Parodi : Shop..shop..shop
Saya yang pria ting-ting ini masih suka diseret dan diajak teman untuk ikut milih-milih apa yang ia mau beli di toko, butik atau pasar, entah kenapa saya jadi pilihan utama untuk jadi teman belanjanya…dan tentu tidak ada hukum paten kalau saya yang pria ting-ting ini gak boleh diajak ke tempat-tempat tadi.
Pikir saya membela “emang butik, toko atau pasar cuma tempat wanita!!!”
Dan kalau diajak ke toko, butik atau pasar tadi tentu saya punya semangat yang beda-beda…sebab saya lebih suka tempat ber AC dibanding pasar yang panas, pengab dan banyak copet…bukan karena sok intelek dan berasa kelas tinggi loh, alasannya cuma karena kalau kaki sudah capek sebab diajak muter-muter saya tinggal cari tempat duduk yang tersedia di butik itu..
Kalau kaki sudah capek badan pegel saya cuma duduk dan kalau teman saya itu nanya pendapat, saya paling bilang “bagus..bagus” memberi saran kepada teman, padahal pikiran saya sudah tidak konsen karena betis pada pegel.
Dan yang jadi hal utama baginya ngajak saya pegi-perginya bukan karena saya suka jalan, tetapi selain jadi penasehat, saya toh harus siap membantu bawa tas jijing yang banyak tadi…gak mungkin kan membiarkan teman saya yang nota bene wanita membawa sekian banyak jijingan seorang diri. Ini sih lebih kemasalah gander, saya cowoq dia cewek, kewajiban cowoq kan mengulurkan tangannya…no problem koq.
Disela-sela itu kalau saya lagi bengong saya suka mikir,
“apa aja sih yang dibelinya tadi?”,
“mau beli apa lagi abis ini?”
“berapa banyak uang yang dikeluarkannya?”,
“untuk apa semua baju dan tas sebanyak itu?”
“kapan berakhirnya sih, kaki gue udah pegel neh…?”
Jujur aja kalau pertanyaan “kapan berakhirnya sih, kaki gue kan udah pegel?” selalu dijawabnya dengan senyum…”sebentar lagi ya…masih ada dua tempat lagi. (padahal sudah 1.5 jam disatu tempat itu).
Tetapi pertanyaan selain itu selalu suka terjawab dengan perkataan teman yang sangat simple.
“Abis lucu sih bentuknya…”
“kan ini lagi discount”…
“Duh ini kan keren”.
Makin bingung saja saya mikir…sebab sekalipun saya suka diajak untuk shop..shop tadi bukan berarti saya suka juga membelajakan uang untuk biar kelihatan membawa jijingan banyak…atau terkesima dengan barang yang lucu-lucu tadi.
Saya lebih sering window shoping, berangan siapa tahu nanti saya bisa beli barang/gadget yang saya suka itu…tapi toh selang waktu lama setelah berfikir dan bermimpi, mimpi saya ngak jadi nyata, karena terlupakan begitu saja atau menilai hal itu tidak saya perlukan.
Tapi dengan demikian bukan berarti saya tidak pernah shop..shop mengeluarkan uang sampai lebih dari 7 digit,..tetapi toh saya beli itu dengan 1001 pertimbangan, pemikiran, dan kenapa saya harus beli itu, untuk apa, melihat sisi efisiensi, dan kapan kembali modalnya.
So ngak mungkin kalau angkanya melebih 7-8 digit saya belikan sesuatu yang hanya menunjukan saya ini bisa beli barang ber merek, dan dengan barang merek tadi bisa tampil keren dihadapan orang-orang…apa lagi untuk beli sesuatu dengan alasan seperti teman saya tadi…(ini pemikiran saya sendiri loh)…
Tetapi saya pernah dengar loh, kalau ada yang membeli 7 tas Gucci sekaligus dalam waktu satu jam, bayangkan kalau harganya satu saja 40 juta-60 juta, berapa tuh uang yang harus keluar…semua itu ia lakukan agar ia bisa pakai tas tadi bergantian dari senin sampai minggu.
Coba bayangkan deh kalau ia bisa beli 7 tas tadi, bukankah ada lagi, ikat pinggan, selop, dompet, sendal, gaun, g-string, jam, gelang, berlian yang lain…
Atau saya pernah dengar ada seorang yang membeli Mobil KIA Creens hanya untuk mengantar anjingnya ke dokter dan pembantu ke pasar.
Suatu siang saya lagi jalan-jalan dengan sahabat saya yang kebetulan ia bekerja disebuah perusahaan mobil mewah…ia bercerita suatu hari ada seorang omm datang dengan pakaiaan yang seadanya, pada saat ditanya KTP ia malah berkata “saya tidak bawa, ketinggalan di mobil, tadi saya habis selesai Golf” dan sambil mengeluarkan uang recehan dari kantong celana trainingnya menunjukan kalau ia tak bawa KTP/Dompet.., tetapi bagian resepsionis memperbolehkan omm tadi untuk masuk dan memberikannya kartu Guest…satu jam berikutnya si omm tadi sudah pulang dengan membeli 1 Mobil baru seharga hampir 1.5 M…alasaanya “nih anak saya pulang dari luar tau-tau kepengen beli mobil”….”Kepengen..” pikir teman saya.
Coba dibayangkan bukankah ia beli semua itu dengan mudah karena memang baginya itu uang receh dan tidak akan menganggu keuangan dapur, habis dibelinya dari uang “turah” (sisa).
Kalau bagi saya pribadi sih itu sudah tidak nyampai pada pemikiran saya, mungkin karena saya tidak punya uang turah tadi…hahah, uangnya ngepas melulu ![]()
Maka saya suka membelalakkan mata kalau saya melihat teman saya tadi membeli sesuatu seperti nampaknya ia tak memiliki keterbatasan keuangan..atau mungkin ia nyetak uang sendiri…apa lagi kalau belinya berdasarkan “Kepengen”.
Makanya saya suka bilang “Non gile neh harganya…dan lagi ngak cocok buat lo..keliatan tua.” mungkin karena itu juga saya dibawa olehnya untuk menjadi pemandu shoping karena saya bisa protest “gile lo”. Dan akhirnya membuatnya mengurungkan niat untuk belanja, satu barang mahal tadi.
Tetapi ia juga lebih sering berkata “Buat apa kamera semahal itu, mending gue buat beli dompet Gucci”…sambil mendelik dan heran…makanya saya tidak pernah ajak ia kalau saya lagi belanja.., bisa-biasa saya ngak jadi beli, padahal itu penting banget buat pekerjaan…
(Markus AP)


Similar/Related Posts