Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

contact
participate
Percikan Perenungan : Kontemplasi
By. marcus . May 25th, 2009 at 8:20 am
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Percikan Perenungan : Kontemplasi

    “Ketika kecil pasti ada yang mengingatkanmu untuk merenung, sedang aku tak pernah bisa merenung ?”… dialog  yang dikatakan tokoh Hu Cailan, diperankan oleh Karena Lam dan Li yaoguo diperankan Jacky Cheung, dalam film July Rhapsody

    Suatu siang, tak ada orang dirumah, hanya suara TV yang menyiarkan berita-berita gosip, diluar cuaca sangat mendung, angin bertiup kencang sekali, awan nampak gelap, baru saja ada telfon berdering memecah lamunan, Radio sedang memutar lagu Sting terbaru dari album Secret Love, suara rintik-rintik hajan menambah waktu yang sepi itu menjadi lebih sacral dan mencekam…
    Saya ingat cerita seorang pemuda yang saat kecil sudah suka dengan kesendirian, ia tak suka berkumpul dengan teman-temannya lari kesana kemari, bukan ia seorang yang minder tetapi ia tak suka menghabiskan waktunya untuk ngobrol hal-hal yang tak berguna, ia suka berjalan-jalan sendiri, memasukan kedua tangannya kedalam saku celana, bernyanyi-nanyi kecil, berfikir dan melihat teman-teman sekolahnya, suatu hari ia menyukai seorang gadis yang lebih tua darinya, gadis itu duduk di kelas dua Junior High Schools sedangkan ia duduk dikelas 5 , tiap pagi saat istirahat ia sudah berdiri dikejauhan memperhatikan gadis itu, ia berhayal, merenung, tetapi tak pernah sekalipun ia menyapa atau mendekati gadis itu,  mungkin ia berfikir ia terlalu kecil dan gadis itu terlalu dewasa. Itulah hari-hari pertama ia mengenal dirinya suatu hari nanti harus membangun sebuah hubungan dengan orang lain, ia menyimpan rasa suka itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya…tetapi mengubah seluruh kehidupannya.
    Saat ia sudah beranjak dewasa, ia sudah duduk di High Schools, kebiasaanya tak pernah berhenti, ia suka sekali menulis apa yang dipikirkannya kedalam puisi-puisi, dan saat Kuliah hal itu tak pernah berhenti sesekali ia mengunjungi flat temannya dan duduk diteras luar flat temannya menikmati bintang, ditemani rokok dan secangkir kopi, setiap kali ia melakukanya, ada saja yang didapatkannya atau ada saja yang bisa membuat teman-temannya mendapatkan satu jawaban.
    Saat usianya begitu bertambah, seorang gadis berkata kepadanya “kau adalah perenung, aku selalu melihat mu didalam diam, kau tak banyak bersuara, kau menyukai keheningan, mulutmu menutup rapat, sorot matamu tajam, tetapi terarah kepada sesuatu, mungkin kepada pikiran-pikiran, bahkan kau kadang tersenyum dengan malu-malu yang kau tahan, kau selalu berkata sesuatu yang dalam, sesuatu yang keluar dari dalam dirimu…entah apa yang kau pikirkan, kau adalah perenung, tak perlu kau selalu merenung…tetapi begitulah keberadaanmu”.
    Diusianya yang bertambah ia tak lagi merenung tentang mencari jalan bagi persoalan hidup tetapi senantiasa melihat cahaya Ilahi.
    Hidup itu kadang perlu semarak….banyak teman, berkumpul, tapi kadang ada saat yang paling enak pula saat kita tak banyak bicara dan kita melakukan segala sesuatu dari dalam, menikmati segala sesuatu yang dari dalam, berfikir, melakukan segala sesuatu yang keluar dari dalam diri kita,  kita mau melakukan apa yang harus kita lakukan…menganti kebiasaan diri kita, menganti segala hal, menjalani segala hal, melakukan hal-hal yang berbeda, melakukan hal-hal baru, senantiasa merefleksi, melihat kedalam, menyatukan diri denganNya…menemukan jati diri dan menemukah hal-hal indah didalam rasa damai…dan hal itu dilalui didalam keheningan, perenungan, doa yang mencapai ruang Ilahi.

    27  Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. 28  Jiwaku menangis karena duka hati, teguhkanlah aku sesuai dengan firman-Mu. 29  Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu. 30  Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku. 31  Aku telah berpaut pada peringatan-peringatan-Mu, ya TUHAN, janganlah membuat aku malu.  32  Aku akan mengikuti petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab Engkau melapangkan hatiku. 33  Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir. 34  Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati. (Mazmur 119:27-34)

    2004
    Markus AP

Diambil dari catatan yang tidak pernah dipublish, berjudul : School of Life : Perenungan (Kontemplasi)

advertise

Similar/Related Posts

  • No related posts found.

Leave a Comment

 

support
marketing
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA