Parodi : Resiko Tangung Sendiri
Masih segar dalam benak saya, setelah saya kembali dari sebuah pusat perbelanjaan, dengan dua kenalan saya, saya menerima telfon dari kenalan saya yang lain, diujung sana ia nampak kelihatan sedih, terpukul dan sempat nangis.
Saya ini jadi bingung kenapa tahu-tahu ada orang nangis ditelfon dengan saya, jangan salah sangka dulu…kenalan saya itu nangis bukan karena meminta pertangungan jawab saya, sebab apa yang mau ditangung dan dijawab…wong saya sendiri tidak pernah melakukan apa-apa kepadanya…hehe ![]()
Kalau mau bicara bingung, saya bingung kenapa ia menangis dan kenapa ia harus menangis kepada saya, sejujurnya hal ini bukan pertama kali ada orang menangis, jadi seharusnya saya tidak boleh bingung..yah bingung saja duh kenapa nasib saya harus jadi tempat mengeluh dan menangis orang!
Kata teman saya “itu sudah takdir lo”…atau “mustinya loe besok buka hotline saja”….jawaban saya nakal “kenapa tenapa takdir saya begini ya” atau “iya gue buka hotline esek..esek aja ya”.
Ok kembali ke urusan nangis tadi.
Tentu anda bertanya kenapa ia menangis…yang jelas bukan saya penyebabnya kenalan saya itu bersedih. Tetapi…
Karena kenalan saya itu, ia baru saja kehilangan kekasih hatinya…”duh”, tentu kalau anda bisa berteriak anda akan berteriak “duh” atau “ah lagu lama” atau “ah sudah hal biasa markus nulis ini”.
Ah tentu anda bisa berkata demikian, saya paham koq…tetapi anda tidak tahu kan apa sebabnya kekasihnya bisa hilang…tentu kekasihnya hilang bukan karena terselip atau dicolong orang tetapi murni kearena kesalahannya…yah apa bukan salahnya..jika ia ketahuan ehm..ehm dengan orang lain lalu kekasihnya memutuskan hubungan.
Dan cerita akhirnya anda tahu sendiri…kenalan saya itu berakhir dengan nangis ditelfon dengan saya.
Tentu anda akan bertanya apa sih yang saya katakan kepadanya…
OK berhuntung saya tidak panik saat itu, karena saya memang tidak bisa panik, saat itu saya hanya senyum kecil dan berusaha membuat kenalan saya itu tenang…sebab kalau tidak tenang saya tak bisa bicara apa-apa untuk membuatnya bisa sadar.
Setelah saya suru dia untuk diam, saya minta dia untuk istirahat saja…toh ngapain juga bicara panjang kalau ia masih saja tegang dan nangis…untuk itu saya minta ia untuk istirahat….tetapi setelah hampir satu setengah jam kemudian saya memintanya menghubungi saya…disaat itu saya baru bisa bertanya duduk persoalannya, mulai lah saya memberi 1001 tips…seperti layaknya seorang konselor…padahal sekali lagi saya bukan konselor.
Tetapi inti yang paling penting dari tips saya tadi sebenarnya “kenapa pada akhirnya kita harus sedih…berani berbuat berani bertangung jawab dong…alias resiko tangung sendiri..realistis gitu loh”.
Abis mau diapain…nasi udah jadi bubur, ibarat anda potong rambut, rambut sudah dipotong, anda baru berubah pikiran…ya telat lah!!.
Makanya semua hal dalam hidup kita dipikir dulu…berani berbuat resiko juga berani ditanggung…masa anda tidak berani.
Kayak saya yang suka ambil resiko, so kalau harus menangung, ya tinggal ditanggung….so tak sulit bagi saya harus menangung…
So dalam hidup kita Ibaratnya masa anda berani makan ngak berani bayar…bayar dong…normal kan.
Seberapa sering kita lempar batu sembunyi tangan…alias berani berbuat ngak berani ambil resiko….repot juga ya klw gini.
Malu ah sama hidup….resiko tangung sendiri dong.
8/14/06 1:49 AM


