Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

e-mail
contact
Malam Yang Baru Saja Lewat (cerpen)
By. marcus . September 29th, 2008 at 9:31 am
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Malam Yang Baru Saja Lewat

    Malam baru saja lewat, tetapi sampai kapan malam berikutnya lewat lagi dan aku mengingat saat-saat seperti itu, tentu dikiranya saat-saat seperti itu indah, nyatanya tidak, saat-saat seperti dalam neraka yang panas, sesak dan tidak mengenakkan, sesak dan panas yang tak pernah enak, sedangkan sebenarnya aku ada dalam ruanganku yang jelas bukan neraka. Tapi jelas panas.
    Tapi aku merindukan saat-saat itu lagi nanti, saat-saat dimana aku tau aku rindu panasnya ruang itu, sesaknya didalam sini karena rindu bukan karena neraka.
    Lalu timbul pertanyaan apakah jika sebentar lagi matahari bangun, aku juga bangun dan tersadar dari kerinduaan itu, dan saat-saat itupun lenyap seperti bau keringat yang terbasuh sabun.
    Maka aku berdoa dalam hati agar saat-saat itu tidak pergi, berdoa agar rindu panasnya ruangan selalu datang lagi, dan lagi, berdoa rindu bukan pada neraka, rindu sesaknya yang tak mengenakkan, rindu bukan karena di neraka.
    Maka aku berdoa lagi, agar saat-saat itu tidak pergi, berdoa agar rindu wajah yang juga rindu pada ruangku, juga rindu bukan pada neraka.
    Rindu senyum yang menyeringat, karena panas, bukan karena neraka, rindu canda yang membosankan setiap malam, bukan karena neraka.
    Tapi saat-saat seperti itu tak lama, tak ada yang bisa menghentikan waktu, tak ada yang bisa menghentikan matahari naik ke atas, dan saat pagi pun tiba, aku membenci panasnya ruangan, aku benci neraka, aku benci sesaknya yang tak mengenakkan, aku benci perasaan itu, aku benci rindu.
    Untuk itu aku ingin berdoa untuk pergi ke surga, surga yang tak lagi ada rasa rindu, tak ada lagi rasa sesak, tak ada rasa apa-apa.
    Mungkin tak ada senyum itu.
    Senyum itu pun berdoa untuk pergi ke surga, berdoa tidak lagi rindu canda yang membosankan setiap malam, tidak lagi rindu yang bukan neraka.
    Akupun makin berdoa untuk pergi ke surga, agar tak lagi rindu canda yang membosankan, tak lagi rindu senyum yang menyeringat karena panas, yang bukan karena neraka.
    Mungkin saat doa kita terkabulkan, kita akan benar-benar bersama-sama di surga, mungkin aku akan mengantarkan senyum itu ke surga, jika mungkin!.
    Dan saat itu kita masing-masing tak lagi rindu pada canda, tak lagi rindu pada senyuman yang menyeringat, tak lagi rindu panas, tak lagi rindu sesak yang tak mengenakkan, tak lagi rindu neraka.
    Mungkin pula saat kita disurga, aku tak lagi melihat senyum itu menyeringat karena panas, tak lagi tersenyum bukan karena neraka, senyum yang jauh dari rasa sesak yang tak pernah enak.
    Saat itu pulalah, bebas rasa sesak yang tak enak seperti dineraka, aku pun tersenyum, aku tersenyum karena senyum itu bebas dari neraka.
    Tapi saat-saat itu tak lama, aku rindu malam yang lewat, aku pun berdoa untuk kembali ke ruangku yang panas, kembali rindu rasa sesak yang tak mengenakkan.    Rindu neraka.
    Aku pun berdoa lagi, agar ia tak berdoa untuk kembali ke ruangku yang panas, tak lagi rindu canda yang membosankan setiap malam, tak lagi rindu yang bukan neraka.
    Maka saat doa ku terkabulkan, aku benar-benar sendiri diruangku yang panas, bukan dineraka, kali ini aku tak rindu canda yang membosankan setiap malam, tapi aku rindu senyum lain yang menyeringat, yang tak bercanda yang membosankan setiap malam.
    Aku rindu saat-saat itu lagi, rindu malam yang baru saja lewat. Rindu sesak yang tak mengenakkan, bukan dineraka.
    Rindu senyum yang tidak bercanda yang membosankan.

28/9/2008 8:25 PM
Markus AP

Leave a Comment

 
language

mail
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA support