Sendiri
Malam itu aku sendiri, diruanganku, bebas dan tak ada kesehariaan yang menguasai, hanya suara halus samar misterius dikejauhan, disela pepohonan rindang di luar sana, dan samar-samar juga suara-suara dikejauhaan diseberang jalan sana.
Malam itu aku sendiri, diruanganku, belum ikut larut besama malam, tak ada teman selain kesendiriaan diri yang menguasai dan membelengu dengan kebosanan.
Malam itu aku sendiri, diruanganku, kepulan asap dari sebatang rokok merongrong perlahan belengu kebosanan, tapi aku tetap bosan, saat kepulan asap itu mulai hilang dari ruanganku.
Malam itu aku sendiri, diruanganku, ku ambil sebuah buku dari tumpukan banyak buku, sekali lagi mencoba membunuh, mencabut, membebaskan diri dari belengu kebosanan. Dan seketika baris tulisan dalam buku itu mengugah semangat yang seakan ingin pudar.
Cinta adalah sebuah harapan dari beribu harapan yang akan nampak lebih indah dan bermakna jika cinta yang didamba, cinta yang diagungkan, cinta yang berjiwa nafas kejujuran bersatu dengan tangkai hati yang lain, yang didamba oleh si pecinta…
“Ah…”
Malam itu aku sendiri, diruanganku, terdiam…
Malam itu aku sendiri, diruanganku, berangan…
Yah…aku berangan.
Bau harumnya seakan masih tercium semerbak seperti mawar.
Kibasan rambut panjangnya seakan lambaiaan anyelir.
Lekuk tubuhnya seakan masih tergambar jelas dikilasan ingatan.
Gelora dan desahnya seakan makin terdengar ditelinga, samar.
Semangat hidupnya seakan cerita yang membekas.
Kebodohannya seakan dosa yang tak mau hilang.
Seketika aku tak dapat lagi berangan, dadaku sesak, aku tertunduk penat, aku tak dapat berangan, apa lagi berharap.
Seketika harapan habis jika ku ingat seribu dosanya yang mencekik leher prinsip dan keperibadiaanku.
Malam itu aku sendiri, seketika kebosanan makin mencekik, ketidak jelasaan makin mengikat, merantai kebebasan.
Seketika aku tak dapat lagi bermimpi, dadaku makin sesak, aku tertunduk makin dalam, aku tak dapat berangan, seketika perutku terasa lapar, pikiranku makin lapar pada pemikiran yang liar, mau bebas mengarungi seluruh alam ilmu pengetahuaan dan pemikiran.
Aku menunduk.
Aku menunduk.
Aku menunduk.
Aku menunduk makin dalam.
Aku serasa ingin mengerang kesakitan.
Merasakan sakit didadaku yang sesak.
Aku menunduk.
Aku menunduk.
Makin dalam pada ketidak jelasaan, dan pemikiran yang liar makin mengila, makin merangas.
Lalu ku ambil buku tadi, kubaca lagi pada halaman yang aku tak tahu
Angin berhembus seolah membisikan suara rindu darinya. Aku merasakan hembusannya. Aku merasakan desah nafasnya.
“Ah…”
Malam itu aku sendiri, diruanganku, merindu.
Malam itu aku sendiri, diruanganku, merindu penyatuaan kita.
Malam itu aku sendiri, diruanganku, mernidu segala hal manis kita.
Seketika aku berbaring telungkup, dengan kepala menekan kepembaringan, memejamkan mata berharap tidur lalu bermimpi, atau tak bangun lagi, atau berharap lelap lalu pergilah kebosanan, kerinduaan, nestapa, sesak didada, tetap tak mau pergi.
Dan benar, rasa lelah mulai menguasai, mata mulai ingin bersanding dengan malam.
Sekali lagi aku tertunduk dalam kesepiaan, dalam kesendiriaan.
Malam itu aku sendiri, diruanganku, tanpa tau lagi apa yang kuinginkan. Dan detik waktu mengejar seolah akan mati menuju penguburan.
Malam itu aku sendiri, diruanganku, bosan lalu ingin beranjak keluar dari ruanganku, dan aku keluar.
Melangkah keluar menuju pintu kayu yang tertutup kemudian kubuka.
Melangkah keluar menuju teras. Berdiri tegak tak bergeming diteras yang sepi. Memandang kearah kegelapan, memandang awan gemawan hitam, bintang gemintang yang samar, dan suara pikuk dikejauhaan yang makin hilang.
Lalu aku mengarahkan pandangan kearah kejauhan tak tau kemana, aku mau ini berakhir.
Ingin aku menjerit ingin aku beteriak. Tetapi air mata telah kering, mulut terbungkam erat oleh sesak dada.
Tak lama kemudian kudengar langkah mendekat, mendekat dari arah dibelakangku, dan merapat, melingkarlah dua belah tangannya mendekapku dari belakang, seakan mendekap seolah melindungi, seolah ingin menarikku kedalam.
Lalu aku berkata.
“Apakah kau bermimpi lagi?”
Ia terdiam
“Apakah kau bermimpi tentang anak kecil yang kita pegang tangannya, bahagia berayun pada kedua tangan kita?”
Ia terdiam
“Apakah kau tau arti mimpiku, tentang pria-pria, anjing-anjing, atau taukah kau arti kegundahaanku, kesendiriaanku, penderitaanku, pikiranku, prinisipku, cintaku, nafasku atau mungkin tiap desah ku saat kita menyatukan diri?”
Ia terdiam
“Apakah kita masih berhadapan dengan teorema, problematika yang tak pernah habis, karena kekolotan kedua orang tuamu, atau kau akan mengakhiri ini, mengakhiri sandiwara kita”
Ia terdiam
Aku berbalik menghadapinya.
Memandang wajahnya yang rupawan, matanya yang dihiasi linangan air mata yang keluar dari kedua matanya yang indah seperti batu safir.
“Kenapa kau menyusulku keluar, bukankah didalam lebih hangat dibanding diluar…, disini tak ada apa-apa selain aku”.
Ia terdiam
“Apa yang ada selain aku…?”
Ia terdiam
“Apa yang kau mau selain diriku…?”
Ia terdiam
“Apakah kau sudah menyadari makna seluruhnya?”
Ia terdiam
“Taukah isi hatiku?”
Ia terdiam
“Taukah apa arti makna cinta dalam dada ini?”
Ia terdiam
“Aku mencintaimu”
Ia terdiam
Ia terdiam
Ia terdiam
Dan tetap terdiam
Ada seribu satu pertanyaan dari pikiran liarku, akan ku ungkapkan, mulut seakan ingin bebas berkata, menunjukan fungsinya sebagai pengungkap kata hati atau pengungkap pikiranku yang liar.
Tapi kali itu aku terdiam.
Aku memeluknya erat.
Didalam aku berkata.
“KAU…mengabulkan doaku, menyatukan kita pada sebuah pertemuan setelah perpisahaan, tapi apakah penderitaanku akan berakhir dengan kebahagiaan…, apakah ucapannya tentang cinta diwaktu lalu sebuah kebenaraan…aku mempertanyakannya padaMU???, karena mulutMu yang aku percaya”.
Wajahku berubah masam, lelahku makin terasa.
Penatku makin menekan keras.
Sesakku makin benar-benar menekan berat.
Aku kali ini benar-benar membisu, sebenarnya tak benar-benar bisu, karena suara-suara itu keras ada didalam penuh pertanyaan, penuh pemikiran.
Dekapanku makin erat, seakan tak ingin dilepaskan, yah aku tak ingin melepaskan, dekapan itu, dekapan pribadi yang ku cintai, tapi juga kubenci peragiannya, ketidak tahuannya akan isi jiwaku.
Aku diam kali itu.
Dan ia pun mulai berkata…
“Sudah lah sayang, sudah lah sayang, sudahlah sayang…mari kita masuk…”
Tangannya yang dingin menarikku kedalam.
Menarikku kepembaringan.
Lalu melepaskan pakaiaanku, dan ia menelanjangi dirinya dihadapanku, mencumbuku mesra dengan daya yang benar-benar membara, lalu kita menyatukan diri dalam sebuah penyatuaan, kita menyatukan diri disaat hariku benar-benar membosankan.
Tuhan menjadi saksi penyatuan kita.
Setelah aku terasa lemah, lelah, tanpa daya.
Ia berkata lagi
“Sudah lah sayangku, aku disini bersamamu tak pergi kemanapun”.
Aku pun masih sendiri! Bahkan sampai kini.
5 September 2007
Markus AP


