Never settle for being second when you know you deserve to be first, letting go isn\'t a sign of weakness, it\'s a sign you\'re strong enough to move on...


7:13 am, September 1, 2010
Pages
Recent Posts
Most Popular Posts
Last Blackberry Note
Categories
Recent Comments
Login




Register | Lost your password?
New eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

eBook : Kayurie

Kayurie : kumpulan cerpen & puisi, free reading online

Kayurie - view online


Secangkir Kopi Dari Bangkok
By. marcus . July 9th, 2008 at 12:29 pm
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Secangkir Kopi Dari Bangkok

    Pagi ini, aku telah turun dari kamar menuju restauran, menikmati secangkir kopi dipagi hari, dan keramahaan masyarakat bangkok yang benar-benar memukau. Sehariaan kemarin benar-benar melelahkan, setelah makan malam dan bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu kita melanjurkan untuk Clubing, Quan, Nency melantai menikmati alunan musik, sedangkan Kim dan Ratna, duduk di satu tempat bersamaku, aku hanya memesan sebotol Heniken, sedangkan Kim dan Ratna hanya menikmati alunan musik sambil bercakap-cakap denganku.
    Aku baru berada diruanganku jam 11:40 Malam, menuliskan apa yang terjadi pada beberapa jam sebelumnya, karena memang obrolan saat itu menarik sekali.
    Pagi ini, aku hanya menikmati secangkir kopi.
    “Wah boss sudah pagi sekali bangun”.
    Pukul 10 anak-anak mulai turun ke ruang restauran.
    “Ya aku dari jam 9 sudah ada disini…”
    “Wah boss selalu datang pagi ke kantor” kata Kim
    “Ah tidak juga, pernah juga aku menyegajakan diri untuk datang lebih siang…”
    Mereka duduk satu meja denganku, dengan formasi duduk yang hampir sama seperti saat makan malam kemarin.
    “Loh boss…kenapa Boss memilih tinggal di hotel ini bersama kami, hotel ini kan tidak terlalu mewah…”
    “Ahh aku memilih tinggal disini, memang sebelumnya aku berencana untuk tinggal dihotel lain, tentu kalau pasangan saya ikut ke sini, tetapi karena ia tak dapat ikut, aku memutuskan untuk tinggal bersama kaliaan, daripada aku sendiriaan…dan gak tau apa yang akan aku lakukan…, toh aku kehilangan semangat untuk keliling-keliling, malas rasanya”
    “Iya…habis Miss Novia tidak ikut, too bad” kata Kim
    “Hmmm”
    “Loh kaliaan hanya makan itu???”
     “Iya boss, kita berencana untuk makan diluar nanti….”
    “Oh…, Boss..you can join us…”
    “Hmmm, no no, kalau kaliaan mau jalan-jalan pergilah, ini liburan kaliaan, aku tak akan menganggu…toh anak-anak muda kan suka pergi and get wild” aku merasa diri tua hahahah
    “No boss, is ok, kita tak merasa terganggu koq…”
    Kim sedang sibuk mengeluarkan berkas-berkas dari tas nya, ia sambil menikmati tea dan melihat-lihat kertas-kertas yang dibawanya…
    “Kim what you doing?”
    “report boss!!”
    “What report!!!…This is your vacation.., leave it, this is order…I command you to stop that, itu kerjakan nanti di singapore, not here, this is your vacation…”
    “OK Boss”
    “Oh Gosh, Kim Kim”
    “Iya tuh boss Kim dari semalam membuka-buka laporan itu saja…” kata ratna.
    Akhirnya ia pun membereskan berkas-berkas dan memasukannya kedalam tasnya…
    “So boss what your plan today?”
    “Hmmm… I don’t know…”
    “Iya boss kenapa tak bergabung saja dengan kita…”
    “No no, mungkin hari ini aku hanya akan ke supermarket dan di hotel saja…alone, mendengarkan music di Itune, atau mungkin akan nongkrong di coffeshop”
    “Hmmm boss kalau gitu, saya ikut saja…, kasihan Boss sendiri” Kata Kim
    “Ya saya juga…” Kata Ratna..
    “Katanya kamu mau ikut kita…” Kata Quan
    “Gak ah, saya capek, lebih enak disini, ngobrol-ngobrol toh kita masih lama di Bangkok, kita bisa ngobrol dengan Boss”
    “Iya “ Kata Kim
    “Hah…apa tidak membosankan ngobrol dengan saya…seharusnya kaliaan menikmati liburan dan berjalan-jalan menikmati Bangkok”.
    “No lah Boss, jarang bisa berbicara santai dengan anda”.
    “Ok terserah kaliaan”
Setelah menikmati sarapan pagi mereka, Quan dan Nency meninggalkan meja kami, dan aku pun juga beranjak dari ruang restauran, kembali kekamarku mengambil buku,rokok dan beberapa hal yang aku tinggalkan dikamar.
Aku meminta Kim dan Ratna untuk menungguku di coffeshop.
Mereka berdua pun sudah ada disana, saat aku ke coffeshop.
Aku memesan tea dan memulai membaca buku yang ku bawa…(Becoming A Star – Mario Teguh).
Kim dan Ratna saling berbincang-bicang, entah apa yang mereka saling obrolkan, biasa lah Girl Talk…aku tak memperhatikan, setelah lewat setengah jam kurang lebih, aku menutup bukuku dan menikmati tea yang ada dimeja kecil didepanku.
    “Boss bolehkah kita bertanya…”
    “Hmmm boleh saja…tapi jangan tanya yang sulit…”
    “Boss, bagaimana boss bisa bercerita panjang lebar seperti semalam …., saya tak pernah mendengar begitu menarik cerita seperti itu”
    “Hmmm, mungkin pengalaman hidup, mungkin juga prinsip, mungkin juga dari apa yang saya baca dan praktekkan…, tapi sejujurnya, aku juga manusia biasa yang kadang menghadapi kehidupan gak mudah”
    “Ohhh” ujur Ratna…
    “Boss…”,  “Yess…”
     “Bolehkah aku bertanya tentang hal lain…”
    “Why not…”
    “Kenapa ya, pria suka sulit untuk berkomitment”
    “Pria…????, jangan sebut pria, kayaknya wanita juga kadang sulit untuk berkomitment, bagaimana jika kita menyebutnya, ‘kenapa ada manusia yang sulit berkomitment???’
    “Apa sih Komitment yang ada dibenak kaliaan???”
    Mereka terdiam
    “hmmm komitment adalah kemampuan untuk mengikatkan diri (sebuah ikatan, janji), dan menjadi tidak bebas…seorang suami dan istri yang memiliki komitment untuk menjadi satu dalam pernikahan, maka ia punya tangung jawab untuk tidak lagi bebas dengan dirinya sendiri, ia melepaskan egois dirinya sendiri, kepentingan dirinya sendiri…komitment tidak selalu terpaku pada janji saja, tetapi kemampuan diri, melepaskan kebebasan, ego, mengubah diri…dan mengubah diri itu kan sulit toh, seperti yang ku bilang semalam berubah memiliki proses nya sendiri”
    “Contohnya boss???”
    “Ok…misalkan seorang suami, kita bicara saja komitment yang ada dalam sebuah family, misalkan saja seorang suami ia yang dulu pria lajang, mempersunting seorang wanita, dan menikah, maka ia tak lagi bisa seenaknya untuk pulang malam, berclubing bersama teman-temannya, lalu membiarkan masakan istrinya dirumah menjadi dingin…ia harus punya kesadaran bahwa ia telah mengikatkan diri dengan seorang teman hidup, dan ia harus sadar untuk segera pulang, dan menikmati masakan yang sudah susah payah istrinya buat, buat dirinya…”
    “Wahhhh…sulit ya…bagaimana jika istrinya bekerja…” Kata Kim
    “Hmmm seorang istri yang bekerja, ia juga jangan lupa ia telah menikah, dan ia harus memiliki tangung jawab untuk mengurus rumah tangga, melayani suami, mencintai anak dan suaminya…diluar pekerjaan ia punya tugas lain yang tak bisa begitu saja ditinggalkan…, lihatkah, keduanya punya tangung jawab, komitment bicara tangung jawab, kesadaran akan kewajiban yang ia harus jalani…
    “Kesadaran yang disertai cinta, akan membuat seorang suami lebih menolak ajakan temannya dan ia pulang, hanya untuk menikmati sop ayam buatan istrinya yang mungkin kurang garam atau merica…tetapi ia tetap pulang untuk berkumpul bersama anak dan istrinya…ia menghargai istrinya yang sudah susah payah memasak…, ia kan memilih bermain kuda-kudaan bersama anaknya, membacakan dongen untuk anaknya…ia memilih semua itu daripada ia khilangan figure dirinya dimata anak-anak dan istrinya..sebagai seorang suami dan ayah..
    “Acara nonton bola tak sebanding dengan anak atau istri yang tidak menghargai suami yang lupa tangung jawabnya…lupa janjinya untuk pulang dan makan malam, lupa janjinya untuk setia, lupa janjinya untuk menjadi kepala keluarga…”
    “Lihatlah kata tangung jawab, keberaniaan untuk menghargai pernikahaan (hubungan), menghargai sebuah ikatan, komtiment harus lahir dari cinta, tangung jawab, dan penghargaan atas ikatan itu…”
    “Wah kalau gitu lebih enak bebas ya…” kata Ratna…
    “Hmmm pemikiran jaman sekarang, telah mengubah komtiment menjadi sebuah hal yang tidak ada artinya, jaman sekarang komitment itu seperti sebuah harga yang murah, kita lebih suka bebas, dan akhirnya melukai pasangan yang telah kita ikat dalam sebuah komitment…maka free sex, berganti pasangan, perselingkuhan adalah hal umum yang terdengar saat ini…
    “Seorang yang memilih kesenangannya sendiri dan mengotori dan tidak menghargai komitment, saya rasa ia tak sanggup berkomitment sebenarnya, ia tak sanggup menjadi manusia yang bertangung jawab…
    “Lalu kalau begitu kita kehilangan kebebasan???”
    “Apakah jika kita bisa bebas sebebasanya akan membuat kita bahagia?, orang yang bebas sebebasnya tanpa tangung jawab, akan lebih sering mengorbankan kebahagiaan orang demi kesenangannya…apakah ini kebebasan?, sedangkan kebebasan tidak boleh melangar hak kebahagiaan orang lain…”
    “Lalu bagaimana dong…???”
    “Orang yang mengerti tentang komitmentnya dengan sadar akan secara otomatis dengan kesadaran melakukan semua tangung jawab, seorang istri tak akan mengeluh saat ia menganti popok bayinya, seorang istri tak akan marah-marah jika uang gajinya masih kurang untuk memenuhi seluruh kebutuhan ia malah membesarkan suaminya untuk giat bekerja memperoleh prestasi, seorang istri tak akan mengeluh saat bau asap didapur merusak makeupnya, lalu seorang suami akan malas berselingkuh yang merusak citranya sebagai seorang suami dan ayah dimata keluarganya, ia akan sadar secara otomatis pulang rumah untuk mencari kebahagiaannya didalam keluarganya, ia menafkahi keluarganya, ia mencintai keluarganya, yang terpenting keduanya menjaga dan menghargai dan mengsyukuri komtiment yang telah dibuatnya…”.
    “Lalu ia tak akan dengan mudah berkata…cerai jika terjadi pertengkaran, sedangkan pertengkaran dan perbedaan sesunguhnya bisa dijembatani dan dicari solusinya untuk saling bisa memahami dan melengkapi…”
    “Wah betapa bahagianya seorang yang bisa mendapatkan anda Boss, anda tau semua itu…, bagaimana anda bisa memiliki semua pemikiran itu”
    “Hahahah, saya dididik dari seorang ibu yang setia kepada suaminya, seorang yang benar-benar berjuang untuk keluarganya, ia benar-benar menghargai komitment yang dibuatnya…dan tentu semua pengalaman hidup saya, semua yang saya bangun dalam kehidupan saya dari dulu…
    “Saya tak pernah melihat ibu saya mengeluh saat ia memasak, mungkin ia hanya bilang lelah, tetapi itu hanya expresi kelelahannya, tetapi ia tak pernah berhenti untuk menyediakan nasi dan makanan untuk seisi rumah”.
    “Oooo…”
    “Kita sering kali lupa bahwa berkomitment itu sebuah proses yang tidak bisa begitu saja ada, itu harus diingat, disimpan tentu dengan kecintaanya kepada pasangan, perusahaan atau apa saja…, komitment bukan sekedar janji yang kita ucap, tetapi janji yang kita sadari, kita ingat, kita simpan dalam hati, yang kita lakukan dengan kecintaan, seorang yang melupakan komitmentnya ia telah merubah dirinya menjadi tidak mulia, ia dengan sendirinya mengotori citra dirinya, ia dengan sendirinya merusak pribadinya, ia menjadi bodoh dengan melakukan kebodohan dengan melangar komitment…lihat saja saya, kenapa saya memilih tinggal di hotel ini, bersama kaliaan, sedangkan saya bisa di hotel lain dan bisa saja saya tidur dengan wanita bayaran, dan melupakan komitment saya melupakan komitment yang saya pegang saya sisihkan begitu saja, atau bisa saja saya berselingkuh dan merusak komitment yang saya buat, sedangkan saya tetap memilih keberadaan diri saya yang saya sudah bangun selama ini, untuk tetap menjadi setia dengan komitment yang sudah saya buat, komitment untuk mencintai dan menjaga komitment itu…., dengan ini saya telah tetap menjaga diri saya tetap mulia…jangan merusak standard yang baik yang sudah kita miliki…jangan merusak prinsip baik yang kita punya, jika kaliaan seorang gadis yang baik-baik dan setia, jadi lah seperti itu…karena itu sebuah harga yang mahal dimata pasangan anda nanti…tak mau kan kaliaan dinilai murah oleh pasangan anda…jika mereka tahu, anda bisa jadi orang yang mudah (gampang) menjual komitment, bahkan menjual diri dengan bebasnya…jadi dengan anda sadar ini, kebebasan yang tidak bebas ini bukankah ini sebuah kebahagiaan???”
    “Iya benar juga Boss…”
    “Orang yang berpegang pada komitment, ia tak mau untuk merendahkan dirinya pada standard tertentu yang lebih buruk…”
    “Lalu bagaimana kita bisa melakukan itu…”
    “Lakukan dari hal kecil, tanamkan dalam benak kita, bahwa kita harus melakukan apa yang sudah kita ucapkan…hal kecil misalkan berjanjilah datang tepat waktu jika anda berjanji untuk datang tepat waktu kepada siapa saja, kepada suami misalkan…berfikirlah … “ah aku tak mau mengecewakan suamiku…” dan lakukan itu bukan dengan keterpaksaan tetapi dengan cinta…dengan penghormataan, dengan penghargaan….“
    “Intresting…tapi Boss biasanya kan laki-laki yang selalu telat datang…hahahah”
    “Its just example…”
    “Lalu bagaimana jika kita benar-benar sudah berkomitment sedang pasangan kita tidak bisa begitu…”
    “Hmmm komitment yang sempurna jika keduanya tau tangung jawab untuk memegang komitment itu, tetapi jika kita berhadapan dengan seorang yang tidak bisa berkomitment, kita punya dua jalan, kita tetap menjaga komitment kita, tetap menjadi mulia dengannya, dengan menjaga komitment itu, lalu menjadikan diri kita yang positif memgubah hal-hal yang negatif dihadapan dan sekeliling kita, atau kita bisa memilih tidak hidup dengan seorang yang tidak sejalan dengan kita….dan tetap melanjutkan perjalanan dengan memegang kemuliaan yang kita miliki…oh ya ingat, hal ini bisa dilakukan sebelum menikah, tetapi setelah anda menikah…anda tak bisa begitu saja cerai karena pasangan anda tak bisa berkomitment, mau tak mau anda harus mengambil seluruh konsekwensi itu,
    “Maka pilihlah…lihatlah dengan seksama, temukan pribadi yang benar-benar punya kualitas berkomitment yang baik sebelum anda menikah…, maka anda akan saling dibahagiakan dengannya…., sudah ah…saya lelah bicara terus”

Markus AP
12/3/2008 22:33 PM

Catatan : hampir seluruh pembicaraan saat itu di tuliskan dalam detail…

  • Share/Bookmark

Leave a Comment

Top Commentators
Twitter Updates
    News
    • 11:04 pm, September 8, 2010
      Terselip khilaf dalam candaku,Tergores luka dalam tawaku,Terbelit pilu dalam tingkahku,Tersinggung rasa dalam bicaraku. Hari kemenangan telah tiba,Semoga diampuni salah dan dosa. Mari bersama bersihkan diri,sucikan hati di hari Fitri. Dengan segenap hati saya pribadi, berikut staf dan staf redaksi lepas (markus ap photography, manifesto publishing, markus manifesto) mengucapkan hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin
      From: Marcus

    • 8:04 pm, September 8, 2010
      Sorry for this inconvenience, we close our website for temporary, now our website is currently under maintenance, and for security reason we currently upgrading the system! Thank You
      From: Marcus

    Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.