Sinfoni Magis New York
Apakah dengan melanglang buana kebelahan dunia sebelah barat melakukan sebuah perjalanan jauh dari timur ke barat dan menetap disebuah kota yang megah seperti New York lalu duduk melahap santap siang di 400 West 119th street sambil menikmati view Manhattan, the Hudson dan East River membuat kita nampak sukses? Dan membuatku bangga??? atau tinggal di 301 Park Avenue dua malam juga akan nampak hebat?, kesuksesan menjadi sebuah pertanyaan yang aku tanyakan selama sebulan kurang ini…
Menjadi momok, juga perenungan yang panjang disepanjang perjalanan hidup ini.
Menjadi diskusi sepotong-sepotong yang menarik bersama sahabatku disela kesibukannya yang sebenarnya ia sedang cuti (walau pikiran kami berdua tertuju pada kesibukan dan hal lain entah dimana)!.
Aku pernah berfikir, tinggal di New York sebuah hal yang mewah, modern dan sukses, membuatku ingin hidup dikota ini…seperti sahabatku yang sudah tinggal disini lebih dari 9 tahun, nyatanya ia sering mengeluh tentang kota ini, mengeluh tentang lelaki-perempuan yang sama saja kelakuaanya, tak pernah setia! (Tidak hanya di New York, tambahku) Aku tertawa…
“Aku juga lelaki…tapi jangan samakan ya!”
“Kau kan bukan New Yokers” katanya…
Yah aku memang bukan…aku Jakartaers! Pribadi yang masih sama, yang tak berubah menjadi lebih “wah”, lebih “wow”, atau lebih “eek”, masih bisa naik bus panas yang tak ber AC berjubel dengan penumpang lain, atau mengantri Busway yang dikecam tetapi juga dinikmati orang jakarta, dan juga mau naik SL mewah yang jarang dimiliki orang.
Bicara tentang kesetiaan sebuah obrolan yang panjang, yang menarik yang tak habis dalam semalam.
Tetapi yang menarik adalah, tetap memikirkan membahas tentang kesuksesan, dan apakah kesuksesan saat you can buy anything you want..do whatever you want, atau tinggal disebuah kota modern and never sleep.?
Sebab ia lebih sering tidak tidur karena pekerjaanya yang menumpuk, tetapi ia selalu ditemani New York yang juga tidak tidur, suara sirene yang tak henti, gemerlap lampu yang tak pernah padam…simfoni keseharian New York, yang tanpa henti!
Kemiripan nya dengan New Yorkers lainnya adalah berkorban dengan tidak tidur, karena date line atau persiapan meeting sana meeting sini, dan jam-jam yang dihabiskannya menuju kantor atau menuju Airport JFK untuk terbang kebelahan dunia sana!, ia memang ciri orang New Yorkers…..pekerja keras!!!.
Menjadi New Yorkers, ia harus sama-sama mengikuti ritme dan melodi kota ini.
Menyatu bersama beat jantung kota ini…menurutku dengan metafora yang berlebihan tentang kota ini dan kehidupannya.
Dipagi hari semua orang bergegas menuju kantor, kampus, sekolah, kantor pemerintah, pasar, universitas dengan Subway, Yellow Cab, Mobil, Bus atau mungkin bersepeda, atau jalan kaki dengan kakinya sendiri. Di financial distric “Wallstreet” semua orang nampak serius, sibuk, entah apa yang disibukkan. Semua orang mencari uang-uang-uang, mungkin uang adalah dewa mereka.
Disini lebih dari 450 Station Subway menuju seantero New York, 11 ribu Yellow cab dan tentu dengan 11 ribu supirnya yang kadang ramah, kadang menyebalkan…bayangkan seperti apa padatnya, seperti apa sibuknya, seperti apa menyebalkannya menghadapi orang yang tak ramah?
Tetapi New York tetap magis!
Disiang hari, kedai makan, coffeshop, gerobak hot dog, restauran ramai dengan mereka yang makan siang, bicara tentang bisnis, bicara tentang anak mereka, suami selingkuh, walikota mereka… apa saja…entah sambil jalan, entah berdiri, entah tidur atau di WC…talk..talk..talk. Brisik.!!!
Dan tentu tak ada yang bicara tentang diriku, tak ada gosip tentang kehidupanku, hampir semua orang cuek dan masa bodoh disini, mungkin sekalipun kau tak mengancingkan celana mu…tak ada orang yang memperhatikan. Tetapi New York tetap magis!
Disore hari, mereka menuju rumah…apa lagi kalau tidak dengan subway, Yellow Cab atau mobil, sampai rumah menonton acara TV yang isinya kekacauaan ini itu dibagian kota ini dan itu … Tetapi New York tetap magis!
Yah hampir sama sibuknya dengan Singapore atau Jakarta.
Tapi tak ada yang mengalahkan kesibukan New York, yang maha sibuk, maha penat, maha gemerlap…yang tetap memelet…menawan dan cantik.
Kalau dipikir benar-benar seperti kutuk rutinitas yang menyebalkan…
Awalnya itu lah kesuksesannya menurutku. Menjadi satu dengan New York, menikmati kegemerlapannya.
Awalnya kesuksesan ku pikir bisa berkata buy what money can do for you, do whatever you want do! (tanpa tanggung jawab, tanpa kesadaran, tanpa hati akhirnya hidup kehilangan jiwanya).
M.A.W. Brouwer, dalam bukunya pernah seketika ia nampak mengutuki New York lalu memujinya, ia berkata.
“Adakah orang yang mengatakan bahwa kota New York ialah kota modern? Kalau ada, bilang sama mereka pendapat itu salah, New York adalah kota Yahudi dan seperti orang Yahudi sendiri. New York yang terpilih dan yang terkutuk. Kota yang tua, ramai, kotor dan jelek, tetapi seperti celana tua lebih enak dari yang baru, juga New York sangat enak dan sangat menarik. Tidak begitu berbeda dengan Amsterdam….ialah kenyataan bahwa New York kota yang kuno dan kolot, tak berbeda dengan Jerusalem, di New York banyak Yahudi, masih memakai jas hitam dengan topi bulat dan kecil, dan pakai jenggot seperti Abraham”.
Aku yang pernah berkata New York kota modern!
Aku yang pernah menuliskan puisi tetang kota ini! Aku mengaguminya, Aku memujanya.
Tapi aku tak tau kalau New York sama dengan Amsterdam atau Jerusalem. Tak pernah terpikir mengunjungi kota itu. Apa bagusnya? Entahlah.
Dan memang 70-80% bisnis kota ini dikuasi oleh Yahudi, mungkin juga negara Amerika yang dikuasai Yahudi…guru, pegusaha, pegawai pemerintah, mungkin juga shadow goverment…penguasa sesunguhnya adalah Ben Franklin abu-abu bernilai 100$, bertuliskan “In God We Trust”.
Mungkin kata Brouwer benar. Yahudi dimana-mana.
Yang kutahu aku selalu mengagumi New York, kota yang entah kenapa memiliki kekuatan magis, menarik, memelet, lalu memperkosa pemikiran.
Maka jika ingat nama kota ini, ingat Frank Sinatra yang serak merdu dengan “New York…New York”.
Ingat dewi Liberty yang anggun (bukan dewi persik),
Manhattan, Medison Square, Broadway, Brooklyn Brige.
Ingat Metropolitan Art Museum dimana persemayaman terakhir ‘Pliers’ karya Walker Evans.
Ingat puisi ‘Eros’ karya Ralph Waldo Emerson.
Ingat U2 dengan lagunya New York.
Ingat Al Pacino dalam actingnya di Scent Of Woman, ia mau mati dengan cara yang tragis put bulltet in his head.
Lalu ingat 301 Park Avenue/50th street Waldof Astoria, Empaire State Building, Central Park, Blomingdale, Wallstreet.
Ingat WTC yang hancur, ingat sahabat yang tinggal, hidup dan bergulat dengan keramaiaan dan kemacetan New York, Jakarta kalah macet.
Bicara kemacetan New York, wow!!!! nanti saja…kita bahas lagi. Atau tak ada gunanya membahasnya…macet dimana-mana sama menyebalkan!
Kembali kepada kesuksesan…
Sesungguhnya nilai kesuksesan bukan itu katanya!
Aku lantas terdiam, berfikir, aku berfikir juga sama, aku berfikir kesuksesan bukan karena aku juga bisa menyebutkan nama-nama, istilah-istilah yang orang lain tak tahu dan aku tahu, kesuksesan juga bukan merasa pintar, hebat, genius…
Merasa bukan kenyataan, tetapi kenyataan adalah kenyataan.
Apa yang aku cari?, semua nya sudah aku tahu kata orang, semua sudah ada kata mereka, padahal aku banyak sekali tak mengerti…kesuksesan itu apa?, hidup itu seperti apa? Apakah arti hidup?, Kenapa kita hidup?.
Kadang aku sering merasa bukan siapa-siapa, aku sering mempertanyakan tentang kehidupan arti kehidupan, yang aku tak mengerti sampai hari ini, seperti pernah kutulis dua tahun lalu dalam tulisanku, Perjalanan – Note of spiritual journey (akhir 2005).
Aku tetap mempertanyakan hal yang sama. Mereviewnya kembali. Terus dan terus berulang-u;amh! Ini aku…ini diriku…ini pribadiku…apa yang aku anggap perlu adalah melihat kedalam bukan keluar saja..this the real spiritual journey.
Apa lagi sekarang tentang kesuksesan!.
Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini tentu tak pernah ditanyakan disekolah atau bahkan diuniversitas, tapi menjadi pertanyaanku dalam perjalanan ini.
Thomas Carlyle berkata “Manusia tanpa suatu tujuan adalah ibarat sebuah kapal tanpa kemudi-anak terlantar, hal sia-sia, bukan siapa-siapa.
Victor Frankl menulis “Dewasa ini, lebih banyak orang memiliki sarana untuk hidup tetapi tidak punya arti untuk hidup”.
Yah kita sering merasa sukses tetapi tak tahu arti untuk hidup?
Mana sih yang lebih penting?
Tapi sahabatku menganggapku telah sukses!, walau ia berkata “What is the money can’t do if you lost your soul, lost your family” katanya. (Ia tak mengatakan itu karena ia telah kehilangan dirinya, karena menjadi sibuk dan menjadi New Yokers, ia tak kehilangan jiwanya yang masih sama seperti rata-rata orang Indonesia, mawas diri, walau tak seluruhnya mawas diri).
Dan katanya lagi “You have it both”.
Aku tersenyum…makin berfikir.
Aku pernah menulis, Jas 300 Dollar mengendari Jag atau Hummer tidak membuat mu menjadi sesuatu di mata Tuhan.
Sekarang aku menambahkan untuk apa jika kita sukses tetapi tak memiliki cinta, kehidupan, keselarasan! untuk apa kita kaya jika tak ada arti hidup dan kebahagiaan! Itukah nilai kesuksesan???!
Yesus pernah berkata..
Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaiaan?, pandanglah burung-burung dilangit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kau kuatir akan pakaiaan? Perhatikan bunga bakung diladang yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun aku berkata kepadamu Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakiaan seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuah kedalam api, tidakkah IA akan terlebih lagi menandani kamu hai orang yang kurang percaya?….(Matius 6: 25-31)
Untung saja aku bisa mengutibnya dari Bible tua ku yang tak pernah tertinggal.
Kata-kata mereka semua indah dan hebat…tetapi hidup kita, kita harus menemukan artinya!!!.
Jadi seperti kata Victor Frankl “Hidup harus punya arti”. Mungkin disana aku sudah sedikit mendapatkannya…disana mungkin ke suksesanku, selalu menanyakan artinya, dan berusaha mawas diri!
Di New York hampir tak pernah ada orang perduli kau sekaya apa, sekalipun kita turun dari 500 Grand Car (mobil seharga 500 ribu us), tetapi tak seorangpun mengenalmu…mungkin orang baru akan perduli jika kau Oprah atau Donal Trump berjalan di tengah kota tanpa pengawal, apakah orang New York memang melihat hidup bukan dari luarnya? Atau memang mereka tak pernah perduli dengan orang lain.
“Who the hell are you? Oprah!!!, Kiss My Ass”.
Ah memang benar kata sahabatku, “What is the money can’t do if you lost your soul, lost your family, lost your love, lost your heart”…dan itu juga yang menjadi prinsipku, kesuksesan tidak diukur dari itu!.
Tapi Sidaharta Gautama meninggalkan kekayaanya menjadi seorang pengelana mencari ketenangan dan kebenaran, lalu membagikan pencerahaanya akan cinta kasih bagi kehidupan, ribuan tahun kemudian namanya masih dikenang, pengikutnya jutaan.
Ia tetap dikenang sebagai putra seorang raja, dan seorang yang mencapai pencerahaan…
Tentu tak ada orang yang ingin seperti itu. Sudah ada Sidaharta kan! Walau aku berfikir begitu. Tentu aku bukan Sidartha atau Jesus…im more worse than he is…
Aku tak perlu menjadi Sidartha … aku tak mau.
Aku mau menjadi diriku sendiri dengan segala keberadaanya karena sang Maha Segala, menjadi diri yang tak bisa diubah oleh orang lain kecuali sang pencipta atau diriku sendiri, entah diatas atau dibawah posisiku, bahagia atau tidak…dengan tidak melupakan dikeadaan apapun aku dulunya.
Memang kesuksesan tidak bisa disamakan dengan keberadaan New York yang hidup dan megah dengan kegemerlapannya, diisi lain dari New York yang dark site, hampir sama dengan kampung kumuh Prumpung di Jakarta, 40-49% Bronx adalah kulit hitam, South Bronx, daerah perhuniaan yang menyeramkan! Sodom dan Gomora!
Prostitusi, Narkotika, Geng, Mobster, Pembunuhan, Pemerkosaan…moralitas hampir punah disini. Kebodohan, nafsu, dan uang menjadi moralitasnya!.
Aku tak pernah tahu sisi ini….aku hanya mendengar ceritanya dari sahabatku.
Tak ada turis yang menyengajakan diri untuk mengunjungi tempat itu. Ini bukan tempat obyek wisata!.Aku ingin! Walau rupanya aku lebih sayang nyawaku daripada keingin tahuaan yang konyol.
Aku berkata kepada sahabatku, aku ingin mengunjungi toko “radio shack, masih ada kah?”. Ia sendiri hampir tak tahu kalau ada toko semacam itu.
Mungkin “Radio Shack” toko komputer pertama didunia…entah lah. Kehidupan disini tak lepas dari teknologi, kalau pagi disini dingin dengan sebuah tombol, ruangan menjadi hangat, pagi hari semua orang sudah sibuk dengan kesibukannya tak pernah habis, walau diruang kamar kesibukan pun tetap bisa terjadi, sebab dari belahan dunia sana, urusan bisnis bisa diatur disini dengan teknologi apa saja yang ada. Dari ruang kamar, dapur, semua bisa teratur.
Teknologi memang sebenarnya alat yang memudahkan, tak lepas dari nafas tiap orang yang berkecimpung didunia bisnis dikota ini, dengan teleconfrance, internet Voip, web cam, kita bisa berkantor setiap hari tanpa meninggalkan kamar tidur mengucapkan selamat pagi kepada keluarga di belahan dunia sana, mencek naik turunnya saham di Downjones atau index hang seng dengan sebuah perangkat komputer yang terkoneksi ke bursa saham……tapi bukan New Yokers kalau tak keluar rumah dan mengikuti beat kehidupan kota ini.
Ahhh…kenapa tetap saja ada teknologi…perjalanan seharusnya meninggalkan teknologi sejenak…lalu ku pikir, dimana aku harus mengetik? Dimana aku harus memulai catatan ini selain di laptop, tentu akan menyebalkan mengunakan mesin ketik yang kuno dan berisik. Yang mungkin sudah punah.
Bahkan di coffe shop di sebuah super store di 59th East Street, orang bisa ketak-ketik tanpa mesin ketik…tak ada bedanya dengan Jakarta!.
Mungkin gaya hidup Jakarta mengikuti disini!.
Yah bukankah kita lebih sering meniru gaya hidup orang barat tanpa punya pribadi dan gaya hidup sendiri…bosankan melihat gadis-gadis di Jakarta bergaya bak seorang model NewYork.
Kembali ke teknologi…aku tak buta teknologi, sekalipun aku mementingkan hal yang didalam, teknologi dekat denganku…dari urusan kemanaan, urusan coding, urusaan jaringan aku tak buta sama sekali…
Jauh dari New York, Long Island, walau masih termasuk negara bagian New York…
“Bagaimana kabarmu?” Kata Mr.Hendrata, saat ia menyapaku pertama kali…
Mr.Hendrata, begitulah panggilan New Yokers kepadanya, walau nama Hendrata sulit disebut bagi lidah orang barat, ia ayah sahabatku, semua hal tentang dirinya tetap tak pernah berubah.
Ia seorang pengusaha, yang pensiun, menetap menjadi warga negara Amerika 9 tahun lebih, yah ia tak pernah berubah, tetap ramah, kaku, bijaksana, kokoh, hampir mirip seorang Jendral berbadan tegap, dan kritis, tentu ia tak pernah lupa pada seorang yang membawa anaknya hingga larut malam…hanya untuk makan bakso dilapangan tembak.
“Masih suka catur?, kau seorang fotografer?,
“Yes sir”
“Jangan bawa-bawa kamera dijalan, tak aman disini”. Katanya.
“Aku tak membawa kamera…. omm”
“Oh ya…kau menulis? Ya kau suka menulis, anakku pernah cerita tentang itu…”
“Bagaimana pemerintahan SBY di Indonesia… mari makan, kau memang pendiam!!!”
Aku terdiam…tak bisa menjawab pertanyaan bertubi itu.
Aku menjauhi politik, TV tak pernah nyala untuk aku tonton…makanya aku hampir tak tahu kalau pelawak Basuki telah meninggal (baru tahu 1 minggu kemudian, dari orang Indonesia yang bekerja di kantor)…ah, kenapa orang baik cepat meninggal?.
Aku menjauhi intrik lebih tepatnya, aku membenci hal-hal yang ribet…walau sesungguhnya hidup itu ribet….
Aku mencintai photography, tak menarik jika tak mengunjungi International Center of photography, melihat karya Ansel adams, Herri Cartier Bresson yang beberapa kali pernah mengunjungi Indonesia.
New York kaya akan museum, mungkin karena sejarah menjadi sesuatu yang membuat hidup mereka menjadi lebih baik…yah bukankah seharusnya kehidupan kita melepaskan hal-hal yang sudah sejarah, menjadi lebih baik melihat masa depan…jika kita tak mau jadi fosil sebuah kebodohan masa lalu!.
Yah kesuksesan bagiku adalah belajar menjadi lebih baik dan tidak bodoh karena masa lalu.
NEW YORK, NEW YORK…
Inilah kota macet, kota yang gak pernah bisa legang dihari lebaran, hanya Jakarta yang sepi dihari lebaran, New York, the city never sleep, kota macet, sekalipun si komo ga pernah lewat tetap saja macet.
Ah gak akan habis bicara tentang kesuksesan…aku punya pandangan sendiri tentang kesuksesan, bukan bicara tentang uang, tetapi pencapaiaan akan diri yang lebih baik…aku mencari itu dan setiap perjalanan adalah perenungan.
Markus AP
Febuary – March 2008


Similar/Related Posts