Cinta Lontong Sayur
Bedug mahrib masih jauh, masih ada jedah waktu mengejar jarak pulang kerumah, aku mengejar cinta yang ada dirumah, mengejar kehangatan kasih sayang yang semua orang tak punyai, hari ini aku pulang lebih awal semasa bulan puasa, kantor memulangkan karyawannya lebih cepat dari biasanya, tetapi aku tetap sampai rumah hanya beda sedikit dari biasanya, setelah sampai dirumah aku pun membuka pintu garasi memasukan mobil, lalu lewat pintu garasi aku masuk kedalam rumah.
Hari itu ia tak mengecup keningku seperti kebiasaanya setiap hari, tetapi aku paham, apa yang dilakukannya bukan kelaliaan, tetapi karena alasan menahan nafsu yang ia harus jalani sepanjang bulan itu saja.
“Baru pulang mas”, katanya dengan senyum menawan
“Iya seharusnya pulang lebih awal, tetapi macet dijalan, jalan dekat stasiun dipenuhi pedagang dadakan, biasa…”
“Iya aku tau…, lapar mas?….”
“Iya lah… Masa ya iya dong”, ia pun tersenyum
Aku terdiam, lalu aku mulai menanyakan anak-anak
“Mana Ahmad, mana Mettew?” …
“Mettew pergi bersama temannya, buka puasa di mall, Ahmad hari ini pergi PA”,
“Ahhhh”
Aku pun melepas pakaianku dan ia telah menyediakan baju ganti yang sudah disiapkannya. Tak lama setelah itu bel rumah berbunyi…suara dari luar bersuara keras berteriak
“Asalamuallaikum…”
Aku sudah siap beranjak keluar, untuk melihat siapa yang datang, tetapi ia berkata kepadaku
“Sudah mas, istirahat saja dulu, biar aku yang membukanya”
Lalu ia membalas salam tadi
“Walaikum salam”
Seorang mengantarkan parcel dari seorang yang kukenal…, ia kembali sambil memberitahukan kiriman itu dari seorang teman bisnis.
Ia pun duduk disudut ranjang, sedang aku berbaring merengangkan otot pungungku, ia nampak terdiam kaku. Terdiam tanpa kata, terdiam dengan wajah muram, tentu bukan karena parcel tadi yang membuatnya terdiam.
Aku tak terbiasa melihat pemandangan tadi, pemandangan tadi seperti sesuatu yang mencekam, ruang kamar jadi senyap, mencekam, hanya suara detak jantung kami yang terdengar oleh kekosongan.
Aku tak terbiasa dengan pemandangan tadi…
Aku mulai berkata
“Kenapa sayang?”
Dia terdiam
“Kenapa sayang?, adakah yang salah?”, aku mencoba berfikir mencari kesalahan dalam diriku, apakah aku telah salah dengan mengandeng tangan seorang wanita lain, atau tidur dengan wanita lain, yang sama sekali tak pernah kulakukan.
Sumpah tak pernah kulakukan itu.
Dia terdiam
“Kenapa sayang?, apakah aku salah? Anak-anak bertengkar? Uang belanja kurang?”
Aku berfikir lagi, apakah aku kurang memberinya nafkah, memberikannya kebahagiaan batin dan kebahagiaan jasmani…sumpah semua itu telah kulakukan.
Ia pun menatap mataku…
Ia berkata “Tidak mas, masih ada koq uangnya dan anak-anak baik-baik saja…, aku hanya sedih sudah 16 tahun kita menikah, anak-anak sudah besar, sebentar lagi ramadhan, sudah 16 tahun aku tak melihat ibu dan adikku”.
Aku tahu apa yang dirasakannya…
Aku paham benar apa yang menyambar hatinya, membuatnya seketika lumpuh oleh sambaran itu, dia tak merasakan kekurangan apapun dalam penikahan kami, cinta, nafkah semuanya sudah lengkap ia dapatkan…kami jarang sekali berselisih hanya karena persoalan kecil, jika kita berselisih pun itu hal biasa tetapi kami selalu kembali kepada cinta.
Tapi kalimat tadi telah menyambar hatiku juga, ia bersedih aku pun ikut merasakan kesedihannya, tapi siapa yang bisa merubah keadaan, merubah jalan yang telah kita ambil.
Rumah tangga yang bahagia dan penuh cinta itulah tujuanku, itulah mimpi dan harapanku, itulah doa-doa yang kuinginkan dari dulu.
Dan Tuhan mengaruniakan cinta untuk membangun harapan itu, Tuhan mengaruniakan keberaniaan dalam kedua hati kami yang dibedakan oleh panji-panji ritual dan tradisi, Tuhan memberikan keberanian untuk mematahkan tiangnya, melewati garis yang digariskan tradisi…cinta telah membuat kami menentang dan memberontak pada kebiasaan, pada tradisi. Hingga awal sampai hari ini aku telah membawanya kedalam tujuan itu.
Sepanjang 16 tahun pernikahan kami, kami telah membuktikan bahwa cinta diatas segalanya, cinta telah mengalahkan perbedan, kami tetap mesra dan penuh cinta seperti dulu.
Rumah yang kami bangun tak memiliki aturan “Siapa harus percaya kepada siapa”, tapi percaya Tuhan pencipta langit dan bumi ini, Tuhan yang maha, yang segala maha segala, Tuhan yang menurunkan hujan bagi orang beriman dan tidak, Tuhan yang tak pernah menghakimi sebelum waktuNya, tetapi yang bukan Tuhan telah menjadi tuhan, ia bukan tuhan tetapi berlaku seperti Tuhan, sedangkan Tuhan tetap menjadi Tuhan.
Tuhan yang bagiku adalah cinta, dan cinta adalah Tuhan, cinta adalah bagian dari pribadiNya, cinta adalah keseluruhan diriNya, cinta adalah ayatnya, cinta adalah ajaranNya, cinta yang diharapkanNya ada dalam setiap hati manusia.
Apa yang diturunkan Tuhan kepada manusia lewat ritual, lewat ajaran agama? Selain daripada cinta. Bukankah seharusnya begitu.
Aku benci perbedaan, aku tak membenci Tuhan, aku membenci warna kulit yang berbeda-beda, aku membenci agama yang berbeda-beda, aku membenci pikiran yang berbeda-benda, kenapa tak dibuat sama?
Kenapa tak diberikan saja cinta tiba-tiba ada didalam hati setiap manusia…agar semua orang punya cinta, dan cinta membuat mereka semua saling mencintai, tak ada perang, tak ada bunuh-bunuhan, tak ada egoisme, tak ada kebenciaan dari mereka yang merasa suci!. Tapi aku tak merasa suci.
Aku melihat gambaran surga yang tak ada perbedaan, saat aku sekarang hidup,
Tuhan memberikanku surga sekarang. Tetapi yang bukan tuhan telah mengutukiku masuk neraka!.
Cintanya padaku, telah membuatnya berkorban dengan meninggalkan orang tuanya, berkorban akan masuk neraka jika menikah dengan seorang Nasrani, tapi ia paham benar, Tuhan tak akan memasukan umatnya kedalam neraka karena urusan cinta, ia paham benar bahwa cinta seharusnya menjadi tujuan hidup setiap kehidupan.
Tujuan hidupnya selamanya bersamaku, bahkan dikuburkan disampingku, menikah sekali sampai mati.
Ini bukan mimpi, ini harapan, ini tujuan akhir kita! CINTA tujuan akhir kita! Kebahagiaan adalah buahnya!.
Mahrib pun tiba, suara azan Mahrib di surau diujung jalan telah memecahkan suasana sedih tadi.
Ia menyeka air matanya, “Sudah mas tak apa, sebentar lagi buka puasa aku harus mempersiapkan makan buat buka, aku harus sholat juga”
“Ya pergilah Sholat, biar aku yang mengangkat masakan dibelakang ke meja makan, oh ya kau nanti pergi ke langar untuk tarawih?, aku antar nanti, hari ini terakhir kan? Besok sudah lebaran”
Ia mengangguk dan tersenyum, kesedihannya saat itu tak bisa kuhadiahi pelukan, hanya untuk hari-hari sepanjang bulan ini saja. Ia pun paham.
Aku siap beranjak memenuhi kataku tadi untuk pergi ke dapur, ia menghentikan langkahku menjuju dapur,
“Sudah sayang!!, duduk saja, tak pantas lelaki ke dapur!!”, aku pun tak dapat memaksa dengan nada suaranya yang seperti itu, dapur adalah otoritasnya, aku tak boleh melangar otoritasnya.
Aku sudah tak sabar ingin tahu apa yang dimasaknya hari ini, aku lapar, sebenarnya tak begitu lapar…
Ia meletakan masakan di meja makan lalu ia pun berkata “Aku Sholat dulu mas”, aku pun menantinya di ruang keluarga dan setelah ia selesai, menghampiriku, mengecup keningku…dan berkata
“Mari makan mas”.
“Makan apa hari ini…”
“Lontong sayur”
“Ohh…, pasti enak, apa lagi istriku tercinta yang membuatnya”
“Halah gombal…hahah” aku pun tersenyum…
Ia pun tersenyum kalau aku sudah tak sabar memakan masakannya.
Seperti biasa sebelum makan, aku menundukan kepala mengucap syukur, ia menengadahkan kedua tangannya juga bersyukur, bersyukur kepada Tuhan yang sama, Tuhan yang satu. Tuhan yang selalu mengarunikan cinta buat kami.
Lalu akupun mulai makan,
Aku menyukai lontong sayur yang lebih mirip lontong cap gomek buatan istriku…, kuahnya yang kuning santan, ayam dada yang montok mengiurkan, telur ayam yang nampaknya mengugah seleraku, aku sudah sering makan lontong, lontong didekat kantorku juga tak beda warnanya, tetapi beda rasanya dengan lontong sayur buatan istriku, rasanya merasuk ke otak, dan ususku bahkan membuat perut makin lapar dan ingin nambah lagi dan lagi…
Apa yang membuatnya luar biasa?, rasanya yang super enak karena dibuatnya dengan dengan ayam, telur, santan, bawang merah, bawang putih, kemiri, tumbar, yang di uleg jadi satu lalu di satukan dengan santan yang dimasak…
Tentu yang membuatnya enak karena bumbu pelengkapnya adalah Cinta, yang ikut dimasukan kedalam santan yang mendidih tadi, juga tetesan keringat jerih payah memasaknya, untuk dihidangkan bagiku.
Aku pun hanya makan berdua dengan istriku, ia menantiku dan melayaniku, yang kelaparan, dan nambah satu setengah porsi dari biasanya…
“Ah sudah, nanti sisakan buat anak-anak”.
Ia pun tersenyum…
“Tak apa sayang, paling mereka sudah makan di luar”…
“Tidak lah, perutku sudah kenyang sayang…”
Ya aku kenyang, kenyang lontong sayur, kenyang cinta, kenyang anugrah Tuhan.
2/10/2008 10:26 AM
Markus AP


Similar/Related Posts