Inisialnya “M”
Namanya Martin, itulah nama suamiku, bapak dari anakku, selama tujuh tahun pernikahaan kami, nama suamiku tetap sama, “Martin”, lebih terdengar seperti “martil”, atau “martir”, ya martir, martir yang mati buat aku, bukan buat Tuhan, ia cinta mati kepadaku, siapa yang menduga ada pria bisa cinta mati kepadaku.
Ku kira pria itu hanya mau mencari kesenangannya saja, ku pikir pria itu tak bisa setia, ku pikir pria hanya mau tidur saja denganku, ku pikir pria tak bisa diajak serius, apa lagi kawin, eh maksudku nikah…tetapi rupanya ada pria yang tidak seperti itu. Namanya Martin, nama suamiku, bapak dari anakku, selama tujuh tahun pernikahaan kami.
Selama tujuh tahun nama itu tidak pernah berubah.
Aku mengingat bagaimana aku menemukannya, kata “menemukan” kesannya terlalu kasar, kayak memungut sesuatu aja di tempat sampah.
Yah bukankah hidup tidak menyenangkan seperti bau sampah, tapi aku menemukannya, walau aku hampir lupa banyak hal yang kita lakukan saat pertama kali kita berhubungan.
Aku lupa kapan pertama kami nonton bersama, pertama kami makan malam bersama, pertama kali ia menciumku, pertama kali ia melamarku, tapi heran ia ingat semua itu, bahkan ia ingat film apa yang kita tonton, dan bagaimana ia menciumku pertama kali…
“pertama kali, di mobil” itu katanya. Bahkan ia ingat bagaimana perasaanya saat menciumku, sedang aku lupa rasanya seperti apa! Huh…
Sedang yang ku ingat cuma aku bertemu nya ini disebuah pesta ulang tahun teman, ia memandangiku terus-terusan, ia masih ingat hal itu pula, ia bilang saat sekarang, mungkin itu “love at first sight” katanya, “ah bullshit, gombal” kataku, aku tak percaya itu.
Tapi itulah Martin ia punya cukup keberaniaan untuk berkenalan denganku, berani meminta nomor telfonku, bahkan dalam sepuluh hari ia berani menyatakan hatinya padaku…”Gila…” benar-benar gila, koq ada pria kayak gini ya!!!
Sedang aku? Aku hampir tak percaya padanya, aku tak percaya pada pria lagi.
Bagaimana mungkin ada pria seperti Martin, sedangkan seorang yang ku nikahi selama setahun setengah saja, harus ku ceraikan karena ia selingkuh.
Ngakunya selalu rapat, gak taunya selalu rapet, sedang aku berusaha jadi istri yang baik yang selalu nurut pada suami, harus manut kata orang jawa.
Nyatanya!!!? Nurut, pernikahanku mawut-mawut!
Dan sialnya semua itu ketahuan belangnya setelah menikah.
Untung aku tak dikarunia seorang anak pun dan aku tak perlu dilema anak-anakku tak punya bapak.
Pantas pula untuk mengucapkan kalimat “Mau kah kau menikahiku” butuh waktu lama dan segan-segan ia lakukan.
Apa tak cukup pacaran tiga tahun membuatnya menyatu, sedang puluhan-puluhan kali kita sering menyatu…manis-manis kucing saat ingin apa yang ia mau, sedangkan ia tak tahu aku mencintainya begitu dalam, maka ku berikan apapun yang ia mau.
Apa tak cukup cinta dalam hatinya hingga ia harus selingkuh! Ah sialan, aku sekarang nampak bodoh, nampak tak berarti saat aku melihat ada pria seperti Martin.
Tetapi berbeda dengan Martin, tak sulit kalimat “Mau kah kau menikahiku?” keluar dari mulutnya, ia tak perlu di ajar, ia tahu apa yang dilakukannya, ia tak perlu down payment untuk melakukan itu, dan tak butuh waktu lama ia katakan itu, yah hanya enam bulan, “Gila”.
Tau kah apa yang aku katakan saat ia mengatakan akan menikahiku.
Aku diam, bengong, tak tau harus bicara apa, aku tak tau apa aku mencintainya?
Atau jawabanku dengan angukan kepala itu hanya sepontanitas atau aku memang harus menikah lagi, untuk membalas semua yang dilakukan mantan suamiku!, Membalas semua yang dilakukan laki-laki, maksudku seorang lelaki! Dengan cara membuktikan kalau aku pun bisa menikah lagi!
Dan kemudian aku tak terdiam lagi, tak lama kemudian aku mencoba beralasan.
“Tapi aku ini kan jan …” belum selesai aku bicara ia menutup mulutku dengan kedua jari nya, dan berkata
“Jangan katakan itu, aku menerima mu apa adanya dari sejak awal aku tahu semuanya tentang kamu…I LOVE U, I LOVE SO MUCH.”
“Gila” pikirku, aku mau pingsan , aku mau melayang, apa aku bermimpi!, tapi aku mau tau apa semua itu tidak gombal!! Tak habis pikir ada pria bernama Martin, suamiku kini.
Kenapa ia mau menikahiku?
Kenapa ia tak menikah saja dengan seorang gadis? Bukan aku.
Kenapa aku tak pergi saja, agar ia melupakan aku!, Ia tak melupakan aku.
Tetapi kami telah menikah, walau pertanyaan itu masih sering muncul dalam benakku, harusnya aku bersyukur, harus kah aku bersyukur?, sedang aku tak percaya kalau Tuhan itu ada, sebab jika Tuhan ada kenapa aku harus melalui hal yang buruk dulu dan kali ini aku mendapatkan seorang pria sebaik Martin, suamiku sekarang!
Martin yang mencintaiku, buktinya ia mencintaiku sampai mati katanya, sampai ia terus menyalahkan dirinya jika ia membuatku ngambek, yah ia mencintaiku.
Martin yang romantis, ia romantis, bukan rokok makan gratis, buktinya saat liburan panjang di Bali, ia menyelinap keluar kamar, bangun lebih pagi, lalu membuatkan sarapan untukku yang rasanya huhh lumayan, menyajikannya diatas nampan dan sebuah rose diatasnya. “Sayang bangun” katanya, sambil mengecupku di kening…
“Aku kelelahan setelah semalam” kataku
“Sarapan sayang” katanya sambil tersenyum, aku tersenyum kaget dengan apa yang dilakukannya.
“I love you sweetheart” katanya lagi. Sunguh itu bulan madu ke tujuh yang luar biasa romantisnya…aku hampir tak percaya hal-hal romantis rupanya masih aja ada!
Martin yang hot, dalam bercinta ia pria paling hot, ia tau bagaimana memuaskan istrinya dibanding kepuasannya sendiri.
Martin yang mendengarkanku saat ibu mengatakan sesuatu yang tak enak tentang aku, karena telah membuatnya malu, karena bercerai dengan suamiku yang dulu, tapi martin mendengarkanku dan memelukku saat aku menangis di pundaknya.
Martin yang begitu tegas, juga rapuh, selalu menceritakan masalahnya dikantor kepadaku, aku seolah jadi sahabatnya untuk berbagi.
Martin yang begitu bertangung jawab, tak lupa mentransfer gajinya setia bulan.
Martin yang bisa mengurus popok anaknya, menyuapi si kecil saat aku lagi jengah dengan pekerjaan rumah
Martin yang tak pernah lupa mengecup kening istrinya, aku, saat ia ingin tidur malam.
Martin yang tak pernah lupa hari ulang tahunku.
Martin yang mengandeng tanganku erat, saat kita berdua berjalan-jalan di Mall
Martin yang selalu memuji masakanku, walau keasinan
Martin yang begitu setia, walau aku sering curiga kalau ia berkata “sayang aku pulang agak telat nanti, ada meeting dengan client”, tetapi ia tetap bisa meng sms atau menelfonku disaat itu, tanpa mematikan handphonenya disaat apapun…
Tetapi jika ia benar-benar sibuk dan aku marah-marah jika ia tak menjawab telfonku, ia menjawabku dengan tenang “Sayang, I call u back, sorry, aku lagi benar-benar ga bisa telfon kamu, jangan marah ya!!!”.
Dan aku hanya diam, malu, percaya, mungkin juga bangga!
Martin yang…
Martin yang…
Martin yang sayang…
Bagaimana dengan aku?, entahlah, “Did I love him?” “Why he love me?” “I don’t know!”, seharusnya aku bersyukur, ini anugrah, yah aku pun bertanya apa ini anugrah?.
Apa benar Tuhan ada, Tuhan mengirimkan malaikatnya, kepadaku!!!??? Aku tak tahu!
Sedang yang ku tahu, aku lebih sering merasa tak pantas buat pria sebaik itu, ia terlalu baik, terlalu sempurna! Aku sering kali tersenyum bahagia, juga menangis didalam sini.
Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang…
“Sedang apa sayang?, sedang menulis sesuatu ya?, wah istriku rupanya belajar menulis, wah aku punya saingan nihhhh hheheh”…
Aku menutup laptopku,
“Ngak koq…aku kan sedang main internet”
“Oh ya, iya dehhhh yang lagi main internet…”
Aku terdiam…
“Sayang, ingat gak apa yang pernah aku kirim kan ke kamu pertama kali pada saat kita pacaran dulu?”
“Apa?”
“Apa hayo”
“Puisi?”
“Yup, ingat isinya?”
“Masih ada koq di handphone ku, gara-gara itu, aku ga pernah ganti handphone”
“Hahahhaha, lalu ingat isinya?”
“Hmmm lupa”
“Oh…ah kamu mah pelupa…ya sudah…aku ngantuk nih, aku bobo dulu ya…jangan malam-malam tidurnya, I don’t like sleep alone”
“Iya…”
Ia pun melepaskan pelukannya, meninggalkan aku sendiri dimeja belajar, aku membuka laptopku kembali, terdiam, mencoba mengingat puisi itu?, agak-agak ingat, tetapi yang ku ingat, ada inisial M diakhir puisinya, yah aku ingat ia memberikan inisialnya “M” diakhir puisinya.
4/10/2008 – 6/10/2008 11:40 PM
Markus AP


Similar/Related Posts