Dari Jakarta Sampai Keramahan Singapore
Aku pernah membaca sebuah buku karya M.A.W. Brouwer (OFM) (Alm) berjudul “perjalanan spiritual – Dari Gumejeng Sunda Eksistensi Tuhan, Sampai Siberia” (walau belum selesai membacanya), aku mengagumi tulisan itu.
Dan aku ingin suatu hari bisa mengalaminya, dalam buku itu Brouwer menulis perjalannya ke berbagai tempat didunia, tentu bagi Brouwer perjalanan itu tidak sekedar perjalanan “melancong”, sebab dalam bukunya ia tak sama sekali menjelaskan apa yang dilihatnya secara mendetail, tetapi ia lebih menulis siapa yang diamatinya dari kehidupan, lalu siapa yang ditemuinya dan dialog dengan mereka yang ditemui, dan tentu sesuatu yang memperkaya dirinya.
Maka menurut Lieh Zi, seorang filsuf sejaman dengan Confusis ada tiga macam perjalanan.
Yang pertama perjalanan melihat dan mengagumi negara yang dikunjungi lalu perjalanan untuk melihat perubahan apa yang terjadi di negara itu, ketiga adalah perjalanan “sempurna” yaitu perjalanan yang memperkaya diri, Yang dimaksud disini memperkaya diri secara spiritual. Entah jika kita membacanya masuk kedalam golongan apakah perjalannya itu?
Oh ya, kalau ada yang belum tahu siapa Brouwer, ia seorang Kelahiran Delft Belanda, ia seorang Pastor Ordo Franasiskan (OFM), ia pernah mengisi kolom Konsultasi Psikolog di Kompas, ia termasuk ikut merintis berdirinya fakultas Psikologi Unpad.
Mari kita mulai…
Mencoba menulis sebuah perjalanan tak mudah, apa lagi menulis dengan gaya yang beda sangat tidak mudah, seperti sulitnya meninggalkan Jakarta menuju negeri yang tak tau, maka aku harus menulis nya sedikit-sedikit, seperti aku pun menyicil membaca buku Brouwer, sambil mencoba menangkap “soul” dari perjalanannya dan juga aku menangkap dari “soul” kota ini, kehidupan kota ini.
Seperti aku bilang, menulis nya tak mudah karena aku menemukan banyak hal yang kadang aku ingat dan terlupakan, maklum masih baru disini…aku bukan juga cerita “Sinbad” dalam perjalannya mengarugi dunia dan bertemu dengan monster-monster, aku bertemu dengan “monster” juga, tetapi dalam sosok manusia tamak dalam kehidupan bisnis dan kerja, manusia yang egois hanya mementingkan dirinya…ah gak di Jakarta atau manapun sama aja…manusia…existensinya penuh dengan dosa dan keburukan hati. Aku juga tidak sempurna.
Beberapa tahun lalu, aku pernah menulis puisi tentang New York, lalu puisi tentang Kota Tua, Semarang, Magis keindahan Taman sari Jogja, Taman Sari yang diam penuh misteri dan catatan-catatan pendek tentang kunjunganku keberbagai kota di Jawa, bali, sumatera dan kalimantan, tapi tentu tak pernah mendetail, serperti kunjunganku ke kalimantan, aku ingat bubur samarinda yang lebih mirip makan soto ambengan, tapi unik dan baru bagiku…
Tak pernah aku menulis apa yang aku lihat dan apa yang aku alami disana, atau siapa yang aku temui.
Aku ingat bagaimana Brouwer mengaggumi sunda…dan aku sesunguhnya lebih menganggumi Negara kelahiranku (walau semua citranya hampir tak ada positifnya), khususnya kota Jakarta dan Semarang yang kukagumi, mungkin agak keberpihakaan, jika aku mengangumi Semarang, karena itu tempat ku kecil tinggal dikampung dan dolanan kampung, aku masih ingat aku main jangkrik bersama tetangga-tetangga, dan semarang adalah asal kedua orang tua ku, juga makanan-makanan “Huw cek” yang membuatku selalu pengen kembali ke sana….ah lupakan semarang…karena judul catatan ini “Singapore”.
Tapi gak salah jika aku menyamakan Semarang sama dengan Singapore, bedanya cuma Singapore kota metroplitan, kota belanja…ya kota belanja (bagi yang seneng belanja, Singapore surganya), kota fashion, semua merek kelas atas, sampe merek abal-abal pun ada, barang murah, barang mahal, barang asli, atau “asli” semua ada…ahhh kota Mall juga.
Sedangkan Semarang, kota kecil…hanya ada satu mall, beberapa plaza dan simpang lima, tentu di singapore tak ada nasi ayam, ketan bubuk, sate pak bagong
Yang ada disini cuma chinise food yang murah di China Town atau penjual daging bebek yang digantung dengan sign board “No Singboard Boneless Braised Duck Rice Kway Chap”, aku tak paham artinya.
Tapi Semarang juga ada China Town…disemarang masih ada orang-orang tua menyanyi karaoke diiringi band lagu-lagu cinta Theresa Teng.
Disini, di china Town, pagi, hari libur, masih ada kakek-kakek tua bertongkat duduk dibangku bulat, atau memainkan alat musik sejenis sitar didepan pintu (entah rumahnya atau …
.
Yang kukagumi dari kedua kota itu…adalah masyarakatnya…Jakarta tak ada apa-apanya kalau bicara masyarakat, kota dimanapun di Indonesia tak ada apa-apanya dengan masyarakat dikedua kota itu…diSingapore, Chinise, Melayu, India, Inggris, Indonesia, Thai, Australia dan banyak etnis lain hampir tak ada bedanya sama sekali, mereka bisa saling sapa, dekat, mesra, sama dengan Semarang yang mayoritas Chinise yang bisa berdekatan dengan Jawa dan etnis lain, dengan mesra dan romantis. (Makanya kerusuhan 96, Semarang aman).
Bagaimana dengan agama? Ahhh, sama mesranya dengan warna kulit, silaturahmi yang lebih indah dibanding kota di Indonesia.
Tetapi nampaknya kita harus tengok kembali rasa nasionalis diri kita, dan mikir apakah pantas lambang negara kita Garuda Pancasila dibawahnya ditulis “Bhineka Tunggal Ika” (mungkin sebagian kita sudah lupa artinya)…sebab sering kita baca dan tonton di Tv, didaerah suku yang satu dan yang lainnya masih sering tak akur.
Menyedihkan…
Kita yang tau kata Indonesia (yang diberi nama oleh founding father kita), tentu akan mikir bahwa Indonesia memang Bhineka Tunggal Ika, (Indonesia terdiri dari dua kata, Indo mean campuran, Nesia mean Nation, pikirkan sendiri maknanya).
Memalukan jika kita merasa bahwa kita tak bisa berdampingan dengan satu dengan yang lain…menyedihkan kan?
Koq jadi cerita sejarah…(sejarah dan pengalaman masa lalu kunci belajar buat masa depan)
Kembali ke Singapore…
Kesibukan kota ini hampir serupa dengan Jakarta, setiap pagi semua orang bergegas kekantor, dengan berbagai macam transportasi seperti layaknya di kota-kota besar. Hampir setiap orang disini memilih MRT dan mengantri seperti layaknya mengantri Busway.
Cuma bedanya Jakarta macet gara-gara angkot, disini tak ada mikrolet, metromini yang kotor, bau dan ugal-ugalan, dan teriak sopir “Anjing loe, bangsatttt minggir”, bahkan yang berkendaraan pribadi pengemudinya berdasi saja sering begitu.
Kenapa hidup tak bersabar sedikit ajaaaa?
Bisnis di kota ini hampir selalu meraup keuntungan besar tiap harinya, juga keras, penuh persaingan.
Oh ya yang aku terkesan, di kota ini seorang gadis cantik berambut panjang, berkulit kuning, secantik Michele Reis, fashionable berdandan bak Model Ana Mihajlovic, masih bisa terlihat berjalan menyeberangi zebra cross…menuju kantor.
Sebuah kontras yang menarik! Kita sering berfikir dengan gaya demikian pasti minimal naiknya S-320. Ini berbeda!
Dan ia selalu dengan sopan tersenyum yang bertopeng, mengucapkan “Good morning Sir”. (Kadang kadang tatapnnya juga agak bermusuhan dan sinis…aneh).
“Morning kim” kataku
Ia telah mengabdi lebih dari 3-4 tahun diperusahaan.
Hidupnya hampir selalu disiplin tepat waktu.
Meja kerjanya selalu tertata rapi.
Pekerjaanya mengetik, mengatur jadwal hampir selalu tepat tanpa kesalahaan.
Ia juga telah dekat dengan seorang pria baik-baik, itu yang aku dengar….too bad (too bad untuk yg mana neh? heheheh ).
Mari lupakan kecantikan, mari lupakan urusan fisik….karena bukan itu yang penting…dari catatan ini.
Pernah kulihat sekali ia terediam tanpa konsentrasi setelah menerima telfon, aku memanggilnya ke ruanganku, aku menanyakannya ada apa dan hampir ia mau mengeluarkan kata-kata yang ada didalam hati dan otaknya…Tapi terhenti karena azaz kesungkanan atau malu mengeluarkan problem pribadi kepada atasannya. Tetap berdiri di posisinya.
Aku tak terlalu memperhatikannya, karena sibuk dengan ini itu, hanya keluar kata-kata sedikit “Im new here…Life is not easy….” (aku seharusnya meneruskan dengan kalimat ‘just make it simple’ tapi aku tau itu tak cukup baik diucapkan karena mungkin masalahnya pelik, dan lagi kata-kata tadi pendek sejuta arti dan makna dibelakangnya hahahah). Matanya melihat tajam ke arahku, agak sedikit heran…aku juga heran (berfikir apa kata-kata tadi menyingungnya).
Dalam bahasa inggris aku berkata
“Duduk”
“Aku melihatmu, terdiam cukup lama”
“Kamu sakit?”
“No sir…”
Lalu ia meminta maaf karena ia melamun tadi, aku terdiam…lalu ngoceh-ngoceh ngalor ngidul seolah lagi curhat tentang penyesuaiaan di kehidupan baru dan sedikit berfilosofi tentang hidup yang berat, masalah banyak hal yang membebani, hari yang harus dilalui dengan berat, masih seringnya aku terbangun disaat subuh dan evolusi yang harus di lalui juga dengan berat.
Dan akhirnya sesuatu yang memotifasi diriku sendiri untuk survive…yah seperti kataku, aku mengulang kata-kata tadi “life is not easy…” …
Dia terdiam saja, entah karena tak mengerti atau…menganggapku bodoh dengan ocehanku yang ngalor ngidul dan diakhiri dengan kata-kata yang nampaknya bijaksana…wise dan entah apa lah…tapi memang aku hari itu ingin mengakhiri sikap sinisnya dengan caraku (rencananya), tetapi aku lebih mencoba say something yang bisa membuatnya better, aku tak suka melihat dan merasakan aura-aura berat dan tak menyenangkan disekitarku (aku tak suka sesuatu yang tak beres)…entah berhasil entah juga tidak.
Tapi mungkin lebih tepatnya aku nampak Bodoh dan sok pinter saat itu…
Aku memintanya kembali ke mejanya karena ada telfon berdering, ia terdiam dan kembali ke mejanya.
Esok pagi wajahnya lebih ceria dari biasanya, penampilannya tetap sama, tetapi hari ini she much better, sebab senyumnya tanpa kesinisaan, dan hormat yang berbeda dari topeng yang biasanya ia kenakan, intinya seperti ucapan terima kasih padaku….aku heran dengan keterbukaan yang tanpa terduga itu.
Rupanya kita harus lebih terbuka agar orang lain lebih terbuka dengan kita, kita harus bisa memberikan sesuatu yang dibutuhkan hati seseorang dibanding ego dan pikiran mereka…sering kali kita memberikan saran dengan memuaskan ego dan pikiran orang yang sesungguhnya menjauhkan dirinya dari apa yang sesugguhnya diinginkan hatinya…that’s something.
Pertanyaanya apakah kata-kataku begitu bijaksananya, begitu bisa melegakan hati orang? Padahal maksudku kan tidak itu juga (awalnya). Entahlah. Yang aku tahu im not Rumi, Im not Saint. Im Not Jesus.
Ada hal yang terkesan lainnya yang menarik, Paul & Susi, keduanya pensiunan dan memiliki usaha kecil, mereka hampir seperti kedua orang tua yang baru…hahahah, memiliki 4 anak, yang sudah dewasa yang dididik dengan baik, tanpa otoritas yang berlebihan (tak seperti kebanyakan keluarga asia), aku mengetahuinya dari cerita mereka tentang anak-anak mereka yang menyayangi mereka & menghormati mereka, hampir tanpa benturan, yang menarik keduanya tetap mesra diusia mereka yang tua.
Sebagai pensiunan tentu gajinya tidak seberapa, tetapi mereka hidup, dan mereka hidup bahagia.
(Mungkin ini yang seharusnya kita sadari dan perlu, money is nothing but we need it, tapi kebahagiaan dan cinta lebih perlu, yah kebahagiaan lebih perlu dikejar agar hidup akan lebih indah, kebahagiaan dihati bukan karena uang semata, atau karena kemewahaan, sering kali kita mengejar hal ini yang diterima malah kekacauaan, sedangkan kita yang tak mengejar malah memperoleh banyak kelimpahaan…misteri Ilahi memang aneh).
Pernah sekali mengingatkanku mengenakan Jaket dan Payung saat disini hujan, atau mengingatkanku untuk kegereja…ramah sekali, perhatian dan penuh cinta, sekali aku pernah melihatnya membawa alkitab siap berangkat menuju gereja,…sering kali aku juga ngobrol singkat dengan mereka atau salah satu saat berpapasan…yah benar-benar ramah, mereka mengundangku ke tempat mereka, aku belum sempat…setidaknya mereka punya ciri masyarakat asia yang ramah, seperti masyarakat Bali yang juga ramah, atau orang jawa (benar-benar jawa) yang punya tepo seliro ngerti unguh-unguh, aku mengagumi keramahaan model ini….ahhhh…sepertinya tak jauh dari rumah.
Pernah juga aku melihat Susi menerima telfon dari suaminya…dan ia tertawa…dan wajahnya nampak merah (walau usianya sudah tidak lagi muda), ia berkata “suamiku, masih memanggilku sayang….dengan sebuat halo sayangggg”. Aku tersenyum.
Obrolan kami yang menarik saat mereka mengagumi Presiden kita Soekarno dan Gus Dur, kalau Soekarno boleh lah ia kagumi, tapi Gus Dur President yang dinegaranya sendiri tak populer, koq malah di kagumi…aku tak mengerti, aku mencoba mencari tahu kenapa? Alasannya Cuma simple karena sebuah artikel di koran yang mereka baca beberapa tahun lalu juga cerita dari penghuni keturunan yang berasal dari Indonesia, berita itu tentang tidak perlunya warga keturunan mengunakan surat izin kewarga negaraan (mungkin yang dimaksud adalah SKBRI)…dan ia mengoceh tentang banyak hal yang mereka ketahui dari Gus Dur, seorang Muslim yang memiliki wawasan luas dan kebersamaan kata mereka…yang mungkin benar cuma informasi yang mereka dapatkan kurang begitu tepat….
Aku malah berbalik berkata, bahwa aku mengagumi kehebatan memimpin PM Lee Kwan Yu, karena memimpin Ekonomi Singapore menjadi negara yang diperhitungkan di asia Tenggara, ocehanku yang tak banyak tahu tentang Mr Lee, dan kataku karena aku berfikir nama itu memang hebat, Kwan Yu adalah nama Jendral besar yang gagah berani pada jaman pemerintahan tiga negara.
Mereka sedikit mengerutkan dahi, lalu tersenyum…dan kita nampak lebih dekat setelah ocehan itu.
(Kadang ketidak tepatan informasi atau kebenaran, bisa membuat efek yang baik juga, sebab apa yang dicari orang asia sebenarnya sebuah keserasiaan yin and yang, kedekataan, silaturahmi, itu pun jika tidak terkena virus egoisme dan sok merasa diri telah menadi orang modern).
Pagi hingga sore, kadang malam, kesibukan pekerjaan tak habisnya, mana pernah habis kalau selalu dituruti, badan terasa capek, hanya hiburan lantunan Gitar Akustik Earl Klugh (Jazz), segelas Milo atau Tea Earl Gray Twennings yang kadang menyenangkan hatiku, ruangan yang sengaja aku remangkan…agar cahaya dari luar masuk ke jendela kaca yang terbuka tirainya…itu hiburan disaat kesendiriaan, yang paling enak disela kesibukan yang memang ada-ada saja.
Kadang kala malah aku habiskan waktu malam dengan duduk di meja kerja ku sambil mengutak atik laporan yang tersimpan di laptop.
Oh ya buku Brouwer, belum selesai aku baca. Ah masih ada lagi buku yang aku baca yang sudah aku baca hampir separuhnya, Law Of Attraction, Michael J Losier.
(Itu bukan buku untuk memikat wanita, tetapi lebih kepada bagaimana memaknai hidup, membuat hidup lebih positif, tak percaya? Baca saja). Dan ada beberapa buku yang sempat aku beli diawal-awal kedatanganku…setidaknya ada 5-8 buku yang tertumpuk di meja kaca diruang santai.
Hari ini aku berfikir satu hal, tentang Mr David Lee yang aku temui kemarin sore di The Regent, …ia bercerita panjang lebar tentang usahanya dari bawah sampai atas, ia tak pernah menduga bahwa perusahaanya akan besar seperti itu. Tapi ia melihat dan ia bermimpi untuk itu. Ia memiliki visi itu saat hidupnya belum diatas, saat ia masih sangat muda dan hanya seorang sales. Ia bercerita dengan bersemangat.
Tapi ia juga bercerita betapa beratnya hidup diawal-awal.
Ia terhenti bicara saat seorang pelayan datang menghampiri kami saat meletakan minuman. Ia masih bisa berkata “Thank You” dengan penghargaan.
Lalu melanjutkan cerita, dan aku mendengarkan.
Entah apakah selalu nama Lee pasti orang hebat, Bruce Lee, Lee Kwan Yu hahaha, Ia satu pengusaha yang tidak tamak, dan tau apa arti kehidupan, dan menghargai kemanusiaan, tanpa arogansi, entahlah, tapi memang kehidupan tak pernah terduga, satu hari kita bisa berada dibawah, suatu hari kita bisa diatas, Kunn FayaaKunn kata seorang Ustad Ngetop Di Jakarta.
Jika Tuhan sudah punya kehendak terjadilah, yah sering kali kita pesimis melihat orang lain atau hidup kita….nyatanya kesuksesaan tinggal sedikit lagi, kebahagiaan menanti tinggal menjalani hidup dan mencapainya, kesuksesan tinggal menunggu waktu…asal punya mimpi dan visi…
Mimpi menurutku = Kemampuaan melihat diri dan semangat keberhasilan dan kebahagiaan didepan, aku ingat cerita Bible tentang Nabi Yusuf, ia bermimpi tentang suatu hari dia dihormati, tapi nyatanya dihina, dibuang, diftnah oleh istri Potifar hingga akhirnya ia mencapai posisi diatas saat ia dipercaya mengatur pemerintahan di Mesir, rupanya bagi Tuhan kebawah berarti ke atas, Mental, Karakter perlu dibangun untuk tanggung jawab mengemban kemasyuran.
Salomo, Yusuf, Daud perlu mengalami hal berat untuk mencapai diatas… no pain no gain,.mungkin seperti itu, sering kali kehidupan selalu berfikir untuk diatas aja, tetapi dengan cara yang salah kita mengejarnya…tak mengindahkan bahwa karakter building is most important in our life, dan bagiku karakter building bukan dibuat lewat metode dan mata kuliah di kampus itu yang aku protestkan kepada Pak Besar seorang dosen Di Binus setahun lalu, tapi memang karakter building hanya bisa dan paling matang diperoleh dari school of life not formal school.
Aku ingat pepatah cina kuno…
Orang yang berbuat baik, walaupun rejeki belum tiba, tetapi bencana telah menjauhinya.Orang yang berbuat jahat, walau bencana belum tiba, tetapi rejeki telah menjauhinya.
Ahhh, apakah semua hal yang baik yang aku temui? Tidak juga, selalu ada hal yang tidak menyenangkan terjadi, dalam waktu yang singkat aku bisa melihat hal itu.
Aku menemui bawa dunia bisnis atau kerja disini kultur persaingan begitu kental, lebih sering aku ditemui keadaan yang saling sikut dan menikam, sabotase dan kejahatan…mungkin aku lebih cocok jadi Romo, seniman dibanding jadi seorang worker, sebab selalu mencari idealismem ketenangan dan kebenaran..hahah
Tapi memang nyatanya begitu, sesuatu yang hampir kita tak pikir, dan kadang kita pikir baik bisa menimbulkan keresahaan bagi orang lain. Dan tiba-tiba orang lain menikam kita dari belakang karena ketidak sukaanya atas hal baik yang kita lakukan.
Tapi sewajar-wajarnya kita harus terus melakukan hal yang baik.
Kadang dari kantor aku suka menyepatkan diri ke supermarket (mini market), membeli apa yang aku benar perlu, 1,2,3 items, rokok gudang garam surya disini hampir 20 ribu rupiah (gak ada di mini market biasa), dan lebih sering rasanya sayang membeli rokok yang seharusnya berharga 7500 dengan membayar lebih mahal…
Mall dan supermarket hampir setiap saat ramai, apa lagi saat-saat akhir tahun, menjelang natal ini.
Matrialisme? Haha, kota belanja tentu tak jauh dari matrialisme, dimanapun didunia ini sama saja, Gadis-gadis disini, tak jauh dari hal itu, berpakaian baik, ber handphone baik, ipod, duduk dan shoping dimall-mall mengopi, dugem di club-club.
Hanya orang yang mungkin menjauhi peradaban akan juga jauh dari matrialisme (mungkin!!!) aku mungkin juga yang suka menjauhi peradaban hahha, Apa yang terjadi? 3-4 minggu disini, menarik? Seperti hal nya di Jakarta dan kota metropolitan lainnya.
“Siapa yang berkepribadiaan maka ia akan didekati banyak wanita”
Pribadi disini adalah, bahwa pribadi kita dilihat dari seberapa mobil pribadi dan apartemen pribadi yang kita miliki, apalagi what u are, now who u are!, jadi kalau anda seorang Direktur or General Manager….wow, makin mudah saja!!!! Dimana aja sama saja.
Seorang gadis even you don’t know her…sudah bisa berkata “this looks nice, fit on me?” sambil menunjuk pada sebuah jam mahal atau handphone mahal Vertu.
Jika aku, aku tak bisa berkata “Ok, take it…”, cinta dan persabahatan tak bisa dibeli dengan uang! Jangan-jangan bisa jadi duit ada abang ku sayang, duit gak ada abang ku depak! Cinta dan persahabatan lebih Agung (indah) disaat menjauhkan diri dari hal-hal yang seperti itu.
Hahah its not my style, Sorry its not my style. …sekalipun aku punya uang 100 milyard tak akan keluar 1 sen pun untuk cara yang demikian.
Bagiku uang lebih dari sekedar alat, dibanding raja (menguasai hidup kita).
Tapi tentu aku tidak ingin dibilang pelit, sering kali money is nothing for someone I love so much!, my family, my mom, si kecil ponakanku contohnya.
Bukan berkata sombong!, mana pernah aku membelikan mainan murah kepada si kecil? Mungkin karena si kecil menyayangiku dan mengerti hatiku! Heheheh
, mungkin aku lebih berfikir, pengalamanku dulu saat kecil agar tak akan terjadi pada si kecil (walau kadang aku harus berfikir someday si kecil pun belajar apa itu usaha)
Yah mungkin karena pendidikan rumah yang mengajariku untuk itu. Mengajari ‘dapatkan apa yang kau inginkan dengan usaha’.
Di usia 10-12 tahun, aku pernah ingin membeli sebuah buku “sejarah dunia”, aku bilang sama papa, dia tak membelikan, tapi ia mengajarkan untuk mengumpulkan uang, untuk membelinya…aku membelinya setelah uang terkumpul, pendidikan yang sama diajarkan kepada adikku yang dulu ia ingin membeli skateboard.
Dan uang kami dikumpulkan dari uang jajan atau menjual koran-koran bekas yang tak terpakai dirumah. Ah aku ingat kita juga dulu pernah menjual petasan. Dulu belum dilarang
Aku membeli buku adikku membeli skateboard…kontras bukan!
, baru aku sadari sekarang!.
Aku lebih sering boros dan tak perlu saat aku membeli peralatan foto, komputer, buku, paling banyak aku boros membeli buku kadang buku yang tak perlu pun aku beli, menyimpannya dan berfikir someday I’ll read it and this will be useful for me.
Dan dirumahku banyak ratusan buku…aku punya beberapa buku baru belakangan.
Pertanyaan nya simple, apakah dengan kita memilik 100 milyard (misalkan), akankah kita menjadi komsumtif, matrialistis…mungkin!, sebagian besar mungkin akan demikian…sesuatu yang diluar diri kita lebih sering berubah karena hal ini, tetapi apakah akan merubah yang didalam?, aku malah berfikir jika aku punya uang sebanyak itu, aku ingin kuliah mengambil gelar master of art dalam bidang photography, atau mengambil jurusan teknik Informatika mendalami jaringan dan kemanan, menulis buku, melakukan pameran (mengexpresikan diri), membangun perusahaanku sendiri.
Uang bisa jadi sesuatu yang memperkaya isi diri kita, membuat kita tampak sukses, tetapi juga bisa menjadi penghias luar diri kita lalu menghancurkannya kedalam (kemiskinan mental).
Mana yang kita pilih?
Markus AP, far away from home.
Ditulis 1 Desember 2007 – 31 Desember 2007
See me, in my next journey…



Similar/Related Posts