Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

Twitter Updates
suggestprofile
Aku, ia dan dia (cerpen)
By. marcus . October 6th, 2008 at 4:30 pmtrademarks
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Aku, ia dan dia

    Siapa yang mengira hari yang panas membuatku kegerahan, “mandi” itu lah yang ada diotakku, mandi keringat, mandi air dingin, kalau bisa mandi dengan Es, agar menyingkirkan rasa panas ini.
    LA selalu panas, panas dengan terik mataharinya, panas dengan kehidupannya, panas, panas, panas.
    Akhirnya aku putuskan mandi, mandi menikmati kucuran air dingin yang semoga bisa membuatku segar….
    “Ahh segarnya…”
    Sambil mengambil handuk, lalu mengeringkan rambutku yang panjang dan tanpa balutan apapun dibandanku, aku menatap cermin dikamar mandi, melihat kecermin memandang bayangan wajahku di sana…
    ”Uh cantiknya…” hatiku berkata bangga, aku terlahir muda, terlahir cantik, lajang, dan laku,
    “Cantik, cantik, cantik”.
    Walau aku tak memiliki ukuran buah dada seperti Pamela Anderson, aku bangga dengan kecantikan ini, mataku yang kecil tajam, bibirku yang tipis, menawan, hidungku yang kecil tak pesek.
    “Ah…cantiknya aku…”, sambil memegang kedua belah dadaku yang tak besar.
    “Im sexy, im too sexy”.
    Siapa yang mengira kalau mandi membuatku segar, membuatku selalu bisa bersua dengan cermin.
    Cermin yang memuja kecantikanku, yah cermin yang selalu mengangumi diriku, mengagumi aku tanpa protest.
    “Ah…sudah biasa”, ya aku sudah terbiasa melakukan itu, sudah biasa aku dengan wajah cantik ini, terbiasa menatapnya dan membangakannya.
    Masih tanpa balutan apapun, aku duduk di pinggir badtub, menyalakan rokok, menghirup asapnya masuk kedalam paru-paru, menghembuskannya keluar memenuhi ruangan kamar mandi. Tiap tarikannya begitu nikmat, begitu mengoda…
    Sekali lagi aku memandang ke cermin.
    “Ah..cantiknya”
    Bukan hanya aku yang mengagumi kecantikanku, tetapi juga laki-laki, bukan hanya satu tetapi banyak.
    Ia, ia, ia, ia dan dia. Entah berapa banyak.
    Aku berdiri menuju meja kecil didekat pintu, melihat Handphoneku, 21 misscall, selusin sms,  siapa lagi kalau bukan dari merka yang memujaku, enam sms dari ia, empat sms dari ia, lima sms dari ia, tiga sms dari ia, dua dari ia, dan satu dari dia.
    Dan taulah selusin sms itu isinya hanya menanyakan keberadaanku, sisanya hanya basa-basi basi.
    “Hey honey”
    “Hai sayang”
    “Kemana aja sih kamu?”
    Yah begitulah isinya, menyebalkan, apa mereka tak tahu kalau aku lagi kepanasan, aku lagi malas, aku lagi kurang enak badan, aku lagi capek sehariaan menyelesaikan tugas-tugas kuliah…ah menyebalkan.
    Tidak kah mereka tau apa yang aku sedang alami.
    Tidak kah mereka mengerti,
    Yang mereka mau hanya aku yang mengerti, tapi apakah mereka mengerti…hari ini panas, hari ini aku kurang enak badan.
    “Hard day men…”
    “Aku letih”
    “Aku cantik”.
    “Aku lagi bosan”.
    “Lagi bete boo, banyak masalah yang harus aku hadapi…hidup sudah susah, kenapa mereka bikin jadi susah, aku jadi malas”.
    Tak lama setelah aku membaca puluhan puluhan sms tadi, tiba-tiba handphoneku pun berbunyi…
    “Ah dia lagi….”
    Aku mau tak mau harus mengangkatnya, malas sebenarnya, tetapi mau tak mau aku harus mengangkatnya
    Diujung sana ia berkata
    “Halo…kemana aja kamu, aku call beberapa kali tak bisa”.
    “Iya, handphone aku silance, aku tak dengar”.
    “Kamu baik-baik aja?”
    “Iya..kenapa memangnya?” dengan nadaku yang sedikit meninggi, ketus, sadis, jutek.
    “Loh kenapa kamu, koq kayaknya lage bete?, lagi marah ya sama aku”
    “Gak!!!, aku kalau lagi bete ya begini, mengertilah, kalau aku lagi ga angkat telphone kamu, artinya aku lagi males, ada kalanya aku mau sendiri, tak mau diganggu…dan aku ga mau diganggu, mengertilah….”.
    “Oh ya sudah deh, maaf menganggu” dia pun mengakhiri telphone nya dengan nada kecewa.
    Dalam hatiku berkata,
    “Kenapa sih ga paham, ga mengerti diriku!!!!”
    Badanku mulai kering, seharusnya dengan telanjang bulat aku bisa masuk angin, tetapi udara panas, mereka membuat panas pikiranku, membuat panas hatiku, goblok banget sih ga paham apa yang aku rasakan, ga paham banget sih apa yang aku mau.
    “I don’t give damn with them…go to hell”.
    Mereka pikir aku harus memenuhi semua harapan mereka, mereka dong seharusnya yang mengerti aku, mengerti mau ku, mengerti saat-saat aku ingin sendiri.
    Badanku mulai kering, aku membasahinya lagi dengan air…agar panas itu hilang, agar mereka hilang.
    Hanya mereka yang paham dan bisa menyejukan hatiku yang tinggal, aku ingin yang sejuk-sejuk, walau yang sejuk-sejuk tadi membuat aku masuk angin.
    “Ah segarnya…”
    Aku pun menutup badanku dengan balutan kaos dan celana pendek warna terang.
    Masuk kedalam kamarku yang ber AC, menyalakan laptop dan menyalakan yahoo massanger ku.
    “Shit, baru setengah hari kutinggalkan messangerku tak online, sudah puluhan offline message memenuhi pop up windowsku…, menyebalkan”
    “Kemana sayang?”
    “Hey pa kabar…”
    Basa-basi, basi
    “Sebal aku”.
    Tapi tak sepenuhnya aku sebal dengan mereka, tak seluruhnya membenci mereka yang mengangumiku, aku suka dikagumi, aku suka mereka memujaku, mengelilingiku, walau aku tak harus mengatakannya dengan mulutku kalau aku senang di puja.
    Tapi setidaknya ada dua, hmmm mungkin juga tiga, empat, yang aku sayangi, yah setidaknya aku pernah mengatakan kalau aku sayang kepada dua orang diantara mereka, ia dan dia.
    Kepada ia, aku mengenalnya lebih dulu dari dia. Kepada ia, ia lebih banyak mengangumiku entah dengan caranya yang luar biasa, wajahnya yang ganteng, maco, aku suka, aku sayang….titik, kalau aku sayang ya sayang, titik!!!, kalau aku suka ya suka titik !!!, Jangan harap kalau aku benci, ya selamanya akan benci, selamanya akan tak suka, tak ada yang bisa merubahnya…bahkan Tuhanpun tidak, apa lagi setan.
    Aku akan membatu, jadi batu , lebih keras dari batu, lebih keras dari titanium begitulah kalau aku benci.
    Tapi mungkin baru ia yang mengerti pikiranku, ia tau apa yang ada dibenakku. Mungkin. Mungkin iya, mungkin juga tidak…entahlah
    Sedang kepada dia, aku mengenalnya baru, tapi aku menyayanginya, dia baik, dia baik, setidaknya itu yang pernah aku katakan kalau dia baik, tetapi aku tak suka karena dia tak memahami aku, tapi aku kaget dengan keberaniaanya untuk mencintai aku, tetapi aku hanya sayang, aku hanya kadang kala kangen, kalau aku mau aku kangen, kalau tidak, entahlah.
    Tapi dia unik, dia gila, dia sinting, dia keras, dia mencintaiku dengan caranya yang berbeda, yang sesuka-suka dia untuk mencintaiku.
    Tapi entah dengan aku, apa aku mencintai dia?, aku hanya sayang pada dia, tapi bukan cinta, mungkin! Dan mungkin dia satu-satunya yang menuliskan aku dalam tulisan-tulisannya, tapi sayang dia tak mengerti aku, dia keras karena dia tak mau menyerah untuk memujaku seperti apa yang aku mau…menyebalkan.
    Dia lebih sering mengkritikku, apapun aku, sok tau kalau aku begini atau begitu, sok tau, sok pinter.
    Sok mengerti tentang diriku, apa sih yang dia tau tentang aku?, Siapa sih dia?
    Sadar ga sih kalau aku tak suka dibegitukan…
    “Terserah lah dia mau ngomong apa!!!!”
    Sadar ga sih kalau wanita itu complicated, mengerti ga sih!!!!!!!!!
    Tapi siapa yang bisa menghentikan ia, ia telah merasuk kedalam hatiku.
    Siapa yang bisa menghentikan dia, dia juga sejenak masuk kedalam hatiku, kemudian ia masuk kedalam tong sampahku, sama seperti ia, ia, dan ia yang lain.
    Dia yang berbeda tetap saja beda, dia telah masuk kedalam tong sampah ku.
    Dia berbeda, sekalipun aku memilih ia, dia pun mengucapkan selamat dan mendoakanku agar aku bahagia, karena aku memilih ia bukan dia, yah dia tetap mencintaiku, “Gila”, “Setan!!!”
    “Gila!!!”.

1/10/2008 – 4/10/2008 4:40 PM
Markus AP

rss

One Response to “Aku, ia dan dia (cerpen)”

You know what, KEREN…
Pas banget!!! ai suka, ai kan selalu suka tulisan lu…
Yah dikit banyak mirip ai sih!! wkwkwkwkwk, kapan di jadiin buku…lo mah oke lah, keren lah!!!

Leave a Comment

 

tour
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

STOP SOPA & PIPA
New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Donation
marketing