Instant Marrige
Dalam perjalanan pulang sehabis makan malam di ayam goreng pemuda surabaya, kelapa gading, seorang teman menelfonku, diujung sana ia beceloteh dengan nada tegang, dan panik.
“Marky help me dong, gimana neh, gw mau mutusin si Franky” (aku tahu cerita mereka, mereka baru jadian sekitar 3 minggu, dan temenku yang satu ini ingin memutuskan hubungan karena banyak hal).
“Terus…?”
“Yah gw harus ngomong apa neh, lo tau ngak sih gw baru balik dari Ausie, dan gw call dia dan lo mau tau dia mulai lage bicara tentang Marrige and Marrige”.
Ngak lama kemudian telfon terputus, karena low bat, setelah tiba dirumah, temenku yang satu ini call kerumah dan bercerita, panjang lebar, dari harapan dia untuk kerja di, karir dan tuntutan keluarganya, belum lagi keinginan pacarnya itu untuk meneruskan ke jenjang lebih tinggi…dalam kata lain Marrige.
“Apa gw kata…lo jadian maksa, neh pelajaran buat lo, emang lo dah berapa lama sih, kan barusan kan, gile…”
“Iya itu yang bikin gw gak siap dan bete, dia mau kenalin gw ma bonyoknya, dan tahun ini harus udah siap-siap buat semua hal, gila ngak tuh”.
“Lah lo siap gak?”
“Yah gw sih lom siap, banyak hal yang gw mau kerjain…gw mau kerja dan karir gw dulu”.
“Yah udah lo bilang aja apa yang sejujurnya lo mau, kalau gw liat dia hanya mengejar target untuk menikah dalam waktu cepat, dan lo dijadiin jalan menuju target itu, marrige it’s not that simple, lo pesen gedung, catring, pesta, dan lo selesai pesta, pulang, lo tidur bangun pagi lo menghadapi your real life..dan lo jalani kehidupan lo dengan orang yang lo nikahin, everything is change….banyak hal bisa terjadi dalam perjalanan itu, lo siap gak? Lo sanggup gak? Lo dah manteb lom? Jangan-jangan tar lo realiaze dan lo sadar your life in wrong path, with wrong person”.
Setelah itu aku menyampaikan beberapa hal kepadanya…dan dia bisa menerima hal itu…
***
Kalau kita lapar kita tinggal ambil satu dua bungkus indomie (mie instant) dan memasaknya lalu menyantapnya, mudah kan lapar bisa dibereskan dengan mie instant.
Apa kehidupan yang instant ini juga sudah berlaku dalam urusan kawin/nikah?, angka perceraiaan didalam pengadilan luar bisa tingginya, ada seorang teman pacaran 3 tahun, menikah, dan satu tahun pertama perkawinan mereka begitu seperti neraka, mereka menemukan pasangannya ngak seperti saat mereka pacaran dan akhirnya bubar…they take saparate way….eh saparate life, koq kayak lagunya phil collins ya..
Ada juga yang bertahan, tetapi dalam pernikahan itu tak pernah ditemukan kedamaiaan, yang ada urusan kecil aja jadi masalah, coba bayangkan kalau urusan “sinetron” atau “remote tv” jadi masalah, apakah itu bukan neraka?.
Saya dengan nakal berhayal bisa aja ada suami kaget dan pingsan karena pada saat ia bangun pagi, istrinya berwajah berbeda dari biasanya, karena melihat istirnya lengkap dengan masker putih, penutup rambut, timun dimata!! Yah ia baru pertama kali melihat kebiasaan istrinya itu.
Yah menikah itu bukan hanya urusan pesta, gaun, undangan, foto-foto, malam pertama, SEX bermacam posisi dan banyak hal…itu hanya secuil yang kecil sekali dari seumur hidup perjalanan pernikahan itu.
Pernikahan gak cuma bisa di mulai dengan “lo tar musti merrige ma gw, tahun ini kita siapin semuanya” … hey..hey bagaimana life partner kita berkata tentang pernikahan itu?, apakah kita sudah pernah mengerti padangan pernikahan itu apa? bagaimana kesiapan si pasangan kita, bagaimana kemantabannya? Hal ini penting sekali karena pasti saat menikah kita akan ditanya “bersediakah”, dan kita harus jawab “I DO”.
Yah apa semua sudah dipikirkan matang, terlebih dia harus sudah mengenal baik pasangannya, mau/siap ngak mengambil konsekuensi kehidupan SETELAH menikah…menikah bukan urusan pesta yang meriah, gaun yang indah, tetapi konsekuensi dan kesiapan yang diambil setelahnya.
Maka perlu dipertimbangkan…
Adakah cinta didalamnya?
Adakah pengertian didalamnya?
Adakah kesiapan didalamnya?
Adakah pengenalan yang benar tentang pasangannya?
Adakah penerimaan, pengenalan, pengertian dari keduanya?
Apakah menikah karena alasan usia?
Apakah menikah karena alasan status?
Apakah menikah karena alasan ekonomi?
Apakah menikah karena menghindari omongan orang?
Apakah menikah karena alasan desakan keluarga?
Apakah menikah karena ingin lari dari masalah?
Sudahkah benar mengenal pasangannya?
Sudahkah menerima apapun konsekuensi bahkan yang terjelek sekalipun?
Sudahkan mental kita siap?
Maka begitu juga menikah gak bisa dikarenakan mengejar target, “gw takut jadi perawan tua” hey sadar, menikah dengan cara yang salah akan membawa kita kepada neraka yang malah bikin hidup kita makin runyam…
Apa lagi urusan mengejar target, aku mengatakan kepada temenku itu “jangan-jangan dia ngak pernah menyayangin lo beneran, ya abis yang dipikir hanya target dia menikah dalam waktu 1 tahun, pernah gak kepikir harapan-harapan lo, hubungan kan ngak cuma ‘gw mau’ tetapi ‘kita mau’ yang urusannya didalamnya ada kepentingan dua pihak, masalahnya bisa ngak dicariin jalan keluarnya, kalau dia bener sayang ma lo, seharusnya dia siap untuk menunggu lo untuk siap juga, kalau ngak sabar yah dia harus move on”.
Jangan-jangan saat kita sudah ada dalam pernikahan dan pernikahan itu neraka, yah kita tinggal satu rumah tetapi tidak pernah saling menyapa…repot dan aneh kan.
Jangan-jangan saat kita sudah ada dalam pernikahan itu dan banyak hal tidak sesuai dengan “harapan”, dan saat itu kita bisa seperti ditampar oleh realitas, disadarkan dari mimpi “oh im choose wrong person”…alias “SALAH ORANG GUE”.
Udah siap lom?
Udah mantab lom?
Siap menikah dengan orang yang begitu controling?
Siap menikah dengan karakter-karakter pasangan kita yang berlawanan dengan kita?
Ini masih sebagian kecil…banyak hal harus dipastikan dalam hati dan logika kita.
Mungkin jauh-jauh hari semasa pacaran, untuk itu penting pacaran yang dewasa (saling mengenal dan memahami) bukan pacaran gaya
anak ABG…wah ya repot.
Kalau bicara karakter pasangan kita, yah memang semua itu bisa berubah, bisa diubah, tetapi perubahan bukankah perlu kerja keras, perlu kerja sama, perlu pengertian, pemahaman, pengenalan yang lebih, perlu kesabaran, perlu cinta, menerima apapun keadaan satu sama lain dengan cinta, kalau ngak…bubar sudah.
Memang gak ada orang sempurna, yang sempurna hanya Tuhan, untuk itu perlu kerja keras dan kerja sama, bukan menuntut perubahan, tetapi pemahaman dan pengertian, belajar-belajar ini yang gak pernah habis bahkan sampai maut memisahkan mereka berdua.
Seperti yang saya bilang banyak hal yang perlu dipersiapkan didalam mental kita, siap gak menghadapi keegoisan pasangan kita? sikap egois itu satu hal yang paling besar jadi sebab perang broto yudo atau perang mavinas didalam rumah tangga.
Yah intinya menikah perlu kesiapan, mental salah satunya yang paling penting, sebenarnya mudah saja kalau kedua-duanya benar-benar siap “you ready” “im ready” dan keduanya sudah paham betul dengan siapa dia mau jalani hidup itu, siap, get ready, and go…ya no problem…sebab kalau awalnya sudah kacau, bisa kacau pula akhirnya, Garbage in garbage out. Realize lah…
Aku suka istilah “Marrige Relathionship” (istilahku), membangun, mengusahakan, belajar, pengertian, penerimaan dalam membangun hubungan dalam pernikahan itu…yang kita bangun ya hubungan itu sendiri dan diri kita…yah manusia perlu berubah, perlu perkembangan…jangan berhenti atau puas diri.
Jangan sampai terjadi dalam hidup kita pada saat menikah mendengarkan lagu Himne Pernikahan diakhirnya semuanya kita malah mendengar lagu saperate live nya phil colins, kacau kan..
Diakhir ceritanya setelah beberapa hari teman saya itu berkata
“Apa anggapan orang kalau gw mutusin gitu aja si franky”
Aku menjawab
“Ngapain pusing dengan anggapan orang, apa kalau lo lanjutkan itu, lo nikah dan pernikahan itu tak berjalan seperti kehendak lo, apa mereka akan perduli dengan lo, apa mereka tahu baik dan buruknya hubungan lo”
“Lupakanlah anggapan orang”
Diakhir tulisan ini saya sempat berfikir, “gila ya aku bisa menulis tentang pernikahan, merasakan saja belum…dengan sediki membela diri aku berkata dalam hati mungkin aku lebih banyak melihat, melihat, belajar nah aku pun perlu prakteknya suatu hari nanti”.
“Life is not just Black and white, but yellow, red, green, gray, life is colorfull, you must ready to see all those color, in your own life and others and marrige have 16.4 million color” By Me
“…pas gue lagi kampung banten pak haji mo ngawinin kambing ye..eh..kambing aja milih loh” By Marco
Pernikahan merupakan persatuan dua keilahiaan, sehingan yang ketiga dapat lahir didunia, Inilah persatuan dua jiwa dalam kekuatan cita guna melebur keterpisahan. Itulah persatuan yang lebih luruh, yang mempersenyawakan perbedaan dalam dua jiwa. Itulah cincin emas yang berwujud rantai, dengan pangkal berupa kilau dan ujung berupa keabadiaan” By Kahlil Gibran “Suara sang Guru”.
Love at first sight is easy to understand; it’s when two people have been looking at each other for a lifetime that it becomes a miracle.
By Amy Bloom
A good marriage is one which allows for change and growth in the individuals and in the way they express their love.
By Pearl S. Buck
The goal in marriage is not to think alike, but to think together.
By Robert C. Dodds
Love seems the swiftest, but it is the slowest of all growths. No man or woman really knows what perfect love is until they have been married a quarter of a century.
By Mark Twain


