content
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

Sonia (cerpen)
By. marcus . February 13th, 2007 at 6:15 pminternational
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Sonia

    Angin benar tak bersahabat pagi itu, bertiup kencang membeku, tanpa matahari dilangit, yah sepertinya alam sedang bersedih, seperti kehilangan sebuah kehidupan yang berharga, yah kita semua yang datang bersedih, mereka semua yang datang menampakan wajah suram, tak bersemangat, tak ada kehidupan dan kesemarakan, penuh kesedihan, mereka dengan tampang yang sangat haru melihat ke liang kubur kekasihku, Sonia.
    Kepergiaanya merupakan pukulan bagiku.
    Sedangkan aku berdiri dikejauhan, berdiri dibawah pohon elk tua, tak sanggup melihatnya dalam peti yang kemudian tertutup oleh tanah, aku tak mau menanggapnya pergi dari dunia ini apa lagi dari hatiku.
    Satu jam lebih upacara penguburannya, semua yang hadir telah pergi, Bibi Sonia adalah orang yang paling bersedih, sedangkan aku, aku, aku mungkin orang yang nampak paling tegar, tetapi sebenarnya tidak begitu…kepergiannya telah meruntuhkan semua hal yang ada didalam hatiku…mungkin akan mengakhiri kehidupanku…tak akan ada lagi yang bisa mengantikannya.
    Aku tak beranjak dari tempatku, tak ingin aku pergi, walau mungkin dingin telah mencoba mengusirku dengan halus…angin mencoba membisikan usiran halus juga, tapi aku tak beranjak…tetapi akirnya aku harus pergi juga…tak akan ada bedanya aku disana, dan ia tak bangkin dari kuburnya.

    Hari terus berlalu, dua tiga hari sejak kepergiaanya, aku lebih suka terdiam, dan mencoba menyembunyikan hati sedihku dengan seulas senyum pada teman-temanku, aku mendengar ucapan beberapa temanku karena senyumku yang palsu.
    “Kau lihat Serge…ia nampak bersedih, tak ada lagi semangatnya, sejak Sonia pergi”
    “Huh kasihan dia…, ia yang biasa bersemangat kerja sekarang ia diam”.
    Begitulah kata mereka…lalu lamunanku terpecah seketika
    “Serge…kembali bekerja…”
    Aku hanya menoleh ke arah suara Boss ku Alexi, aku berdiri dan bekerja lagi. Teman-temanku mencoba menghiburku, tetapi sepertinya aku tak mendengar apa yang dikatakannya, yah aku seperti memiliki duniaku sendiri.

    Hari mulai sore, aku kembali dari pelabuhan tempatku bekerja, menuju rumahku, aku langsung masuk kedalam kamar, untuk mengistirahatkan diriku, lebih tepatnya menyembunyikan diriku dari kehidupan, aku tahu Paman dan Bibi sudah mulai cemas dengan diriku, tetapi memang kepergian Sonia, merupakan kehilangan bagiku….sepupuku, Katania berusaha menghiburku, ia terus mencoba memberikan semangat…tak ada faedahnya bagiku…tak ada manfaatnya sama sekali…jika aku kembali bersemangat, tetap ada yang hilang didalamku.
    Hari itu aku mengunci kamarku, sengaja agar tak seorang pun mengangguku, lalu aku membuka jendela, dan berbaring di pembaringanku dekat jendela itu, disana aku bisa merasakan sinar matahari yang mulai tengelam dan sekali lagi aku teringat tentang Sonia.

    Aku mengenal Sonia, 10 bulan lalu, aku berusia 17 tahun, ia 19 tahun saat itu, yah usianya lebih tua dariku, tapi ia tak pernah menganggapku seperti anak yang baru menginjak dewasa, pertama kali aku mengenalnya saat ia berjalan-jalan di sebuah karnaval, sedangkan aku saat itu sedang bekerja sebagai buruh kasar…aku tertegun karena kecantikannya, dan pandangan matanya saat ia melihat padaku, lalu seketika hilang ditelan krumunan orang-orang.
    Kejadian itu lebih sering terjadi, bukan hanya di karnaval tetapi juga di pasar.
    Aku baru bisa benar mengenalnya saat aku bersembunyi-sembunyi mengamatinya sedang duduk diberanda rumahnya, ia menyadari kehadiranku rupanya dan selama lebih dari sebulan itu, tetapi ia membiarkan ku melakukan kegilaan itu, sampai suatu hari, ditempatku bersembunyi, aku dikagetkan oleh sentuhan halus dipundakku, aku meloncat kaget, dan menoleh ke arah sentuhan itu…dan ia adalah Sonia.
    “Tuan, kenapa tidak tuan masuk kedalam rumah atau berkenalan dengan resmi, daripada Tuan mengendap-endap seperti pencuri, yah dari pada Tuan selama sebulan ini bersembunyi dan mengamati kebiasaan saya duduk diberanda itu tiap sore…”
    “Hmmm…hmmmm”
    “Tidak kah Tuan bisa bicara, saya Sonia”
    Aku seperti bisu, tak dapat berbicara, tak dapat mengeluarkan kata-kata.
    “Tuan Bisu…, atau Tuan merasa melihat hantu…, bukankah Tuan memiliki nama”
    “Bagaimanakah Nona bisa ada disini…!!! Lalu siapakah yang duduk diberanda itu…membalikan badannya menghadap jendela, bagimanakah Nona bisa ada disini”…
    “Oh itu…, itu Maria, sepupuku, aku memintanya untuk menyamar sebagai aku, sedangkan aku menyelinap dari pintu belakang hanya untuk menangkap Tuan…”
    “Maaf, saya tak sopan, Nama saya Serge Petrosky”
    “Nama yang aneh…unik seperti keunikan Tuan bersembunyi selama sebulan ini”
    Aku malu benar hari itu, tetapi aku tak merasakan ia kawatir atau takut kalau-kalau aku orang jahat.
    “Bagaimanakah kau tak takut padaku…”
    “Kenapa saya harus takut pada Tuan, saya pernah melihat tuan sebelumnya, dan sorot mata Tuan tak menunjukan Tuan penjahat…dan jika Tuan penjahat, saya bisa teriak dan Maria akan lari menolong saya, sambil membawa pistol Paman, dan siap menembak Tuan”.
    Aku kaget mendengar itu, sepertinya ia telah merencanakannya dengan matang, seketika nyawaku seperti terancam…ahhh tetapi lebih tepatnya aku malu benar hari itu.
    Sejak hari itu, aku menjadi tamu yang selalu datang 2-3 kali dalam seminggu… Dan bisa saja selama seminggu lebih aku tak pernah absen untuk datang…tetapi saat aku datang lebih sering, dan lebih sering juga aku menjadi patung penghias berandanya…karena ia sibuk bercanda dan menyindir bersama sepupunya Maria.
    Dan saat aku tak datang untuk beberapa lama, ia begitu berbeda.
    Hingga suatu hari ia nampak benci dan marah padaku…
    “Kenapa Tuan tak datang…, saya merindukan sorot mata Tuan, dan keterdimana Tuan yang tanpa kata-kata, yang bodoh dan diam saja…”.
    “Aku…..”
    “Diam…aku tak mau mendengar alasan Tuan…, tidak kah Tuan tahu aku merindukan sorot mata Tuan…, aku merindukan Tuan, dan tak adil bagiku jika Tuan hanya memberikan alasan..dan alasan itu membenarkan ketidak hadiran Tuan disini…”
    Ia terus saja berbicara, dan aku terdiam, entah ada sepuluh duapuluh kata “rindu”, didalam omelannya, yah aku terdiam, dan saat ia mengatakan itu, sepertinya aliran darah memenuhi kepalaku, aku hampir kehilangan keseimbangan, hampir tak percaya, hampir tak mengerti, aku seperti diracuni oleh kata “aku rindu”…dan,dan aku bertanya-tanya apa arti kata itu…mitseri apakah yang tersembunyi dibaliknya…apakah ini mimpi atau …, aku tak tahu.
    Aku tetap terdiam, melihatnya mengoceh, dan mengoceh…bibirnya nampak indah, sorot matanya saat ia marah nampak berbeda, ia tak menunjukan kemarahan, tetapi kerinduaan, seperti keinginanya berbicara dan berbicara yang selama beberapa saat lalu tertunda…aku tak pernah menduga, seorang wanita kaku, keras kepala, seperti itu masih bisa menunjukan kerinduaanya…
    Sepupunya Maria berkata kepadaku
    “Tuan Serge, kau telah membuat Sonia berbeda hari ini”.
    Lalu ia berkata
    “Diam kau Maria…., jangan membuat merah pipi Tuan Serge dengan pujian itu, dan kau Tuan…Esok…jangan kau ulangi lagi, datanglah setiap senin, rabu, jumat, sabtu dan minggu…jangan pernah kau tak datang”
    “Baik”. Kataku
    Aku seperti seorang yang seketika saja tak memiliki kemauaan, lebih tepatnya tak memiliki kebebasan, yang seketika harus mengikuti sebuah jadwal kehadiran, tetapi satu-satunya kemauaan yang ada didalam diriku hanyalah hadir seperti yang dimintanya, seperti yang dimauinya dan baru kali itu, ia memanggilku dengan sebutan “Kau”, bukan Tuan…, tetapi seketika itu pula aku mendengar ia memanggilku dengan sebutan Tuan, tetapi sebutan “Tuan” yang berbeda…ia memanggil sebutan “Tuan” dengan nada yang mesra, dan penuh semangat.
    “Tuan ku sayang….sebagai hukuman, datanglah esok jam 5:30, temani saya berjalan dipantai”.
    “Tapi besok aku harus bekerja…”
    “Bekerja…??? Lupakah Tuan ku sayang, bahwa esok adalah hari minggu, masihkah kau bekerja dihari minggu”
    Aku benar-benar malu atas ucapanku itu, aku benar-benar lupa kalau esok adalah hari minggu.
    “Baiklah Nona”
    Akhirnya ia pun menjadi diam, matanya berbinar seolah ia bangga telah memenangkan sesuatu, ia masuk kedalam dan mengambil secangkir tea, dan kembali dengan menyuguhkannya padaku, aku menikmatinya dan tak lama setelah itu aku pulang pamit meninggalkannya…perpisahan yang selalu tak pernah kuinginkan setiap kali aku berkunjung.

    Esok pagi aku telah datang tepat waktu, duduk didepan tangga di beranda rumahnya, dan tak lama ia keluar dan menghampiriku…
    “Mari kita jalan, temani saya menikmati pantai….”
    Pagi itu, ia tampak cantik sekali, wajahnya berseri, begitu ceria dan bersemangat, ia tak berkata apa-apa selain kata “mari….”.
    Ia berjalan didepanku, dan aku mengikutinya dari belakang, disitulah aku dapat melihat seluruh tingkah lakunya, mimik wajahnya, rambutnya yang tergerai indah, hitam panjang dan indah…entah apa yang ada didalam dirinya, entah keceriaan apa yang membuatnya nampak berbeda pagi itu.
    Pagi itu matahari telah bersinar cukup cerah.
    “Tidak kan Tuan melihat saya begitu ceria”
    “Ya…”
    “Tidakkah Tuan heran dan sadar melihat saya begitu ceria, pasti Tuan bertanya-tanya, tentang hal kegilaan apa yang terjadi pada saya, setan mana yang telah merasuki saya, sampai saya begitu ceria…”
    “Tidak, saya tak berfikir bawah Nona Gila, atau dirasuki setan, hanya saja, pagi ini Nona begitu ceria, dan penuh semangat”
    “Ya, saya begitu ceria…karena pagi ini, saya menikmati pantai bersama Tuan, melihat ombak bersama seorang yang saya hukum…dan  saya harus menghukum Tuan, karena absen beberapa waktu lalu, karena telah membuat saya menderita beberapa hari, saya ceria karena saya telah menghukum Tuan…”.
    Aku tersenyum, aku tak sangka ia begitu terus terang, tetapi yang lebih penting benar apa yang dikatakannya, kita menikmati pagi itu.
    Pagi itu selain berjalan dipantai, kami bermain diombak yang tak begitu kencang, yah seperti dua orang anak kecil yang penuh keceriaan dan kebahagiaan disebuah surga.

    Matahari mulai tinggi, kami behenti disebuah rumah Tua yang ditinggalkan didekat pantai, aku duduk di tangga beranda, dan ia duduk disebuah bangku tua yang ditinggalkan diberanda itu..ia menyangahkan kepalanya pada ujung bangku, wajahnya nampak layu, keceriaanya hilang, mungkin ia lelah…lalu ia bangkit dan berdiri dibelakangku, membuka topi ku dan membuangnya ke bawah.
    “Saya ingin melihat rambut Tuan, yang hitam”
    Aku terdiam
    “Ouhc….”
    Aku berteriak, rambutku ditariknya…
    “Bolehkah saya meminta rambut Tuan” aku berpaling melihatnya, ia telah memegang sejumput rambutku, dan memasukannya kedalam saputangannya, melipatnya dan ia masukan kedalam sakunya…
    “Jika saya tak lagi bertemu dengan Tuan, mungkin saya akan mengenang Tuan dengan rambut ini”.
    “Jangan lah berkata sesuatu yang aneh, siapa yang akan meninggalkan nona” kataku.
    “Tuan, ku sayang, tak ada yang aneh…dan tak ada yang tak mungkin didunia ini, hari ini kita bisa begitu ceria, hari esok kita bisa saja tak dapat melihat keceriaan satu sama lain”.
    Entah apa yang membuatnya begitu serius, wajahnya telah berubah menjadi sangat serius…keceriaanya seketika sirna.

    “Tuan, ku sayang…mau kah Tuan membuatkanku sebuah puisi”
    “Puisi…???”
    “Ya puisi, buatkan untukku sebuah puisi indah”
    “Bagaimanakah pria yang tak terpelajar ini menulis puisi”
    “Tuan tidak terpelajar?, saya tak percaya…, ada sebuah catatan disaku Tuan, jas Tua yang Tuan pakai, dan gaya Tuan berpakaiaan…tak menunjukan Tuan tak terpelajar,setidaknya Tuan pernah merasakan bangku sekolah”
    Aku tak pernah sadar, ia begitu mengamatiku, ia begitu membuat sebuah kesimpulan yang akhirnya mengetahui keberadaanku, yah memang aku pernah bersekolah, tapi sejak kedua orang tuaku tak ada, aku tak pernah melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi lagi.
    “Baiklah, saya akan membuatkannya untuk nona” kataku menyerah…
    Siang hari aku mengantarnya kembali kerumahnya, aku kembali kerumahku dengan keceriaan dan entahlah, apa yang terjadi padaku hari itu, telah mengugah dan mengubah sesuatu yang berbeda dalam ku.
    Aku kembali kerumah, dan mencari pena dan kertas, dan mulai menulis sebuah puisi dalam bahasa Prancis…tak mudah memang, empat lima enam kali aku mencoba membuatnya, dan baru aku bisa membuatnya setelah aku benar-benar mengingat sebuah kata yang dikatakannya.
    Pagi sebelum aku menuju pelabuhan, untuk bekerja, aku singgah dirumah Sonia, ia tak menjumpai ku pagi itu, aku menitipkan sepucuk surat kepada Maria, yang isinya puisi yang kubuat kemarin.
    “Saya akan kembali nanti setelah pulang dari kerja”
    “Baiklah…” kata Maria.

    Menjelang sore sekembalinya aku dari pelabuhan, aku kembali kerumah Sonia, aku menanti nya lebih dari setengah jam di beranda rumahnya, ia  tak keluar, lalu sepupunya Maria menghampiriku.
    “Tuan, lebih baik Tuan pulang saja…Sonia tak ingin menemui Tuan hari ini”.
    Aku berdiri, dan tak mengerti kenapa ia tak ingin menemuiku, aku melangkah meningglkan rumahnya…berjalan lunglai, bingung dan tak mengerti apa yang terjadi.

    Selama lebih dari tiga minggu aku datang tanpa absen sekalipun kerumahnya, tetapi tak pernah sekalipun aku menemuinya, adakah yang salah pada puisiku, ada kah yang salah pada diriku…atau kah ia membenciku, ia yang beberapa saat lalu nampak ceria mendadak menghilang dari padanganku.
    Hingga hari ke duapuluh enam, aku menerima sepucuk surat yang dikirim oleh Maria.

    “Tuanku Serge…saya harus pergi ke St Petersburg hari esok, seminggu kemudian saya akan menemui tuan seperti biasa”.

    Pesan itu begitu singkat, begitu tak ku mengerti apa maksudnya, apa maksud kepergiaanya ke St.Petersburg.
    Seminggu lebih, tepatnya sepuluh hari aku menantinya, berharap bisa menemuinya, melihat keceriaanya seperti malaikat, dan kadang keanehannya seperti iblis…aku mendengar kabar bawa kemarin ia telah kembali dari St Petersburg, hari ini aku menemuinya seperti biasa, jujur saja hatiku serasa kecut, tak tahu, tak mengerti, dan takut..apakah aku telah menyakitinya dengan puisiku…
    Aku menantinya seperti biasa, dengan duduk ditangga beranda, dan tak lama ia menghampiriku, aku tak dapat menoleh dan menyapanya, aku takut, ia pun tak lagi berdiri dibelakangku, kali ini ia duduk disampingku, aku tak berani menatap wajahnya yang elok itu…tak berani.
    “Tuan ku sayang, kau begitu diam hari ini, maafkan sikapku pada tuan beberapa waktu lalu”
    “Apa yang terjadi denganmu…maafkan saya jika puisi itu telah melukai Nona”
    “Tidak..tak ada yang salah dengan puisi Tuan, saya menyukainya sekali”
    Lalu ia mengeluarkan dari sakunya pucuk surat yang berisi puisiku…, dibukanya pucuk surat itu.
    “Bolehkah saya membacanya untuk Tuan”
    “Hmmm” aku mengiyakan kemauaanya…

    Notre amour reste là
    C’est entre nous
    L’air entre les mains salut
    Et la main entre les saluts
    Et le salut par amoure
    Cette chose toujours nouvelles
    Et qui n’a pas changé
    Aussi vraie qu’une plante
    Aussi tremblante qu’un oiseau
    Aussi chaude aussi vivante que l’été
    Nous pouvons tous les deux
    Aller et revenir
    Cet amour
    Beau comme le jour
    Et mauvais comme le temps
    Quand le temps est mauvais
    Cet amour si vrai
    Cet amour si beau
    C’est le tien
    C’est le mien
    Ne bouge pas
    Ne t’en va pas
    Nous qui sommes aimés
    Notre amour reste là

    Ia membaca puisi itu dengan manis sekali, bahasa Prancisnya begitu fasih, ia bukan saja serorang wanita Russia yang cantik, tetapi juga terpelajar, lalu seketika ia terdiam, lalu ia berkata lagi
    “Tak pernah saya menduga jika Tuan dapat membuat sebuah puisi seindah ini”
    Ia kembali terdiam
    “Dan tak menyangka, jika ini adalah puisi yang mengungkapkan isi hati Tuan”
    Setelah ia berkata itu, ia membaringkan kepalanya dipundakku, ia begitu diam hari itu, dan tak lama, peluhnya keluar dari mata indahnya, aku tak mengerti apa yang membuatnya begitu sedih, apa yang terjadi lebih dari sebulan ini…yah ia nampak berbeda kali ini.
    “Jangan pernah Tuan hilangkan saya dari hati Tuan….” Katanya
    “Hmmm”
    “Saya tak akan mau mendengar kata-kata Tuan, janji atau apapaun yang akan Tuan katakan dan nanti Tuan mengingkarinya..”
    Aku pun menghentikan niatku untuk mengatakan sesuatu yang ingin aku katakan.
    Sejak hari yang penuh haru dan misterius itu, aku menjadi sangat dekat dengannya, lebih dari tiga bulan, kita begitu dekat, memang aku tak pernah melihat keceriaan yang sama seperti saat aku dan dia jalan di pantai itu…ada sesuatu yang disembunyikannya jauh dari padanganku, jauh dari pengetahuaanku, ada sesuatu yang disimpannya dalam tak terpahami oleh otak dan perasaanku..ia begitu penuh dengan misteri, tetapi ia memang dengan segaja tak ingin aku mengetahuinya.
    Tetapi saat-saat itu kita seperti sepasang kekasih yang dimabuk cinta, etahlah, cinta atau hanya sebuah retorika, atau sebuah mimpi krise yang nanti nya seketika hilang…entahlah.

    April 21,1931, aku tak pernah lupa hari itu, hari itu aku berangkat ke dermaga seperti biasa, aku bekerja seperti biasa, menjelang siang aku telah menyelesaikan pekerjaanku…hari ini aku tak hadir dirumah Sonia, karena hari ini adalah hari selasa.
    Aku tak menduga, Maria datang menjumpaiku ke dermaga.
    Seorang teman, memberitahukan kedatangannya..
    Aku menjumpainya, wajahnya nampak berbeda, layu dan sedih.
    “Ada apakah dengan nona, kenapa wajah nona nampak sedih”
    “Tuanku Serge, Sonia menitipak sebuah surat untuk Tuan”
    Aku seketika mengambilnya dan membuka sampulnya, perlahan aku membaca selembar surat itu…setelah selesai..
    “Aku tak mengerti..isi surat ini”.
    “Tuan, Sonia telah pergi semalam meninggalkan Tuan, ia pergi dengan kereta ke St Petersburg”.
    “Kenapa tak memberitahukan aku sebelumnya…., apakah ia baik baik saja”.
    “Ia baik baik saja Tuan, tetapi mungkin tuan tak akan menemuinya lagi”
    “Apa maksudnya dengan tak menemuinya lagi…”
    “Tidak…lupakan kata-kata saya…”

    Entah apa yang terjadi pada hari itu, Sonia pergi ke St Petersburg…selama hampir dua bulan ia tak kembali, aku mencoba menanyakan kabarnya lewat sepupunya, dan sekali lagi aku selalu tak mendapatkan jawaban yang jujur, dua kali aku mencoba mencarinya ke St.Petersburg, dan tak pernah aku mendapatkan kabar dan selalu kembali dengan tangan hampa, semuanya penuh dengan tanda tanya, sepertinya kebenaran yang disembunyikan dari ku.
    Sudah hampir seratus kali membaca surat itu, aku tak mengerti isinya, disana tak nampak ia akan meninggalkanku, atau ada sesuatu yang dikatakannya, selama hampir dua bulan aku terus datang kerumah itu, dan kembali tanpa membawa senyumnya dalam ingatan…tetapi ia selalu ada diingatanku.

    July 28, 1931, pintu rumah kami diketuk seseorang, hari saat itu telah hampir malam, paman yang membuka pintu dan melihat siapa yang datang, aku keluar juga untuk melihatnya, mengira siapa tahu Sonia yang datang…, rupanya Maria yang datang pada malam itu…ia nampak sedih, air matanya telah keluar sejak tadi…
    “Ada apakah…, apa yang terjadi, apa yang terjadi dengan Sonia”
    “Tuan, Sonia meninggalan ini untuk Tuan”
    Aku melihat sebuah amplop surat yang kutahu itu dariku, dan sebuah sapu tangan yang aku juga tahu itu miliknya…
    “Tuan, dulu sebelum ia pergi, ia pernah meminta saya menyerahkan ini, jika terjadi sesuatu dengannya…saya mengira hal itu hanyalah gurauaan saja…tetapi saya baru sadar, hal itu terjadi”
    “Apa maksud mu…aku tak mengerti”
    “Tuan…Sonia telah meninggalkan kita”
    “Apa maksud Nona dengan itu…”
    “Ia telah meninggal dua hari lalu, saya baru mendengar kabarnya sore tadi”
    “Apa…”
    Tubuhku lemas, aku tak dapat berdiri tegak, aku terduduk dilantai, wajahku ku tundukan kebawah, ku benturkan kepala didinding kayu rumah kami, aku tak dapat menahan haru, dan peluh tak dapat tertahan untuk mengalir, aku tak dapat memahami apa yang terjadi, apa yang terjadi, apa yang terjadi….
    “Oh God… Ne t’en va pas, Ne t’en va pas, Ne t’en va pas”.
    Paman dan Bibi seisi rumah ikut bersedih, hari itu rumah kami berkabung, tak ada kesemarakan hanya nada kematian dan ketidak hidupan.
    Aku hanya duduk terdiam dilantai, hampir dua jam disana, air mataku tak berhenti mengalir, ada sesuatu yang hilang dari kehidupanku, entah cinta, entah persahabatan, entahlah…aku tak tahu, aku kehilangan seorang yang menjadi bagian hidupku belakangan ini.
    Paman memindahkanku kekamarku, aku seperti tak sadarkan diri, aku tak dapat mengerti apa yang terjadi, siapakah yang akan ku protest, siapakah yang akan kusalahkan, apakah aku akan menyalahkan Tuhan, yang memberi kehidupan dan mengambilnya?, dan itupun jika benar ada Tuhan…tetapi memang benar Tuhan ada, tetapi aku mempertanyakan keadilanNya…jika memang ada keadilan.
    Seisi rumah kami nampak suram dan bersedih, keluargaku bersedih, karena apa yang terjadi padaku, pada Sonia, cintaku…
    Dua hari kemudian aku mendengar kabar, bahwa Sonia akan dimakamkan didesa kami, tubuh dinginnya telah datang dengan kereta malam tadi, esok ia akan dikuburkan dengan upacara sederhana, rupanya itulah permintaaan terakhirnya dalam surat wasiatnya, bahwa ia minta dikuburkan didesa kami.
    Pagi ini aku telah mempersiapakan diri…berangkat ke upacara penguburannya.

    Aku ingat, tak ada semangat, tak ada kehidupan, yang ada hanya kesedihan, ketidak semarakkan, kematian dan tanda tanya yang penuh misteri.
    Dalam hatiku tak ingin ia pergi, tak pernah ia pergi.
    Sonia meninggalkan senyuman diingatanku, meninggalkan semarak dan keceriaan yang misterius, ia telah mengembalikan puisi yang kutulis, dan rambutku yang terbungkus saputangannya…mungkin ia ingin aku mengingatnya bahwa semua itu pernah aku berikan kepadanya, mungkin ia merasa tak pantas menerimanya…entahlah…Sonia telah pergi, begitulah kehidupanku, yang ku tahu, ada janji yang tak pernah ku ucapkan, janji yang ia larang aku untuk ucapkan , dan aku tahu aku akan menepatinya.

    July 28, 1940, usiaku 26 tahun, perang sedang berkecamuk di Eropa,  Hitler menduduki Polandia beberapa saat lalu, lalu menduduki Luxembourg, Belgium,  Belanda, dan Prancis, mungkin setelah itu Rusia, entahlah.

    8 tahun lalu setahun sejak kematian Sonia…aku telah pindah dari desaku ke Moskow, dan sering kali aku mengunjugi desaku 2-3 kali dalam setahun selama lebih dari 8 tahun, yah aku meninggalkan desa ku 8 tahun lalu, aku tak pernah melupakannya, aku tak pernah melupakan Sonia…sampai detik ini.
    Paman telah meninggal tiga tahun lalu, Maria telah menikah, Bibi tinggal sendiri bersama Katania, merekalah satu-satunya keluargaku…selama lebih dari 9 tahun semuanya masih terasa baru, hari ini adalah 9 tahun kepergiaanya…tapi semuanya masih terasa sama.
    Oktober 7, 1940 Jerman telah memasuki Romania.
    Juni 28, 1941 – Jerman menguasai Minsk….sebulan kemudian Jerman menyerang Leningrad (St.Petersburg), banyak yang gugur dalam serangan itu.
    Sepember 19, 1941 Jerman menguasai Kiev, kudengar kabar 34 ribu Yahudi dibunuh di Kiev, October 24, 1941 Jerman mnguasai Kharkov, dan Okobert 30, 1941 – telah mencapai Sevastopol….dan November 20, 1941 menguasai Rostov…saat-saat itu adalah saat yang sangat menegangkan…sebagian besar kota kami dikuasai Jerman.

    Stalingrad January 20 1943, hari itu benar-benar dingin, sebuah senapan, peluru dan darah telah mengubah kehidupanku, mempertahankan tanah air ku, sampai tak seorang pun hidup, atau mungkin ini cara untuk bertemu dengan Sonia, dengan mati tertembus peluru musuh, aku tak tahu.
    Hari itu aku berlindung dalam perlindungan saat penyerangan Tetara merah pada Divisi Infantri ke 389 Tentara Jerman yang terjebak di pabrik Traktor, North Distrik Stalingrad, markas kami dekat Sungai Volga, hari ini serangan tentara merah begitu gencar pada kubu pertahanan musuh, tetapi serangan mortir mereka telah melukai dua puluh tentara merah siang tadi, kami pun harus berhadapan dengan tiga divisi Infantri 544,545,546 tentara Jerman yang berada digaris belakang.
    Mungkin hari ini aku mati, mungkin hari ini aku akan bertemu dengan Sonia…oh selama hampir empat tahun ini aku rindu kembali ke desa ku, aku rindu Sonia…. Aku menantikan saat-saat itu.
    Mungkin hari ini aku bisa menemui Sonia…entah lah…mungkin hari ini aku benar-benar berakhir.
    Tiba-tiba desingan peluru terdengar, pundakku terasa dingin, mataku menjadi gelap, darah keluar dari pundakku…mungkin hari ini aku benar-benar berakhir.

Markus AP (Sunday, February 11, 2007)

9 Responses to “Sonia (cerpen)”

nice story, romatis bener lu tumben nulis cerpen lagi!!!

it’s really a romantic story, maybe this is a True Love.
Where u get inspiration…….?

hmmm, true love maybe, but not true story…insipirasi? hmmm, suatu hari gw lagi pergi ke mall ambasdor, abis ketemu my models, after that, aku pergi ke toko buku with her, di lagi sibuk cari buku, aku juga lagi sibuk cari buku, dan sampe aku ketemu buku karya LEO TOSTOY, disanalah dapat inspirasi nama tokoh, nama sonia diambil dari tokoh dalam buku itu…cerita tidak…ah…it something just came out and i write it…

Sedih… hix.. hix… hix…
btw, menghayati cerita sambil belajar kembali sejarah… hmmm… sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui…
btw, penasaran ma arti puisinya…

@Novi Haryono : sedih ya? sejarahnya memang bener terjadi… big grin

Haaaaaaa??? berarti true story donk…
btw, arti puisinya???

@Novi Haryono : cerita perangnya memang ada dalam sejarah tetapi cerita ttg sonia gak ada, kan aku bukan angkatan perang dunia dua heheheheh….artinya? hmmmm nanti cariin dulu terjemahaanya…

Kirain cerita yang ditinggal pergi ma sonia itu true story.. trus digabungin ma sejarah jaman peperangan gitu.. heheheh…

@Novi Haryono : heheheh so km bisa sampai berfikir klw hal itu beneran? aku pernah kasi koment true love maybe but not true story

Leave a Comment

 

YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA blog