Catatan Terakhir Tahun (2007)
Aku sengaja memilih judul “catatan terakhir tahun (2007)”, karena memang hari-hari kedepan aku akan jarang menulis, dan mungkin pada waktu yang lama aku tak akan menulis.
Mungkin karena aku memutuskan, untuk meninggalkan aktifitas internet, kesibukan, kesehariaan, kepenatan hidup dan melakukan perjalanan “journey”.
Kalau semua orang akhir tahun menghabiskan waktu untuk liburan akhir tahun…aku berbeda aku menyebutnya journey yang mungkin akan aku lakukan cukup lama.
Sebagian teman bertanya bagaimana dengan pekerjaan?
Aku telah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku, dan nampaknya aku perlu melakukan perjalanan…yah anggap saja sebuah liburan akhir tahun, mencoba merefresh kehidupan yang sudah dilalui selama 1,2,3,4,5 tahun ini.
Beberapa sahabat bertanya tentang kesehatanku…yah intinya, aku sehat seluruhnya dan siap melalui perjalananku. Dan diakhir tahun ini perhatiaan dari sahabat-sahabat tak kurang-kurangnya, thanks GOD for that…thanks Guys.
Oh ya dalam tulisan ini aku akan menulis tentang cinta, cinta Tuhan, hikmah, perjalanan, kesadaran, fitnah, kebenaraan, pernikahaan, kejujuran, perselingkuhan.
Tadi saat aku lagi santai, aku teringat dua pristiwa dulu yang membuat aku ingin memasukannya dalam catatan ini, pertama dulu sekali aku pernah melihat seorang pemulung yang tidur di pinggir jalan (istri,anak dan suaminya tidur di grobak yang mereka bawa untuk memulung), pagi itu sang suami membawa mangkok mie kepada istrinya,sambil membangunkan sang istri yang tidur digerobak, sang istri bangun dengan tersenyum diwajahnya…uh aku pikir romantis sekali. Dengan ketidak tauaanku, aku berfikir, kalau mereka saja punya cinta walau kehidupan mereka “kere” mereka nampak bahagia disela himpitan ekonomi dan hidup yang menjerat.
Aku bertanya dalam hati lagi…apakah mereka yang miskin itu lebih tahu arti cinta dibanding kita yang ber-tas ANYA HINDMARCH, berkaos Mango atau Zara…hahaha, nampaknya hidup penuh dengan kebenaran yang terbalik-balik…dan jelas kita yang mengaku kaya materi, rupanya lebih sering miskin cinta (bodoh dan tak menghargai cinta)…maka kalau ada kata orang bijak…pilih lah cinta karena hidup tanpa cinta adalah kematiaan, saya akan merubahnya “pilihlah materi, karena hidup tanpa materi lo kere”…bukankah itu pandangan kita yang paling umum.!!!
Aku pribadi, aku memlilih cinta, karena dengan cinta kita bisa mencapai sang Khalik, dengan cinta kita memiliki hidup dengan sesama manusia dengan penuh damai dan kasih.
Dan kata ayat suci…”Saudara.saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi sebab kasih itu berasal dari Allah dan setiap orang yang mengasihi berasal dari Allah dan mengenal Allah…Allah adalah kasih” 1 Yohanes 4:7,16b.
Cape deh ngomongin cinta…pasti semua orang gerah dengan cinta-cintaan, yah cuma itu yang aku bisa, dengan itu aku hidup dan dengan itu pula aku ada…semua karena cintaNya. Dan saat aku bisa mencintai itu anugrah yang indah dariNya.
Pristiwa kedua, jauh-jauh waktu lalu, aku pernah menyengajakan diri berjalan dari kantor, melewati hotel Allila dan pergi ke Katedral Jakarta, pada waktu sore sekitar jam 5-6, aku sungguh kaget, rupanya saat-saat itu banyak orang yang berdoa, merenung, meratapi hidup, dan mencari Tuhan, (rupanya bukan aku saja yang pergi untuk menemui Tuhan dirumahNya), saat aku melalui bangku-bangku gereja dan melihat wajah sebagiaan yang hadir, sebagiaan nampak sedih, nampak suram, tetapi mereka pergi ke tempat yang tepat…dengan mencari Tuhan (entah mengeluh, mencari jawaban, menyalahkan Tuhan atau merenungi nasib, aku tak tahu), sebagiaan dari hidup kita sering mencari jawaban di tempat yang salah, bahkan tak mencari jawaban sama sekali. Tapi lari dari masalah.
Dan bentuk dari lari tadi bermacam-macam, ada yang memberontak dengan lari dari masalah dengan menghidari masalah, atau memberontak dengan cara lari dengan narkoba, sex bebas, dunia malam , atau yah intinya lari lah dari masalah, sesunguhnya kita membawa diri kita kepada diri yang makin kerdil, makin tak dewasa menghadapi kehidupan…dan itu karena kita lari dari semua masalah yang kita hadapi.
Hari ini, malam ini saat aku menulis catatan ini, aku lalu bertanya…apakah aku lari saat aku memilih melakukan journey? Jawabannya aku rasa tidak, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi hidup, aku? Aku saat ini lebih memilih mengurusi urusan dari perut ke atas dibanding dari perut ke bawah, aku memilih hidup untuk menjadi maju dalam pemikiran dan hati dibanding urusan-urusan perut semata.
Untuk itu aku memilih journey (ziarah) atau perjalananku.
Sebagiaan teman berkata…”gimana loe hidup?” jawabku bahwa aku selalu percaya bahwa hidupku dengan urusan perut sudah ada yang mengatur, buktinya selama ini aku dicukupkan dalam segala hal olehNya (walau kasarnya aku merem pun aku dikasi makan olehNya, diberi rejeki olehnya, semuanya dicukupkan, maka genaplah ayat ini berkata
“Berbahagialah manusia yang kekuatannya adalah Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintas lembah baka mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air, bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat” Mazmur 84:6-7).
Hidup tak selalu melulu mengurusi urusan perut dan perut, sedangkan hati kita dan hidup kita makin mundur atau menjadi bobrok dengan berubah menjadi tamak, serakah, dengan mengejar hal yang lahiriah.
Bagiku kemajuaan hati lebih penting dari semua hal dalam hidup.
(Sebab buat apa kaya materi kalau hidup dari hasil korupsi dan ketamakaan)
Nah itu dua cerita yang malam ini tiba-tiba aku ingat dan ingin aku tulis.
Catatan lainnya? Hmmm, hidupku di awal tahun sampai akhir tahun ini indah. Di awal tahun indah karena aku menemukan cinta dari seorang gadis yang dari awal sampai akhir aku hargai (bahkan menjadi inspirasi tulisan-tulisanku terbanyak sepanjang 31 tahun kehidupanku).
Dan di akhir tahun aku menemukan cintaNya yang maha cinta memberikan ilham kehidupan.
Untuk cintaNya, aku malah kurang banyak menulis tentang cintaNya, padahal cintaNya maha Tulus, tetapi IA malah memberi lebih banyak anugrah, salah satunya pemahaman akan arti cinta yang sesungguhnya kepada kehidupanku (kita)….”kasih itu sabar, kasih itu murah hati…, kasih itu Tuhan…bla bla bla, seperti kata 1 Korintus 13”.
Kalau ada yang sering bertanya…tentang peliknya perjalananku belakangan (mendekati akhir tahun)…aku menjawab ya pelik, ya menyayat, ya berliku, ya berat…ya aku mencintainya, ya aku mencintaiNya, dan pada akhirnya aku malah mengsyukuri perjalanan cinta itu….
Wow berat booo ngomongnya cinta lage cinta lage…begitulah kenyataanya, begitulah kebenarannya…yang ngak dikarang-karang jujur apa adanya.
Hanya bisa jujur itulah keberadaan catatan ini.
Sebab semua terkandung dicatatan ini, banyak pelajaran, banyak pemahaman, banyak perenungan, dan journey nanti akan melengkapi perenungan tadi, memenuhi pemahaman tadi membuat hidup menjadi lebih sempurna (walau sesunggunya pemahaman kita tak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan tanpa izinNya, karena hikmatNya lah yang Maha sempurna, Ialah maha sempurna).
Pemahaman-pemahaman ini lah yang menghapus seluruh kebenciaan, mencoret seluruh kemarahan, kecemburuaan, dendam, panas hati, sakit hati, kecewa…ah aku pernah menulis “Jika cinta berubah jadi kebenciaan, maka sedari awal ia bukan lah cinta”, artinya ya cinta ya cinta, cinta gak akan pernah bisa menjelma jadi kejahatan dan kebenciaan.
Itulah makanya banyak sufi bahkan kitab suci berkata cinta adalah essensi dari Tuhan. (Maka jika kita memiliki cinta, bahkan bisa mencintai sesunguhnya kita memiliki dan dekat dengan essensi Ilahi, dan memiliki hati yang pengampun, seperti essensiNya yang selalu mengampuni).
Makanya cinta tak akan pernah berubah menjadi kebenciaan…itulah cinta sesunguhnya.
Maka semoga kita tak selamanya buta…dan sadar.
Bicara kesadaran…dalam kehidupan kita berharap kita bisa makin sadar, makin sadar, makin sadar…tanpa kesadaran artinya kita mati, walau rutinitas kita berjalan seperti biasa…apakah kita sadar selalu?
Tidak juga, buktinya, aku sendiri harus memahami dan sadar dan berkata “ooo, aku mengerti sekarang”, artinya aku sempat juga menjadi mati, buta, dungu, bodoh dan gak tau…tapi yang terpenting AKHIRNYA sadar dan tercelik.
Semoga kita bisa selalu tercelik dan tercelik…sadar dan sadar…akhirnya mengsyukuri…mengsyukuri hikmahNya.
Diakhir-akhir mendekati akhir tahun, adalah saat yang berat buat ku (walau akhirnya aku tetap mengsyukurinya membuatku kembali mencapai pintuNya).
Kenapa?
Karena aku dihadapkan dengan fitnah, tuduhan, gurataan, yang bertubi-tubi, kekecewaan bahkan kebenaran nampaknya bukan kebenaraan saat semua itu diputar balik.
Tapi apakah kita perlu mencari pembenaraan diri? Tidak juga…apalagi kadang dalam hidup tak selalu ada jawaban (sebab jawaban sengaja menjadi misteriNya, disengaja olehNya agar kita mencapai penyerahaan diri padaNya, dan mencari kebenaran padaNya).
Karena kebenaraan yang sesungguhnya ada pada sang Maha Benar.
IA yang sanggup melihat kebenaraan, kejujuran, ketulusan kehidupan jadi lebih penting kita mencari kebenaraan yang ada padaNya…dibanding kita repot-repot membela diri untuk dibenarkan….so who care what they say kata saya…
Karena kebenaraan akan selalu benar, dan sang maha Benar akan selalu membela kebenaraan…mari kita menanti sang Maha Benar, menanti kebenaran dariNya disingkapkan.,dan membuat kita mengsyukuri hidup dan mencintaiNya.
Sebentar aku terdiam, menarik nafas, mikir apa lagi yang ingin aku tulis…hmmm, ah aku ingin menulis tentang menikah…sering kali aku masih suka melihat di TV tentang pernikahaan selebritis yang kandas, cinta yang awalnya indah (pada pelaminan) malah saling menikam di meja hijau….bodoh kataku…lalu tanya ku dalam hati.
Kenapa harus nikah kalau harus cerai…? Stupid kan.
Aku yang tak pernah nikah secara formal saja berfikir kalau menikah itu adalah sebuah anugrah, sebuah ayat berkata “Siapa mendapat istri, mendapat sesuatu yang baik dan ia dikenan Tuhan (Amsal 18:22)”.
Kalau aku belum menikah artinya belum jalannya Tuhan, dan belum diberi jalan yang tepat…menurutku.
Walau aku pernah merasakan apa itu ucapan janji dihadapan Tuhan (dan itu aku anggap luar biasa indah)…walau kalau pengalaman ini diceritakan rasanya kayak film-film aja..hahah.
Seorang gadis yang aku cintai pernah bersandar didadaku, lalu ia bertanya
“Apakah mas mencintaiku?”
“Ya” kataku
“Jangan pernah tinggalkan aku ya…”
“Tidak, aku telah berjanji waktu itu tidak akan meninggalkanmu” (sampai detik ini aku tak pernah meninggalkan
).
Lalu aku bertanya
“Maukah kau menikah denganku, jadi istriku”
Ia menjawab sepontan
“Ya”.
Lalu aku berkata
“Hari ini didapan Tuhan aku berjanji menikahimu, dihadapan Tuhan kau adalah istriku, dalam susah dan senang, dalam sakit atau sehat, sampai maut memisahkan”.
Dan ia menjawab
“Ya”.
Itu pernah jujur terjadi…entah deh Tuhan denger atau tidak…, entah Tuhan tuli atau tidak, atau kita yang berjanji dihadapan Tuhan tetapi semua itu hanya sekedar janji, dan nampaknya janji dihadapan Tuhan tak SAH kalau gak ada surat alias hitam diatas putih plus didepan pendeta atau penghulu…maka kalau cerai pun tak perlu masuk pengadilan hahahah…
Tapi tetap aja bagiku, cerai itu sakitnya pasti gak enak…hanya orang bodoh yang mau mencintai lalu bercerai…STUPID…ngapain repot-repot mencintai dan menikahi…apa lagi sudah mikir nyari gaun, awalnya cinta nampak seperti janji “gunung ku daki, laut ku seberangi” atau awalnya cinta menutupi ritual agamawi akhirnya toh ritual agamawi tetap jadi yang didahulukan diatas cinta.
Sebab kadang kita buta pada ayat, karena pemahaman kita tak terbuka.
Apa lagi kalau paham tentang cinta.
Sekali lagi maaf kalau aku harus jujur…jujur itu pintu menuju kebenaraan.
Yah lupakan tentang itu…
Diakhir-akhir tahun, banyak sahabat, teman mengeluh, mengeluh bukan karena kurang uang untuk liburan tetapi mereka mengeluh karena pasangan, suami mereka menyelingkuh…duhhh sekali lagi kebodohan yang makin bodoh.
Jangan bilang manusiawi kalau selingkuh, jangan bilang selingkuh itu indah.
Intinya selingkuh itu tak akan pernah indah, bagi yang diselingkuhi ya gak enak (saya pernah mengalaminya, sering, rupanya jadi orang jujur dan setia itu susah), dan bagi sahabat dan teman saya yang kena musibah ini mereka pun stress karena kepercayaan mereka hilang pada pasangannya, kekecewaan dan kecurigaan pun menyelimuti hidup hubungan itu. Dan susah payahnya membangun kepercayaan kembali pada pasangannya yang berhianat
Padahal jujurnya orang yang tidak bahagia dan makin menderita sesungguhnya adalah orang yang hidupnya tidak setia…
Kenapa?
Karena ia harus berbohong, bersembunyi dan memalsui dirinya sendiri…hidup udah ribet koq dibikin ribet…cape dehhh…
Dan memegang kesetiaan (komitment) itu penting, dan juga berat…tetapi jika kita sanggup sampai akhir tetap pada prinsip ini walau sakit, kita tetap lebih bahagia dibanding mereka yang hidup tanpa setiaan didalam kehidupannya.
Tapi kita yang selalu mau bahagia dengan memegang kebenaran…harus mampu berdiri terus disini…tetap setia…susah tapi menjalani itu yang akan membuat kita lebih mulia dihadapanNya.
Karena kesetiaan pada cinta juga kesetiaan padaNya.
Duh hidup sudah susah…kenapa harus ditambah susah…istilah ini semua orang tau…tapi sering kali kita malah mengambil jalan yang susah. Kenapa gak mikirnya, kalau kita diberikan kesempatan melalui jalan susah, agar kita makin tau betapa kesusahan itu bisa membuat kita sadar.
Aku pernah berkata kepada seorang yang aku kenal…
Hidup itu perlu belajar, dan belajar itu tak pernah selesai walau bangku sekolah kita sudah tamat, orang yang belajar, pikirannya, jiwanya, hatinya bertambah ilmu, hikmah, dan pemahaman…dengan belajar, pikiran jadi terbuka, dan juga dengan membuka pikiran kita memperbolehkan diri kita dibangun, dengan diri kita dibangun, hidup kita makin maju, dan hidup tidak jadi buruk, dengan tidak jadi buruk kita membuat diri kita kaya dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari, dan saat kita mati kita bertanggung jawab pada sang kehidupan, apa yang sudah kita bangun dari hidup kita.
Kita membangun sifat, hati, spiritual, atau kita membangun hanya pada hal-hal yang lahiriah saja…yang semu??
Inilah hidup sesunguhnya.
Inilah tantangannya…
Tahun baru masih panjang, masih ada beberapa waktu lagi, sering kali di tahun baru kita membuat resolusi hidup agar hidup lebih baik…nyatanya sebagiaan besar tak pernah terwujud, bahkan sering kali resolusi (janji) hanya sekedar resolusi, tanpa hasil.
Kenapa harus menunggu tahun baru, kenapa gak setiap waktu kita menjadi better person?. Caranya ya dengan selalu belajar tanpa henti, sampai rambut memutih, kita tak lagi ingat nama kita dan akhirnya kita dipanggil pulang menghadap sang Hidup.
Selamat Tahun baru.
Selamat bertemu kembali dikehidupan atau tulisan saya kemudian…itu pun kalau saya besok masih hidup hahahah
Selalu lah mencintai…mencintai Tuhan dan sesama…selalulah semampunya hidup lurus, jujur berpegang pada kebenaraan.
Catatan ini menjadi catatan akhir tahun 2007, juga perpisahan sementara (tuk kembali lagi), karena perjalanan saya akan segera dimulai.
I LOVE U, I LOVE U GOD
Markus AP
11/12/2007 11:27 PM


Similar/Related Posts