One More Night
Malam itu aku sendiri di apartemenku, apartemen yang luas menjadi tempat tinggalku sekaligus studio tempatku melukis dan memotret, apartemen ini lebih lebih mirip gudang tua bangunan arsitektur 30an dengan dinding bata merah yang dominan dan jendelanya yang besar.
Malam itu cahaya bulan yang malu-malu tertutup awan menyelinap masuk lewat jendela yang besar itu, begitu pula cahaya billboard besar iklan sebuah beer, juga gemerlap lampu-lampu kota New York, Cahaya-cahaya dari bermacam sumber tadi berkumpul didalam apartemenku. Seperti sedang menghadiri perhelatan besar.
Atau sedang menyaksikan sebuah pertunjukan pangung yang penuh kesedihan, seperti opera Les Missrable di Broadway.
Tapi aku tak perduli dengan pertemuan cahaya-cahaya tadi.
Aku tak perduli apa mereka sedang mencemooh performance ku yang buruk.
Karena aku sedari tadi gayaku hanya menatap ke lantai apartemenku.
Yah lantai apartemenku!
Lantai apartemenku yang kotak-kotak seperti papan catur seolah membuatku ada dalam sebuah permainan cinta yang menegangkan, strategi yang salah, strategi yang benar.
“Apa langkah selanjutnya” tanyaku dalam benak.
Dalam setiap langkah seperti perhitungan yang tak boleh salah, yah benar aku seolah menjadi bidak dalam papan catur, terus memutar otak memperkirakan apa yang terjadi kemudian, tetapi sesunguhnya aku duduk disebuah bangku kayu sambil mengepalkan tanganku dan menunduk, menatap ke sebuah telfon yang ku letakkan dilantai, tidak seperti sedang berfikir.
Aku menanti sesuatu?
Aku memikirkan langkah berikutnya?
Aku tetap menatap ke telfon itu, aku sepertinya ingin bergerak meraih telfon itu dan memutar sebuah nomor, tetapi tak kulakukan, aku sepertinya ingin mengharap sesuatu, seperti mau melakukan sesuatu. Tetapi kenapa tak bergerak?
Kenapa harus bergerak?
Kenapa tak melangkah?
Kenapa harus melangkah?
Kenapa tak melakukan sesuatu?
Kenapa harus melakukan sesuatu?
Kenapa tak berharap?
Kenapa harus berharap?
“Pusingggggggg” aku tak tahu apa yang akan kupikirkan lagi.
Yah aku tak melakukan apapun, tetapi seperti menanti hukuman mati, gelisah, detak jantung bergerak cepat, kaki tanganku dingin, kaki tanganku berkeringat, sedang hawa diluar juga didalam apartemenku memang dingin.
Lalu aku berdiri berputar-putar pada tempat yang sama, mondar-mandir, kesana-kemari, kemari kesana, kesana kemari, kemari kesana.
Aku menyalakan rokok, melepaskan asapnya kedalam lalu keluar, membiarkannya bebas memenuhi ruangan dengan asap yang menyesakkan, menambah kesesakan didalam, dengan rokok aku mencoba menghentikan putaran-putaran otak yang sedari tadi sedang mencari sesuatu.
Yah aku tetap berputar-putar, berputar memutar otak mencari sesuatu, mencari jawaban, mencari cara apa yang aku harus lakukan.
Aku harus bicara apa?
Aku harus mengungkapkan apa?
Mengungkapkan isi hati?
Sedang semua isi hati sudah tercurah, apa lagi?
Itupun jika aku harus mengangkat telfon itu dan memutar sebuah nomor.
Tapi aku tak melakukan apa-apa, selain berharap, lalu kenapa berharap, masihkah ada harapan, masihkan ada kesempatan, kesempatan satu kali saja, mungkin? Mungkin juga tidak!
Detak detik waktu terus bejalan, malam makin gelap sejalan waktu, bulan pun makin lama makin tertutup awan, aku tetap menanti waktu-waktu terlewati begitu saja, menanti aku mendapat jawaban, menanti aku menemukan cara untuk aku bergerak melakukan sesuatu, melakukan sesuatu untuk menyelamatkanku, atau bergerak melepaskan semua kegelisaan itu, bergerak lari melarikan diri dari semua yang tak enak ini.
Sesunguhnya aku menanti ia menelfonku, aku berharap telfon itu berdering, telfon itu mengeluarkan suaranya yang manis, bukan suaranya yang sinis.
Aku berharap suara tadi berkata sesuatu yang mengugah hatiku.
“I Miss You”
Atau
“How are you?”
Dan aku menjawab
“I Miss You too”
Atau, sesuatu yang lebih terus terang, sedangkan ia sudah sering mendengarnya
“I’ve been trying ooh so long to let you know Let you know how I feel”
Tetapi siapa yang bisa mengharapkan hal itu ditengah kegelisahanku yang memuncak, detak jantung bergerak cepat, kaki tanganku dingin, sedang hawa diluar apartemenku memang dingin, begitu pula didalam.
Aku diam, aku kelu, seperti tak sangup bicara, mungkin jika benar telfon itu berdering, dan ia menelfonku, mungkin aku akan mengungkapkan “How much I miss you, and how much I love u“ tetapi mungkin saja aku akan kelu benar-benar mematung diam membatu, tak bisa mengungkapkan apapun.
Lalu harapanku untuk bicarapun luntur, aku hanya berharap ia tahu kalau kegelisahanku yang memuncak, detak jantung bergerak cepat, kaki tanganku dingin, sedang hawa diluar apartemenku memang dingin, begitu pula didalam.
Aku hanya berharap sebuah kesempatan.
Aku hanya berharap sebuah mujizat.
Tetapi harapan terhenti sejalan waktu, kepalaku makin penat, harapan itu itu hilang besama penat, aku tak lagi ingin bergerak, aku tak lagi ingin beharap.
Semoga jika harapan itu ada, dan itupun jika.
I know there’ll never be a time you’ll ever feel the same
And I know it’s only words
But if you change your mind you know that I’ll be here
And maybe we both can learn
Waktu berjalan terus, malam makin malam, aku terlelap semoga hilang semua yang aku harapkan.
13/10/2008 12:04 AM
Markus AP
Catatan : Inspirasi tulisan dari lyric One More Night oleh Phil Collins
One More Night
One more night, one more night
I’ve been trying ooh so long to let you know
Let you know how I feel
And if I stumble if I fall, just help me back
So I can make you see
Please give me one more night, give me one more night
One more night cos I can’t wait forever
Give me just one more night, oh just one more night
Oh one more night cos I can’t wait forever
I’ve been sitting here so long
Wasting time, just staring at the phone
And I was wondering should I call you
Then I thought maybe you’re not alone
Please give me one more night, give me just one more night
Oh one more night, cos I can’t wait forever
Please give me one more night, ooh just one more night
Oh one more night, cos I can’t wait forever
Give me one more night, give me just one more night
Ooh one more night, cos I can’t wait forever
Like a river to the sea
I will always be with you
And if you sail away
I will follow you
Give me one more night, give me just one more night
Oh one more night, cos I can’t wait forever
I know there’ll never be a time you’ll ever feel the same
And I know it’s only words
But if you change your mind you know that I’ll be here
And maybe we both can learn
Give me just one more night, give me just one more night
Ooh one more night, cos I can’t wait forever
Give me just one more night, give me just one more night
Ooh one more night, cos I can’t wait forever



Similar/Related Posts