Sebuah Catatan : “sakit”
Aku orang sakit…aku orang pendendam. Aku orang yang tidak menarik. Aku yakin hatiku mengindap penyakit. Sungguh pun begitu, aku tidak tahu apa-apa tentang penyakitku dan tidak tahu pasti penyakitku sebetulnya. Aku tidak pernah minta nasihat dokter, biarpun aku cukup menghargai ilmu kedokteran dan para dokter. Di samping itu, meski aku amat percaya pada takhyul, namun cukup menghormati ilmu kedokteran…(Notes from underground-Dostoyevski)
Sakit, ya aku sakit, kata sakit disini bukan sakit dalam artian konotasi bahwa aku sakit seperti tokoh dalam notes from undergorund karya dostoyevski, atau sakit seperti kata cemooh orang yang lalu, yang menilai aku sakit dalam artiaan konotasi tadi.
Tanggal 22/11/2007 aku harus di larikan ke rumah sakit, karena panas tinggi mencapai 42, entah apa dan kenapa bisa begitu, semua itu hanya bisa dijawab oleh medis atau mistis. Menurutku sendiri hal ini seperti pengulangan sakitku di tahun 1998, atau memang tubuh ini memang harus menyerah pada kenyataan, bahwa tubuh ini butuh istirahat.
Menyingung cemooh orang yang mengatasnamakan kebenaran lalu menangap sakitku sebagai kutukanku, mungkin ia merasa diri jadi Tuhan, maka ia bebas menilai, menghakimi, memutar balik fakta, mungkin juga kebenaraan.
Yah namanya juga want play God, saya yang sehat dibilang sakit, dan yang sakti dibilang sehat. Dan mungkin dia sendiri sakit saja gak sadar. Hahahah.
“Atas motifasi apa?” itu tanya saya? Lalu saya tertawa karena membaca motifasinya
Katanya “dalam diri saya…” siapa yang tahu diri saya ? selain Tuhan dan saya sendiri?.
Atau bisa jadi aku yang sakit terbaring dirumah sakit, sebagai hukuman Tuhan atas perbuatan jahat ku pada orang.
“Tuhan kah anda?”
Mungkin katanya saya ini…itu kan katanya jawab saya sendiri.
Yah yang benar bisa jadi salah, yang benar bisa jadi “benar” yang “benar” bisa jadi benar, kebenaran jadi relatif, kebenaraan juga bisa jadi kue apem, jadi sandal jepit, jadi kolor hijau atau buku stensilan. Suka-suka dia lah mau dibawa kemana kebenaraan.
Mau onani kebenaran kayak apa suka-suka dia, mau meniduri kebenaran kayak apa suka-suka dia, mau mengzinahi kebenaraan kayak apa suka-suka dia.
Tuhan yang benar tentu tidak suka-suka, Tuhan yang aku sebut disini, adalah manusia ‘tuhan’ dengan setelan kemeja arrow, lagak manager hebat (Ich nicht Pflege), handphone mahal, educated (katanya) Niet verstandig, serigala bulu domba gaya tipu sana sini jualan obat nyamuk, yah Tuhan manusia urban umumnya, manusia lupa kodratnya manusia.
Ia berasa jadi tuhan…jadi tuhan.
Ku pikir kalau ada tuhan yang begitu, akan banyak umat yang bimbang, banyak hidup jadi kayak kapal tanpa layar, nahkoda…hahah aku tertawa ingat kapal hantu, berjalan sendiri tanpa nahkoda…liar!.
Mari kita singgung kebesaran Tuhan yang sesunguhnya, seperti celetuk saya dalam tulisan saya belakangan, yang lebih banyak membuai Tuhan dengan pujiaan dan tulisan saya.
Jujur menulis tentangNya dengan buaiaan yang indah, lebih membuat hidup tenang. tidak kemrungsung.
I love my GOD!
Nah…Tuhan itu Maha cinta, hingga cinta besar yang ia punya, ia titipkan kepada saya yang miskin untuk mencintai, tapi setelah dititpkan, saya ditikam, dihianati, diselingkuhi, saya masih bisa senyum. Goblok!!!!
Hahahahah, saya memang polos benar saya ini.
Tuhan yang real, maha melihat kebenaran, mataNya sampe menembus sela kisi-kisi kamar, kamar hotel, menembus hati, otak, kesadaran, rekening telp, yahoo messanger, lalu warna celana dalam, bahkan menyelidiki omong kosong dulat dalit yang gak pernah tau juntrungan mana yang pasti apa lagi yang benar.
Gak jelas koq jadi manusia!!!!
Yah intinya Tuhan yang benar aku kenal (bukan teori agama) adalah Tuhan yang maha adil, menyatakan benar ya benar, tak pernah ‘benar’ ya benar, IA sanggup melewati semua batas aturan, bermain di dunia kasih, kudus bukan jenang kudus. Itu Tuhan.
Tuhan yang maha cinta tak palsu cintanya, tak gila cintanya, tak petak umpet cintanya, bukan cinta ala sinetron atau lagu krispati, cintanya murni tidak kotor, maka tak juga jual cinta demi uang, tak tukar cinta dengan kolor atau nafsu sesaat.
Ah lupakan Tuhan atau ‘tuhan’ hati gak enak memuja Tuhan atau menyindir ‘tuhan’…
Memuja Tuhan lewat buaiaan tulisan saya belakangan bikin hidup tenang.
Memuja tuhan bikin hidup kena kutuk makin goblok.
Ah masa bodoh apa kata dunia seperti kata Jendral Naga Bonar, Ich hasse dich, saya bukan ahli jiwa, untuk menghadapi orang begituaan. Biarkan karma, karma, karma saja yang mengurus.
Kembali kepada kesehatan.
Menurut Dokter, yang pandai karena sekolahnya tinggi dan diusahakan sampe lulus, ia berkata fisikku cukup sehat, jantungku sekuat gajah, gula darah 72-114, paru-paru seperti bayi walau rokokku seperti kereta api aku sering membela diri tanpa merokok aku tak akan menghasilkan sesuatu. Kalau sempat berhenti sebentar itu gara-gara ciuman akan lebih mantap kalau saya tak merokok…padahal merokok atau tidak ciumanku maut…
Omm Goen, jitu menulis karena rokoknya kuat, dan kebulan asap keluar pemikiran.
Dari diri saya mencul pemikiran, yang sedari dulu mau berkata benar ya selalu benar, gak dibikin-bikin atau dikarang-karang.
Sedari dulu aku membenci mengarang bebas kehidupan, aku benci drama queen, drama king, hidup bukan sinetron, real.
Seperti aku berbaring sakit juga real, bukan sandiwara murahaan tanpa buget produksi.
Anda tahu rasanya sakit didalam sini? Kau rasanya mual, pendih sesak, sakit saya yang tau dan ini bukan main-main.
Dan maaf, mentalku cukup sehat, dan tak terbukti psikopat, sosiopat, edan, sinting. Matrialisme, atau suka bergosip, dengki, iri, dedaman dengan tetangga… semua itu aku tak punya.
Walau aku pernah mengaku Anxeity (kalau anda baca kamus gak usah sok tau, maka cari artinya apa dari anxeity ini), dan 80% penduduk dunia menderita Anxeity, dan hal ini bukan termasuk saya “sakit gila”.
Artinya saya tidak gila, seperti cemooh orang, 100% normal, aku tidak neko-neko, berselingkuh, atau tidak jadi selingkuhan orang, numpet-ngumpet aja gak pernah, jiwa dan mental saya terbuka dengan kejujuran, apa adanya dan saya terbukti jujur.
Artinya mental jiwa saya sehat!
Kegilaanku yang paling gila, adalah aku bicara apa andanya, tell the truth nothing but the truth.
Maka…
Bicara cinta ya cinta. Tidak membual.
Bicara lapar ya artinya lapar. Tidak bohong.
Jujur apa adanya, banyak wanita memuja ini tapi juga ada yang mengenyeknya kayak sampah limbah B3. (Bau Badan Babi).
Kata beberapa sahabat, pemikiranku makin tajam, kesadaranku makin runcing, beberapa sahabat tetap menganggap aku pria paling normal, walau sudah kurang exentrik lagi, dan setidaknya masih baik lah, gantle man, without simpanan, gante man without selingkuhan, so so lah apa kata mereka pencemooh atau pemuja. Kepada pencemooh “Fuck you shut up”, and thank u.
Kepada pemuja, im only human. God is perfect.
Sakit disini karena memang tubuh harus menyerah pada realitas, kalau tubuh butuh istirahat, perlu energi, perlu mengenakkan diri, dengan makanan enak (france food), wine, ice cream, gepuk nyonya ong, sate ayam gondrong, mie wewe atau mengenakkan diri dengan leyeh-leyeh dengan tubuh indah, bau keringat, wangi rambut wanita cantik… untuk cara yang kedua saya tak sarankan, saya sendiri cukup menikmatinya (sambil malu mengingatnya).
Di hari kedua, tiba-tiba aku ingat seorang pribadi, yah aku tiba-tiba ingat 1 orang pribadi, yah Romo Bein, sosok yang dulu pernah memberikan secercah kehidupan (9 tahun lalu), saat aku juga masih di rawat dirumah sakit yang sama. Kemana dia?
Aku sempat menanyakan kepada suster…katanya ia sudah tua, dan sakit-sakitan, dan pensiun.
Ah romo yang baik hati itu, pensiun?
Romo yang penuh cinta dan kebaikan itu pensiun? Kenapa orang baik harus pensiun, kenapa gak orang jahat saja yang disuru pensiun dari kehidupan…mampus sana!, kenapa orang baik harus pensiun!.
Aku sempat menanyakannya lagi tinggal dimana dia?
Kemungkinan ia kembali ke Ambon.
Aku sempat menanyakan nya pada suster yang lain, (tentu suster yang aku tanya sekarang suster yang lebih cantik), saya menanyakan kemana Romo Bein, yang rupanya memang sudah pensiun, saya kangen sosok tua, murah senyum, damai, penuh ketenangan, dimana ia pernah memberikan senyum dan kehidupan kepada ku 9 tahun lalu.
Aku mencoba mengarahkan angan…apa yang terjadi jika aku terbang ke singapore mengurusi apa yang sudah aku rencanakan, lalu kembali ke jakarta lagi, dan aku mencari nya di pulau ambon sana…mencarinya hanya untuk mencari jawaban akan “Kebenaraan” dan “Cinta”.
Aku rasa ia cukup paham tentang cinta….
Karena sisa hidupnya ia memberikan cinta lewat senyum….
Ia telah memberikan senyum dan kedamaiaan yang mengugah kepadaku 9 tahun lalu. Aku mencoba menceritakan sosok tua itu kepada beberapa yang hadir menjengukku, mereka sepertinya tak mau mendengarkan…sedangkan aku, aku masih membayangkan senyumnya yang damai, baik hati, penuh cinta yang tulus tidak palsu.
Iya, aku lagi anti dengan cinta palsu, aku lagi ingin mencari yang asli-asli saja….mules dengan kepalsuaan, penipuaan…
Aku kembali melayangkan angan ke pasir putih tanah ambon, matahari terik menusuk kulit di pagi hari, angin bertiup sepoi basah, dan romo dan aku berjalan menyusuri pantai itu kita mulai bercerita tentang cinta.
“Apa itu cinta romo…”
“Cinta itu makanan, nafas, nyawa…, kita tak hidup tanpa cinta, tak punya semangat tanpa cinta, sakit tanpa cinta…”
“Kenapa cinta itu menyakitkan?”
“Cinta tak pernah menyakitkan, manusia yang menyakitkan…kelakuaan dan kebejatan manusia yang selalu menyakitkan…, kesempitan pemikiran kita yang selalu menyakitkan, cinta selalu dianggap sebuah sampah tanpa arti, jika kita menganggap cinta itu anugrah maka berarti pula cinta itu”
“Apa itu cinta romo…”
“Cinta itu sabar, cinta itu murah hati, cinta itu tidak mementingkan diri sendiri, cinta itu tidak cemburu, tidak pemarah…”
“Bukankah itu isi 1 Korintus 13”
“Iya apa lagi…apa yang mau kau rumuskan dari cinta, kenapa tidak kita pikir cinta itu sesuatu yang sederhana dari kebaikan manusia? Dan kebaikan Tuhan”
“Aku mengerti romo…”
“Jadi jika kamu punya cinta, kamu harus punya kesabaraan saat kamu ditikam, tidak marah saat kamu disakiti, dan hingga kau menyerahkan nyawamu pun kamu tidak memikirkan dirimu…”
“Aku mengerti romo…”
“Satu hal yang selalu dihargai Tuhan dari manusia adalah cinta, bahkan jika kau hancur karenanya pun Ia dekat pada yang hatinya hancur”.
Aku pun sadar dari angan-anganku, dan kembali ke hidupan nyata….huh cinta….begitulah kisahnya.
Aku kembali berbaring, dan ingin terus berhayal, mengumpat…mengutuk ketidak benaraan.
26-30 November 2007
St.Carlous
Markus AP.



6 Responses to “Sebuah Catatan : “sakit””