Parodi : Gak Mau Goblok
Saya masih ingat banget, saat SD tinggal disemarang hanya kelas 1, tinggal dikampung yang jalanan depan rumahnya banyak kotoran ayam, hampir selama setahun saya tinggal disana, saya jadi kenal namanya nasi pincuk, sego ayam, yang ga biasa saya makan di jakarta, dijakarta saya bisa ke supermarket golden truly liat robot biru bisa ngomong, hampir setiap saat, disemarang saya ke pasar johar beli mainan kampung itu pun disaat dug-deran (pasar malam menjelang lebaran) aja, di Jakarta saya bisa main ATARI (generasi pertama video game), saya bisa main komputer dimana dulu komputer jarang, disemarang saya ngerasain yang namnya main layang-layang, jangkrik, gangsing bumbung, peletokan, pasar2an, yang bisa dibeli dengan uang 100 rupiah.
Apa alasan saya ada disemarang?
Karena saya anak yang dianggap ga cerdas, jadi saya disuru tinggal jauh dari orang tua, saya dididik sama nenek dan kakek, juga tante saya yang guru dan sadis…(sampe sekarang masih sadis).
Saking sadisnya, tau apa yang terjadi?…saya dihukum musti belajar, belum lagi kata "GOBLOK"…almost everyday saya harus dengar, saya harus mengalami kerasnya didikan tante saya yang sadis.
Diusia saya yang sangat muda, saya tau apa itu yang namanya didikan yang keras, saya tau dan tak mau, gerah dibilang “Goblok” dan kata yang membuat saya menjadi orang yang ga mau GOBLOK dalam hidup.
Tentu saya ga sadar apa itu kata "Goblok" saat saya kecil, tetapi yang saya tahu saya tak mau disebut "Goblok".
Tentu anak kecil yang tak pengalaman, akan berfikir orang tua saya kejam.
Tetapi itu hanya pemikiran anak yang tak tahu dan tak berpengalaman.
Dan yang terjadi setelah kembali dari Semarang, saya memang tidak lantas sekolah yang serba rangking, tetapi setidaknya, saya selalu naik kelas, punya cita-cita pengen jadi polisi saat SD, dan pengen jadi pengusaha saat SMP, namanya juga anak-anak.
Dari anak yang tak tau mau bercita-cita, akhirnya menjadi anak yang punya cita-cita, walau dalam kenyataanya saya bukan polisi dan juga bukan pengusaha hebat (setidaknya saya merasakan jadi pengusaha atas usaha sendiri).
Saat SMP saat semua anak sibuk nonton Megaloman dan Tio Buki di video, atau bercita-cita jadi Gaban, saya malah sibuk didepan computer berkutat dengan Program Basic, membuat program, dengan bahasa Basic. Saya tak pandai main game.
Saat SMA, saya tak pandai bergaul, bukan anak yang popular sebagai anak Basket, atau Paskibra, saya lebih suka jadi anak yang suka diperpustakaan membaca buku Psikologi Dasar, buku Mochtar Lubis atau di Lab Komputer mengajar adik kelas atau teman saya, program computer.
Guru saya makan gaji buta saat itu, karena dia bisa tak masuk seenaknya dan saya mengantikan dia didepan kelas mengajar Komputer.
Saya ingat saya mengajar dasar Artificial Inteligance, (Ilmu Komputer yang diajarkan di kuliah), jelas semua adik kelas saya bengong tak mengerti.
Jaman itu Internet Mahal, provider pertama Rad-Net yang populer, browser masih pake Mosaic, HTML masih versi 1, viruspun yang terkenal saat itu Avanger, tapi serta merta saya sudah membawa internet masuk ke Yayasan di sekolah saya.
Mereka jadi tau apa itu menulis Email.
Disaat kuliah, saya juga bukan anak yang pandai bicara, baru pandai mengungkapkan pendapat saat harus menjadi pendiri sebuah kegiatan mahasiswa dan menjadi wakilnya, sibuk kuliah IT, dan belajar Photography, sibuk organisasi pergerakan, sibuk menulis artikel, lalu mengajar photography dan harus menjadi Photojournalis disebuah terbitan pergerakan mahasiswa yang saat itu lagi seneng-senengnya demo.
Dari anak culun yang tak tau apa-apa hingga menjadi seorang yang nge Rock, padahal saya suka mendengarkan lagu Genesis yang ga ngerock.
Lalu saya jadi lupa mana itu diri saya yang dulu disebut si goblok?
Tekat untuk tak ingin disebut goblok, mengubah hidup saya sesuai dengan keinginan saya, saya berfikir tak ada pelajaran yang tak bisa saya pelajari, saya berfikir tak ada yang tak bisa saya lalui.
Saya harus bisa.
Saya harus mampu.
Saya harus melalui.
Dari urusan mengapai ilmu pengetahuaan, sampai apa yang saya harus jalani dalam hidup. Saya harus bisa.
Hidup harus jadi goblok, atau hidup harus tak menjadi goblok? Itu pilihan.
Kalau saya memilih untuk termakan kata-kata goblok, maka saya akan selamanya jadi demikian. Apa yang terjadi jika saya punya anak, anak-anak saya akan terbentuk seperti saya, seperti orang tuanya.
Saya mendesak maju untuk menghadapi kehidupan, untuk maju, untuk berhasil, untuk tidak mau jadi goblok.
Jujur, sering kali saya sadar saya gagal, saya goblok menghadapi sesuatu yang belum pernah saya alami, tetapi kemudian saya juga harus sadar untuk tidak mau goblok dalam hal itu. Saya harus melalui, saya harus bisa menghadapi.
Akhirnya saya menjadi pandai menghadapi dan mengalahkan kegoblokan.
Inilah proses perjuangan kehidupan yang harus dijalani setiap manusia…
Dan pada akhirnya saya pun mengsyukuri kehidupan, mengsyukuri saya dilahirkan, mengsyukuri apa yang saya ambil, mengsyukuri Tuhan yang telah dengan maksud menciptakan saya.
Apa yang terjadi kalau saya di Jakarta ga pernah ke Semarang?
Apa yang terjadi kalau mami saya membuat saya manja dan ga merelakan saya dididik disana?
Apa yang terjadi kalau saya tidak dilahirkan menjadi saya?
Saya tak akan pernah paham bahwa kehidupan saya menarik, walau saya bukan seorang sehebat seperti Focult, Fraud, atau Marx.
Bagaimana dengan anda?
23/5/2009 1:06 AM
Markus AP


Similar/Related Posts