Don Corleone said I m gonna make him an offer he cant refuse


12:07 am, June 24, 2010
Pages
Recent Posts
Most Popular Posts
Last Blackberry Note
Categories
Recent Comments
Login




Register | Lost your password?
New eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

eBook : Kayurie

Kayurie : kumpulan cerpen & puisi, free reading online

Kayurie - view online


Dengan Atau Tanpamu (cerpen)
By. marcus . May 6th, 2009 at 8:56 am
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Dengan Atau Tanpamu

    Aku terjaga saat pagi masih jauh dari pertemuannya dengan mentari, dingin malam ini menambahkan beban berat makin berat, dingin menyergap ku sampai ke sumsum dan tulangku, tak ada siapapun malam ini bersama deritaku, tak ada orang perduli yang aku rasakan dengan deritaku, derita yang berkunjung datang tiap hari tiap malam saat aku terjaga dari tidurku, saat setelah itu aku disibukan dengan kepenatan pikiran yang tak ingin berhenti.
    Malam ini aku hanya dihibur suara-suara malam dalam irama kematian yang tak berarti, melodinya itu-itu saja, menambahkan kebosananku dan kepenatanku makin pekat, deritaku yang datang malam ini makin lengkap dengan melodi-melodi itu.
    Malam ini, aku terjaga, dan alam pikiranku, menghujat moralitas, membenci teorema, menginjak kesahajaan, persetan dengan itu semua, persetan dengan ini semua.
    Aku tak perduli lagi dengan semua kesahajaan.
    Aku tak perduli lagi dengan etika.
    Aku tak perduli lagi dengan moralitas.
    Aku tak perduli lagi dengan apa kata orang tua-tua.
    Aku ingin membuktikan cinta itu kemedekaan
    Aku ingin membuktikan cinta itu memiliki kekuatan
    Aku ingin membuktikan cinta itu berjuang
    Aku ingin membuktikan cinta ini tulus
    Aku ingin membuktikan cinta itu semegah salib
    Aku ingin membuktikan kepada mereka cinta ini membuat bahagia anak mereka.
    Tapi siapa yang memiliki cinta seperti ini?
    Siapa yang sanggup membuktikan kalau cintanya kuat seperti karang, siapa yang sanggup berjuang demi cinta dan meraih jalan-jalan cinta yang selalu diagungkan para pujanga.
    Mungkin hanya aku yang percaya, kalau cinta itu seperti itu.
    Mungkin hanya aku yang bermimpi hidup bahagia dengan cinta.
    Mungkin hanya aku yang gila berangan cinta itu megah.
    Mungkin hanya aku yang mabuk sementara dunia tidak lagi mempercayai cinta.
    Ah…persetan dengan ini semua.
    Persetan.
    Persetan.
    Setan.
    Persetan.
    Persetan.
    Persetan dengan kesahajaan
    Persetan dengan etika
    Persetan dengan moralitas

    Aku tak dapat kembali terlelap, aku benar-benar melek, dan tak dapat kembali menyerah dengan kantuk, kantuk benar-benar telah meninggalkanku, ia meninggalkanku seperti orang-orang yang kucintai meninggalkanku.
    Seperti orang yang kucintai tak sanggup menghadapi tantangan.
    Seperti orang yang kucintai tak tahu penderitaanku demi cinta ini.
    Seperti orang yang kucintai tak sanggup berdiri kokoh seperti karang.

    Akhirnya deritaku malam ini, membawaku berlutut, melayangkan doa-doa kepada sang Khalik,
    “Sekiranya derita ini lalu daripadaku”.
    Tak ada jawaban dari sang Maha Langit
    “Sekiranya derita ini lalu daripadaku”
    Tak ada jawaban pula dari sang Maha Kasih
    “Sekiranya derita ini lalu daripadaku, bukan karena kehendakku tapi kehendakMu”
    Lalu aku pun melihat simpul senyumNya dan jawabanNya berkata
    “Belum selesai”.
    Dan tak lama kemudian Malaikat-malaikat datang menyapaku.
    Aku beranjak dari tempatku berlutut,
    Aku sadar semua ini belum berakhir,
    Aku sadar perjalanan ini masih panjang,
    Aku sadar bahwa pelajaranku masih teramat panjang.
    Sepertinya penderitan ini memang tak akan berhenti, kecuali atas kehendakNya yang terjadi.
    Dan aku tak punya pilihan lain selain melaluinya.
    Aku hanya hambaNya yang selalu mau dan harus mau mengikui kemauanNya, sekalipun itu perjalanan yang berliku kepada maut.
    Aku melangkah keluar dari kamarku, menatap jauh ke langit gelap tanpa cahaya. Bintang dilangit tersembunyi seperti maling, bintang seakan malu melihatku, ah persetan kataku, aku berandai sekiranya kau disini berdiri, menatap langit, tentu kita akan mengklaim bintang yang ada sebagai milik kita.
    Satu untuk mu, satu untukku, dan selusin untuk anak-anak kita nanti.
    Satu untuk si kecil cantikmu,
    Mungkin satu untuk mereka yang memisahkan kita.
    Mungkin satu untuk mereka yang ingin mengisap sesuatu darimu.
    Lalu aku melayangkan khayalan yang masih belum mungkin.
    Khayalan yang hanya sebatas dalam gambaran alam pikiran.
    Lukisan-lukisan samar yang tergambar dipikiran saja.
    Semua nya masih samar.

    Lalu aku ingat saat kita benar-benar menatap bintang dilangit-langit, saat kita berdua berdiri dibalik bias cahaya merah dan lampu-lampu kota mencium kaca berusaha menyatu dengan kita, ah kita berdua berdiri melihat keindahan itu.
    Dan janji sehidup semati disaksikan Tuhan, dan bias-bias lampu kaca, yah janji itu terucap dibibir kita.
    Betapa agungnya hari itu, kita seolah mendengar lonceng gereja, dan berkat dari pendeta menyertai kita.
    Kita menjadi satu disaksikan oleh bias-bias lamu kaca, disaksikan oleh Sang maha kasih.
    Kita berdua yang saling mencintai tak ingin terpisahkan oleh waktu.
    Tak ingin dipisahkan oleh perpisahan.
    Berharap hanya maut yang memisahkan.
    Gengam tangan kita begitu erat saat itu, begitu kuat tak mau dipisahkan.
    Tapi kenyataan berbicara lain.
    Harapan kita hanya mimpi yang disekat oleh keinginan manusia-manusia picik.
    Harapan kita hanya mimpi yang diceraikan oleh keinginan manusia-manusia picik.
    Yah kita kehilangan harapan yang terpasung oleh kata yang bernama “Takdir”, “Dosa”, “Berbakti” sedangkan Tuhan mentakdirkan kita untuk bertemu…apakah ini bukan kehendakNya?
    Apakah pertemuan kita kehendak Setan?
    Bukan kehendak Tuhan?
    Dan kau menyadari tentang kehidupan yang lebih hidup dibanding kepercayaanmu mengikuti “Takdir” yang bukan kehendak Tuhan.

    Lalu aku berandai seandainya semua ini tak pernah terjadi, mungkin aku akan tetap nyenyak tidur sambil memeluknya erat.
    Aku akan bangun pagi dengan bahagia karena kau disisiku tiap malam.
    Aku akan tersenyum saat secangkir kopi panas disuguhkannya di meja makan.
    Ah ini semua hanya sebuah andai-andai.
    Yah…andai-andai
    Andai sejuta keberaniaan menghingapinya, kau akan berani menolak semua takdir yang ditentukan manusia bukan Tuhan, dan semua ini tak terjadi
    Andai sejuta kemampuan memenuhi pikiranmu, kau akan memikirkan keindahan dalam cinta kita lebih mulia dari semua pemikiran kolot mereka, dan  semua ini tak terjadi
    Andai seribu hari lalu kita saling mengenal, dan dihari ini kebahagiaan menjadi milik kita, dan semua ini tak terjadi.
    Andai tak ada kepicikan dalam pikiran mereka yang memisahkan kita, semua ini tak terjadi.
    Andai kau dilahirkan dengan jiwa seperti aku yang tegar.
    Andai kau diciptakan dengan pemikiran seperti aku yang kokoh.
    Ah itu hanya andai-andai.
    Ah itu hanya kemungkinan dibalik rahasia Ilahi.
    Ah aku tak tahu lagi apa yang aku pikirkan selain semua pikiranku baru saja.
    Malam ini begitu berat.
    Malam ini begitu sunyi.
    Penat terasa berat, waktu terasa panjang, siksaan ku belum berakhir.
    Pagi belum mengakhirnya.
    Lalu ku ingat katamu
    “Sayang aku mencintai mu, kenapa Tuhan tak mempertemukan kita dulu?”
    Aku terdiam, lalu berkata “Kenapa kau menyalahkan Tuhan yang mempertemukan kita sekarang, seharusnya kau melihat jalan Tuhan, untuk mengikutinya disaat sekarang”.
    “Kenapa sayang bukan dari dulu?”
    Aku terdiam, lalu berkata “Lihatlah yang ada sekarang, apakah kau ingin mengambil jalan yang salah dulu?”
    Ia terdiam, tak dapat berbuat apa-apa.
    Ia terdiam, mematung takut dengan sesuatu yang  tak perlu ditakuti.
    Aku hanya takut akan Tuhan.
    Ia takut kepada sesuatu yang bukan Tuhan.
    Aku hanya takut kepada Tuhan.
    Aku hanya takut jika cinta ini rupanya benar-benar mulia,dan kita menyia-nyiakannya.

    Nada pertanyaan itu seolah menyalahkanNya, Tuhan tak pantas disalahkan, Tuhan selalu punya maksud dibalik ini semua, tapi apa yang bisa dilakukan Tuhan? Saat anak manusia yang saling mencintai dipisahkan oleh mereka yang berlaku seperti “tuhan”.
    Ah siapa Tuhan mereka?
    Ah…mungkin ini semua tentang uang? Bukan Tuhan
    Ah…mungkin ini semua hanya masalah urusan harta? Bukan kehendak Tuhan
    Ah…mungkin juga ini semua urusan nama baik yang harus dipertahankan.? Sekali lagi tak ada Tuhan disana.
    Ah…bisa jadi ini urusan membayar jasa bakti bagi utang-utang kita dilahirkan ke dunia. ? Sekali lagi tak ada Tuahn disini.
    Picik dan benar-benar picek
    Ah…persetan dengan ini semua, persetan dengan itu semua, lalu aku melayangkan ingatanku, saat kugengam tangannya erat, dan kita berbicara tentang mimpi-mimpi yang tak menjadi nyata.
    Mimpi tentang rumah yang akan kita bangun.
    Mimpi tentang anak-anak yang akan kita didik.
    Mimpi sejuta mimpi yang sekarang hanya debu tanpa arti dalam ingatan yang penuh dan sarat dengan pertanyaan “bagaimana membuat mu sadar keluar dari lubang maut itu?”.
    Ah…tolol, kenapa harus kau pilih jalan itu?
    Ah…bodoh, kenapa harus kau hidup tanpa cinta?
    Ah…kenapa kau tak berjuang demi cinta kita?
    Ah…kenapa kau tak jadi saja bahagia dengan hidup bersamanya?
    Ah…persetan
    Lalu aku ingat katamu
    “Sayang, aku  tak bisa meninggalkan mereka”.
    Aku hanya terdiam, aku yang menghujat semua kesahajaan tiba-tiba diam, aku punya hati yang selalu aku ikuti, tak ada keinginanku, meraih cinta dengan mengorbankan orang lain, tetapi persetan dengan orang lain, apa lagi mereka yang sesunguhnya picik dan tolol mengorbankan orang yang dicintainya kedalam jalan yang salah.
    Ah…persetan dengan mereka, karena mereka telah menjadi Tuhan dengan mengharamkan cinta kita.
    Ah…persetan dengan mereka, anak-anak setan.
    Sedangkan aku juga dianggap oleh mereka sebagai anak setan.
    Ampuni mereka Tuhan, mereka tak tahu yang mereka lakukan, jika benar aku perusak kebahagiaan mereka, kenapa malam ini aku tersiksa dengan cinta yang ada didalamku?
    Bukankah aku yang tidak nyenyak tidur dan tersiksa
    Bukankah aku yang tak dapat makan dengan lahap karena cinta
    Pantaskah aku disebut anak setan?
    Jika aku mengorbankan diriku bagi mereka yang memisahkan cinta kita?
    Bodoh cara pikir mereka.
    Picik…picik benar…
    Picik dan benar-benar picek

    Lalu aku menangis, saat aku ingat kata-katamu
    “Sayang tahukah kau, jika telunjuk mereka tertuju padaku, aku seperti diadili”.
    Kenapa aku tak disana, berdiri didepan telunjuk mereka dan mematahkannya, berkata kepada mereka “Tuhan mana yang kalian puja, hingga kalian tak memiliki cinta”.
    Fakta dan kebenaran telah diputar balik.
    Benar jadi salah, salah jadi benar.
    Hati mereka dipenuhi motivasi yang tak bersih.
    Tetapi mereka mencuci tangan mereka seolah mereka suci.
    Aku berfikir, kenapa tidak kita benarkan saja perkataan mereka dengan perbuatan kita.
    Bahwa kita telah menyatukan daging kita, membasahi tubuh kita dengan keringat.
    Padahal, apa yang telah kita perbuat? Apakah demikian?
    Tetapi kata mereka, bahwa kita telah menyatukan daging kita dan membasahi tubuh kita dengan keringat.
    Ah persetan kataku, fakta dan kebenaran telah diputar balik, benar jadi salah, salah jadi benar. Hati mereka dipenuhi motivasi yang tak bersih.
    Aku bukan Tuhan, tetapi mereka benar-benar telah menjadi Tuhan dengan mengajukan tuduhan, sayangnya tuduhan mereka tanpa kebenaran.
    Malam makin gelap, aku behenti menatap langit, aku berhenti berfikir, aku berharap aku kembali pulang ketangan Ilahi.
    Penyiksaan malam ini belum selesai, nadaku yang marah seolah lelah.
    Tapi kepalan tanganku tetap keras,
    Semuanya belum selesai, kepicikan belum berakhir
    Dan malam itu aku ingin menyudahi nyawaku, menyudahi keterjagaanku sambil berkata.
    “Aku ada, dengan atau tanpamu, aku akan tetap merevolusi kehidupan, membumi hanguskan pemikiran tentang cinta yang salah”.
    “Persetan, persetan, persetan, ini saatnya mati syahid bagi kehidupan yang bebas”.
    Lalu aku pun menutup mata, rohku pergi, kesadaranku diam…dan sekali lagi aku pun menutup mata. Aku siap mati syahid bagi cinta.

 

20/4/2009 – 5/5/2009
Markus AP

  • Share/Bookmark

Leave a Comment

Top Commentators
Twitter Updates
    News
    • 8:48 am, March 21, 2010
      22 Maret 2010, Realase eBook "What's In My Mind" yang dapat diakses bebas dan didownload bebas
      From: Marcus

    • 8:46 am, March 21, 2010
      23 Maret 2010, Markus Manifesto memperingati 6 tahun perjalanan, “6th Anniversary, 6 year journey telling you the truth”, kami mengucapkan terima kasih kepada pembaca setia kami, yang selama ini telah menyertai perjalanan kami.
      From: Marcus

    Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.