Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

notice
tour
Mereka Bilang Aku Setan (cerpen)
By. marcus . September 30th, 2008 at 10:20 am
podcast
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Mereka Bilang Aku Setan

    Apakah ada yang lebih cantik dari wajahnya? Entahlah, apa lagi aku tak dapat mengira apakah ada yang dapat menyaingi kecantikannya, atau bisa jadi aku telah dimabukkan oleh cinta sampai benar-benar teler tak sadarkan diri apalagi ia benar-benar cantik, manja,nakal, dewasa, kuat juga berfikir maju.
    Mungkin hanya ia yang bisa menyamai pikiranku.
    Phd begitulah gelar diakhiran namanya, begitulah wajahnya sering berhadapan dengan ratusan orang yang mendengarkan kuliahnya, atau mungkin kecantikannya.
    Yang pandai bertepuk tangan, sedang yang bodoh bengong tanpa paham…goblok!
    Tapi ia mengagumiku, memujiku, memahamiku, mencintaiku…apa yang dikaguminya, dan entah apa yang dipujinya…mungkin dekapanku yang kuat berarti, mungkin semangatku, mungkin pikiranku, mungkin uangku, mungkin juga mataku, mungkin juga cintaku…entahlah!
    Ia makin cantik, saat ia tegar, dewasa berkata-kata, apa lagi saat matanya yang tak bisa diam bergerak sana sini, matanya yang tak dapat lurus menatap mataku yang tajam.
    Aku membenci matanya tapi aku mencintai dirinya, nakal dan rupawan begitulah  hatiku berkata.
    Tetapi siapa yang mengira dibalik itu semua ia sering menyiksa batinku dengan caranya yang paling sadis membiarkan diriku sendiri kedinginan sedang ia asik dirumahnya bercengkerama dengan anak gadisnya dan malam bercinta dengan suaminya.
    “Sialan…sialan…sialan”
    Betapa menyedihkannya aku, betapa tersiksanya aku.
    Jika aku rindu aku hanya perlu memberinya satu dua kali misscall.
    Itupun berharap ia menjawabnya tetapi jika tak mungkin ia hanya akan mengirimkan pesan singkat “Honey ia bersamaku sekarang”, bisa jadi sehariaan hanya hampa tanpa jawaban atau kabar apa-apa.
    Dan aku hanya bisa diam, mengalah, kalah.
    Diam berharap ia menelfonku kembali
    Diam berharap ia disini dan kita menyatu
    Diam berharap ia mendekapku dan aku menangis
    Diam dihati berdoa agar ia jadi milikku.
    Diam berfikir agar keberaniaan datang membawanya pergi jauh.

    Tapi cintanya tak sepenuhnya sadis, dirinya tak sepenuhnya jahat, sebab saat aku tak mengalah, saat ia bersamaku, saat aku tak bisa diam seluruhnya.
    Saat aku tak bisa kalah dan aku menang.
    Ia berkali-kali, beribu kali, berjuta kali, berulang kali ia berkata
    “I love u”
    “I love u” dengan nadanya yang lembut, nadanya yang bermelodi, pekiknya yang merasuk pikiran dan imajinasi, luar biasa, luar biasa, luar binasa…aku merinding!
    Aku beruntung, aku untung, aku tak kalah, aku menang.
    Dengan nadaku yang perlahan, tersengal, menahan lelah aku berkata “I love u too”, ia pun tak murah kata “I love u” aku pun royal kata itu dan saat diampun aku mampu berkata “I love u”.
    Luar biasa, luar biasa, luar binasa…
    Tak pernah bosan kata itu, tak bosan, tak bosan…luar biasa
    Kita berdua saling cinta tanpa ingat semua yang dirumah. Tak ingat kewajiban, kewajiban hanya kewajiban, bukankah kewajiban seharusnya cinta.
    “I love u”, katanya
    “I love u too”, kataku.
    “Ku kan bawa kau pergi jauh”, kataku
    Ia tersenyum, karena keinginanku membawanya pergi jauh kemanapun ia mau, terlebih kesurga atau, neraka yang mereka tak dapat pergi, kubelikan bintang dilangit yang tak dapat dibeli tapi dipetik, kubelikan tanah sehektar, juga semeter kali dua meter, dua, satu untukku, satu untuknya…selamanya bersama, bersama selamanya. “Dust to dust, ashes to ashes”.
    “I love u”, katanya
    “I love u too”, kataku.
    Kata yang begitu murni, begitu sakral…bukan kata yang sama yang keluar dari bibir mereka yang mengagungkan cinta tetapi sama sekali tak mengerti maknanya…
    Mungkin aku mabuk, mabuk arak, mabuk cinta, mabuk apapun…mungkin juga aku gila, seperti kata mereka kalau aku gila..biarkan aku gila, biarkan aku hilang ingatan, biarkan kegilaanku melawan norma, melawan tembok tradisi, melawan cinta yang hanya tinta diatas kertas, melawan “cinta” yang katanya cinta…ah tai kucing!!!
    Aku cinta kegilaanku, aku jatuh cinta pada cinta, aku jatuh cinta pada orang yang berkata cinta, aku mencintai orang yang jatuh cinta tanpa tersekat kepalsuan, tanpa terbatasi oleh egoisme, cinta yang bukan diatas kertas!.
    Aku jatuh cinta pada orang yang tak berkata “aku lagi bad mood mengertilah aku”…lalu kapan aku dimengerti?, aku jatuh cinta pada orang yang menghargai kepribadiaan masing-masing, aku jatuh cinta pada orang yang kupahami pikirnya, yang memahami pikirku juga.
    Aku jatuh cinta pada orang yang mengerti nafasku adalah cinta, suaraku adalah cinta, desahku adalah cinta, pikiranku yang memusingkan adalah cinta, tatap mataku adalah cinta, marahku adalah cinta, gelisahku adalah cinta, sedihku adalah cinta, imsomniaku adalah cinta, diamku adalah cinta, bahkan pergiku yang mengorbankan diriku sendiri, mengorbankan cinta dihatiku, juga mengambarkan cinta.
    Aku cinta orang yang tidak membatasi cintaku, membiarkan harapan dan cintaku meledak, membabi buta, menerjang, membuktikan, tulus, merombak, merevolusi, merusak kebiasaan,  merubah apapun…cinta yang gila kata mereka…atau mereka yang gila karena tak paham.
    “Gila” kata mereka. Bukankah memang seharusnya cinta itu gila!
    Setan kata mereka, bukan kata Tuhan, ya biarkan setan kata mereka,  untuk itu aku akan membawanya ke surga jika mungkin, tetapi yang ku tau pasti aku membawanya ke neraka, pasti, seperti kata mereka aku setan, maka setan kembali ke neraka!
    “Go to hell” kata mereka!.
    Tapi “I love u” katanya, dan “I love u too” kataku…

Semanggi, 29/9/2008  – 30/9/2008
Markus AP

Leave a Comment

 
feed

address
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA support