Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

podcast
Senyum & Kedewasaan Bangkok
By. marcus . July 9th, 2008 at 12:25 pmfeed
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Senyum & Kedewasaan Bangkok

    Baru sehari diBangkok, aku telah dihadiahi senyum yang rupawan, keramahan yang menawan gadis asia pada umumnya, khususnya masyarakat Bangkok, sebenarnya tiba di negeri ini dengan membawa beberapa persoalan yang belum selesai, persoalan tentang cinta, kesetiaan, hati, komitment, kehidupan, dan Tuhan, yang masih menganjal beberapa waktu ini.
    Beberapa orang sahabat berkata kenapa tidak nikmati saja perjalanan itu sebagai sebuah liburan…
    Yah bisa jadi harusnya begitu.
    Tetapi kali ini aku pun menjadikan perjalanan ini sebagai sebuah renungan. Bukan liburan, sebab seluruh rencana liburanku berdua batal dan gagal total.
    Hari itu kita berkeliling-keliling, dan saat makan malam, aku bersama empat orang duduk disebuah restauran yang disuguhi lagu-lagu tradisional,  perjalanan kali ini yang rencananya hanya berdua kali ini jadi berlima, karena aku yang telah merencanakan matang semua rencana jadi kacau balau, akhirnya aku harus memberikan tiketku satu lagi ke orang lain dan akhirnya aku harus bergabung dengan empat orang lainnya. Tapi malam itu seru dan menarik…aku berusaha menimatinya.
    11/3/2008 7:12 PM
Seorang asistenku malam itu berpakaiaan sederhana, lebih nampak seperti gadis Indonesia.
    Aku duduk disudut meja, tiga wanita duduk disisi kanan, dan seorang pria duduk disisi kiri…setelah menikmati hidangan pembuka tiba-tiba asistenku berkata kepadaku…
    “Boss, ngomong-ngomong kenapa Miss Novia tidak jadi ikut…”
    Aku kaget dengan pertanyaan itu..
    “Ahhh dia sibuk, dia banyak hal yang harus diurusnya…”
    “Oh…”
    “Loh Boss, Boss sudah punya istri ya…?”
    “Oh ya Boss Boss sudah punya istri, its breaking my heart”, kata Nency Siu.
    “hahahhahaha, No no…belum saya belum menikah…”
    “Wah Boss sendiri dong malam ini…hahhaha “ kata Ratna, gadis Indonesia salah satu staff kami.
    “Iya saya sendiri, hanya bersama nyamuk…” kelakar ku
    “hahhahahahah “ tawa mereka.
    “Wah kalau gitu Boss harus cari gadis Bangkok, itu gadis cantik disana anggun..kayaknya cukup berkelas cocok buat Boss, menemani Boss selama disini”
    “Hah…? Why? “ kataku…
    “Ya kelihatan cantik saja, dan nampaknya ….”.
    “Hey Nency, Boss sudah punya pacar, ga mungkin ia melirik gadis lain, Boss tipe yang cukup setia…” kata Kim.
    “Oh ya…ohhh so sweet”, kata Nency.
    “hahahah, wah Kim membesar-besarkan saja…dan lagi ada tiga wanita disini, bukankah itu lebih dari cukup buat saya….” Kataku.
    Mereka tertawa mendengar kelakar ku malam itu
    Seorang dari kami berkata
    “Wah, Mr.Mark terlambat, kami berdua not avaliable…sudah dibooking Quan malam ini. Kim avaliable tuh…”
    “Hahahah, oh yaaaa…wah wah Quan nakal yaa”
    “Iya boss, Quan nakal tuh” candanya lagi..
    “Iya boss, saya akan menjajah mereka malam ini, hahahha kata Quan”
    “Ihhh…Gila…” kata ketiganya.
Kita bercanda karena gara-gara seorang gadis yang duduk jauh tepat didepan ku.
    Aku lalu membuka sebuah pertanyaan…
    “Menurut kaliaan, apa yang membuat kaliaan berfikir gadis itu cocok buat saya?”
    “Oh iya boss…”
    “Oh no boss…cocoknya buat saya…” kata Quan
    “Hahahh, Quan don’t be gready ” Dan Ratna berkata,
“yah 85% cocok…”
    “Why?”
“Boss seorang Boss, pasti kan suka dengan wanita yang ber class…” kata Ratna
    Kim menjawab
    “Hey, boss sudah milik seseorang”.
    “Hahahahahah”. Semua tertawa…
    “Ok ok stop bercandanya, kedua pipi saya lelah…capai tertawa terus…, ok jelaskan kepadaku kenapa gadis itu nampak menarik perhatian kalian”
    Quan menjawab
    “Yah karena dari tadi ia melirik ke arah Boss…”
    “Oh ya…saya tak tau itu…, dari tadi saya malah melirik ke arah lain”, kelakar ku lagi.
    “Hey..hey boss, nanti ada yang marah loh” kata Ratna
    “Iya, Boss sudah jadi milik seseorang, aku pernah sekali berbicara ditelfon bersamanya” kata Kim.
    “Iya boss?” beberapa dari mereka bertanya…
    “Ya..” kata ku.
    “Ok..ok, apa yang membuat kalian bisa bilang gadis yang melirik saya itu, cocok buat ku”.
    Mereka terdiam…
    “Jujur saja, aku belum bisa melihat kualitas dirinya hanya dari jarak segini, aku harus tau lebih jauh hatinya baru tau qualitasnya…”
    “Hahhahaha, wah boss cukup romantis juga ya…”, kata Ratna
    “No no no.., benar…aku tak bisa menilai pribadi seseorang dari penampilan, aku harus tau tingkah laku, sifat, pribadi, pemikiran, prinsip-prinsip dalam dirinya…”
    “Ok, Kim, apa menurutmu kedewasaan itu?”
    “Hmmm usianya, pendiriannya, pemikirannya…yah seperti Boss…”
    “Hahahahah, ya ya good, and you Ratna?,
“Pemikirannya….” Kata Ratna
    “Yah you right…ada lagi?, tuh lihat setiap kita punya nilai akan arti kedewasaan yang berbeda-beda…, kedewasaan itu kemampuan menyadari diri, aku lebih suka menyebutnya to contimplate diri, baik dalam kebenaraan atau kesalahaan, orang yang cepat menyadari diri dari kesalahaan akan membuat dirinya menyadari dirinya untuk menjadi lebih baik, dan itu cukup membuatnya berusaha berubah…jika ia memiliki pasangan, itu akan menguntungkan pasangannya, akan memuliakan pasangannya, membuat pasangannya makin dicintai dan mencintai, mampu untuk membesarkan pasangannya, tetapi intinya adalah, ia sanggup menyadari diri segala kekurangan dan kelebihan dirinya…itu kedewasaan, tapi ingat menyadari berbeda dengan berubah…, menyadari adalah proses kesadaran, tetapi berubah adalah proses panjang perubahaan, tak bisa terjadi satu malam”.
    “Wahhh, Boss cocok jadi Petter Drucker”.
    “No no, cocok jadi Jack Walechnya Asia”
    “Nan nan…hahahahah” kata ku.
    “Lalu apa itu saja Boss” kata Kim
    “No…kedewasaan itu luas, komplex, jadi bukan hanya pengetahuaan kita, pribadi apa lagi usia…, ok aku buat sebuah perumpamaan…tentang kesadaran tadi, seorang anak kecil saat ia memecahkan piring, mungkin ia tak sadar kalau ia melakukan kesalahaan, yang ia tau bahwa piring yang dibantingnya pecah, orang dewasa punya dua kesadaran, ia tau kalau ia telah memecahkan piring dan salah, kalau ia menyadari maka ia akan menyadari kesalahaanya, jadi ia tau dan sadar…”.
    Aku terdiam, aku memandang mereka yang serius mendengarkanku…
    “Lalu seorang yang dewasa ia memiliki qualitas diri hampir dalam segala hal, seorang yang dewasa, berkualitas, dan bertangung jawab:
    Ia sanggup untuk memiliki kadar loyalitas (kesetiaan) yang baik, dalam segala hal tentunya, yang paling mudah adalah dengan pasangannya…ia memuliakan dirinya dengan menjadi setia, ia tak mau menjadikan dirinya tidak mulia dengan berselingkuh…, ia tak sanggup menurunkan kualitas nya dengan berbohong, menipu, berdusta, menyembunyikan rekening telp karena ia tau itu akan membuatnya ketahuana kalau ia selingkuh, ia tak akan pergi diam-diam tanpa sepengetahuan suami atau istrinya, atau pasangannya, ia tak sanggup membuat sebuah kebohongan, sebuah rencana buat menipu pasangannya…
    Karena pribadi yang loyal, ia tak akan membuat dirinya tidak mulia dengan berbuat hal itu, karena ia tau itu akan merendahkan dirinya, membuat dia tidak mulia, ia sadar itu akan membuatnya jadi lebih buruk dan buruk…tapi jika ia sadar ia sanggup untuk setia maka dengan itu pula ia akan memuliakan pasangannya, membuat besar pasangannya, mampu mencintai, sanggup menjadi pribadi yang memberi kualitas cinta yang baik…hanya dengan berlaku tidak menipu…”
    “Wow boss, kita tak pernah berfikir sampai disana”
    “Ya kita gak sadar kalau hal itu benar-benar membuat kita jadi buruk…”
    “Lalu boss, bisa kah kita melihat gadis itu memiliki kualitas diri yang baik”.
    “Bisa dan tidak…, penampilan cantik, gagah, tidak menjamin kualitas diri yang baik, ada orang gagah mengunakan kegagahaanya untuk menjadi playboy, ada orang yang merasa dirinya cantik membuat dirinya menjadi playgirl, mempermainkan pribadi lain…orang yang dewasa dan memiliki kualitas yang baik akan menampakan diri dengan aura yang baik, saat ia sadar ia cantik atau gagah, ia tak merasa diri seperti itu, tapi ia tau potensi dirinya, dan membuatnya mensyukuri diri, tetapi ada kan malah bukan mengsyukuri diri, ia malah membuat dirinya dijual oleh dirinya sendiri”.
    “Maksudnya….”
    “Ya ia menjual dirinya sendiri, ia menjual kecantikannya…, jujur saja saya banyak memiliki teman yang cantik, anggun, tetapi saya tau kualitas diri mereka dalam bekerja, dalam kesetiaan, dalam prinsip hidup, dalam kebaikan, dalam ketulusan benar-benar telah teruji”
    “Ya boss, benar, seperti sahabat boss yang di NewYork…yang aku pernah boss suruh menyambungkan telpon kepadanya???” kata Kim
    “Yah bisa dibilang begitu…, saya sudah bersahabat 10 tahun, melalui banyak perbedaan dan membangun satu persamaan, satu hal yang paling penting dari sebuah kematangan (kedewasaan) adalah tidak mampu lari dan menyerah dalam sebuah relasi dalam tingkat apapun, ia (siapa saja yang memiliki kualitas kematangan yang baik)  berusaha membangun bukan merusak, ia mampu memahami, bukan menolak, ia mampu menjadi motivator bukan menjadi orang yang membuat kualitas diri teman, pasangan, istri atau orang lain menjadi lebih buruk…”
    Aku terdiam…
    “Lalu boss….”
    “Sebentar, nafas dulu…I take deep breath”.
    “Hahahahha”
    “Kedewasaan, juga mampu tersenyum menghadapi segala keadaan, tersenyum menghadapi perangian orang yang bermacam-macam, tersenyum menghadapi kekasaran yang ia terima, tersenyum menerima penderitaan, tersenyum menerima kebahagiaan, dengan tersenyum ia bisa memahami tetapi kadang juga boleh merasa bangga bahwa kualitas dirinya lebih baik dari orang lain, tetapi tak membuatnya sombong tetapi bersyukur”.
    “Ok, kita lanjutkan lagi..…lalu…hmmmm, tadi saya sudah bicara tentang kematangan atau kedewasaan, lalu tanggung jawab…seorang yang memiliki tangung jawab yang baik, akan menunjukan kedewasaan dia yang baik…seorang yang dewasa memecahkan sebuah piring tanpa sengaja, ia akan merasa bersalah, dan ia mampu meminta maaf, dan sanggup menangung kesalahaan, tak ada orang yang lepas dari sebuah kesalahan, dan kegagalan, saya juga sering salah dan gagal…bahkan saya sering menyebut diri orang berhasil yang belajar dari kegagalan
“Lalu ia tak berlama-lama untuk menunda mengatakan maaf dengan sunguh-sunguh, Kim…bukankah saya pernah marah kepada mu karena dokument yang saya sendiri lupa meletakannya, dan rupanya dokument itu ada di laci meja saya…apa yang saya katakan pada Kim waktu ia terlihat cemberut dan sedih…saya meminta maaf tanpa berlama-lama menundanya…saya bisa saja menjadi superior dengan berfikir ‘boss tidak pernah salah’ tetapi saya lebih berfikir ‘manusia tak mungkin tidak pernah salah’ ”
    “ah Boss bisa saja, tak mungkin…..saya seperti itu” kata Kim
    “Boss Kim cemberut???”, Kata Quan
    “Hahahah iya, Boleh kah, Kim saya bercerita tentang pengalaman saya pertama kali bekerja diperusahaan kita dan bagaimana saya berhadapan dengan kamu?”
    “Is Ok Boss”
    “Kim hari ini berbeda dengan Kim beberapa bulan lalu dimana saya pertama kali bekerja diperusahaan memimpin kaliaan…, Kim yang saya kenal pertama kali ia cukup …apa ya….in indonesia ia call it “jutek…” oh ya sinis maksud saya….”
    “Wah koq bisa, Kim jarang cemberut dan sinis, ia serius tapi selalu ceria, tetapi kenapa pengalaman Boss mengenalnya begitu”. Kata Quan
    “Wah kamu sering memperhatikan Kim dong hahahah “ kata Nency
    “No No…”
    “Don’t be lie lah Quan” kata Ratna
    “Sudah dengarkan Mr Mark bercerita” kata Quan
    “Ya…hari pertama saya datang, Kim nampak sinis dengan ku, saya tak tau…, mungkin karena saat itu adalah hari pertama saya masuk kantor tanpa Jas dan berpakaiaan seadanya…”
    “Iya boss, benar…boss tidak nampak seperti Mr Mark yang saya bayangkan…akan memimpin perusahaan…”.
    “Bagaimana saya menghadapi kamu?”
    “Hmmm” suara gumman Kim
    “Bukankah, saya pernah mencairkan suasana dengan mengajak kamu berbicara…”
    “Iya Boss, dan itu mengubah pandangan saya dengan seorang Mr.Mark…”
    “Nice…, coba saja, kalau ia masih bersikap sinis dengan saya…dan saya tak berusaha mencairakan keadaan, maka pada saat saya marah dan saya sadar saya salah.., dan saat saya meminta maaf karena kesalahaan saya sendiri, maka ia tak akan memaafkan saya…tetapi karena ia telah memiliki pemahaman yang berubah tentang Bossnya, maka ia sanggup memaafkan…”
    “Oh gitu ya boss…, wah pantas saja, mantan suami saya tak dapat memaafkan saya” Kata Ratna
    “Ya…tanggung jawab adalah kemampuan kita dalam menghadapi hal-hal yang ada, jika kita salah kita sanggup meminta maaf dan memperbaiki keadaan dan kesalahaan, tangung jawab juga kemampuan kita untuk menghadapi persoalan yang kita hadapi atau kita buat sendiri…mampu untuk menyelesaikannya dengan baik…
    “Tangung jawab juga, kemampuan, memikirkan hal-hal yang didepan, mempersiapakkannya…dengan baik, jika tangung jawab tadi diimplementasikan kedalam diri dan diaplikasikan kepada orang lain disekeliling kita, maka kita sanggup memberikan yang terbaik kepada lingkungan, keluarga, orang yang kita cintai.
    “Tangung jawab juga, kemampuan untuk melihat dan memperbaiki kesalahaan diri atau lingkungannya, sanggup untuk berdiri pada kebenaraan, tak mampu untuk berdiri pada kesalahaan, tak mampu membuat dirinya tidak mulia dengan menjadi lebih buruk…
    “Tangung jawab juga, kemampuan untuk tidak menghakimi, selalu menjadi pemaaf bagi semua orang yang berbuat salah…”
    “Boss, tapi untuk yang terakhir nampaknya sulit…”
    “Kenapa sulit…mudah saja…siapa diantara kaliaan yang beragama?”
    Mereka semua menjawab mereka beragama..
    “Lalu siapa yang beragama Mulism? Dan Siapa yang beragama Kristen? Siapa yang bergama Budha?”
    Ratna menjawab
    “Saya muslim…”
    “Quan ?”   
    “Saya Budha”
    Sisanya menjawab “saya kristen..”
    “Bukankah dalam semua agama kita diajarkan untuk memaafkan, mampu mengampuni, dalam Kristen, jika kita tak bisa memaafkan Tuhan juga gak akan memaafkan kita…, pernahkah kita mendengar kisah tentang wanita pelacur yang di bawa oleh orang-orang kepada Yesus…dan orang-orang itu bertanya kepada Yesus, apa yang harus dilakukan kepada wanita pelacur itu, karena menurut hukum Taurat, wanita itu harus dihukum mati karena sudah berzinah…apa yang Yesus jawab kepada mereka, …. Siapa diantara kamu yang tidak berdosa (bersalah) lemparkan batu yang pertama……, apakah kita sendiri sempurna, bukankah kita selalu melakukan kesalahan sadar atau tidak, kenapa kita tak mampu untuk memaafkan…”.
    “Ya Boss, di dalam agama Budha pun diajarkan kebaikan dan memaafkan sesama…”
    “Ya…semua agama…mengajarkan kebaikan…”. Kata Kim
    “Bahkan jika kita tak bisa memaafkan maka karma kita pun akan tidak dimaafkan” Kata Quan
    “Ya…apa yang kita tabur itu yang kita tuai, jika kita menuai kebaikan maka akan ada kebaikan…” Kata Ku, aku terdiam
    “Kemampuan kita untuk memaafkan membuat kita dimaafkan, membuat kita  membebaskan hati dari kebenciaan, kebenciaan adalah akar permasalahan, kebenciaan adalah akar sakit jiwa…agama adalah jalan yang baik buat panduaan kita menuju lebih baik…, dan kesadaran kita melihat hal baik itu dan hal benar adalah kemampuaan diri yang harus diolah…manusia saat sekarang kurang melihat hal benar, ia kehilangan dirinya, ia tak lagi punya prinsip yang dipegang…padahal hal yang benar dan baik akan membuat dia bahagia…”
    “Wah makanan datang….ayo kita makan dulu”
    “Boss kita lanjutkan lagi besok, atau nanti…menarik sekali pembicaraan ini”.
    Pembicaraan tepotong karena pesanan kita datang….

Markus AP
11/3/2008 1:33 PM

Catatan : hampir seluruh pembicaraan saat itu di tuliskan dalam detail…

terms

Similar/Related Posts

Leave a Comment

 

tools
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA
research