conditions
Pages
Recent Article
Most Popular Posts
Categories
Recent Comments
Login

New eBook : Sajak Didalam Toilet

Sajak Didalam Toilet - view online

advertise
store
Perjalanan
By. marcus . February 5th, 2006 at 12:56 amabout
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Perjalanan

(Note of Spiritual Journey)

    Akhir Oktober 2005
    Siang itu, aku mengarahkan diri membuka laci bukuku, dimana aku menyimpan, buku-bukuku, aku mengarahkan mata kepada satu judul buku yang memang aku pernah beli tetapi tak pernah aku selesaikan membacanya. Aku tertuju pada satu buku Rabindranath Tagore yang berjudul  The Gardener, disana aku menemukan satu tulisannya yang begitu memukau aku, juga menemplak…mungkin mengajak kita bersadar diri makna kehidupan dan akhir kehidupan ini. Ia menulis :
    Kekasih, siang dan malam hatiku rindu akan pertemuanMu, akan pertemuan yang laksana maut menelan segala.
    Halaukan aku bagai topan, ambil segala kupunya, koyakkan tidurku dan rampas impianku. Rebut aku dari duniaku. Dalam kesirnaan itu, dalam ketelanjangan jiwa yang sempurna, biarlah kita menyatu dalam keindahan.

    Alangkah sayagnya hasratku yang sia-sia! Dimanakah harapan akan menyatu ini kalau tidak dalam diriMu, Tuhanku? - Rabindranath Tagore (The Gardener)

    Aku lalu kembali dibawa merenung…
    Siapakah yang sudah merenungkan kenapa kita lahir?
    Siapakah yang sudah merenungkan apakah tujuan hidup kita?
    Kenapa kita lahir dikeluarga ini dan bukan itu?

    Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini tentu tak pernah ditanyakan disekolah atau bahkan diuniversitas, lembaga pendidikan kita tak buat agar kita mencari esensi kehidupan ini dan mencoba memahaminya, akhirnya kita mengetahui tujuan hidup kita (tentu kita tak akan pernah selesai memahaminya), yah kita tak pernah bisa memahaminya…
    Thomas Carlyle berkata “Manusia tanpa suatu tujuan adalah ibarat sebuah kapal tanpa kemudi-anak terlantar, hal sia-sia, bukan siapa-siapa.
    Dalam kesempatan yang lain aku pernah membawa kan hal ini dalam sebuah diskusi yang didatangi ibu-ibu, sebuah diskusi menarik, kita tak berakhir dengan satu tanda tanya lain, kita akhirnya menemukan jawabannya yang sebenarnya kalau kita tahu pasti kita akan mencibir “kalau itu sih gue tau”, pertanyaanya apakah kita menyadarinya dan akhirnya kita benar-benar mengarahkan kehidupan kita kepada tujuan itu?
    Ini sebuah tantangan yang lain dari sekedar tahu saja.
    Yah kita kembali kepada pertanyaan-pertanyaan tadi.
    Dan kadang kita terkecoh dengan jawaban yang kita temukan, dimana sering kali kita menemukan jawaban yang rupanya jawaban tadi tidaklah jawaban yang sesunguhnya.
    Sebagian orang berfikir kita lahir untuk melakukan seluruh keinginan kita saja…yah kita pikir kita lahir hanya untuk memenuhi keinginan kita saja, mencari materi, dan banyak hal lain yang nilainya saya rasa (sesunguhnya) tidak lah berarti.
    Dan sering kali saat kita berusaha mencari hal-hal tadi rupanya sering kali kita menemukan bahwa ada tantangan dan topan yang menghancurkan perjalanan pencariaan kita… kita sering seperti dihalau oleh topan, dan benar pencariaan kita tak berarti apa-apa selain melihatnya hancur berantakan, berapa sering kita memiliki keinginan dan upaya, akhirnya hanyalah sebuah cerita sedih.
    Atau sering kali kita malah mengalami semua itu disaat kita sudah memperolehnya, lalu akhirnya kita akan melihat semua itu hilang, atau mungkin tetap ada tetapi semua itu kehilangan makna, dan akhirnya kita tak lagi memiliki apa-apa yang bisa dibangakan, yah harta bisa hilang,orang yang kita cintai bisa pergi dan meninggalkan kita, semua itu kehilangan makna
    Atau segala tujuan kita bisa tercapai tetapi kita kosong dan tak mengerti lagi apa artinya hidup….rupanya kita mencari dan mencapai sesuatu untuk menemukan kekosongan yang lain. Victor Frankl menulis “Dewasa ini, lebih banyak orang memiliki sarana untuk hidup tetapi tidak punya arti untuk hidup”.
    Mungkin dalam keadaan itu kita tak lagi bisa tidur dengan nyenyak, kita tak lagi bisa menikmati kenikmatan dalam tidur kita, karena masalah ada didalam otak kita yang merengut kehidupan semalam kita…kita tak lagi punya mimpi dan harapan. Karena kita tak memiliki makna atas kehidupan kita.
    Akhirnya kita berfikir “semua itu sia-sia”, yah akhirnya kita tak punya lagi dunia yang kita bentuk dan kita harapkan.
    Kita tak bisa tinggal dalam dunia ciptaan kita.
    Disaat keterpurukan itu, kita punya beberapa pilihan : kita hanya bisa diam saja, mengakhiri hidup, lari dari kenyataan, menyalahkan orang, menghujat sang kuasa, atau kita terkulai pasrah dan menundukan kepala kepada sang kehidupan…sambil berkata “daripadaMu aku datang, diciptakan, daripadaMulah aku kembali, dan hari ini aku menyerahkan diri seluruhnya kepada kehendakMu”
    Bagi orang yang terakhir saya sebutkan tadi, inilah awal perjalanan hidup yang sesunguhnya, ia menemukan arti dan tujuan hidup yang sesunguhnya, memang kadang jalannya harus sulit, tetapi kita tak sadar bahwa kita sedang dibawa kembali kepada jalan yang sesunguhnya.
    Yah kita sudah diciptakan dan hidup didalam rencanaNya, sebelum dunia ada, kita sudah ada dalam rencanaNya, kita lahir dengan tujuanNya, kita tak lahir dengan tujuan hidup kita dan hasrat kita saja, yang sering kali hasrat kita tidak lah mulia.
    Yah kita lahir karena memiliki tujuanNya, Ia telah menetapkannya bagi kita.
    Dan saat kita berjalan dalam TujuanNya, inilah yang disebut perjalanan, perjalanan dengan ridhoNya, perjalanan dengan penuh cintaNya, pada akhirnya kita tertuju kepada perjalanan kita pulang kepada cintaNya…mencapai cahayaNya.
    Inilah perjalan yang sesunguhnya….Lahir dari karya sang pencipta, lahir bagi sang pencipta, hidup bagi sang pencipta, berkarya dan melakukan segala sesuatu yang mulia bagi sang pencipta..pada akhirnya bersatu dengan sang pencipta….Inilah urutan perjalanan sesungguhnya.
    Dalam tradisi jawa kita mengenal dengan “Manungaling kauwlaning Gusti”, pada akhirnya kita bersatu dengan pencipta kita.
    Dalam kekristenan kita mengenal “Akulah, jalan, kebenaran dan hidup” Allahlah jalan, kebenaran dan kehidupan yang sesunguhnya. Pada akhirnya kita kembali kepadaNya
    Hidup pada titik ini adalah hidup yang tawakal, hidup yang menyerah, hidup yang dibawa dijauhkan dari hasrat yang menghancurkan, kita dibawa kepada kemuliaan, bukan kehinaan, inilah kehidupan mengikuti JALAN-Nya.
    Dimanakah harapan akan menyatu ini kalau tidak dalam diriMu, Tuhanku? Rabindranath Tagore (The Gardener)
    Yang terpenting adalah memahami diri sendiri melihat apa yang sebenarnya Tuhan inginkan dalam kehidupan saya….dan menemukan ide untuk apa saya hidup dan mati – Soren Kierkegaard

home

Similar/Related Posts

Leave a Comment

 

mail
YAHOO PINGBOX
eBook : What’s In My Mind

What's in My Mind - view online

Donation
STOP SOPA & PIPA
Twitter Updates
Stop SOPA