecil.
Lima foto diantaranya foto-foto wanita misterius itu, banyak orang tak mengerti kenapa lima foto itu ada diantara foto-fotoku tentang kehidupan Newyork, tetapi aku selalu menjawab para penikmat dengan kata-kata “anda tak akan mengerti, bahwa disela-sela waktu saya mengerjakan proyek ini, saya menemukan Tuhan rupanya kehilangan seorang malaikatNya”.
Dan semua pengunjung tertawa…
“Yah ia hanya ada diantara kehidupan itu dan kehidupan saya yang hanya 20 menit, tetapi begitu terkesan”. Dan semua tersenyum dan juga penuh tanda tanya.
Aku sudah tidak tinggal diNewyork, tempat yang baru yang tak sama seperti rumah..kadang aku masih terenyum tentang tiga tahun lalu.
Suatu hari udara dingin, angin bertiup kencang, tak satupun daun-daun dapat menahan hempasanya. Pohon-pohon bergerak-gerak, angin menerpa apa saja yang ada dijalan, angin itu menerpa wajahku dan membuat tangan ku yang tak tertutup sarung tangan ini dingin, beberapa kali aku menghangatkannya, menyembunyikannya di balik saku, puluhan orang berlarian di pingir jalan berusaha mencari tempat berteduh sebelum hujan turun, awan berubah gelap, matahari yang bersinar kini menghilang, seakan awan-awan itu telah mengalahkan matahari, hujan akan segera turun.
Dan aku menemukan diriku sudah ada di café, seperti biasa aku memesan ‘Amerciano’, tak lama hujan turun, dalam situasi seperti itu aku tak dapat konsentrasi, aku menikmati coffe, tapi hujanpun belum berhenti.
Aku telah menghabisakan dua cangkir coffe, tak ku sadari waktupun terus berlalu, berkali-kali kulihat jam tanganku, dan tanpa di sangka seorang pria masuk ke dalam cafe sambil menutup payungnya aku tak memperhatikan pria itu tapi apa yang ku perhatikan adalah seseorang yang bersamanya seorang wanita dengan sebagian dari badannya basah tersiram air hujan.
Semula aku tak begitu mengindahkanya tetapi sesekali aku melihat wajah itu dengan penuh keraguan.
Ia adalah wanita misterius yang kutemui 3 tahun lalu, aku tak segera berdiri dan menghampiri Agelita, nama yang kuberikan, tak ada rasa takut untuk kehilangan wajah itu lagi, karena aku tahu ia pun tak akan pergi jauh, hujan telah mengurungnya didalam tempat ini.
Tak lama kemudian temannya pergi meninggalkanya sambil berkata "bonsoir".
Aku mengamatinya terus, wajah itu tak dapat berbohong begitu pula gerak tubuhnya yang tak dapat disembunyikan dariku, dari situ aku tahu itu dia, dari wajah itu pula ada kekuataan yang ada terpendam didalam dirinya, ketegaran, dan semangat, aku menyadari bahwa sang agelita tetap sama…ia belum berubah.
Tanpa sadar ia sekali mengalihkan pandanganya ke arahku dengan ekspresi yang anggun,kosong, aku berdiri dan mencoba menghampirinya, walau jantung ini terus berdebar, kubasahi bibirku, berharap tak ada sisi coffe di bibir ini, jantung ini terus berdebar.
Rupanya keraguan telah memaksa adrenalin mengalir memacu jantung untuk bekerja dua kali lipat.
Aku belum berdiri dan beranjak menghampirinya,
Tak lama kemudian aku menghampirinya….
"Maaf boleh saya duduk disini" tatapan nya membuatku berkata dalam hati.
Aku tak biasanya seperti ini, aku terlalu cangung dengan seorang wanita.
“Sepertinya saya pernah melihat anda”.
Ia diam dan dengan wajah tanpa kenal menatapku seperti ingin menelan seluruh kehidupanku, atau seperti ingin membakar ku hidup-hidup.
Akhirnya aku sadar, tentu ia tak mengerti bahasa yang kugunakan atau ia merasa aneh denganku. Aku sadar pula ia tak mengenal wajahku.
Aku mengulanginya ia mengerti tetapi jawabanya terlalu cepat dan membingungkanku dan aku sadar ia berbicara dalam bahasa perancis dan untung sekali aku dapat berbicara sedikit bahasa perancis walau tidak terlalu fasih, dengan agak ragu aku berbicara .
"Lentement s’ill vous plait (Dapat agak perlahan)" dan ia menjawab
"Oh excusez moi je parle trop vite (Maafkan saya , saya berbicara terlalu cepat) dengan suara yang lembut.
“Je suis tres content de vous voir (saya senang sekali bertemu anda)”
“Garcon, le menu, s’il vous plait”
“Aves-vous faim ?
Ia diam.
“Tidak” katanya
Rupanya ia dapat berbicara bahasa inggris. Aku memesan secangkir kopi lagi
“Apportez-moi du cafe maintenant, s’il vous plait”
"James…"
"Michele" katanya dengan perlahan
"Sepertinya wajah anda tak asing bagiku, aku pernah melihat anda di Starbucks 3 tahun lalu di Newyork,ya itu anda"…Aku terus bercerita tentang hari-hari aku melihatnya, hujan membuat kita bisa menghabiskan waktu ditempat itu dan tak lama kita sudah menjadi akrab.
Seperti yang ku duga, ia seperti apa yang ada didalam pikiranku 3 tahun lalu..hmm sepertinya aku telah mengenalinya sejak lama.
Markus AP
Ditulis 2004/2005 Refisi July 2006



Similar/Related Posts