Don Corleone said I m gonna make him an offer he cant refuse


12:07 am, June 24, 2010
Pages
Recent Posts
Most Popular Posts
Last Blackberry Note
Categories
Recent Comments
Login




Register | Lost your password?
New eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

eBook : Kayurie

Kayurie : kumpulan cerpen & puisi, free reading online

Kayurie - view online


Jemari-Jemari Mungil (cerpen)
By. marcus . May 26th, 2009 at 10:55 am
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Jemari-Jemari Mungil

    Pagi benar-benar indah, sang maha surya melangit tinggi, bercahaya cerah, menembus kisi-kisi jendela si upik, di halaman cahaya cerah itu menembus sela-sela cabang pohon, mengeringkan embun yang hadir malam tadi.
    Bayangan-bayangan yang tak pekat jatuh ke tanah melukiskan gambaran abstrak sang pohon.
    Ah indahnya pagi itu…ah indahnya kemuliaan sang Khalik lewat pagi yang hadir hari ini.
    Aku telah bangun pagi sekali, menikmati secangkir kopi yang ku buat sendiri. Ia masih lelap tertidur, aku membiarkannya tertidur dan bermimpi, kesehariaan telah membuatnya lelah, dan ingin terus bersanding dengan mimpi.
    Aku berjanji untuk pergi ketaman bersama si kecil, lalu aku membuka kamarnya perlahan membangunkannya dari mimpi indah bertemu peri, malaikat dan kurcaci.
    “Nak bangun, kupu-kupu, tupai dan bunga menantimu ditaman”.
    Aku memandang kemuliaan sang Khalik sekali lagi, saat aku memandang jiwa murni ini terbangun dari mimpi, ia jiwa yang diberikan sang Khalik ketulusan, kekuatan saat terlahir, jiwa yang tak pantas merasakan kejamnya dunia diusia belia, jiwa yang pantas dikaruniai kasih, jiwa yang diharapkan dimasa-masa nanti mengubah dunia.
    Jiwa seperti ini yang mengisi keceriaan firdaus dengan canda dan tawa. Membuat senyum sang Maha makin lebar.
    Jiwa yang dikatakan ISA sebagai “empunya kerajaan surga”.
    Memang merekalah empunya kerajaan surga.
    Aku ingat kata ISA “biarkan mereka datang padaku, karena merekalah si empunya kerajaan surga”
    Kita yang telah uzur, kita yang telah bertambah usia, telah kehilangan jiwa-jiwa suci seperti itu.
    Kemanakah perginya jiwa kita yang murni?
    Kemanakah perginya hati kita yang suci?
    Kita seharusnya iri, ingin kembali menjadi seperti si kecil. Tidak mengenal kejahatan dan memiliki jiwa yang murni.
    Ia pun terbangun, dalam banyangan-banyangan tenang peri yang masih ada dalam mimpinya.
    “Ta liat tupu tupu ya”, katanya.
    Aku tersenyum.
    “Pergi ke kamar bunda, pamit, dan berikan ciuman”. Ia pun berlari memasuki kamar ibunya, naik ke atas tempat tidur dan mencium kening ibunya yang tertidur.
    “Nda mau liat tupu tupu dulu ya..”
    Sang ibu tersenyum, melihat buah hatinya bersemangat menyapa pagi hari itu.
    Kami pergi berjalan menuju hutan kecil dekat rumah, yang mirip taman, si kecil memegang tanganku erat, berjalan tidak beraturan, jemari-jemarinya yang mungli memegang tanganku yang kuat, tua dan sebentar lagi tak akan mampu lagi berarti.
    Sesampainya ditaman, yang penuh bunga, pohon dan saat itu cahaya sang maha surya masuk lewat sela-sela pepohonan, membuatnya ingin melepaskan gengaman, dan berlari bersatu dengan kehidupan diluar sana.
    “Jangan, berlari sayang …”
    Matanya yang cerah, pun menatap bunga-bunga yang tumbuh mekar ditaman itu, jiwanya seolah ingin berlari bersatu dengan kelopak-kelopak bunga.
    Aku pun hanya berdiri, membiarkannya berjalan-jalan diantara bunga-bunga tadi.
    “Tupu tupunya mana?”
    “Tupu tupunya tidur ya…”
    Aku tersenyum melihat wajah polosnya penuh semarak mengharapkan kupu-kupu, saat itu pula aku mengiba kepada sang Maha disurga diatas sana.
Dalam doa-doa kecil aku berkata kepada sang Maha, berikan maha kebaikan kepada jiwa kecilnya, berikan kebijakan maha kebijakkan kepada jiwa sucinya, berikan kekokohan pada kakinya, kekokohan karang yang teguh menghadapi hidup. Jangan biarkan, kelamnya kehidupan menghancurkannya, jangan biarkan kejahatan dunia menyembunyikannya.
    Aku terseyum, karena ku tahu, sang Maha pun ikut tersenyum.
    Si kecilpun berlari menghampiriku, membawa sekuntum bunga kepadaku, ia mencoba berkata kalau bunga itu untukku.
    Aku lalu berkata dalam bahasaku yang mungkin tak dimengertinya.
    “Sayang, bunganya jangan dipetik, biarkan bunganya hidup, agar kupu-kupu dapat makan, agar semua orang dapat melihat keindahaanya”.
    Ia pun berlari-lari menyatu dengan bunga-bunga tadi.
    Ia telah menyatu menjadi bunga dalam hidup kami.
    Lalu ia pun berlari kembali menujuku, sambil berkata
    “Tupu tupunya mana?”
    “Tupu tupunya tidur ya…”
    Aku menjawab, “iya sayang, kupu-kupunya tidur, tertidur dirumah, mari kita pulang kita bangunkan kupu-kupu kita dirumah…”
    Aku pun mengenggam jemarinya yang mungil, mengajaknya kembali ke rumah, berharap waktu yang tepat membangunkan bunga yang sedang lelap tertidur dirumah.
Sang maha surya pun makin lama-makin tinggi, hari makin siang…

24/5/2009 – 26/5/2009 1:52 AM
    Markus AP

  • Share/Bookmark

2 Responses to “Jemari-Jemari Mungil (cerpen)”

karina - May 26th, 2009 - 12:38 pm
 

markus…markus..hmmm….
kalo ak liat dan teliti mengenai blog km
tahun 2007….untuk “N”
tahun 2008…untuk “D”
tahun 2009….untuk “T”
gimana untuk tahun2 berikutnya?
dan apakah kamu harus mengisahkan semua perjalanan cintamu ?
tapi okelah, itu hak asasi-mu untuk lakukan apa yang kamu suka dan apa yang kamu mau.
aku tanpa harus merasa ge-er, sama sekali tak bangga dengan adanya aku dalam setiap inspirasi kamu.
karena aku sejujurnya, tak mau dijadikan obyek.
hidupku…adalah milikku sendiri. Itu mottoku.
Yah..mungkin beda kali dgn motto-mu.
tapi…coba kamu lihatlah isi blog km ke tahun2 sebelumnya…inspirasi kamu bergantung pada siapa kamu mencintai…ini real, bro markus.
jujur aja…aku suka sekali melihat blog km.
ada banyak hal yang aku bisa pelajari.
tapi…ada hal2 pribadi yang seharusnya menjadi milik kita sendiri, lalu dengan se-enaknya kamu gadaikan ke dalam suatu parodi-lah..cerpen-lah..poem-lah…atau comment2 kecil km…
i think it doesn’t make sense.
tapi…oke-lah..kalo km harapkan aku ber-terima kasih atas dimuatnya karakter aku dalam
setiap tulisan kamu.
aku akui..poem2 km sangat indah…cerpen2mu sangat bagus…parodi2mu penuh makna…but please, don’t make me feeling guilty with this…

marcus - May 26th, 2009 - 1:13 pm
 

Aku tak mau mendahului Tuhan dan kehendakNya yang maha hebat, tak ada orang yang tiap tahun berganti dari si A, si B, si C, si D, si E, tiap orang pasti mau hal-hal baik dan sempurna terjadi dalam hidupnya, seperti ia berharap mendapatkan cinta sejatinya, mendapatkan kebahagiaan, aku pun mau hal-hal baik terjadi dalam hidupku, aku mau bisa membahagiakan orang yang aku cintai, karena itulah kepuasaan yang tak pernah orang sadari, maka aku juga selalu berharap ada pelabuhan terakhir atas pencariaanku, perjalanan yang kamu sebut sebagai “perjalanan cinta”.
Jujur kadang aku sama seperti orang lain, aku juga takut, aku juga kadang merasa tak pantas, dan banyak hal-hal negatif yang bisa terjadi dalam benakku, tetapi aku berusaha untuk tidak melihat hal itu, tapi selalu berusaha melakukan yang terbaik.
Maaf beribu maaf ta ada maksud dalam hatiku untuk jadikan kamu obyek, kalau pun aku tak bisa menulis tapi bisa melukis, kamu pun akan ku lukis, dan aku pajang di gallery, atau aku buat pameran sekaliaan…
Bagi seorang “seniman” (walau aku bukan seniman) atau orang yang memiliki jiwa seni, mengungkapkan perasaan cintanya atas pribadi yang dicintainya, kedalam sebuah media entah puisi, lukisan, foto, patung, itu sebuah gambaran pengespresiaan perasaan dirinya kepada pribadi yang dicintainya….
Dalam hal ini pribadi kamu, menurutku, kamu bukan jadi obyek, tapi kamu sedang diberikan sebuah apresiasi, penghargaan, mahkota, sedang dihormati, sebagai pribadi yang dipuja oleh penulisnya…(yakni aku). Yah walau, walau, walau, jujur sebuah karya akan sulit disebut karya jika tidak di apresiasikan kepada khalayak atau penikmat.
Sayang, aku melihat ini dari sudut pandang art loh ya…hehehehe maap.

Thank you darling for being my inspiration….

Leave a Comment

Top Commentators
Twitter Updates
    News
    • 8:48 am, March 21, 2010
      22 Maret 2010, Realase eBook "What's In My Mind" yang dapat diakses bebas dan didownload bebas
      From: Marcus

    • 8:46 am, March 21, 2010
      23 Maret 2010, Markus Manifesto memperingati 6 tahun perjalanan, “6th Anniversary, 6 year journey telling you the truth”, kami mengucapkan terima kasih kepada pembaca setia kami, yang selama ini telah menyertai perjalanan kami.
      From: Marcus

    Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.