Parodi : Makan Siang Santai Bersama Kejujuran
Tanpa sengaja saya beberapa hari lalu ditelfon beberapa kawan lama, yang rupanya mereka sepakat untuk menelfon menanyakan kabar dan mengajak saya keluar untuk ketemuaan. Rinald, Christie, Anne, Chris, kita semua sudah lama tak bertemu, perkenalan kita memang unik, tiap dari mereka saya mengenalnya dengan cara yang berbeda-beda, kalau Rinald saya mengenalnya sejak SD, sekarang ia seorang pengusaha sukses, mengenal Christie disebuah acara sosial, Anne, aku mengenalnya dari teman lama, Chris aku mengenalnya beberapa tahun lalu di Bali. Ah membahas perkenalan kita bakal panjang gak akan ada habisnya….tapi yang hebat mereka tak pernah lupakan saya sebagai teman mereka.
Hari itu saya di jemput dan kita makan siang disebuah restaurant yah yang cukup fancy dan high class, di bilangan senopati kebayoran baru. France Restaurant.
“Cette Manu le monsieur”
Saya langsung memesan
“La Bouchée a La Reine and mineral water please” kata saya.
Beberapa teman tertawa, “cus cus…you should order wine not water”
“Hahahah” saya tertawa.
“Gue mau mesen teh manis, Cuma pasti gak ada” kata saya…
Tentu saja makan siang disebuah restaurant kelas atas, bukan hal yang baru buat saya, walau selera kampung saya masih juga kental dalam diri saya, setidaknya saya yang tau manners dan tau bagaimana bersosial, tidak kampungan beneran…yah setidaknya gak kampungan amat lah, makan beginiaan juga bukan pertama berada dilingkungan yang begini juga bukan hal baru, dalam benak saya wah bisa-bisa kalau gak kenyang makan selanjutnya diteruskan di rumah makan padang neh hehehe
“Tenang kus kalau lo masih laper tar kita makan lage, lo perlu banyak makan”
“Hahahahah” hari itu saya benar benar banyak tertawa, karena teman-teman ini tau bagaimana membuat saya tertawa.
Setelah makan siang itu, kita lanjutkan dengan obrolan yang menarik tapi santai, nah disinilah menariknya dari catatan ini…bukan tentang gaya hidup sosial saya atau teman saya, tetapi apa yang kita obrolkan setelah makan siang yang fancy itu.
Kita saling menanyai kabar masing-masing yah maklum sudah lama tak bertemu maka hidup jadi menarik untuk di bagikan…
Dari mendengar pengalaman Anne dengan bisnis-bisnis barunya, Rinald yang sibuk dengan keluar masuk negeri sendiri dan negeri orang lain, Christie yang repot jadi ibu rumah tangga di negara Zindane pemain sepak bola keren itu, dan Chris yang juga sibuk dengan kehidupannya yang penuh petualangan.
“Lo masih suka belanja belenji…” kata Anne ke Christie..
“Ya masih lah, Cuma kan lo tau gue harus ngurus anak, udah gak lage sering begituaan”
“Gimana Cis, LV masih ye…” kata ku
“Hahhaha, masih lah…, Cuma setahun paling 1 kalau duit suami eke gak tau mau diapain”
“Buset bertobat loe yee…, gue 2 tahun 1, dan itu kapok gue, lo seh gila…ngajari gak bener, biasa beli tas paling banter 1jt, sekarang busettttttttt” kata ku
“Hahahaha, Damier Gant Canvas ya…hahhahaha kren kan boo LV” (tentu ia tahu dari blog ku yang lama tentang LV-Isme).
“Iye…keren, racun loe emang…” kata ku.
“Tapi boo, gak di indo gak di sono, jujur aja neh, orang-orang suka aneh, kalau mau Christmas gini, pada beli baju baru, tas baru, gaya baru booo, lo tau kan pembantu-pembantu kita disini gayanya juga gitu kalau mau pulang kampung…”.
“Hahahahaha…Christmas masih sebulan lebih lagi, halah lo cis…, kayak lo dulu ngak aja…”
“Berubah dong berubah…dulu kampungan, sekarang gak kampungan lage”.
“Hahahahahahahah”
Kita jadi ngobrolin fashion dan gaya kita masing-masing…dan jujur aja dari sekian banyak gayaku yang paling biasa-biasa walau tetap saja rapi.
Politik, gosip, cinta, banyak deh yang kita bahas sambil tertawa dan bergurau tanpa motifasi sirik saling menjatuhkan…aku hanya lebih banyak memancing pembicaraan, mendengarkan pengalaman mereka, karena diantara mereka aku sendiri yang berbeda, but they respect me.
Kita mulai terdiam sebentar.
“Cus diantara kita semua, kamu yang paling tua tell us your story”
Aku mencoba menghindari pancingan dari Anne…
“Hahahah, no no no, enak aja tua tua….tua bukan berarti dewasa, dan muda bisa jadi lebih dewasa, atau “dewasa”…semua tergantung hati dan motifasinya” mereka terdiam dengan omongan itu…
“Wah mulai dalem neh si cus ngomong”, kata chris
“Hahaha” tawa ku lagi.
“Santai saja, im your friend, not your teacher, im not wise…maybe u more wise than me”…kata ku…
“Tuh itu yang gue suka dari seorang Mbah…” kata Rinald…
“Oh God…, susah ya untuk jujur, im telling u the truth here…, aku jujur mengungkapkan diriku kalau aku tidak seperti kebanyakan orang pikir dan kaliaan pikir, aku selalu berusaha untuk jujur..u know me Rin, im just simple human”
“Ya ya ya ya…, aku tau aku kenal lo sejak dulu”.
“Ini menarik neh ini menarik neh” Kata Anne
Yah tentu Anne akan bertanya jika aku mengeluarkan pernyataan itu, karena aku ingat ia pernah mengerjai aku 5 jam lamanya ngobrol di kedai soto gebrak hanya untuk dikusi hal-hal yang filosofis…hahahah
“Ok ok, gini deh, kaliaan selalu menganggap aku menjadi orang yang bisa menasehati kaliaan, memberi masukan pada kaliaan, tapi apa yang membuat kaliaan mau mendengarkanku?”
“Lo saklek, kalau ngomong, ya bener lo bilang bener”.
“Hmmm, because you always tell the truth nothing but the truth”
“Ya…” serentak mereka berkata demikiaan.
Hari itu aku mau memberikan sebuah pemikiran berbeda agar mereka tidak menganggap sesuatu yang berlebihaan terhadap orang bernama markus.
“Ok, tapi bisa kan, aku memiliki motifasi hati yang tertentu anggap lah motifasi hati yang salah yang menguntungkan diri sendiri…, dengan cara ku memberi nasehat, saya bisa mengatakan hal yang benar bisa jadi benar, atau hal yang benar bisa jadi “benar” , dan “benar” itu ditujukan untuk kepentinganku”.
“Wah ya bisa sih”. Kata Christie.
“Gak mungkin lo lakukan itu…” kata Anne. Mereka mulai kebingungan…
“Tapi gak mungkin loe begitu….”
“Kenapa?” kataku.
“Karena yang lo katakan benar ya benar, dan itu benar terjadi, dan
aku sendiri gak pernah lihat ada keuntungannya buat lo, yah gue tau lah maksud seseorang…auranya kan kelihatan”.
“Ok, itu benar…” kataku
“Ya…lalu”
Aku berkata…
“Kadang kita yang memberi nasehat, yang merasa udah dewasa dan wise, bisa terjebak pada sebuah upaya yang salah, karena motifasi kita yang salah, atau mencari keuntungan sendiri, entah dengan Reverse psyoclogy mungkin, intinya masukan yang disampaikan membuat kaliaan tidak berada didalam situasi yang benar, benak dan opini dibangun dalam pemikiran kaliaan akhirnya memuaskan logika tapi tidak sesuai dengan hati kaliaan…akhirnya kaliaan diajak untuk tidak jujur pada hati kaliaan, malah menjauhkan kaliaan dari isi hati kaliaan, pernah kah aku begitu…??????????????”
“Iya bisa sih…, wah pemikirna yang dalem tuh” Kata Chris
“Apa tuh reverse psycology…?”
“Hahahah, gamblangnya, yang bener jadi salah, yang salah jadi bener”…kata ku
“Oooo”…
“Did I do that To you all?”. Kata ku lagi.
“No”
“No”
“No, cus, ngak, kayaknya gak pernah…lo selalu mengajak kita untuk melihat ke hati kita dan memutuskan sendiri apa yang seharusnya kita lakukan…, sometime lo cukup tegas sih berkata I must do that I must do this, ya bagi gue lumrah karena gue gak cukup sanggup mengambil keputusan, tapi itu benar-benar save me, inget kan pas gue mau cerai sama suami gue…karena gue emosi dia maen gila…, dan lo satu-satunya teman yang meminta gue untuk tidak cerai…, dan you see now, our married happy, and im thanks to you…”.
“Hmmm, ok”.
“Cus kayaknya gak deh, lo selalu berkata apa yang seharusnya lo katakan, I know you cus, lo selalu blak-blakaan, gak suka pake tedeng aling-aling, lo selalu memberikan alternatif ”, Kata Rinald
“Hmmm, ok, gile kali ya gue pake tedeng, emang warung kopi”.
“Hahhahahahah” tawa mereka semua.
“Semuanya jawabaan ada didalam hati kaliaan menilai, tapi kalau aku boleh jujur, aku manusia yang sampai hari ini masih belajar, belajar, belajar belajar dan masih belum pernah sampai kepada kesempurnaan, gue juga bisa kecewa, gue juga bisa marah, gue juga bisa punya masalah, semua orang punya masalah, dan kadang gue sendiri gak sanggup menghadapi masalah, gue bisa nangis, gue juga bisa salah, bahkan sering kali salah dan gagal…yah gue sering gagal, tapi gue selalu mau untuk mencari kebenaraan, keluar dari kegagalan, kejujuran, belajar dari kesalahaan, mau untuk merefleksi diri sendiri…, apa yang baik gue simpan untuk jadi prinsip dalam hidup gue, dan prinsip yang salah mau untuk gue rubah dan gue ganti dengan prinsip yang baru itu yang disebut open minded, dan ujian yang paling penting dari semua itu, bahwa kebenaraan akan selalu benar…kebenaran yang kita pegan diuji, ujiaan kita adalah mempertangung jawabkan apa yang kita renungkan…kebenaran yang “benar” atau benar, maka yang asli akan kelihatan, kebenaran akan selalu benar itu pointnya…ingat kehidupan ini ada yang melihat, kalau kita gak jujur pada hati kita, dan hidup kita, kita bukan hanya menipu orang lain, tetapi menipu diri sendiri bahkan sang pencipta…”
“Lalu kalau sudah begitu…” kata cis
“Ya kita be better day by day…” kataku…
Mereka terdiam….kataku lagi….
“Apa yang kau pelajari dari pernikahan mu cis?”
“Apa yang kau pelajari dari kesuksesan mu Rin?”
“Apa yang kau pelajari dari bisnis dan hubungan mu Anne ?”
“Apa yang kita pelajari dari permasalahan hidup kita?”
“Berartikah kejujuran buat hidup kita….??????”.
“Membuat kita be better…??????”
Mereka terdiam….
“Hahhahaha, dalem tuh dalem…, you right cus” kata Rinald…
“Iye dari pada gosip mending dari tadi bahas beginiaan, dengeri si cus cus ngomong”
“Hahahahahah…stop it, thanks To GOD, not to me…im nothing…, ingat semua kembali ke hati kaliaan menilai orang lain, termasuk menilai menilai hidup loeee…udah ah balikkkkkkk yuk”.
Setelah ngobrol panjang lebar, kitapun memutuskan untuk pulang, lalu mengantar Cis, yang tinggal di Kemang Icon, dibilangan kemang.
9-12 November, 2007
feedback



Similar/Related Posts