Jemari-Jemari Mungil
Pagi benar-benar indah, sang maha surya melangit tinggi, bercahaya cerah, menembus kisi-kisi jendela si upik, di halaman cahaya cerah itu menembus sela-sela cabang pohon, mengeringkan embun yang hadir malam tadi.
Bayangan-bayangan yang tak pekat jatuh ke tanah melukiskan gambaran abstrak sang pohon.
Ah indahnya pagi itu…ah indahnya kemuliaan sang Khalik lewat pagi yang hadir hari ini.
Aku telah bangun pagi sekali, menikmati secangkir kopi yang ku buat sendiri. Ia masih lelap tertidur, aku membiarkannya tertidur dan bermimpi, kesehariaan telah membuatnya lelah, dan ingin terus bersanding dengan mimpi.
Aku berjanji untuk pergi ketaman bersama si kecil, lalu aku membuka kamarnya perlahan membangunkannya dari mimpi indah bertemu peri, malaikat dan kurcaci.
“Nak bangun, kupu-kupu, tupai dan bunga menantimu ditaman”.
Aku memandang kemuliaan sang Khalik sekali lagi, saat aku memandang jiwa murni ini terbangun dari mimpi, ia jiwa yang diberikan sang Khalik ketulusan, kekuatan saat terlahir, jiwa yang tak pantas merasakan kejamnya dunia diusia belia, jiwa yang pantas dikaruniai kasih, jiwa yang diharapkan dimasa-masa nanti mengubah dunia.
Jiwa seperti ini yang mengisi keceriaan firdaus dengan canda dan tawa. Membuat senyum sang Maha makin lebar.
Jiwa yang dikatakan ISA sebagai “empunya kerajaan surga”.
Memang merekalah empunya kerajaan surga.
Aku ingat kata ISA “biarkan mereka datang padaku, karena merekalah si empunya kerajaan surga”
Kita yang telah uzur, kita yang telah bertambah usia, telah kehilangan jiwa-jiwa suci seperti itu.
Kemanakah perginya jiwa kita yang murni?
Kemanakah perginya hati kita yang suci?
Kita seharusnya iri, ingin kembali menjadi seperti si kecil. Tidak mengenal kejahatan dan memiliki jiwa yang murni.
Ia pun terbangun, dalam banyangan-banyangan tenang peri yang masih ada dalam mimpinya.
“Ta liat tupu tupu ya”, katanya.
Aku tersenyum.
“Pergi ke kamar bunda, pamit, dan berikan ciuman”. Ia pun berlari memasuki kamar ibunya, naik ke atas tempat tidur dan mencium kening ibunya yang tertidur.
“Nda mau liat tupu tupu dulu ya..”
Sang ibu tersenyum, melihat buah hatinya bersemangat menyapa pagi hari itu.
Kami pergi berjalan menuju hutan kecil dekat rumah, yang mirip taman, si kecil memegang tanganku erat, berjalan tidak beraturan, jemari-jemarinya yang mungli memegang tanganku yang kuat, tua dan sebentar lagi tak akan mampu lagi berarti.
Sesampainya ditaman, yang penuh bunga, pohon dan saat itu cahaya sang maha surya masuk lewat sela-sela pepohonan, membuatnya ingin melepaskan gengaman, dan berlari bersatu dengan kehidupan diluar sana.
“Jangan, berlari sayang …”
Matanya yang cerah, pun menatap bunga-bunga yang tumbuh mekar ditaman itu, jiwanya seolah ingin berlari bersatu dengan kelopak-kelopak bunga.
Aku pun hanya berdiri, membiarkannya berjalan-jalan diantara bunga-bunga tadi.
“Tupu tupunya mana?”
“Tupu tupunya tidur ya…”
Aku tersenyum melihat wajah polosnya penuh semarak mengharapkan kupu-kupu, saat itu pula aku mengiba kepada sang Maha disurga diatas sana.
Dalam doa-doa kecil aku berkata kepada sang Maha, berikan maha kebaikan kepada jiwa kecilnya, berikan kebijakan maha kebijakkan kepada jiwa sucinya, berikan kekokohan pada kakinya, kekokohan karang yang teguh menghadapi hidup. Jangan biarkan, kelamnya kehidupan menghancurkannya, jangan biarkan kejahatan dunia menyembunyikannya.
Aku terseyum, karena ku tahu, sang Maha pun ikut tersenyum.
Si kecilpun berlari menghampiriku, membawa sekuntum bunga kepadaku, ia mencoba berkata kalau bunga itu untukku.
Aku lalu berkata dalam bahasaku yang mungkin tak dimengertinya.
“Sayang, bunganya jangan dipetik, biarkan bunganya hidup, agar kupu-kupu dapat makan, agar semua orang dapat melihat keindahaanya”.
Ia pun berlari-lari menyatu dengan bunga-bunga tadi.
Ia telah menyatu menjadi bunga dalam hidup kami.
Lalu ia pun berlari kembali menujuku, sambil berkata
“Tupu tupunya mana?”
“Tupu tupunya tidur ya…”
Aku menjawab, “iya sayang, kupu-kupunya tidur, tertidur dirumah, mari kita pulang kita bangunkan kupu-kupu kita dirumah…”
Aku pun mengenggam jemarinya yang mungil, mengajaknya kembali ke rumah, berharap waktu yang tepat membangunkan bunga yang sedang lelap tertidur dirumah.
Sang maha surya pun makin lama-makin tinggi, hari makin siang…
24/5/2009 – 26/5/2009 1:52 AM
Markus AP



2 Responses to “Jemari-Jemari Mungil (cerpen)”