The Judas Kiss
“Now he that betrayed him gave them a sign, saying, whomsoever I shall kiss, that same is he: hold him fast, and forthwith he came to Jesus, and said Hail, master and kiss him”. Matthew 26: 48-49 (Version King James Bible)
Bibir!, entah dibuat untuk apa oleh Tuhan, apakah untuk mencium?, apakah untuk mencaci maki?, mengeluarkan kata kotor, merasai makanan enak atau untuk melumat dan menikmati yang enak-enak, enak anggapan bagi mereka yang sering bercinta.
Tapi yang aku hanya suka satu fungsi kalau bibir dipakai untuk mencium, tak enak dipakai untuk mencaci, apa lagi melumat sesuatu yang aromanya kayak pasar ikan…ih…menjijikan…tapi enak!, nikmat, mengelora, nakal, shit…forgot it about that!
Bibir!, bibir tebal, bibir tipis, bibir kecil, bibir doer, berapa banyak bibir dan jenis bibir di dunia ini, aku tak tahu berapa jenisnya, tetapi sebagian besar aku tau rasanya, saat bibir itu menyentuh kulit tebal halus dipipiku dengan intensi kangen, atau saat bibir itu menyentuh kening dengan perasaan kagum dan sayang, tapi yang lebih terasa saat bibir itu menyentuh bibirku yang tipis kering karena rokok, sensasi sayang, sensasi cinta, sensasi kepalsuaan dapat terasa saat itu…sensasi yang harusnya menjadi tanda…bahwa cinta ada atau yang ada hanyalah kebohongan!
Pagi itu dia sudah bangun lebih pagi dariku, mengecup keningku dan berkata
“Sayang, bangun, aku mau ke mall dulu setelah itu ke kantor, bangun sayang, bangun bukankah kamu mau kekantor juga”.
Aku membuka sedikit mataku aku melihat tubuhnya yang dibalut handuk tebal, dan rambutnya yang masih basah duduk disampingku.
Setiap pagi kecupan dikeningku seperti sebuah ritual yang biasa dilakukannya, bisa jadi relfeks, tetapi seperti biasa ia menciumku…ciuman cinta, ciuman mesra, ciuman ritual, ciuman tanpa arti, atau bisa jadi ciuman penghianatan…entah lah.
Karena ciuman itu pun aku berkata
“Hmmmm, iya, iya…, ya udah sana, aku masih ngantuk”
Yah aku masih ngantuk, nyawaku belum ngumpul benar, atau karena aku memang ingin tidur lagi, sebab lelah kerja keras semalam…, ciumannya lagi-lagi menghujani kening, kepala, pipiku, leherku, seperti serangan senapan mesin yang tak habis pelurunya, terus dan terus…tak berapa lama kemudian akhirnya aku menyerah, kalah, mati, mati kutu, tapi apa boleh buat aku harus bangun dan aku pun memaksakan diri untuk bangun, karena cahaya matahari pun mencium mataku dengan menembus jendela apartemenku.
“Tuh coffe dimeja” katanya
“Thank u sweetheart…” kataku
“Aku berangkat dulu ya” sambil mencium bibirku yang masih lengket dengan aroma kopi, yang dibuatnya pagi itu.
Saat itu, aku merasakan sensasi yang aku sudah hafal benar, tetapi aku menampiknya selalu.
Aku hanya berfikir “ciuman lagi ciuman lagi”…ia hoby menciumku, atau seperti yang ku bilang, hanya ritual kemesraan, bisa jadi penghianataan…bukankah ada dalam sejarah, kalau Isa harus dicium oleh muridnya Yudas sebelum ia dihianati…lalu disalib.
Berapa banyak wanita mencium bibirku diranjangku, akhirnya aku menemukan mereka tidur diranjang bukan milikku… Sialan…aku jadi eneg dengan ciuman, jadi benci dengan ciuman, karena seketika ciumannya menyergapku, aku jadi takut, kalau itu ciuman terakhirnya, sebelum ia tidur dengan laki-laki atau wanita lain…shit…entah lah.
Aku tak ingin dihinati, aku tak ingin disalib.
Apa lagi dibunuh, cintaku dibunuh…no way!
Tapi sekalipun aku tau rasanya, siapa yang bisa menyatakan kalau ciuman yang ini benar-benar tulus, dan yang itu tidak? Tak ada yang tahu, tetapi Isa tau sebelum dia dicium dan dihinatai.
Aku? Entahlah, aku selalu menampiknya dengan kata
“Ciuman lagi, ciuman lagi…”
Lalu ia pun melangkah pergi melalui pintu kayu yang terkunci dari dalam, yang tersisa hanya aroma parfumnya yang masih segar tertinggal diruangan kamar ku.
Ruangan jadi sepi, aku pun membuka jendela kamar, tak lama suara handphone ku berbunyi…
Tulisan namanya, Kay muncul dilayar handphoneku,
“Ya sayang?” kataku, menjawab panggilan itu
“Sayang, aku harus pulang agak malam kayaknya”,
“Hmmm, kemana?”
“Aku baru saja ditelfon ada hal penting nanti malam dikantor, harus menemui client”
“Oh ok, let me know kalau kamu perlu di jemput”.
“Ga usah sayang, nanti aku kabari lagi” katanya…
Pembicaraan pun berakhir, tak lama kemudian handphoneku pun berdering lagi…kali ini bukan Kay, tapi Jonny supirku dan juga ajudanku.
“Boss, Nona Kay baru saja keluar, seperti biasa boss?”
“Lakukan, kawal dia, jangan terlalu ketat”, kataku
Setelah itupun aku masuk ke kamar mandi dan mandi, satu setengah jam kemudian aku sudah ada diruangan kantorku di bilangan sudirman.
***
Jam sudah menunjukan jam 12 siang, aku masih berkutat dengan catatan dan analisa bisnis yang berada didalam file di laptopku, beberapa meeting aku batalkan hari ini, aku tak bersemangat hari ini, rasanya lelah, pikiran penat, badan yang loyo, mungkin karena semalam dan banyak lagi yang harus kupikirkan, tak lama sebuah sms masuk bertuliskan…
“Sayang sudah makan siang, jangan lupa makan siang ya…”
Aku tersenyum membaca sms itu, tak lama kemudian aku menelfonnya kembali, terdengar nada sambung nya beberapa kali, tapi ia tak mengangkat handphonenya, aku mencobanya lagi, sampai beberapa kali, ia tetap tak mengangkat handphonenya…
“Kemana sih…sialan, handphonenya ga diangkat”, keluhku
Tak lama nomor lain yang kukenalpun menghubungiku…
“Ya Jon…”, aku pun mendengarkan penuturannya yang panjang lebar, lalu aku terdiam, terdiam mendengar beritanya yang tentu tak pernah aku harapkan…
Setelah terputus pembicaraan itu, aku pun menutup laptop yang masih menyala, menyandarkan diriku ke bangku yang kududuki, menekan kepalaku ke sandaran, memejamkan mata, rasanya ingin menangis…rasanya ingin marah…rasanya aku ingin mengangkat telfon dan memerintahkan sebuah perintah, yang akan mengakhiri semua ini.
Tapi kalau itu terjadi, aku bodoh, aku tolol, aku tak ingin menghancurkan sesuatu yang aku miliki, demi urusan cinta…
Aku menyandarkan kepalaku, lalu mengangkat telfon yang ada disampingku, dan berkata…
“San…tahan semua telfon, bilang saya lagi keluar”.
Aku meminta sekertarisku untuk menahan semua telfon yang masuk, agar aku punya waktu untuk mengepal-ngepal tanganku, menekankan kepalaku ke bangku, menahan amarah juga sedihku didalam.
Inikah puncak pristiwa dari pertanda yang selalu aku hiraukan, aku selalu menghiraukan sensasi itu, dan lihat apa yang terjadi, semua sudah terjadi.
Aku pun berdiri, membuka laciku, mengambil pistol yang ada didalam laci dan menyelipkannya dibelakang pingangku, lalu mengenakan jas yang aku pakai selalu, lalu keluar dari ruanganku, sambil berkata
“San…saya pulang dulu, kamu bisa pulang lebih awal, pesankan tiket ke Singapore, untuk besok pagi, saya akan keluar negeri beberapa saat…”.
Aku mengarahkan mobilku ke sebuah pusat perbelanjaan bilangan bunderan Hotel Indonesia, melangkahkan kaki ke sebuah butik permata yang menjadi langananku, untuk mengambil pesanan yang sudah ku pesan beberapa minggu lalu, selesai menghabiskan uang untuk sebuah cincin kecil bermata berlian, aku segera mengarahkan mobilku kembali ke apartemenku, Jakarta macet hari itu, jakarta menyebalkan hari itu, hari itu benar-benar menyebalkan, aku menahan nafas, menahan sesak didalam, aku menahan amarahku, kesalku, yang mungkin nanti menjadi bara yang membakar…entah lah.
***
Hari sudah gelap, sudah menunjukan waktu jam sepuluh malam, aku duduk menghadap jendela, melihat bulan yang bertenger dilangit yang cerah, beberapa bintang samar-samar bersinar, seperti sedang meledek aku, ya meledek aku yang bodoh, tapi aku tetap tenang hari itu, tak lama kemudian suara kunci masuk kelubang kunci pintu, lalu terdengar derit pintu yang terbuka, dan langkah kaki perlahan masuk, ke arah kamar, mungkin ia menduga aku sudah tidur.
Ia tak melihat aku yang duduk di dekat jendela, karena memang ruangan begitu gelap, hanya lampu kecil yang ada diruang santai yang menyala.
“Baru pulang?”
“Belum tidur sayang, kamu ngagetin aku aja”
Ia pun menghampiriku, meletakkan tasnya diatas meja kaca didekat pintu masuk kamar, lalu ia memelukku, lalu mengulangi kata yang sama.
“Belum tidur sayang…”
Aku terdiam.
“Banyak masalah dikantor…?”
Aku pun terdiam, ia begitu santai bertanya lagi kepadaku
“Sudah makan malam…”
“Sudah” kataku, padahal sejak siang aku belum makan apapun.
Aku mengendurkan pelukannya yang erat, lalu memundurkan sedikit badanku agar aku bisa memandang matanya, memandang bibirnya, aku tak dapat, cahaya kecil yang menerangi dari sudut ruangan membuat siluet hitam wajahnya, hanya cahaya dari bulan dari jendela yang terbuka yang memberikan sedikit cahaya dari depan.
Seketika, bibir ini sudah menyatu dengan bibirnya, entah refleks, atau ritual, kali ini aku ingin memastikan bahwa aku tak lagi menampik pertanda itu dengan pikiran-pikiran positifku…ya kali ini aku tak menampiknya.
Kay mencoba melepaskan diri dari ciuman itu, membebaskan diri dari pelukanku yang makin rapat, ia memegang tanganku sambil perlahan menuntunku ke arah kamar.
“Besok aku berangkat ke Singapore”, kataku
Ia terdiam, tetap perlahan menuntunku ke arah kamar, tak seberapa lama tubuhnya sudah berada diatasku, malam itu kita bercinta, entah berapa lama, entah berapa kali, malam itu kita bercinta, entah besok, entah lusa, malam itu aku menciumnya, tapi besok siapa lagi yang kucium.
***
Pagi sudah tiba, aku pun bangun kali ini lebih awal, aku harus berangkat ke Singapore sebelum terlambat, aku mencium keningnya lalu bibirnya…
“Ahhh sayang, aku masih mau tidur…” katanya
“Tidurlah…” kataku, lalu aku mengirim pesan singkat yang ku alamatkan ke sebuah nomor yang bukan nomor lokal, lalu meletakan sebuah catatan di meja sebelah tempat tidurku.
Lalu aku kembali menciumnya di keningnya…
“Aku harus berangkat…”
Aku pun meninggalkan apartemenku tanpa perasaan apapun, tanpa harapan apapun, yang kuinginkan adalah pergi dari kepenatan ini, sejam kemudian aku sudah mendarat di Singapore.
Seorang wanita cantik mengenakan rok panjang satin hitam, bercorak bunga dibawahnya, ia melambaikan tangannya kearah ku, aku pun terseyum ke arahnya.
Aku langsung memeluknya
“Aku langsung menjemputmu setelah menerima sms mu tadi pagi”
“Thank U, kubawakan sesuatu untukmu” kataku
“I LOVE U, darling”
Aku pun tersenyum, lalu ia menciumku di pipi, kemudian dibibirku, kali ini aku tak mau menampik rasa apapun yang muncul, kali ini aku rasakan sesuatu yang berbeda, tapi bagaimana dengan rasaku, aku tak perduli lagi apa yang kurasakan.
9/10/2008 – 12/10/2008 10:42 AM
Markus AP


Everybody call him Marks, peoples say he is outgoing, caring, nice, cool, gentleman, humble, straight to the point, sometime he so quite, relegius, Intelligent, thinkers, honest, Confident, social butterfly, helpful & friendly. He always said : ‘Im still learn many thing in this life, Im not PERFECT person, Im not SUPER, or im not done in this life, especially with my self, so don’t expect too much, I just being my self. I just being what God want me to be.. In my life i just make everything simple, my life is to love, doing the best for me and another. “Hey life is not easy but make it simple”.








12 Responses to “The Judas Kiss (cerpen)”