guidelines
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

faq
Parodi : Cari Yang Mapan
By. marcus . June 18th, 2006 at 9:06 aminternational
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Parodi : Cari Yang Mapan

    Sore itu saya kirim sms kan kepada seorang teman.
    “Say…gmn kabarnya? Duh sombong neh ya gak pernah contact-contact jadi kangen neh ma lo”
    Dan dia balas sms saya tadi
    “Sorri, sibuk banget, sampe ngak ada waktu, iya neh kangen juga” katanya
    Sambil bercanda saya jawab
    “Duh masa sih kangen? Jadi GR neh gue…, so gimana tele..tele dong, ada cerita apa, cerita2 kek, kapan merit, gimana kerjaan?”.
    “Duh merit, ngak deh dia nya belum mapan…”
    Lalu saya jawab “Makanya pacaran jangan main-main cari yang mapan dong…”.    
    Saya suka berkelakar, mengoda tetapi juga menyindir kepada teman saya itu, pasalnya, mereka suka bikin saya geregetan….abis ia suka ngak realistis, giliran dikasi sama yang diatas yang mapan, serius, cukup ok ia tolak, sekarang malah dapat anak kecil (kurang dewasa) yang tidak mapan dan masa depan gak jelas.
    Coba bayangkan dimana-mana kalau ada seorang wanita ditanya pria seperti apa yang jadi impiannya, pasti mereka menjawab “ganteng dan mapan”.
    Kebanyakan wanita begitu loh…dan kata mapan selalu pasti terselip diantara wish list mereka. Gak salah koq, apa yang mereka katakan.
    Maka gara-gara begitu timbul dalam diri saya “kalau gitu gue harus mapan, gue harus ini itu..gue harus bisa ini itu”.
    Lalu saya berfikir lagi mapan itu ukurannya seperti apa sih?…apa ukuran mapan itu kalau sudah punya rumah di Pondok Indah?….wah kalau mapan seperti itu wah bisa-bisa saya ngak nikah-nikah dong.
    Lagian kalau begitu ukuran mapannya, itu mau cari pria mapan atau lagi cari pria yang berpribadi..maksud saya pria yang bermobil pribadi, apartemen pribadi dan pulau pribadi…gara-gara itu saya ingat kata seorang sahabat “Duh hati-hati banyak sekarang cewe pada matre”.
    Tambah pusing saya…sebab kalau ada wanita mengharapakan pria mapan, jangan-jangan ia matre…sebenarnya kan ngak gitu juga.
    Lalu gimana dong…abis saya belom nemu sih yang tidak menyertakan kata-kata “mapan” dalam wish list mereka…realitanya lain.
    Seorang teman wanita saya berkelakar dengan saya “iya nanti gw mau cari cowo yang kaya…” lalu saya tertawa dengar kelakarnya.
    Mungkin ukuran mapan tadi diturunin deh standardnya…dari yang standardnya rumah pondok indah jadi rumah didaerah sentul, atau mobil Maserati diganti jadi mobil Kijang SX aja…so pasti tercapai lah ukuran mapan menurut saya.
    Kembali ke teman saya itu, kalau dipikir benar dong kelakar saya tadi “makanya pacaran jangan main-main cari yang mapan dong…” kalau ia sadar pacarnya tidak mapan lalu apa yang membuatnya pacaran…kan ngabisin waktu aja.
    Yah sebab siapa sih yang mau menikah dengan tidak ada persiapan yang benar-benar siap, baik mental dan finasial…apa lagi mitos Mapan itu sudah jadi harga mati yang sering ada dalam wish list setiap kita.
    Apa lagi di kota metropolitan ini…ngak mungkin kan abis nikah tinggal dirumah mertua indah dan beli susu buat bayi saya susah.
    Yah setidaknya mapan tadi harus dijelasin dulu artinya apa…kalau mapan artinya punya pekerjaan baik, keuangan stabil dan rencana masa depan yang pasti..wah ini sih lain ceritanya.
    Sebab saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri teman saya yang diputusin sama pacarnya, setelah 7 tahun pacaran…karena alasan ia masih seorang pegawai disebuah perusahaan, katanya “nikahnya gak pasti dan gak ada jaminan buat masa depan”.
    Tetapi cerianya kali ini berbeda 1.5 tahun kemudian ia sudah jadi manager keuangan, dan mantan pacarnya tadi masih juga belum menikah sama boss manapun..gigit jari ngak sih….
    Tapi berhuntung dengan teman saya itu sudah akan menikah dengan seorang wanita yang menerima dia lengkap apa adanya…bahkan konsep mapan tadi ngak terlalu tinggi-tinggi amat lah.
    Ah udah ah ngomongin mapan atau tidak, jangan-jangan saya nulis gini jadi ada yang tersindir dan sakit hati sebab ia masih saja menilai nilai mapan tadi terlalu tinggi.
    Yah semoga ngak ada yang ngamuk sama saya deh…toh saya kan sukanya membuka kenyataan menyingkap topeng yang menutupi kebanyakan kita.

(Markus AP)

Leave a Comment

 
privacy

suggest
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA