Sakit, ya aku sakit, kata sakit disini bukan sakit dalam artian konotasi bahwa aku sakit seperti tokoh dalam notes from undergorund karya dostoyevski, atau sakit seperti kata cemooh orang yang lalu, yang menilai aku sakit dalam artiaan konotasi tadi.
Tanggal 22/11/2007 aku harus di larikan ke rumah sakit, karena panas tinggi mencapai 42, entah apa dan kenapa bisa begitu, semua itu hanya bisa dijawab oleh medis atau mistis. Menurutku sendiri hal ini seperti pengulangan sakitku di tahun 1998, atau memang tubuh ini
Gelap dilorong tak ada bau
Obat nyamuk
Gongong anjing
Suara gitar
Cekikik yang tanpa arti
Mati tanpa maut
Pada ketilang suaranya merdu
Sangkar kotor tak ada tai
Bau wangi
Meong meong
Suara sitar
Tembang jawa merdu
Berarti tanpa tau
Markus AP
(21/11/2007 Tengah Malam, Pada secarik kertas, dikamar Nyokap gue, judul awal Teori Absurd)
Dan sakit penat yang tak kunjung henti
Melelahkan
Entah apa yang kuidap
Tetapi biar saja, aku menanti
Penghabisan, karena hidup
Aku titipkan pada pemiliknya
Dan sampai habis
Aku hadapi tanpa
Henti atau gentar
Yang mungkin tak ada arti
Markus AP
21/11/2007 8:52:19 PM
Catatan : ku tuliskan puisi ini buat diriku.
Read MoreDalam beberapa kesempatan diseminar, atau ruang kelas saya selalu mencoba mengungkapkan “seni itu espresi diri”, melulu saya bicara seni itu expresi diri, hari ini saya tak mau banyak bicara teori tentang seni, saya coba bicara apa adanya dari diri saya, apa itu seni, tentu lewat perenungan saya tentang apa itu seni.
Setiap orang butuh makan, setiap orang butuh kalori, protein untuk dicerna oleh tubuh, bagi saya sendiri, kebutuhan makan sangat penting, apa lagi kalau perut lapar atau lagi stress, maka akan banyak makan, atau bisa jadi gak butuh makan. Dan efek dari makan pasti perut jadi kenyang atau kalau lagi gak perlu makan pasti lapar.
Begitu Read Moretrademarks
Kabut menyelimutinya pagi ini
Sedang aku tak dalam sujudku
Aku tetap bersujud
DikakiNya aku memohon
Kepada wajahNya aku memandang
Aku yang tercabik
Aku yang tercerai
Aku yang tersayat
Melihat agungNya yang semarak
Dalam tunduk
Getir
Tanya yang tak tau kenapa
“Kemana keadilan?”
“Dimanakah kebenaran?”
Aku yang terdiam
Aku yang terkunci
Aku yang mematung
Melihat ini semua dalam kemuliaanNya
Dalam senyap
Senyum
Heran yang tak mengerti kenapa
Markus AP
20/11/2007 5:27 AM
Catatan : Kekuatanku habis tak tersisa, aku hanya bisa terdiam, menanti, sekalipun dan apapun yang akan terjadi, aku akan tetap ada ditempatku berdiri, dengan diam, sekalipun aku tau yang banyak orang tak akan mengerti.
“Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu”
Read MoreSama seperti hal-hal yang ditunjukanNya padaku tentang kebenaraan, ah aku mengagumiNya.
Sayang,, malam ini, hanya cahaya bulan menerangi seluruh lembah, aku yang melihat dari atas bukit ini mengaguminya dengan kekaguman yang luar biasa, ah aku tak tahu sampai kapan aku tinggal diatas bukit ini, apakah kekaguman itu akan berakhir saat IA memanggilku pulang, atau entah lah. Penantiaan ku seperti menanti rayuaan sang maut menjemputku.
Tidurlah sayang, ingatlah aku mencintaimu selalu, tak ada yang bisa melarangku memiliki rasa cinta ini, kecuali padaNya yang merengutnya dari relung hatiku. Read More
Dan dalam diamku yang tertuju tanpa arah
Kau panggil aku dalam sujud
Menghadap pintuMu yang terbuka
Kau buat kakiku teguh berdiri
Menari bersorak pada namaMu
Mengembalikan kemuliaan kepadaMu
Menyerahkan puji dan segalanya padaMu
Mengorbankan hidup kepadaMu
Menyalibkan hati kepada tanganMu
Aku hanya bisa berpeluh
Aku hanya bisa bersyukur
Dalam tangis dan senyum yang melebar
Tanpa sesak
Aku bersyukur dalam sujud yang tak ingin berhenti
Dalam sujudku tak ingin berakhir
Biarkan aku tinggal sejuta tahun ditempat ini
Karena padaMu kupadang wajahMu
Dan dalam naungan sayapMu kau jawab aku
Markus AP
(18/11/2007 1:02 PM)
