Percikan Perenungan : Yesus
Membaca “Tuhan dan hal-hal yang tak selesai”, karya Goenawan Mohamad, benar-benar telah membawa ruang contemplasi yang tersendiri, Mas Goen telah membawa perenungan tentang Tuhan, berikut juga diri kita, dan banyak hal yang tak bisa dirangkum dalam buku kecil itu dan nampaknya sembilan puluh sembilan Percikan perenungan tak cukup mencapai semua hal yang ada dalam kehidupan, tetapi toh itu sebuah perenungan diri seorang Goenawan Mohamad.
Bagaimana dengan perenungan kita?, Bagaimana dengan saya?
Bagi saya, merenungkan sesosok Pribadi hebat seperti ISA, merupakan hal yang sulit masuk diakal, sebagian besar orang menganggapnya sebagai nabi, manusia, sebagian menganggapnya sang Ilahi itu sendiri, tetapi ISA sendiri tak perduli dengan panggilan, Ia telah dipanggil Tuan, Tuhan yang berarti Tuan (Sir), Nabi, Guru, Mesias, Anak Allah, toh tetap ia tak perduli panggilan, karena hidupNya ada untuk benar-benar telah membawa misi revolusi kerohanian dan kemanusiaan (bukan mempersoalkan nama, siapa dia atau kedudukannya sebagai Nabi, Manusia Atau Tuhan), ia telah membawa ajaran yang berbeda, bahkan telah membuktikan Cinta BapakNya melalui pengorbanan Besar dirinya.
Pernahkan kita dengar ajaran Musa mata ganti mata, gigi ganti gigi yang kemudian telah diubahNya dengan siapa yang menampar pipimu berikan pipimu yang lain.
Padahal sangat sulit buat hidup kita membiarkan diri kita dilindas orang lain, atau membiarkan diri kita di caci maki, tapi ISA mengajar kan agar kita malah menyerahkan diri kita biar dicaci maki atau dilindas saat kita menerima aniaya itu, bahkan mengampuni mereka yang berbuat jahat kepada kita.
Lalu bagaimana dengan sebuah pristiwa yang ditulis di kitab suci, saat ia dihadirkan seorang pelacur yang siap diadili ramai-ramai lalu ia berkata kepada mereka yang beramai-ramai membawa pelacur itu “Siapa diantara kalian yang tidak berdosa, lemar batu yang pertama”, dan mereka bubar, karena sadar mereka berdosa, bisa jadi kan beberapa orang yang mengadili itu pernah memakai jasa si pelacur.
Bisakah hal itu direfleksikan didalam diri kita , sering kali kita merasa diri suci, menghakimi orang lain, nyatanya hidup kita rupanya juga tidak benar-benar suci.
5/5/09 6:50 AM
Markus AP


Similar/Related Posts